Cinta Om Duda

Cinta Om Duda
Nesya dan Rehan


__ADS_3

Sampai di apartemen aku langsung


menjatuhkan badanku di sofa, rasanya begitu lelah karena hamper sepanjang


perjalanan kami terjebak oleh kemacetan kota, aku membaringkan tubuhku di sofa


dan memejamkan mataku. Aku ingin beristirahat sebentar baru nanti aku akan


membersihkan badanku yang sedikit lengket karena keringat.


“Sayang kenapa kamu enggak


istirahat di kamar saja nanti badan kamu sakit,” ucap Rehan namun aku tak


menghiraukannya, sedangakan Rehan membawa barang-barang kami ke dalam kamar.


Sampai akhirnya Rehan mengangkat tubuhku ke dalam kamar, aku pun taka da niatan


membuka mataku kalau jika itu sampai terjadi nanti yang ada Rehan akan


melakukan hal yang lebih. Rehan pun menurunkan aku di atas ranjang setelah itu


aku lihat dia keluar kamar dan aku pun tersenyum kecil.


Aku pun melajutkan tidurku


sebentar, karena memang aku tak mau melakukan hal apapun, apa lagi mandi.


Sedangkan di tempat yang sama Rehan yang sedang berada di sofa sambil menatap


hpnya dan menunggu orang mengangkat teleponnya. Ya, Rehan berusaha menghubungi


Alex agar besok pagi mereka bisa bertemua karena bagaimana juga dia juga tak


akan menunda-nuunda untuk bertemu dengan Alex karena semuanya biar jelas dan selesai.


“Hallo, apa benar ini dengan Alex?”


tanyaku.


“Ya, benar. Maaf ini dengan siapa


ya?” tanya Alex dari seberang telepon.


“Ini aku Rehan calon suami Nesya,


aku hanya ingin mengajakmu bertemu besok karena Nesya ingin bertemu dengan kamu


dan dia juga ingin berbicara padamu,” ucapku.


Aku juga bisa mendengar jika Alex


menghela nafas panjang, “Baiklah, dimana kita akan bertemu dan aku akan


menunggu kalian,” ucapnya.


“Baiklah, nanti akan aku kirimkan


untuk alamatnya,” ucapku, lalu aku juga menutup teleponnya sepihak.


Karena sebenarnya aku tak ingin


Nesya bertemu dengan Alex karena aku tak begitu suka dengannya namun bagaimana


juga ini juga keinginan Nesya untuk membicarakan semuanya. Setelah itu aku


beranjak dari dudukku dan masuk ke dalam kamar, aku ingin membersihkan badanku


karena aku merasa hari ini sangat gerah padahal ac di apartemen ini hidup, aku


juga melihat Nesya masih tertidur aku pun langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah berpakaian kembali aku membangunkan Nesya agar dia segera bangun dan


membersihkan badannya.


“Sayang, ayo cepetan bangun sudah


mau sore nanti keburu dingin,” ucapku sambil mengelus lengan Nesya dengan


lembut.


Sedangkan Nesya hanya bergumam

__ADS_1


saja, akan tetapi aku tetap membangunkan Nesya. Jika Nesya melanjutkan tidurnya


maka yang ada nanti dia akan terbangun tengah malam dan enggak akan bisa tidur


kembali, bahkan Nesya juga akan melewati makan malam dan aku tak mau membiarkan


itu semua terjadi karena itu semua enggak bagus untuk kesehatan.


“Ayolah, ini sebentar lagi juga


sudah mau magrib. Enggak boleh tahu kalau magrib tidur katanya,” ucapku kembali


yang masih berusaha membangunkan Nesya. Akan tetapi tetap saja Nesya enggak


bangun hingga aku pun memiliki ide dengan mengelitiki badannya hingga membuat


Nesya terbangun dan memukulku, akan tetapi aku hanya tersenyum.


“Re, bisa enggak gelitikin aku,


geli tahu engga,” ucap Nesya samba cemberut, namun aku segera mencuri ciuman


darinya hingga aku mendapatkan tatapan tajam dari Nesya, namun aku tak peduli


dan hanya tersenyum, lalu setelah itu aku juga menyuruh Nesya untuk segera


mandi. Sedangkan aku akan menyiapkan makan malam untuk kita berdua. Tentu saja


bukan aku yang memasak, karena aku hanya memsan makanan dari restoran, kini aku


menunggu pesanan itu datang aku menata piring dan gelas buat air minum kita


nanti, dan tak berapa lama pu pesanan yang aku pesan datang dan aku segera


mengambilnya.


Kami makan malam bersama dan


sesekali sambil mengobrol, bahkan aku juga sudah membicarakan pada Nesya jika


besok akan bertemu dengan Alex di restoran yang tak jauh dari apartemen kita


saat ini dan Nesya juga enggak masalah. Namun aku memberikan peringatan kepada


lainnya, aku juga enggak peduli Alex membawa istrinya atau tidak yang aku


inginkan urusan Nesya dan Alex selesai.


“Bagaimana kamu enggak keberatan


dengan persyaratan yang aku ajukan bukan?” tanyaku pada Nesya dan Nesya


menggelengkan kepalanya sambil tersenyum padaku.


Selesai makan malam aku membantu


Nesya membereskan semuanya, dan setelah itu kami duduk di sofa dengan melihat


acara tv. “Nes, aku enggak mau kehilangan kamu lagi dan aku mohon setelah ini


kamu enggak akan pernah meniggalkan aku lagi,” ucaku sambil mengelus puncak


kepala Nesya dengan lembut.


“Aku enggak akan melakukannya jika


kamu enggak memulainya lebih dahulu Re, dan kamu juga akan terbuka lagi


denganku kerana aku enggak mau di bohongi. Apa lagi sampai kaya kemarin dan itu


benar-benar keterlaluan Re,” ucap Nesya.


“Aku janji enggak akan mengulangi


itu lagi dan bahkan aku akan membuktikan semuanya bahwa aku sangat mencintaimu


dan tak akan pernah meninggalkan kamu atau pun menyia-nyiakan kamu,” ucapku,


lalu setelah itu aku membawa Nesya ke dalam pelukanku, sungguh aku tak ingin


kehilangannya lagi dan aku ingin menjadi bagian dari hidupku dimana Nesya akan


menjadi ibu yang baik dari anak-anakku nantinya, tentunya juga dengan Raina,

__ADS_1


dia akan mendapatkan kasih sayang yang tulus dari Nesya.


“Sudah Re, lepaskan aku. Apa kamu


mau aku buatk kopi kesukaan kamu?” tanya Nesya menatapku dan aku hanya


mengangguk, bahkan aku juga kembali mencuri ciuman darinya, sangat menyenangkan


bukan?


Nesya pun bergegas ke dapur dan


segera membuatkan kopi untukku dan membawakan camilan yang di beli oleh


suruhanku karena memang aku sudah menyiapkan semuanya. Aku meraih hpku dan


melihat beberapa email masuk dari klienku, aku pun membalas satu persatu dan


tak berapa lam Nesya kembali dengan membawa nampan.


“Ini pesanan kamu tuan,” ucapnya


namun aku hanya tersenyum dan mengambil kopi itu dari Nesya lalu meminumnya


sedikit, dan ya, rasanya sangat enak dan aku sangat merindukan aroma kopi yang


di buatkan oleh Nesya untukku dan aku harap ke depannya aku bisa menikmati kopi


buatan Nesya.


“Bagaimana rasanya?” tanya Nesya.


Aku menoleh ke Nesya sambil


menatapnya sebentar, “Rasanya sangat enak dan masih sama seperti dulu, dan aku


mau setiap pagi atau kapan pun itu kamu selalu membuatkannya untukku sayang,”


ucapku.


Malam telah tiba dan aku mengajak


Nesya untuk istirahat karena besok kita harus bertemu dengan Alex, aku memeluk


Nesya dan setelah itu aku juga tak lupa mengucapkan selamat malam kepadanya.


Aku bahagia bisa mendapatkannya kembali karena bagaimana juga Nesya sangatlah


susah kembali mempercayaiku namun aku akan merubah semuanya sedikit demi


sedikit, kelak kita akan hidup selamanya dan hanya maut yang akan memisahkan


kita.


Pagi harinya aku terbangun karena


jam alarm dari hp Nesya, aku meraih hp Nesya dan langsung mematikan bunyi


alarmnya, aku tersenyum saat melihat Nesya yang masih tertidur dengan pulas.


Aku pun mencium keningnya pelan agar aku tak membangunkan tidurnya. Aku pun


beranjak dari ranjang dan langsung berjalan menuju kamar mandi. Tak butuh waktu


lama aku pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe aku juga


melihat Nesya sudah terbangun dan sedang duduk sambil melamun.


“Sayang, kenapa kamu baru bangun


malah melamun?” tanyaku pada Nesya, aku juga berjalan pelan mendekatinya.


Nesya hanya tersenyum dan


menggelengkan kepalanya, “Kenapa kamu enggak bangunkan aku Re, padahal kamu


mandi aku bisa buatkan sarapan pagi untuk kita,” ucapnya namun aku hanya


tersenyum dan membawa Nesya ke dalam pelukanku.


“Enggak usah repot-repot sayang


lagi pula kita juga bisa makan ke restoran bawah,” ucapku, lalu aku melepaskan

__ADS_1


pelukanku, aku juga menyuruh Nesya untuk segera mandi.


__ADS_2