
Sampai di apartemen aku langsung
menjatuhkan badanku di sofa, rasanya begitu lelah karena hamper sepanjang
perjalanan kami terjebak oleh kemacetan kota, aku membaringkan tubuhku di sofa
dan memejamkan mataku. Aku ingin beristirahat sebentar baru nanti aku akan
membersihkan badanku yang sedikit lengket karena keringat.
“Sayang kenapa kamu enggak
istirahat di kamar saja nanti badan kamu sakit,” ucap Rehan namun aku tak
menghiraukannya, sedangakan Rehan membawa barang-barang kami ke dalam kamar.
Sampai akhirnya Rehan mengangkat tubuhku ke dalam kamar, aku pun taka da niatan
membuka mataku kalau jika itu sampai terjadi nanti yang ada Rehan akan
melakukan hal yang lebih. Rehan pun menurunkan aku di atas ranjang setelah itu
aku lihat dia keluar kamar dan aku pun tersenyum kecil.
Aku pun melajutkan tidurku
sebentar, karena memang aku tak mau melakukan hal apapun, apa lagi mandi.
Sedangkan di tempat yang sama Rehan yang sedang berada di sofa sambil menatap
hpnya dan menunggu orang mengangkat teleponnya. Ya, Rehan berusaha menghubungi
Alex agar besok pagi mereka bisa bertemua karena bagaimana juga dia juga tak
akan menunda-nuunda untuk bertemu dengan Alex karena semuanya biar jelas dan selesai.
“Hallo, apa benar ini dengan Alex?”
tanyaku.
“Ya, benar. Maaf ini dengan siapa
ya?” tanya Alex dari seberang telepon.
“Ini aku Rehan calon suami Nesya,
aku hanya ingin mengajakmu bertemu besok karena Nesya ingin bertemu dengan kamu
dan dia juga ingin berbicara padamu,” ucapku.
Aku juga bisa mendengar jika Alex
menghela nafas panjang, “Baiklah, dimana kita akan bertemu dan aku akan
menunggu kalian,” ucapnya.
“Baiklah, nanti akan aku kirimkan
untuk alamatnya,” ucapku, lalu aku juga menutup teleponnya sepihak.
Karena sebenarnya aku tak ingin
Nesya bertemu dengan Alex karena aku tak begitu suka dengannya namun bagaimana
juga ini juga keinginan Nesya untuk membicarakan semuanya. Setelah itu aku
beranjak dari dudukku dan masuk ke dalam kamar, aku ingin membersihkan badanku
karena aku merasa hari ini sangat gerah padahal ac di apartemen ini hidup, aku
juga melihat Nesya masih tertidur aku pun langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah berpakaian kembali aku membangunkan Nesya agar dia segera bangun dan
membersihkan badannya.
“Sayang, ayo cepetan bangun sudah
mau sore nanti keburu dingin,” ucapku sambil mengelus lengan Nesya dengan
lembut.
Sedangkan Nesya hanya bergumam
__ADS_1
saja, akan tetapi aku tetap membangunkan Nesya. Jika Nesya melanjutkan tidurnya
maka yang ada nanti dia akan terbangun tengah malam dan enggak akan bisa tidur
kembali, bahkan Nesya juga akan melewati makan malam dan aku tak mau membiarkan
itu semua terjadi karena itu semua enggak bagus untuk kesehatan.
“Ayolah, ini sebentar lagi juga
sudah mau magrib. Enggak boleh tahu kalau magrib tidur katanya,” ucapku kembali
yang masih berusaha membangunkan Nesya. Akan tetapi tetap saja Nesya enggak
bangun hingga aku pun memiliki ide dengan mengelitiki badannya hingga membuat
Nesya terbangun dan memukulku, akan tetapi aku hanya tersenyum.
“Re, bisa enggak gelitikin aku,
geli tahu engga,” ucap Nesya samba cemberut, namun aku segera mencuri ciuman
darinya hingga aku mendapatkan tatapan tajam dari Nesya, namun aku tak peduli
dan hanya tersenyum, lalu setelah itu aku juga menyuruh Nesya untuk segera
mandi. Sedangkan aku akan menyiapkan makan malam untuk kita berdua. Tentu saja
bukan aku yang memasak, karena aku hanya memsan makanan dari restoran, kini aku
menunggu pesanan itu datang aku menata piring dan gelas buat air minum kita
nanti, dan tak berapa lama pu pesanan yang aku pesan datang dan aku segera
mengambilnya.
Kami makan malam bersama dan
sesekali sambil mengobrol, bahkan aku juga sudah membicarakan pada Nesya jika
besok akan bertemu dengan Alex di restoran yang tak jauh dari apartemen kita
saat ini dan Nesya juga enggak masalah. Namun aku memberikan peringatan kepada
lainnya, aku juga enggak peduli Alex membawa istrinya atau tidak yang aku
inginkan urusan Nesya dan Alex selesai.
“Bagaimana kamu enggak keberatan
dengan persyaratan yang aku ajukan bukan?” tanyaku pada Nesya dan Nesya
menggelengkan kepalanya sambil tersenyum padaku.
Selesai makan malam aku membantu
Nesya membereskan semuanya, dan setelah itu kami duduk di sofa dengan melihat
acara tv. “Nes, aku enggak mau kehilangan kamu lagi dan aku mohon setelah ini
kamu enggak akan pernah meniggalkan aku lagi,” ucaku sambil mengelus puncak
kepala Nesya dengan lembut.
“Aku enggak akan melakukannya jika
kamu enggak memulainya lebih dahulu Re, dan kamu juga akan terbuka lagi
denganku kerana aku enggak mau di bohongi. Apa lagi sampai kaya kemarin dan itu
benar-benar keterlaluan Re,” ucap Nesya.
“Aku janji enggak akan mengulangi
itu lagi dan bahkan aku akan membuktikan semuanya bahwa aku sangat mencintaimu
dan tak akan pernah meninggalkan kamu atau pun menyia-nyiakan kamu,” ucapku,
lalu setelah itu aku membawa Nesya ke dalam pelukanku, sungguh aku tak ingin
kehilangannya lagi dan aku ingin menjadi bagian dari hidupku dimana Nesya akan
menjadi ibu yang baik dari anak-anakku nantinya, tentunya juga dengan Raina,
__ADS_1
dia akan mendapatkan kasih sayang yang tulus dari Nesya.
“Sudah Re, lepaskan aku. Apa kamu
mau aku buatk kopi kesukaan kamu?” tanya Nesya menatapku dan aku hanya
mengangguk, bahkan aku juga kembali mencuri ciuman darinya, sangat menyenangkan
bukan?
Nesya pun bergegas ke dapur dan
segera membuatkan kopi untukku dan membawakan camilan yang di beli oleh
suruhanku karena memang aku sudah menyiapkan semuanya. Aku meraih hpku dan
melihat beberapa email masuk dari klienku, aku pun membalas satu persatu dan
tak berapa lam Nesya kembali dengan membawa nampan.
“Ini pesanan kamu tuan,” ucapnya
namun aku hanya tersenyum dan mengambil kopi itu dari Nesya lalu meminumnya
sedikit, dan ya, rasanya sangat enak dan aku sangat merindukan aroma kopi yang
di buatkan oleh Nesya untukku dan aku harap ke depannya aku bisa menikmati kopi
buatan Nesya.
“Bagaimana rasanya?” tanya Nesya.
Aku menoleh ke Nesya sambil
menatapnya sebentar, “Rasanya sangat enak dan masih sama seperti dulu, dan aku
mau setiap pagi atau kapan pun itu kamu selalu membuatkannya untukku sayang,”
ucapku.
Malam telah tiba dan aku mengajak
Nesya untuk istirahat karena besok kita harus bertemu dengan Alex, aku memeluk
Nesya dan setelah itu aku juga tak lupa mengucapkan selamat malam kepadanya.
Aku bahagia bisa mendapatkannya kembali karena bagaimana juga Nesya sangatlah
susah kembali mempercayaiku namun aku akan merubah semuanya sedikit demi
sedikit, kelak kita akan hidup selamanya dan hanya maut yang akan memisahkan
kita.
Pagi harinya aku terbangun karena
jam alarm dari hp Nesya, aku meraih hp Nesya dan langsung mematikan bunyi
alarmnya, aku tersenyum saat melihat Nesya yang masih tertidur dengan pulas.
Aku pun mencium keningnya pelan agar aku tak membangunkan tidurnya. Aku pun
beranjak dari ranjang dan langsung berjalan menuju kamar mandi. Tak butuh waktu
lama aku pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe aku juga
melihat Nesya sudah terbangun dan sedang duduk sambil melamun.
“Sayang, kenapa kamu baru bangun
malah melamun?” tanyaku pada Nesya, aku juga berjalan pelan mendekatinya.
Nesya hanya tersenyum dan
menggelengkan kepalanya, “Kenapa kamu enggak bangunkan aku Re, padahal kamu
mandi aku bisa buatkan sarapan pagi untuk kita,” ucapnya namun aku hanya
tersenyum dan membawa Nesya ke dalam pelukanku.
“Enggak usah repot-repot sayang
lagi pula kita juga bisa makan ke restoran bawah,” ucapku, lalu aku melepaskan
__ADS_1
pelukanku, aku juga menyuruh Nesya untuk segera mandi.