
Sampai di villa aku langsung menuju
ke dalam kamar, air mataku kembali keluar begitu saja tanpa di suruh. Aku
menangis di dalam kamar,”Kenapa? Kenapa aku bertemu dengannya kembali tuhan,
jika hanya untuk menyakiti kembali lebih baik dia pergi dari hidupku selamanya
tuhan,” ucapku.
Memang selama ini aku belum bisa
melupakannya namun tetap saja jika aku melihat Rehan di depan mataku hanya akan
membuat luka kembali tergores dan itu sangat menyakiti hatiku. Bagaimana dia
bisa tahu padahal di sini ia juga sudah lama, namun baru kali ini ia melihat
Rehan di depan matanya.
“Arrrgggh! Aku benci dengan semua
ini, aku ingin dia pergi dari hidup,” ucapku dengan berteriak.
Beruntung saja bibi hari ini tak
ada di rumah ia sedang pergi ke rumah saudaranya dan bodyguard ada di luar
rumah hingga tak mendengarkan ku berteriak.
Setelah beberapa minggu ini aku
menunggu kabar dari Alex, namun sama sekali aku tak mendapatkannya. Bahkan Alex
tak mengirimiku pesan atau sekedar meneleponku semuanya nihil. Sekarang apa?
Hanya rasa sakit yang aku terima, selama ini aku seperti wanita bodoh yang di
bodohi wanita.
“Ternyata selain bodoh kamu juga
payah Nesya, bagaimana bisa kamu terjebak oleh laki-laki yang hanya
mempermainkan dirimu, menyedihkan.”
Aku menghela nafas panjang berharap
untuk meredakan semuanya namun rasa sakit dan sesak di dada masih aku rasakan
dan ini sangat menyakitkan bukan. Padahal aku berharap siang ini bisa
menghilangkan kesedihan dengan menyendiri di bawah pohon yang begitu membuatku
nyaman namun rasa sakit yang aku dapat.
Aku mengusap air mata ku dengan
kasar agar tak kembali keluar lagi, sudah cukup untuk bersedihnya. Aku tak mau
menangis hanya karena lelaki itu yang kini kembali menemuiku, aku pun beranjak
dari ranjangku dan berjalan keluar kamar untuk mengambil air. Tenggorokanku
terasa kering setelah tadi aku banyak bicara, aku mengambil air mineral lalu
meneguknya hingga tandas.
Di tempat yang berbeda Rehan berada
di depan villa Nesya, namun bodyguard Nesya tak mengetahuinya, Rehan menatap
villa Nesya dan sangat berharap Nesya kembali keluar untuk menemuinya. Namun
itu hanya akan di mimpinya saja, nyata kini aku sudah berdiri selama satu jam
setengah Nesya juga tak keluar.
Aku menghela nafas, lalu aku
berjalan meninggalkan villa Nesya, aku berjalan menuju ke villa ku yang tak
jauh. Aku benar-benar ingin menjelaskan semuanya kepada Nesya namun Nesya tak
ingin mendengarkanku sama sekali, aku tahu rasa sakit yang Nesya rasakan hingga
ia tak mau melihatku kembali bahkan tadi saja menamparku.
“Maafkan
aku sayang,” ucapku.
Namun aku juga tak akan menyerah
begitu saja bagaimana caranya aku akan tetap mendapatkan Nesya kembali, karena
Nesya segala bagiku dan aku juga harus menepati janjiku pada mama dan Raina.
Mungkin besok aku akan kembali
menemuinya, aku tak akan dengan mudah menyerah. Kalau aku menyerah berarti aku
menyia-nyiakan cinta sejatiku yang selama ini aku sakit terus-menerus.
Aku memasuki ke dalam villa ku, dan
aku pun duduk di sofa sambil mengusap wajahku dengan kasar.”Kira-kira apa yang
harus aku lakukan?” tanyaku dengan diri sendiri.
Dulu aku mendapatkan Nesya tidaklah
mudah dan selanjutnya aku membuat dia terluka dan setelah itu aku membuatnya
pergi dari ku dan kini aku juga sulit untuk meyakinkannya kembalu. Aku benar-benar
bodoh, memang aku menganggap bahwa Nesya sangatlah mudah untuk di lunakkan
namun aku salah mengira dan kini Nesya benar-benar sudah tak memiliki sedikit
kepercayaan lagi kepadaku.
“Tuan, tuan kenapa?” tanya bibi
pelan.
__ADS_1
Aku menatap bibi dan tersenyum
kepada bibi,”Tidak bi, apa bibi tahu bagaimana cara meminta maaf pada wanita?
Aku ingin sekali meminta maaf sama kekasihku yang sedang marah kepadaku,”
ucapku.
“Kenapa tuan tak ajak saja makan
malam romantis, atau hanya sekedar jalan-jalan ke tempat yang membuat tuan dan
kekasih tuan, seperti mengajaknya liburan bersama,” ucap bibi.
“Baiklah bi, aku akan mencobanya
dan terima kasih atas sarannya bi,” ucapku, bibi mengangguk lalu berpamitan
kepadaku untuk pergi kebelakang.
Aku memikirkan caranya agar Nesya
mau aku ajak jalan-jalan, mungki dekat-dekat sini banyak wisata yang sangat
romantis, atau mungkin pergi ke ubud.
Pagi ini aku lari pagi di sekitaran
villa dan udara pagi ini sangatlah sejuk, aku sudah lama tak pernah melakukan
lari pagi semenjak menikah dan memiliki anak Raina. Aku selalu di sibukkan
dengan pekerjaan dan urusan yang lainnya hingga aku melupakan semua kegiatan
yang sebelumnya pernah aku lakukan. Banyak bule yang sedang berjalan pagi atau
entah pergi ke pantai, mereka yang hanya mengenakan dalaman namun aku
sedikitpun tak pernah tertarik kepadanya.
Aku terus melanjutkan lari pagiku,
hingga kembali lagi ke villa. Namun saat aku mau kembali ke villa aku melihat
Nesya yang keluar dengan mengenakan rok pendek dan atasan yang memperlihatkan
perutnya. Aku ingin marah melihat Nesya yang mengenakan pakaian seperti itu,
namun aku urungkan niatku untuk mendekatinya dan akan memarahi Nesya. Aku sadar
bahwa Nesya masih marah kepadaku, aku pun hanya bisa mengikuti Nesya di
belakangnya.
Nesya sambil berlari-lari kecil di
tepian pantai sambil sesekali merentangkan kedua tangannya, aku senang melihat
Nesya yang bisa tersenyum seperti itu. Namun kapan aku bisa melakukan itu
kembali membuatnya selalu bahagia. Nesya terus berjalan hingga sampai di pohon
besar yang begitu rindang, jika siang hari di bawahnya maka akan terasa sangat
Aku pun bersembunyi di belakang
pohon agar Nesya tak melihatku, Nesya masih berdiri sambil menatap ombak lautan
yang tak begitu besar, seketika aku memiliki ide yang sangat nakal. Entahlah
itu datang tiba-tiba saja di pikiranku, di sini juga masih sepi jadi amankan
untuk melakukannya. Aku dengan hati-hati agar Nesya tak menoleh ke belakang,
dan ya, aku memeluk Nesya dari belakang.
“Aaaaaa!” teriak Nesya begitu keras
namun aku langsung menutup mulutnya dengan telapak tanganku.
“Tenang sayang, ini aku Rehan. Aku
sangat merindukan kamu,” bisikku tepat di belakang telinga Nesya.
Aku pun melepaskan bungkaman
tanganku pada mulut Nesya,”Pagi sayang, kita berjumpa lagi,” ucapku tersenyum.
“L-lepaskan Re, mau apa kamu ada di
sini,” ucap Nesya dingin.
Aku semakin memeluknya dengan
erat,”Aku tadi melihatmu sayang, jadi aku mengikutimu kesini,” ucapku sambil
sesekali mencium tengkuk leher milik Nesya.
Nesya yang masih berusaha melepaskan
pelukkan, namun itu tak akan mudah bagi Nesya karena tenaganya lebih kuat aku.
“Sayang, maafkan aku. Aku menemui
di sini hanya untuk meminta maaf kepadamu, lalu ayo kita menikah,” ucapku
dengan lembut.
“Jangan mimpi kamu Re, aku tak akan
mau kembali kepadamu,” ucap Nesya dengan ketus, namun buka Rehan namanya yang
akan menyerah begitu saja.
“Ayolah sayang, aku sangat
menyesal. Mari kita kembali seperti dulu memualainya dari nol, aku sangat
mencintamu Nes,” ucapku.
“Bukannya sudah jelas Re, aku
barusan bilang apa? Tapi kenapa kamu masih memaksaku, apa kamu juga belum paham
juga akan maksudku,” ucap Nesya kesal, dan kini ia bisa melepaskan pelukan
__ADS_1
tanganku yang melingkar di pinggangnya. Nesya agak sedikit menjauh dariku dan
hanya bisa menatapnya dengan sedih. Sampai seperti inikah Nesya membenciku? Ya,
tentu saja itu pasti karena perbuatanku sebelumnya, lagi pula wanita mana yang
tak akan marah jika tunangannya diam-diam kembali menikahi mantan istrinya apa
lagi sudah berkata tak cinta namun diam-diam menikah di belakangnya.
“Nes, tolong pikirkan kembali. Aku
masih membutuhkan kamu juga Raina dan mama juga menginginkan kamu kembali
kepadaku Nes, tolong kabulkan permintaanku untuk kali ini saja sayang,” ucapku
dengan memohon, namun aku melihat Nesya yang tersenyum meremehkan ku.
“Buat apa? Buat kamu sakiti aku
lagi Re, jika memang begitu lebih baik kamu cari saja wanita lain jangan aku
Re. Aku sudah cukup menderita, aku selalu mengikuti kemauan kamu tapi apa yang
kamu lakukan selama ini kepadaku Re,” ucap Nesya sinis, bahwa selama ini Nesya
memang selalu mengikuti semua kemauanku dn bahkan terkadang aku juga sampai
menyiksa Nesya saat berhubungan intim.
“Maafkan aku Nes, memang semua
salah aku tapi untuk kali inj saja tolong maafkan aku Nes. Aku ingin kita kembali
bersama, menjalin hubungan rumah tangga, menjadi ibu dari anak-anakku,” ucapku
dengan sangat tulus dari hatiku.
“Maaf Re, lebih baik kamu cari saja
wanita yang lainnya. Jangan mencariku kembali Re, biarkan aku hidup tenang dan
menemukan kebahagianku sediri,” ucap Nesya, lalu ia melangkahkan kakinya ingin
meninggalkanku, namun aku lebih dulu mencekal tangan Nesya dan menariknya
kembali ke dalam pelukkan ku.
Aku benar-benar tak ingin
kehilangan Nesya kembali, aku ingin Nesya kembali kepadaku. Membina rumah
tangga dengan bahagia tanpa ada yang menganggu.
“Please, jangan tinggalkan aku Nes.
Aku benar-benar minta maaf dan aku tak akan mengulanginya kembali. Lagi pula
tak akan ada lagi yang akan menganggu hubungan kita Nes, Kalina kini sudah
pergi jauh dan selamanya tak akan kembali. Jadi maafkan aku dan mari kita
kembali memulai hubungan kita mulai dari nol,” ucapku agar Nesya percaya jika
kali ini aku tak bermain-main lagi dengannya, aku ingi serius dan segera
menikah dengan Nesya.
Nesya masih diam saja dan ia juga
tak memberontak seperti tadi,”Aku tahu apa yang kamu rasakan sayang dan semua
ini karena ulahku, tapi aku benar-benar mencintaimu dan waktu itu aku melakukannya
karena terpaksa. Andai aku bisa mendengarkan kata-kata mama kejadiannya tak
akan seperti ini dan aku yakin lasti kamu sudah menjadi istriku dan pasti Raina
sebentar lagi memiliki adik,” ucapku.
“Sudah cukup Re, lepaskan aku.
Biarkan aku pergi dari sini,” ucap Nesya yang sedari tadi sangat dingin padaku.
“Kenapa? Kenapa Nes, aku mohon
kepadamu berikan aku kesempatan kedua, tapi kenapa kamu selalu menolaknya.
Tolong Nes berikan aku kesempatan untuk membutikannya,” ucapku.
Aku merubah posisi yang awalnya
saling berhadapan kini Nesya membelakangiku, dan aku mulai menciumi tengkuk
Nesya dengan pelan namun pasti dan tanganku yang meraba-raba tubuh Nesya dan
kali ini Nesya mulai memberontak dengan apa yang aku lakukan.
“Apa-apaan kamu Re, tolong jangan
seperti ini. Lepaskan aku atau aku akan berteriak dengan kencang agar orang-orang
datang kesini fmdan akan memukulimu,” ucap Nesya.
Namun itu semua tak akan membuatku
takut,”Silahkan saja sayang, jika mereka nanti datang ke sini maka aku tinggal
bilang jika kamu adalah istri aku dan kita datang kesini untuk bulan madu,”
ucapku enteng.
“Sialan
kamu Re, lepaskan aku,” ucapnya kembali.
“Aku tak akan melepaskan kamu
sayang, aku sangat merindukan dirimu dan kenapa kita tak mencobanya di sini,
lagi pula di sini sangat sepi. Apa kamu tak menginginkannya sayang,” godaku
namun tetap saja Nesya memberontak bahkan ia juga merutuki ku dengan sumpah
serapahnya dan aku hanya tersenyum geli.
__ADS_1