Cinta Om Duda

Cinta Om Duda
Nesya dan Rehan


__ADS_3

Sampai di villa aku langsung menuju


ke dalam kamar, air mataku kembali keluar begitu saja tanpa di suruh. Aku


menangis di dalam kamar,”Kenapa? Kenapa aku bertemu dengannya kembali tuhan,


jika hanya untuk menyakiti kembali lebih baik dia pergi dari hidupku selamanya


tuhan,” ucapku.


Memang selama ini aku belum bisa


melupakannya namun tetap saja jika aku melihat Rehan di depan mataku hanya akan


membuat luka kembali tergores dan itu sangat menyakiti hatiku. Bagaimana dia


bisa tahu padahal di sini ia juga sudah lama, namun baru kali ini ia melihat


Rehan di depan matanya.


“Arrrgggh! Aku benci dengan semua


ini, aku ingin dia pergi dari hidup,” ucapku dengan berteriak.


Beruntung saja bibi hari ini tak


ada di rumah ia sedang pergi ke rumah saudaranya dan bodyguard ada di luar


rumah hingga tak mendengarkan ku berteriak.


Setelah beberapa minggu ini aku


menunggu kabar dari Alex, namun sama sekali aku tak mendapatkannya. Bahkan Alex


tak mengirimiku pesan atau sekedar meneleponku semuanya nihil. Sekarang apa?


Hanya rasa sakit yang aku terima, selama ini aku seperti wanita bodoh yang di


bodohi wanita.


“Ternyata selain bodoh kamu juga


payah Nesya, bagaimana bisa kamu terjebak oleh laki-laki yang hanya


mempermainkan dirimu, menyedihkan.”


Aku menghela nafas panjang berharap


untuk meredakan semuanya namun rasa sakit dan sesak di dada masih aku rasakan


dan ini sangat menyakitkan bukan. Padahal aku berharap siang ini bisa


menghilangkan kesedihan dengan menyendiri di bawah pohon yang begitu membuatku


nyaman namun rasa sakit yang aku dapat.


Aku mengusap air mata ku dengan


kasar agar tak kembali keluar lagi, sudah cukup untuk bersedihnya. Aku tak mau


menangis hanya karena lelaki itu yang kini kembali menemuiku, aku pun beranjak


dari ranjangku dan berjalan keluar kamar untuk mengambil air. Tenggorokanku


terasa kering setelah tadi aku banyak bicara, aku mengambil air mineral lalu


meneguknya hingga tandas.


Di tempat yang berbeda Rehan berada


di depan villa Nesya, namun bodyguard Nesya tak mengetahuinya, Rehan menatap


villa Nesya dan sangat berharap Nesya kembali keluar untuk menemuinya. Namun


itu hanya akan di mimpinya saja, nyata kini aku sudah berdiri selama satu jam


setengah Nesya juga tak keluar.


Aku menghela nafas, lalu aku


berjalan meninggalkan villa Nesya, aku berjalan menuju ke villa ku yang tak


jauh. Aku benar-benar ingin menjelaskan semuanya kepada Nesya namun Nesya tak


ingin mendengarkanku sama sekali, aku tahu rasa sakit yang Nesya rasakan hingga


ia tak mau melihatku kembali bahkan tadi saja menamparku.


“Maafkan


aku sayang,” ucapku.


Namun aku juga tak akan menyerah


begitu saja bagaimana caranya aku akan tetap mendapatkan Nesya kembali, karena


Nesya segala bagiku dan aku juga harus menepati janjiku pada mama dan Raina.


Mungkin besok aku akan kembali


menemuinya, aku tak akan dengan mudah menyerah. Kalau aku menyerah berarti aku


menyia-nyiakan cinta sejatiku yang selama ini aku sakit terus-menerus.


Aku memasuki ke dalam villa ku, dan


aku pun duduk di sofa sambil mengusap wajahku dengan kasar.”Kira-kira apa yang


harus aku lakukan?” tanyaku dengan diri sendiri.


Dulu aku mendapatkan Nesya tidaklah


mudah dan selanjutnya aku membuat dia terluka dan setelah itu aku membuatnya


pergi dari ku dan kini aku juga sulit untuk meyakinkannya kembalu. Aku benar-benar


bodoh, memang aku menganggap bahwa Nesya sangatlah mudah untuk di lunakkan


namun aku salah mengira dan kini Nesya benar-benar sudah tak memiliki sedikit


kepercayaan lagi kepadaku.


“Tuan, tuan kenapa?” tanya bibi


pelan.

__ADS_1


Aku menatap bibi dan tersenyum


kepada bibi,”Tidak bi, apa bibi tahu bagaimana cara meminta maaf pada wanita?


Aku ingin sekali meminta maaf sama kekasihku yang sedang marah kepadaku,”


ucapku.


“Kenapa tuan tak ajak saja makan


malam romantis, atau hanya sekedar jalan-jalan ke tempat yang membuat tuan dan


kekasih tuan, seperti mengajaknya liburan bersama,” ucap bibi.


“Baiklah bi, aku akan mencobanya


dan terima kasih atas sarannya bi,” ucapku, bibi mengangguk lalu berpamitan


kepadaku untuk pergi kebelakang.


Aku memikirkan caranya agar Nesya


mau aku ajak jalan-jalan, mungki dekat-dekat sini banyak wisata yang sangat


romantis, atau mungkin pergi ke ubud.


Pagi ini aku lari pagi di sekitaran


villa dan udara pagi ini sangatlah sejuk, aku sudah lama tak pernah melakukan


lari pagi semenjak menikah dan memiliki anak Raina. Aku selalu di sibukkan


dengan pekerjaan dan urusan yang lainnya hingga aku melupakan semua kegiatan


yang sebelumnya pernah aku lakukan. Banyak bule yang sedang berjalan pagi atau


entah pergi ke pantai, mereka yang hanya mengenakan dalaman namun aku


sedikitpun tak pernah tertarik kepadanya.


Aku terus melanjutkan lari pagiku,


hingga kembali lagi ke villa. Namun saat aku mau kembali ke villa aku melihat


Nesya yang keluar dengan mengenakan rok pendek dan atasan yang memperlihatkan


perutnya. Aku ingin marah melihat Nesya yang mengenakan pakaian seperti itu,


namun aku urungkan niatku untuk mendekatinya dan akan memarahi Nesya. Aku sadar


bahwa Nesya masih marah kepadaku, aku pun hanya bisa mengikuti Nesya di


belakangnya.


Nesya sambil berlari-lari kecil di


tepian pantai sambil sesekali merentangkan kedua tangannya, aku senang melihat


Nesya yang bisa tersenyum seperti itu. Namun kapan aku bisa melakukan itu


kembali membuatnya selalu bahagia. Nesya terus berjalan hingga sampai di pohon


besar yang begitu rindang, jika siang hari di bawahnya maka akan terasa sangat


Aku pun bersembunyi di belakang


pohon agar Nesya tak melihatku, Nesya masih berdiri sambil menatap ombak lautan


yang tak begitu besar, seketika aku memiliki ide yang sangat nakal. Entahlah


itu datang tiba-tiba saja di pikiranku, di sini juga masih sepi jadi amankan


untuk melakukannya. Aku dengan hati-hati agar Nesya tak menoleh ke belakang,


dan ya, aku memeluk Nesya dari belakang.


“Aaaaaa!” teriak Nesya begitu keras


namun aku langsung menutup mulutnya dengan telapak tanganku.


“Tenang sayang, ini aku Rehan. Aku


sangat merindukan kamu,” bisikku tepat di belakang telinga Nesya.


Aku pun melepaskan bungkaman


tanganku pada mulut Nesya,”Pagi sayang, kita berjumpa lagi,” ucapku tersenyum.


“L-lepaskan Re, mau apa kamu ada di


sini,” ucap Nesya dingin.


Aku semakin memeluknya dengan


erat,”Aku tadi melihatmu sayang, jadi aku mengikutimu kesini,” ucapku sambil


sesekali mencium tengkuk leher milik Nesya.


Nesya yang masih berusaha melepaskan


pelukkan, namun itu tak akan mudah bagi Nesya karena tenaganya lebih kuat aku.


“Sayang, maafkan aku. Aku menemui


di sini hanya untuk meminta maaf kepadamu, lalu ayo kita menikah,” ucapku


dengan lembut.


“Jangan mimpi kamu Re, aku tak akan


mau kembali kepadamu,” ucap Nesya dengan ketus, namun buka Rehan namanya yang


akan menyerah begitu saja.


“Ayolah sayang, aku sangat


menyesal. Mari kita kembali seperti dulu memualainya dari nol, aku sangat


mencintamu Nes,” ucapku.


“Bukannya sudah jelas Re, aku


barusan bilang apa? Tapi kenapa kamu masih memaksaku, apa kamu juga belum paham


juga akan maksudku,” ucap Nesya kesal, dan kini ia bisa melepaskan pelukan

__ADS_1


tanganku yang melingkar di pinggangnya. Nesya agak sedikit menjauh dariku dan


hanya bisa menatapnya dengan sedih. Sampai seperti inikah Nesya membenciku? Ya,


tentu saja itu pasti karena perbuatanku sebelumnya, lagi pula wanita mana yang


tak akan marah jika tunangannya diam-diam kembali menikahi mantan istrinya apa


lagi sudah berkata tak cinta namun diam-diam menikah di belakangnya.


“Nes, tolong pikirkan kembali. Aku


masih membutuhkan kamu juga Raina dan mama juga menginginkan kamu kembali


kepadaku Nes, tolong kabulkan permintaanku untuk kali ini saja sayang,” ucapku


dengan memohon, namun aku melihat Nesya yang tersenyum meremehkan ku.


“Buat apa? Buat kamu sakiti aku


lagi Re, jika memang begitu lebih baik kamu cari saja wanita lain jangan aku


Re. Aku sudah cukup menderita, aku selalu mengikuti kemauan kamu tapi apa yang


kamu lakukan selama ini kepadaku Re,” ucap Nesya sinis, bahwa selama ini Nesya


memang selalu mengikuti semua kemauanku dn bahkan terkadang aku juga sampai


menyiksa Nesya saat berhubungan intim.


“Maafkan aku Nes, memang semua


salah aku tapi untuk kali inj saja tolong maafkan aku Nes. Aku ingin kita kembali


bersama, menjalin hubungan rumah tangga, menjadi ibu dari anak-anakku,” ucapku


dengan sangat tulus dari hatiku.


“Maaf Re, lebih baik kamu cari saja


wanita yang lainnya. Jangan mencariku kembali Re, biarkan aku hidup tenang dan


menemukan kebahagianku sediri,” ucap Nesya, lalu ia melangkahkan kakinya ingin


meninggalkanku, namun aku lebih dulu mencekal tangan Nesya dan menariknya


kembali ke dalam pelukkan ku.


Aku benar-benar tak ingin


kehilangan Nesya kembali, aku ingin Nesya kembali kepadaku. Membina rumah


tangga dengan bahagia tanpa ada yang menganggu.


“Please, jangan tinggalkan aku Nes.


Aku benar-benar minta maaf dan aku tak akan mengulanginya kembali. Lagi pula


tak akan ada lagi yang akan menganggu hubungan kita Nes, Kalina kini sudah


pergi jauh dan selamanya tak akan kembali. Jadi maafkan aku dan mari kita


kembali memulai hubungan kita mulai dari nol,” ucapku agar Nesya percaya jika


kali ini aku tak bermain-main lagi dengannya, aku ingi serius dan segera


menikah dengan Nesya.


Nesya masih diam saja dan ia juga


tak memberontak seperti tadi,”Aku tahu apa yang kamu rasakan sayang dan semua


ini karena ulahku, tapi aku benar-benar mencintaimu dan waktu itu aku melakukannya


karena terpaksa. Andai aku bisa mendengarkan kata-kata mama kejadiannya tak


akan seperti ini dan aku yakin lasti kamu sudah menjadi istriku dan pasti Raina


sebentar lagi memiliki adik,” ucapku.


“Sudah cukup Re, lepaskan aku.


Biarkan aku pergi dari sini,” ucap Nesya yang sedari tadi sangat dingin padaku.


“Kenapa? Kenapa Nes, aku mohon


kepadamu berikan aku kesempatan kedua, tapi kenapa kamu selalu menolaknya.


Tolong Nes berikan aku kesempatan untuk membutikannya,” ucapku.


Aku merubah posisi yang awalnya


saling berhadapan kini Nesya membelakangiku, dan aku mulai menciumi tengkuk


Nesya dengan pelan namun pasti dan tanganku yang meraba-raba tubuh Nesya dan


kali ini Nesya mulai memberontak dengan apa yang aku lakukan.


“Apa-apaan kamu Re, tolong jangan


seperti ini. Lepaskan aku atau aku akan berteriak dengan kencang agar orang-orang


datang kesini fmdan akan memukulimu,” ucap Nesya.


Namun itu semua tak akan membuatku


takut,”Silahkan saja sayang, jika mereka nanti datang ke sini maka aku tinggal


bilang jika kamu adalah istri aku dan kita datang kesini untuk bulan madu,”


ucapku enteng.


“Sialan


kamu Re, lepaskan aku,” ucapnya kembali.


“Aku tak akan melepaskan kamu


sayang, aku sangat merindukan dirimu dan kenapa kita tak mencobanya di sini,


lagi pula di sini sangat sepi. Apa kamu tak menginginkannya sayang,” godaku


namun tetap saja Nesya memberontak bahkan ia juga merutuki ku dengan sumpah


serapahnya dan aku hanya tersenyum geli.

__ADS_1


__ADS_2