Cinta Om Duda

Cinta Om Duda
Pertengkaran


__ADS_3

Deringan hp Nesya membangunkannya dari tidurnya setelah pertempuran panasnya dengan Rehan beberapa jam yang lalu, Nesya meraih hpnya dan melihat siapa yang menelponnya.


“Hallo Lex, ada apa?” tanya Nesya dengan suara khas bangun tidurnya.


“Apa terjadi sesuatu denganmu Nes? Kata Anton hari ini kamu nggak pergi bekerja,” ucap Alex dari sebrang telepon.


“Mmm … iya Lex, aku nggak enak badan jadi nggak masuk kerja,” ucap Nesya bohong.


“Tapi kamu nggak apa-apa kan? Parah nggak? Biar aku balik ke Jakarta saja ya,” ucap Alex dari saluran telepon sedikit panik.


“Aku nggak apa-apa Lex, hanya sakit demam biasa nanti juga sembuh hanya butuh istirahat saja,” ucap Nesya.


“Aarrgghh! Syukurlah kalau begitu, aku jadi lega dengarnya. Jangan lupa makan sama minum obat kalau begitu,” ucap Alex.


Nesya tersenyum simpul dengan perhatian yang diberikan oleh Alex,” iya, itu pasti kamu juga ya,” ucap Nesya.


“Hemm … kalau begitu aku sudahi teleponnya karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan,” ucap Alex.


“Baiklah,” ucap Nesya tersenyum lalu memutuskan panggilannya sepihak. Nesya menaruh hpnya kembali di nakas dan menoleh ke samping ada Rehan yang sudah terbangun dan menatapnya tajam.

__ADS_1


“Siapa yang menelponmu?” tanya Rehan dingin, dan Nesya cuek akan tatapan Reha, tak merasakan takut seperti tadi.


“Memangnya perlu aku jawab? Lagian ini juga nggak ada hubungannya denganmu Re,” ucap Nesya ketus.


“Ada, karena kamu adalah calon istriku,” ucap Rehan.


Nesya menghela nafas panjangnya,” apa aku nggak salah dengar Re?” tanya Nesya yang kini balik menatap tajam Rehan.


“Nggak sama sekali, memang dari awal kamu memang calon istriku,” ucap Rehan.


Nesya tertawa dengan sangat keras hingga memenuhi ruang kamar yang besar ini,” hanya mimpimu saja Re, dan bukankah kau sudah memiliki istri yang begitu cantik dan sempurna,” ucap Nesya.


Tamparan keras mengenai pipi Nesya dan membuat pipi Nesya merah. Nesya memeganggi pipinya yang baru saja di tampar oleh Rehan, sakit? Ya, sangat sakit dan terasa panas.


“Apa aku salah berbicara seperti itu Re? Apa aku salah, hingga kamu menamparku,” ucap Nesya dengan nyalang.


“Diam!” teriak Rehan.


Rehan memejamkan matanya dengan kedua tangannya terkepal.

__ADS_1


“Tampar, tampar saja Re jika memang itu membuatmu puas tapi memang kenyataannya begitu,” ucap Nesya.


Rehan Menghela nafasnya dan kepalan tangan itu terbuka, lalu bergegas turun dari ranjang pergi ke kamar mandi meninggalkan Nesya yang masih bergumul dengan selimut di ranjang.


Nesya tersenyum kecut,” dasar laki-laki brengsek,” umpat Nesya sambil masih memegangi pipinya yang panas.


Nesya kembali tidur dan menutupi badannya dengan selimut, Nesya merasakan seluruh badannya remuk karena pertempurannya dengan Rehan yang kasar.


Sekitar setengah jam Rehan baru saja keluar dari kamar mandi, Rehan sudah berpakaian rapi dan mengenakan dasi serta jasnya kembali.


“Aku akan pergi sebentar, dan jangan pernah kamu sesekali kabur dari rumah ini maka kamu akan mendapatkan gajarannya,” ucap Rehan lalu pergi meninggalkan Nesya.


Nesya melihat kepegian Rehan dan dirinya kembali bangun dan menghela nafas panjangnya. Kini dirinya sudah seperti di dalam sel yang tak bisa kemana-mana.


“Dasar Rehan bajingan,” umpat Nesya dengan keras.


Nesya lalu turun dari ranjangnya dengan telanjang dirinya berjalan ke kamar mandi, dirinya sudah tak peduli karena Rehan juga sudah pergi meninggalkan rumah.


Nesya menyalakan air untuk memenuhi bathub untuk di gunakan berendam, mungkin berendam air panas akan menghilangkan rasa sakit di badannya sedikit mereda. Nesya menceburkan seluruh badannya ke dalam air, Nesya memejamkan matanya. Mungkin untuk butuh waktu setengah jam dirinya akan berendam.

__ADS_1


__ADS_2