
Setelah seharian kita berada di
luar kini pun kita sampai di villa, Rehan juga berpamitan kepadaku akan kembali
ke villanya. Sebenarnya hari ini cukup menyenangkan dimana hubunganku dengan
Rehan kembali baik dan jika orang tahu akan perjalanan cintaku dengan Rehan
begitu rumit dan Rehan juga banyak menyakitiku mungkin mereka akan menganggapku
bodoh. Bagaimana tidak aku masih bisa menerimanya dan bahkan mungkin sebentar
lagi akan menjadi istrinya.
Aku pun kembali masuk ke dalam
villa, bahkan bibi juga sudah menyiapkanku makan malam, aku pun langsung menuju
ruang makan, di mana bibi sudah memasakkan aku makanan kesukaanku. Saat aku mau
mengambil nasi, tiba-tiba saja hpku berbunyi. Ya, layar hpku tertulis nama
Alex, dia meneleponku dan aku langsung mengangkatnya.
“Ya, hallo Lex,” ucapku dan aku
juga mendengar bahwa di seberang sana Alex menghela nafas panjang.
“Akhirnya kamu mengangkat teleponku
Nes,” ucapnya senang.
“Ada apa Lex? Kenapa baru saat ini
kamu meneleponku dan bahkan aku menelepon dan mengirimkan pesan kepadamu saja
hanya kamu hiraukan, kenapa Lex?” tanyaku dengan sedikit membentak hingga bibi
yang sedang mencuci piring kaget.
“Maafkan aku Nes, aku nggak
bermaksud mengabaikan kamu namu keadaan Nes yang memaksaku, aku benar-benar
minta maaf Nes,” ucap Alex dengan memohon.
“Sudahlah Lex percuma, buat apa
juga kamu meminta maaf dan itu semua juga tak ada gunanya, bukan begitu?”
tanyaku dingin.
“Ya, aku tahu dan kamu boleh marah
kepadaku Nes dan sekali lagi aku meminta maaf padamu jika kita tak akan bisa
menikah karena aku sudah menikah dengan Adeline, maafkan aku Nes, aku
terpaksa,” ucap Alex pelan namun aku masih bisa mendengarnya.
“Cukup Lex, aku nggak butuh
penjelasan dari kamu dan aku mendoakan kamu semoga kamu bahagia selamanya. Oh,
iya. Aku juga akan mengembalikan semuanya kepadamu karena semua ini adalah
milikmu bukan milikku jadi aku nggak berhak memiliki ini semua,” ucapku, aku
juga memutuskan telepon dengan sepihak karena aku sudah muak selalu di
permainkan oleh lelaki.
Setelah itu aku tak jadi makan
karena sudah merasa kenyang lebih dulu setelah aku mendapatkan telepon dari
Alex. Aku langsung menuju kekamar dan langsung membaringkan tubuhku di atas
ranjang, hingga aku menutup mataku dan pergi ke alam mimpi.
Pagi harinya aku terbangun karena
ada yang membukai tirai jendela dan itu ternyata Rehan, Rehan yang sudah berada
di dalam kamarku, dia juga tersenyum kepadaku dan mengucapkan selamat pagi
kepadaku. Rehan berjalan mendekatiku dan mencium bibirku dengan lembut namun
itu hanya sebentar.
“Maaf jika aku membangunkan kamu,”
ucapnya, namun aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalaku.
__ADS_1
“Kenapa kamu sudah berada di sini
Re?” tanyaku.
“Aku ingin mengajakmu sarapan
bersama,” ucap Rehan.
Aku pun bangun dari tidurku dan
duduk sambil menatap Rehan, “Kalau begitu tunggu aku, aku mau cuci muka sama
gosok gigi lebih dulu,” ucapku, setelah itu aku beranjank dari ranjang dan
berlari ke kamar mandi. Aku sarapan pagi bersama dengan Rehan, dia yang membeli
sarapan pagi untuk kami, entahlah cukup enak dan aku juga di buatkan oleh Rehan
susu panas. Selesai sarapan pagi Rehan mengajakku jalan-jalan di pinggir pantai
menikmati suasana pantai yang sudah ramai di penuhi penggunjung. Kami berdua
duduk di atas pasir putih sambil berjemur matahari mungkin sebentar lagi juga
akan menyengat.
Hari terus berganti, begitu juga
dengan hubunganku bersama dengan Rehan yang semakin kembali seperti semula
dimana pertama kali aku menjalin hubungan bersama dengannya. Aku setiap hari
menghabiskan waktu bersama dengannya, bahkan Rehan juga sangat perhatian dimana
dia selalu menyiapkan sarapan pagi dan selalu mengajakku untuk pergi keluar
walau hanya sekedar jalan-jalan dan Rehan juga sering banyak membelikan aku barang-barang
seperti dulu. Sampai suatu hari aku mengajak Rehan untuk kembali ke Jakarta,
aku juga berbicara ke Rehan jika nanti sudah sampai di Jakarta aku ingin
menemui Alex, aku ingin mengembalikan semuanya pada Alex karena memang semuanya
itu bukan hak aku dan aku juga bukan siapa-siapa Alex.
“Apa kamu sudah yakin ingin kembali
ke Jakarta Nes?” Tanya Rehan, dia memastikan padaku kembali karena takut tak
“Ya, Re. aku sangat yakin karena
aku juga ingin bertemu langsung dengan Alex dan Adeline, aku juga ingin
menyerahkan apa yang Alex sudah serahkan padaku, namun aku tak akan menerimanya
karena semuanya bukan milikku dan aku enggak ada hak,” ucapku, sedangkan Rehan
mengangguk sambil tersenyum lalu membawa tubuhku ke dalam pelukannya, begitu
nyaman dan aku sangat suka.
“Aku akan membantumu sayang, aku
juga ingin setelah semuanya kita segera menikah keraena aku tak mau menunggu
lebih lama lagi,” ucap Rehan, dan aku mengangguk dan membalas pelukannya
semakin erat.
“Terima kasih sayang,” ucapku.
Walau perbedaan umur kami sangat
jauh entah kenapa hatiku sudah terisi oleh Rehan, karena memang selama ini
nyatanya aku tak bisa jauh darinya. Buktinya kini aku kembali pada Rehan dan
kita juga sebentar lagi akan menikah, namun bagaimana juga aku menerima Rehan
apa adanya begitu juga dengan Rehan yang menerimaku apa adanya. Aku sangat
bersyukur walau tuhan memberiku banyak cobaan akan tetapi aku masih bisa
melewatinya dengan baik.
Sore harinya aku dan Rehan pergi ke
bandara karena sore ini kami akan kembali ke Jakarta, karena aku juga ingin
segera bertemu dengan Alex dan cepat mengembalikan semuanya. Aku dan Rehan
langsung masuk ke dalam pesawat, perjalanan kami menuju Jakarte kurang lebih
__ADS_1
membutuhkan waktu satu jam. Sepanjang penerbangan Rehan tak henti-hentinya
terus menciumku dan bahkan memeluk tubuhku hingga sedikit membuatku malu karena
sedari tadi orang di samping kami selalu melihat kea rah kami dan aku hanya
bisa tersenyum canggung jika berpapasan saling tatap. Rehan juga mengeluarkan jurus
andalannya yaitu perkataan manisnya, sungguh aku tak tahu Rehan belajar dari
mana semua itu.
“Re, apa kamu tak lelah sedari tadi
kami terus berbicara,” ucapku sambil mendongak agar bisa melihat wajah Rehan.
Rehan hanya menggeleng sambil
tersenyum padaku. “Tidak sayang, bahkan hari ini aku sangat bahagia karena aku
bisa membawamu kembali ke Jakarta dan membawamu bertemu dengan Raina dan mama
pasti mereka sangat senang dengan kedatangan kamu, karena mereka dan aku juga
sangat menginginkan kamu kembali ke rumah,” ucap Rehan lalu tangannya mengelus
puncak kepalaku dengan lembut.
“Hm, aku juga tak sabar bertemu
dengan mereka. Apa setelah ini kita bisa langsung bertemu dengan mama kamu dan
Raina?” tanyaku dengan serius, namun Rehan menggelengkan kepalanya dan
tersenyum jahil kepadaku.
“Tidak sayang, karena aku memberi
tahu mereka jika kita akan pulang besok jadi setelah kita sampai kita akan
pergi ke apartemen kamu dan menginap di sana lalu malamnya atau besok pagi kita
baru bertemu dengan Alex,” ucap Rehan.
Aku mengeryitkan dahiku, “Kenapa
harus menunggu besok untuk pulang ke rumah kamu Re?” tanyaku.
“Karena aku ingin menghabiskan
waktu berduaan bersama dengan kamu sayang, apa kamu tak menginginkannya. Bahkan
aku sudah sangat ingin namun kamu tak pernah memberikannya padaku dan malam ini
aku ingin melakukannya,” ucap Rehan dan satu tangannya tiba-tiba meremas bukit
kembarku hingga membuatku kaget.
“Re, kamu sudah gila ya, ini di
tempat umum kenapa kamu sangat mesum sih,” ucapku sedikit kesal karena
kejahilan Rehan.
“Bagaimana tidak sayang, kamu saja
membuatku ingin melakukannya hanya dengan melihatmu. Apa kamu tak lihat adik
kecilku yang di bawah sudah ingin segera di puaskan,” ucap Rehan kembali hingga
akhirnya aku mencubit perut Rehan dengan kecang.
“Akkh! Sakit tahu sayang, kenapa
kamu tega melakukannya,” ucap Rehan dan satu tangannya mengelus perutnya bekas
aku cubit. Sedangkan aku hanya tersenyum lalu sedikit menjauh dari Rehan, aku
tak mau dia dengan sesuka hatinya memegang benda berharga milikku apalagi di
dalam pesawat yang banyak orang.
Kami pun sampai di bandara
soekarno-hatta, dan kami pun langsung mencari taksi untuk menuju ke apartemenku
yang dulu. Mungkin kami membutuhkan waktu dua sampai tiga jam perjalanan untuk
menuju apartemen apalagi di jam seperti ini pasti jalana sudah sangat macet
sekali sudah tak heran hidup di kota metropolitan yang terkenal dengan
kemacetannya dan banjir, di sini aku banya bersyukur walau mungkin caraku
__ADS_1
salah, aku masih bisa mendapatkan tempat yang bagus dimana aku tak terkena
dampak banjir jika Jakarta sedang turun hujan jadi aku merasa aman.