Cinta Om Duda

Cinta Om Duda
Nesya dan Rehan


__ADS_3

Setelah seharian kita berada di


luar kini pun kita sampai di villa, Rehan juga berpamitan kepadaku akan kembali


ke villanya. Sebenarnya hari ini cukup menyenangkan dimana hubunganku dengan


Rehan kembali baik dan jika orang tahu akan perjalanan cintaku dengan Rehan


begitu rumit dan Rehan juga banyak menyakitiku mungkin mereka akan menganggapku


bodoh. Bagaimana tidak aku masih bisa menerimanya dan bahkan mungkin sebentar


lagi akan menjadi istrinya.


Aku pun kembali masuk ke dalam


villa, bahkan bibi juga sudah menyiapkanku makan malam, aku pun langsung menuju


ruang makan, di mana bibi sudah memasakkan aku makanan kesukaanku. Saat aku mau


mengambil nasi, tiba-tiba saja hpku berbunyi. Ya, layar hpku tertulis nama


Alex, dia meneleponku dan aku langsung mengangkatnya.


“Ya, hallo Lex,” ucapku dan aku


juga mendengar bahwa di seberang sana Alex menghela nafas panjang.


“Akhirnya kamu mengangkat teleponku


Nes,” ucapnya senang.


“Ada apa Lex? Kenapa baru saat ini


kamu meneleponku dan bahkan aku menelepon dan mengirimkan pesan kepadamu saja


hanya kamu hiraukan, kenapa Lex?” tanyaku dengan sedikit membentak hingga bibi


yang sedang mencuci piring kaget.


“Maafkan aku Nes, aku nggak


bermaksud mengabaikan kamu namu keadaan Nes yang memaksaku, aku benar-benar


minta maaf Nes,” ucap Alex dengan memohon.


“Sudahlah Lex percuma, buat apa


juga kamu meminta maaf dan itu semua juga tak ada gunanya, bukan begitu?”


tanyaku dingin.


“Ya, aku tahu dan kamu boleh marah


kepadaku Nes dan sekali lagi aku meminta maaf padamu jika kita tak akan bisa


menikah karena aku sudah menikah dengan Adeline, maafkan aku Nes, aku


terpaksa,” ucap Alex pelan namun aku masih bisa mendengarnya.


“Cukup Lex, aku nggak butuh


penjelasan dari kamu dan aku mendoakan kamu semoga kamu bahagia selamanya. Oh,


iya. Aku juga akan mengembalikan semuanya kepadamu karena semua ini adalah


milikmu bukan milikku jadi aku nggak berhak memiliki ini semua,” ucapku, aku


juga memutuskan telepon dengan sepihak karena aku sudah muak selalu di


permainkan oleh lelaki.


Setelah itu aku tak jadi makan


karena sudah merasa kenyang lebih dulu setelah aku mendapatkan telepon dari


Alex. Aku langsung menuju kekamar dan langsung membaringkan tubuhku di atas


ranjang, hingga aku menutup mataku dan pergi ke alam mimpi.


Pagi harinya aku terbangun karena


ada yang membukai tirai jendela dan itu ternyata Rehan, Rehan yang sudah berada


di dalam kamarku, dia juga tersenyum kepadaku dan mengucapkan selamat pagi


kepadaku. Rehan berjalan mendekatiku dan mencium bibirku dengan lembut namun


itu hanya sebentar.


“Maaf jika aku membangunkan kamu,”


ucapnya, namun aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalaku.

__ADS_1


“Kenapa kamu sudah berada di sini


Re?” tanyaku.


“Aku ingin mengajakmu sarapan


bersama,” ucap Rehan.


Aku pun bangun dari tidurku dan


duduk sambil menatap Rehan, “Kalau begitu tunggu aku, aku mau cuci muka sama


gosok gigi lebih dulu,” ucapku, setelah itu aku beranjank dari ranjang dan


berlari ke kamar mandi. Aku sarapan pagi bersama dengan Rehan, dia yang membeli


sarapan pagi untuk kami, entahlah cukup enak dan aku juga di buatkan oleh Rehan


susu panas. Selesai sarapan pagi Rehan mengajakku jalan-jalan di pinggir pantai


menikmati suasana pantai yang sudah ramai di penuhi penggunjung. Kami berdua


duduk di atas pasir putih sambil berjemur matahari mungkin sebentar lagi juga


akan menyengat.


Hari terus berganti, begitu juga


dengan hubunganku bersama dengan Rehan yang semakin kembali seperti semula


dimana pertama kali aku menjalin hubungan bersama dengannya. Aku setiap hari


menghabiskan waktu bersama dengannya, bahkan Rehan juga sangat perhatian dimana


dia selalu menyiapkan sarapan pagi dan selalu mengajakku untuk pergi keluar


walau hanya sekedar jalan-jalan dan Rehan juga sering banyak membelikan aku barang-barang


seperti dulu. Sampai suatu hari aku mengajak Rehan untuk kembali ke Jakarta,


aku juga berbicara ke Rehan jika nanti sudah sampai di Jakarta aku ingin


menemui Alex, aku ingin mengembalikan semuanya pada Alex karena memang semuanya


itu bukan hak aku dan aku juga bukan siapa-siapa Alex.


“Apa kamu sudah yakin ingin kembali


ke Jakarta Nes?” Tanya Rehan, dia memastikan padaku kembali karena takut tak


“Ya, Re. aku sangat yakin karena


aku juga ingin bertemu langsung dengan Alex dan Adeline, aku juga ingin


menyerahkan apa yang Alex sudah serahkan padaku, namun aku tak akan menerimanya


karena semuanya bukan milikku dan aku enggak ada hak,” ucapku, sedangkan Rehan


mengangguk sambil tersenyum lalu membawa tubuhku ke dalam pelukannya, begitu


nyaman dan aku sangat suka.


“Aku akan membantumu sayang, aku


juga ingin setelah semuanya kita segera menikah keraena aku tak mau menunggu


lebih lama lagi,” ucap Rehan, dan aku mengangguk dan membalas pelukannya


semakin erat.


“Terima kasih sayang,” ucapku.


Walau perbedaan umur kami sangat


jauh entah kenapa hatiku sudah terisi oleh Rehan, karena memang selama ini


nyatanya aku tak bisa jauh darinya. Buktinya kini aku kembali pada Rehan dan


kita juga sebentar lagi akan menikah, namun bagaimana juga aku menerima Rehan


apa adanya begitu juga dengan Rehan yang menerimaku apa adanya. Aku sangat


bersyukur walau tuhan memberiku banyak cobaan akan tetapi aku masih bisa


melewatinya dengan baik.


Sore harinya aku dan Rehan pergi ke


bandara karena sore ini kami akan kembali ke Jakarta, karena aku juga ingin


segera bertemu dengan Alex dan cepat mengembalikan semuanya. Aku dan Rehan


langsung masuk ke dalam pesawat, perjalanan kami menuju Jakarte kurang lebih

__ADS_1


membutuhkan waktu satu jam. Sepanjang penerbangan Rehan tak henti-hentinya


terus menciumku dan bahkan memeluk tubuhku hingga sedikit membuatku malu karena


sedari tadi orang di samping kami selalu melihat kea rah kami dan aku hanya


bisa tersenyum canggung jika berpapasan saling tatap. Rehan juga mengeluarkan jurus


andalannya yaitu perkataan manisnya, sungguh aku tak tahu Rehan belajar dari


mana semua itu.


“Re, apa kamu tak lelah sedari tadi


kami terus berbicara,” ucapku sambil mendongak agar bisa melihat wajah Rehan.


Rehan hanya menggeleng sambil


tersenyum padaku. “Tidak sayang, bahkan hari ini aku sangat bahagia karena aku


bisa membawamu kembali ke Jakarta dan membawamu bertemu dengan Raina dan mama


pasti mereka sangat senang dengan kedatangan kamu, karena mereka dan aku juga


sangat menginginkan kamu kembali ke rumah,” ucap Rehan lalu tangannya mengelus


puncak kepalaku dengan lembut.


“Hm, aku juga tak sabar bertemu


dengan mereka. Apa setelah ini kita bisa langsung bertemu dengan mama kamu dan


Raina?” tanyaku dengan serius, namun Rehan menggelengkan kepalanya dan


tersenyum jahil kepadaku.


“Tidak sayang, karena aku memberi


tahu mereka jika kita akan pulang besok jadi setelah kita sampai kita akan


pergi ke apartemen kamu dan menginap di sana lalu malamnya atau besok pagi kita


baru bertemu dengan Alex,” ucap Rehan.


Aku mengeryitkan dahiku, “Kenapa


harus menunggu besok untuk pulang ke rumah kamu Re?” tanyaku.


“Karena aku ingin menghabiskan


waktu berduaan bersama dengan kamu sayang, apa kamu tak menginginkannya. Bahkan


aku sudah sangat ingin namun kamu tak pernah memberikannya padaku dan malam ini


aku ingin melakukannya,” ucap Rehan dan satu tangannya tiba-tiba meremas bukit


kembarku hingga membuatku kaget.


“Re, kamu sudah gila ya, ini di


tempat umum kenapa kamu sangat mesum sih,” ucapku sedikit kesal karena


kejahilan Rehan.


“Bagaimana tidak sayang, kamu saja


membuatku ingin melakukannya hanya dengan melihatmu. Apa kamu tak lihat adik


kecilku yang di bawah sudah ingin segera di puaskan,” ucap Rehan kembali hingga


akhirnya aku mencubit perut Rehan dengan kecang.


“Akkh! Sakit tahu sayang, kenapa


kamu tega melakukannya,” ucap Rehan dan satu tangannya mengelus perutnya bekas


aku cubit. Sedangkan aku hanya tersenyum lalu sedikit menjauh dari Rehan, aku


tak mau dia dengan sesuka hatinya memegang benda berharga milikku apalagi di


dalam pesawat yang banyak orang.


Kami pun sampai di bandara


soekarno-hatta, dan kami pun langsung mencari taksi untuk menuju ke apartemenku


yang dulu. Mungkin kami membutuhkan waktu dua sampai tiga jam perjalanan untuk


menuju apartemen apalagi di jam seperti ini pasti jalana sudah sangat macet


sekali sudah tak heran hidup di kota metropolitan yang terkenal dengan


kemacetannya dan banjir, di sini aku banya bersyukur walau mungkin caraku

__ADS_1


salah, aku masih bisa mendapatkan tempat yang bagus dimana aku tak terkena


dampak banjir jika Jakarta sedang turun hujan jadi aku merasa aman.


__ADS_2