Cinta Om Duda

Cinta Om Duda
Nesya dan Rehan


__ADS_3

Hari ini mama Maria mengajakku


pergi ke gedung untuk acara pernikahanku dengan Rehan, dan ya. Saat aku sudah


sampai di sana bersama dengan mama, dan Raina, aku sangat kagum karena semuanya


sangatlah indah dan semuanya sama dengan permintaanku. Aku di ajak keliling


oleh mama untuk memastikan jika semuanya enggak ada kekurangan atau kurang


bagus untuk di lihat.


“Bagaimana sayang, apa kamu puas


dengan semuanya atau ada yang kurang biar mama yang urus?” tanya mama Maria.


Aku pun tersenyum, lalu memeluk


mama Maria dengan erat. “Terima kasih ma, ini sudah sangatlah bagus dan enggak


ada kekurangannya, ini sudah lebih dari cukup,” ucapku.


Mama Maria pun mengelus punggungku


dengan lembut, “Sama-sama sayang, mama lakukan semuanya agar kalian tetap


bersama selamanya dan hanya maut yang memisahkan kalian berdua. Mama melakukan


ini karena mama sangat menyayangi kalian berdua,” ucap mama Maria.


Setelah itu mama melepaskan


pelukannya dan menatapku sejenak sambil tersenyu, “Kalau begitu ayo kita ke


tempat selanjutnya atau bagaimana kita ke tempat makanannya saja dan kamu juga


memilih makanan yang di sajikan nanti untuk tamu undangan,” ajak mama Maria,


sedangkan aku hanya mengangguk.


Aku benar-benar bahagia saat ini,


aku bisa mendapatkan mama mertua yang begitu sangat sayang padaku bahkan kasih


sayang yang dia berikan sangatlah sama dengan mama kandungku. Oh, iya. Aku


sampai lupa memberikan kabar pada mama dan papa yang berada di kampong, mungkin


nanti sehabis ini aku akan mengabari mereka dan menyuruh mereka untuk datang ke


pernikahan dan pasti mereka juga sangat kaget dengan pernikahanku karena


mungkin terlihat mendadak sedangkan selama ini aku enggak pernah memberi tahu


mereka jika aku memiliki kekasih.


Setelah itu aku, mama dan Raina


kembali pulang karena semuanya sudah beres dan taka da masalah kini aku dan


mama sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan makan siang nanti, sedangkan Raina


bermain bersama degan pengasuhnya tadi aku juga sudah memberikan Raina camilan


sehat dan juga jus buah dengan sayur agar dia minum karena itu sangatlah


penting. Aku akan memasak sayur asam dan juga ayam goreng, aku harap Rehan akan


menyukainya karena tadi dia sempat bilang jika saat makan siang dia akan pulang


ke rumah untuk makan siang bersama di rumah.


Aku yang memasak semuanya dan mama


Maria yang menyiapkan piring dan yang lainnya di bantu oleh bibi, aku senang


bisa memasak semua ini untuk semuanya karena biasanya aku memasak untuk diriku


dan Rehan tapi kini semuanya bisa mencicipi masakanku dan aku harap semuanya


akan menyukainya. Setelah selesai dan tertata rapi di meja makan kini tinggal


menunggu Rehan datang, namun sebelum itu aku naik ke lantai atas untuk melihat


hpku apakah ada telepon atau pesan masuk dan sekalian mengabari orang tua aku


sekalian kakak aku. Aku baru sadar jika selama ini aku memiliki kakak dan aku


juga sudah lama tak mengunjunginya. Apakah setelah makan siang nanti aku akan


pergi kerumahnya dan memberi tahu, hah! Sebenarnya aku masih malas untuk menemui


kakakku namun dia satu-satunya saudara yang aku miliki dan taka da yang lainnya


bagaimana dia menjelek-jelekan aku tapi tetap saja dia kakak aku dan aku juga


enggak boleh membalasnya dengan kejahatan juga.


“Hah! Baiklah mungkin nanti aku


sebaiknya ke rumahnya saja dari pada meneleponnya,” ucapku. Setelah itu aku


menelepon orangtuaku dan benar saja mereka sangatlah kaget dan aku juga


menceritakan semuanya bahwa lelaki yang akan menikah denganki adalah seorang


duda dan sudah memiliki anak. Mereka sedikit marah namun aku memberi mereka


sedikit penjelasan dan akhirnya mereka merelakan aku untuk menikah dengan Rehan


dan mereka juga akan berangkat ke Jakarta besok.


“Sayang,” panggil Rehan yang baru


saja masuk ke dalam kamar dan saat itu pula aku baru saja selesai menelepon

__ADS_1


orang tuaku.


“Ya, Re. kamu baru kembali ya?”


tanyaku, lalu setelah itu aku berjalan mendekatinya dan membantu melepaskan


jasnya dan menaruh di tempatnya.


“Iya, dan aku juga sangat lapar.


Apa kamu sudah memasak makan siang?” tanyanya dan aku pun mengangguk, lalu


mengajak Rehan keluar kamar dan turun ke bawah menuju ruang makan dan di sana


mama dan yang lainnya sudah menunggu.


Kami menikmati makan siang kami


dengan sesekali di selingi obrolah tentang pekerjaan Rehan, setelah selesai


makan aku di bantu mama dan bibi membereskannya dan setelah itu aku juga


menyuruh Raina untuk tidur siang. Rehan yang masih duduk di ruang keluarga


sambil memegang ipadnya dan dia juga melihatku lalu tersenyum manis padaku.


“Ada apa sayang? Kenapa kamu di situ saja. Duduk di sini,” ucap Rehan sambil


menepuk sofa di sampingnya.


“Aku ingin berbicara padamu,”


ucapku dan duduk di sampingnya.


“Apa


itu?” tanya Rehan.


“Hm, a-aku ingin ke rumah kakakku


dan tadi aku juga sudah memberikan kabar pada orang tuaku jika aku akan menikah.


Dan siang ini aku berniat untuk pergi ke rumah kakak aku, apa kamu membolehkan


aku pergi ke sana?” tanyaku.


Rehan hanya tersenyum lalu membawa


tubuhku ke dalam pelukannya. “Tentu saja boleh sayang, bagaimana kalau kita


berdua ke sana, lagi pula aku juga enggak kembali ke kantor dan aku akan


menemanimu,” ucap Rehan.


“Terima kasih Re, kamu enggak


keberatankan dengan kedatangan orangtuaku dan kakak aku?” tanyaku sekali lagi.


“Tentu saja tidak sayang, bagaimana


menghormati juga. Lagi pula bukannya aku sudah bislang aku menerima kamu apa


adanya dan berarti aku juga menerima orang tua dan kakak kamu,” ucap Rehan, sedangkan


aku hanya mengangguk.


Kini kami pun kembali pulang dari


rumah kakak aku dan ya, kini kakak aku juga suda bersikap baik padaku. Entah


itu pura-pura atau tulus aku juga enggak tahu dan yang pasti untuk saat ini aku


sudah memaafkannya karena bagiku percuma saja jika aku dendam pada kakakku


sendiri karena dia juga adalah orang tuaku yang menjagaku di sini saat aku jauh


dari mama dan papa, dan kini aku sebentar lagi akan menjadi seorang istri, aku


juga harus merubah sikapku karena bagaimana juga aku enggakl boleh egois.


“Sayang, apa masih ada yang kamu


pikirkan hm?” tanya Rehan menoleh ke arahku, sedangkan aku tersenyum dan


menggelengkan kepalaku.


“Enggak ada Re, apa kita mau


kembali ke rumah sekarang?” tanyaku dan Rehan menggelengkan kepala dengan masih


fokus ke depan.


“Bagaimana kalau kita jalan-jalan


saja dan terserah kamu mau ke mana saja aku akan menurutinya,” ucap Rehan.


Aku menghela nafas panjang,


“Terserah kamu saja Re, tapi bagaimana kalau kita menonton saja,” ajakku dan


Rehan pun mengangguk. Jalanan siang ini sangatlah ramai padahal belum juga


waktunya jam pulang kantor atau pekerja lainnya.


Rehan membelokkan mobilnya ke pusat


perbelajaan yang terkenal di Jakarta, di sana juga ada bioskopnya. Aku dan


Rehan turun dari mobil, Rehan juga menggandeng tanganku saat kami mau masuk ke


dalam, dan aku juga bisa melihat beberapa orang melihat ke arah kami namun aku


tak memperdulikannya. Aku memegang lengan Rehan dengan sangat erat, bahkan


sampai kami mengantri tiket untuk menonton.

__ADS_1


Kami menikmati film yang sedang


kami tonton dan sedari tadi aku hanya memeluk Rehan karena takut dengan film


horror yang sedang tayang. Film selesai sekitar satu jam setengah dan kami pun


keluar dari ruang bioskop namun sebelum itu aku mengajak Rehan untuk menemaniku


ke kamar mandi lebih dulu. Setelah itu Rehan mengajakku untuk berkeliling dan


dia juga menawariku untuk membeli sesuatu namun aku belum begitu tertarik


dengan apa yang aku lihat dan aku tertarik dengan makanan dan minuman yang di


jual, entah kenapa aku melihatnya sangat ingin dan akhirnya Rehan membelikannya


untukku.


Aku mengajak Rehan untuk duduk


sebentar di kursi restoran yang ada di dalam pusat perbelanjaan. “Apa kamu


lelah sayang?” tanya Rehan namun aku hanya menggelengkan kepalaku.


“Aku tidak apa-apa Re, jadi kamu


enggak usah khawatir. Bagaimana kalau kita makan lagi, aku sudah lapar lagi,”


ucapku sambil mengelus perutku dan tersenyum manis pada Rehan. Akhirnya Rehan


hanya bisa mengangguk dan memesan makanan untuk kami berdua.


“Baguslah, mulai sekarang kamu


harus makan banyak biar badan kamu enggak kurus seperti ini,” ucap Rehan, dan


aku pun segera mencubit lengannya pelan.


Kami pun menikmati makanan yang ten


pesan tadi, makanannya lumayan sangat enak walau enggak habis tapi kali ini aku


juga makan sangat banyak. Selesai makan aku mengajak Rehan untuk kembali


berkeliling hingga aku membeli beberapa baju dan juga tas. Tentu semuanya yang


membayar Rehan karena dia yang menyuruhku untuk belanja. Karena hari sudah


semakin sore dan sebentar lagi mau malam aku pun mengajak Rehan untuk kembali


pulang.


“Oh, iya. Sayang nanti orang tua


kamu mau kamu bawa ke rumah atau bagaimana?” tanya Rehan padaku.


“Mereka ingin menuju ke rumah


kakak, dan aku juga enggak mau memaksanya Re karena mereka juga sudah lama tak


bertemu dengan kakaku biarlah,” ucapku sedangkan Rehan hanya mengangguk saja.


Kami menuju rumah membutuhkan waktu


dua jam karena memang di jalanan sangat macet sekali, aku langsung naik ke atas


dan masuk ke dalam kamar bersama dengan Rehan. Mama Maria tak mempermasalahkan


soal ini karena mama juga sudah tahu dan kehidupanku baik aku dan Rehan juga


sama-sama bebas. Mungkin ini sangatlah tak pantas untuk di contoh namun mau


bagaimana juga jangan ada nanti anak kita juga akan mengalami hal yang sama dan


itu semua cukup aku saja yang menanggungnya.


Aku langsung menuju kamar mandi


untuk membersihkan badanku karena lengket oleh keringat lagi pula hari ini


cuaca juga sangat panas sekali, aku mandi dengan menggunakan air dingin namun


tetap saja rasanya badan aku sangat panas dan gerah walaupun sudah mandi dengan


menggunakan air dingin. Tak butuh waktu lama kini aku selesai mandi dan keluar


kamar mandi dengan menggunakan bathrobe.


“Re, lebih baik kamu mandi lebih


dulu sana,” ucapku dan Rehan pun segera beranjak dari duduknya, berjalan ke


kamar mandi. Sedangkan aku berganti pakaian, jam sudah menunjukkan pukul 07.00


malam. Aku masih menunggu Rehan selesai mandi sambil menyisir rambutku di meja


rias dan tak lama kemudian Rehan keluar dari kamar mandi dan menuju walk in


closet untuk segera berganti baju.


“Re, apa kamu setelah ini mau turun


ke bawah untuk makan malam bersama dengan yang lainnya?” tanyaku pada Rehan.


“Kenapa memangnya sayang? Apa kamu


enggak lapar?” tanya balik Rehan, sedangkan aku menggelengkan kepalaku.


“Aku masih kenyang dan mungkin aku


enggak ikut makan malam, sebaiknya kamu saja Re jika kamu lapar,” ucapku.


Rehan hanya mengangguk saja dan dia


bahkan juga menyuruhku untuk istirahat lebih dulu, sedangkan dia mau ke ruang

__ADS_1


kerjanya dulu sebelum ikut bergabung makan malam dengan yang lainnya.


__ADS_2