
Hari ini mama Maria mengajakku
pergi ke gedung untuk acara pernikahanku dengan Rehan, dan ya. Saat aku sudah
sampai di sana bersama dengan mama, dan Raina, aku sangat kagum karena semuanya
sangatlah indah dan semuanya sama dengan permintaanku. Aku di ajak keliling
oleh mama untuk memastikan jika semuanya enggak ada kekurangan atau kurang
bagus untuk di lihat.
“Bagaimana sayang, apa kamu puas
dengan semuanya atau ada yang kurang biar mama yang urus?” tanya mama Maria.
Aku pun tersenyum, lalu memeluk
mama Maria dengan erat. “Terima kasih ma, ini sudah sangatlah bagus dan enggak
ada kekurangannya, ini sudah lebih dari cukup,” ucapku.
Mama Maria pun mengelus punggungku
dengan lembut, “Sama-sama sayang, mama lakukan semuanya agar kalian tetap
bersama selamanya dan hanya maut yang memisahkan kalian berdua. Mama melakukan
ini karena mama sangat menyayangi kalian berdua,” ucap mama Maria.
Setelah itu mama melepaskan
pelukannya dan menatapku sejenak sambil tersenyu, “Kalau begitu ayo kita ke
tempat selanjutnya atau bagaimana kita ke tempat makanannya saja dan kamu juga
memilih makanan yang di sajikan nanti untuk tamu undangan,” ajak mama Maria,
sedangkan aku hanya mengangguk.
Aku benar-benar bahagia saat ini,
aku bisa mendapatkan mama mertua yang begitu sangat sayang padaku bahkan kasih
sayang yang dia berikan sangatlah sama dengan mama kandungku. Oh, iya. Aku
sampai lupa memberikan kabar pada mama dan papa yang berada di kampong, mungkin
nanti sehabis ini aku akan mengabari mereka dan menyuruh mereka untuk datang ke
pernikahan dan pasti mereka juga sangat kaget dengan pernikahanku karena
mungkin terlihat mendadak sedangkan selama ini aku enggak pernah memberi tahu
mereka jika aku memiliki kekasih.
Setelah itu aku, mama dan Raina
kembali pulang karena semuanya sudah beres dan taka da masalah kini aku dan
mama sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan makan siang nanti, sedangkan Raina
bermain bersama degan pengasuhnya tadi aku juga sudah memberikan Raina camilan
sehat dan juga jus buah dengan sayur agar dia minum karena itu sangatlah
penting. Aku akan memasak sayur asam dan juga ayam goreng, aku harap Rehan akan
menyukainya karena tadi dia sempat bilang jika saat makan siang dia akan pulang
ke rumah untuk makan siang bersama di rumah.
Aku yang memasak semuanya dan mama
Maria yang menyiapkan piring dan yang lainnya di bantu oleh bibi, aku senang
bisa memasak semua ini untuk semuanya karena biasanya aku memasak untuk diriku
dan Rehan tapi kini semuanya bisa mencicipi masakanku dan aku harap semuanya
akan menyukainya. Setelah selesai dan tertata rapi di meja makan kini tinggal
menunggu Rehan datang, namun sebelum itu aku naik ke lantai atas untuk melihat
hpku apakah ada telepon atau pesan masuk dan sekalian mengabari orang tua aku
sekalian kakak aku. Aku baru sadar jika selama ini aku memiliki kakak dan aku
juga sudah lama tak mengunjunginya. Apakah setelah makan siang nanti aku akan
pergi kerumahnya dan memberi tahu, hah! Sebenarnya aku masih malas untuk menemui
kakakku namun dia satu-satunya saudara yang aku miliki dan taka da yang lainnya
bagaimana dia menjelek-jelekan aku tapi tetap saja dia kakak aku dan aku juga
enggak boleh membalasnya dengan kejahatan juga.
“Hah! Baiklah mungkin nanti aku
sebaiknya ke rumahnya saja dari pada meneleponnya,” ucapku. Setelah itu aku
menelepon orangtuaku dan benar saja mereka sangatlah kaget dan aku juga
menceritakan semuanya bahwa lelaki yang akan menikah denganki adalah seorang
duda dan sudah memiliki anak. Mereka sedikit marah namun aku memberi mereka
sedikit penjelasan dan akhirnya mereka merelakan aku untuk menikah dengan Rehan
dan mereka juga akan berangkat ke Jakarta besok.
“Sayang,” panggil Rehan yang baru
saja masuk ke dalam kamar dan saat itu pula aku baru saja selesai menelepon
__ADS_1
orang tuaku.
“Ya, Re. kamu baru kembali ya?”
tanyaku, lalu setelah itu aku berjalan mendekatinya dan membantu melepaskan
jasnya dan menaruh di tempatnya.
“Iya, dan aku juga sangat lapar.
Apa kamu sudah memasak makan siang?” tanyanya dan aku pun mengangguk, lalu
mengajak Rehan keluar kamar dan turun ke bawah menuju ruang makan dan di sana
mama dan yang lainnya sudah menunggu.
Kami menikmati makan siang kami
dengan sesekali di selingi obrolah tentang pekerjaan Rehan, setelah selesai
makan aku di bantu mama dan bibi membereskannya dan setelah itu aku juga
menyuruh Raina untuk tidur siang. Rehan yang masih duduk di ruang keluarga
sambil memegang ipadnya dan dia juga melihatku lalu tersenyum manis padaku.
“Ada apa sayang? Kenapa kamu di situ saja. Duduk di sini,” ucap Rehan sambil
menepuk sofa di sampingnya.
“Aku ingin berbicara padamu,”
ucapku dan duduk di sampingnya.
“Apa
itu?” tanya Rehan.
“Hm, a-aku ingin ke rumah kakakku
dan tadi aku juga sudah memberikan kabar pada orang tuaku jika aku akan menikah.
Dan siang ini aku berniat untuk pergi ke rumah kakak aku, apa kamu membolehkan
aku pergi ke sana?” tanyaku.
Rehan hanya tersenyum lalu membawa
tubuhku ke dalam pelukannya. “Tentu saja boleh sayang, bagaimana kalau kita
berdua ke sana, lagi pula aku juga enggak kembali ke kantor dan aku akan
menemanimu,” ucap Rehan.
“Terima kasih Re, kamu enggak
keberatankan dengan kedatangan orangtuaku dan kakak aku?” tanyaku sekali lagi.
“Tentu saja tidak sayang, bagaimana
menghormati juga. Lagi pula bukannya aku sudah bislang aku menerima kamu apa
adanya dan berarti aku juga menerima orang tua dan kakak kamu,” ucap Rehan, sedangkan
aku hanya mengangguk.
Kini kami pun kembali pulang dari
rumah kakak aku dan ya, kini kakak aku juga suda bersikap baik padaku. Entah
itu pura-pura atau tulus aku juga enggak tahu dan yang pasti untuk saat ini aku
sudah memaafkannya karena bagiku percuma saja jika aku dendam pada kakakku
sendiri karena dia juga adalah orang tuaku yang menjagaku di sini saat aku jauh
dari mama dan papa, dan kini aku sebentar lagi akan menjadi seorang istri, aku
juga harus merubah sikapku karena bagaimana juga aku enggakl boleh egois.
“Sayang, apa masih ada yang kamu
pikirkan hm?” tanya Rehan menoleh ke arahku, sedangkan aku tersenyum dan
menggelengkan kepalaku.
“Enggak ada Re, apa kita mau
kembali ke rumah sekarang?” tanyaku dan Rehan menggelengkan kepala dengan masih
fokus ke depan.
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan
saja dan terserah kamu mau ke mana saja aku akan menurutinya,” ucap Rehan.
Aku menghela nafas panjang,
“Terserah kamu saja Re, tapi bagaimana kalau kita menonton saja,” ajakku dan
Rehan pun mengangguk. Jalanan siang ini sangatlah ramai padahal belum juga
waktunya jam pulang kantor atau pekerja lainnya.
Rehan membelokkan mobilnya ke pusat
perbelajaan yang terkenal di Jakarta, di sana juga ada bioskopnya. Aku dan
Rehan turun dari mobil, Rehan juga menggandeng tanganku saat kami mau masuk ke
dalam, dan aku juga bisa melihat beberapa orang melihat ke arah kami namun aku
tak memperdulikannya. Aku memegang lengan Rehan dengan sangat erat, bahkan
sampai kami mengantri tiket untuk menonton.
__ADS_1
Kami menikmati film yang sedang
kami tonton dan sedari tadi aku hanya memeluk Rehan karena takut dengan film
horror yang sedang tayang. Film selesai sekitar satu jam setengah dan kami pun
keluar dari ruang bioskop namun sebelum itu aku mengajak Rehan untuk menemaniku
ke kamar mandi lebih dulu. Setelah itu Rehan mengajakku untuk berkeliling dan
dia juga menawariku untuk membeli sesuatu namun aku belum begitu tertarik
dengan apa yang aku lihat dan aku tertarik dengan makanan dan minuman yang di
jual, entah kenapa aku melihatnya sangat ingin dan akhirnya Rehan membelikannya
untukku.
Aku mengajak Rehan untuk duduk
sebentar di kursi restoran yang ada di dalam pusat perbelanjaan. “Apa kamu
lelah sayang?” tanya Rehan namun aku hanya menggelengkan kepalaku.
“Aku tidak apa-apa Re, jadi kamu
enggak usah khawatir. Bagaimana kalau kita makan lagi, aku sudah lapar lagi,”
ucapku sambil mengelus perutku dan tersenyum manis pada Rehan. Akhirnya Rehan
hanya bisa mengangguk dan memesan makanan untuk kami berdua.
“Baguslah, mulai sekarang kamu
harus makan banyak biar badan kamu enggak kurus seperti ini,” ucap Rehan, dan
aku pun segera mencubit lengannya pelan.
Kami pun menikmati makanan yang ten
pesan tadi, makanannya lumayan sangat enak walau enggak habis tapi kali ini aku
juga makan sangat banyak. Selesai makan aku mengajak Rehan untuk kembali
berkeliling hingga aku membeli beberapa baju dan juga tas. Tentu semuanya yang
membayar Rehan karena dia yang menyuruhku untuk belanja. Karena hari sudah
semakin sore dan sebentar lagi mau malam aku pun mengajak Rehan untuk kembali
pulang.
“Oh, iya. Sayang nanti orang tua
kamu mau kamu bawa ke rumah atau bagaimana?” tanya Rehan padaku.
“Mereka ingin menuju ke rumah
kakak, dan aku juga enggak mau memaksanya Re karena mereka juga sudah lama tak
bertemu dengan kakaku biarlah,” ucapku sedangkan Rehan hanya mengangguk saja.
Kami menuju rumah membutuhkan waktu
dua jam karena memang di jalanan sangat macet sekali, aku langsung naik ke atas
dan masuk ke dalam kamar bersama dengan Rehan. Mama Maria tak mempermasalahkan
soal ini karena mama juga sudah tahu dan kehidupanku baik aku dan Rehan juga
sama-sama bebas. Mungkin ini sangatlah tak pantas untuk di contoh namun mau
bagaimana juga jangan ada nanti anak kita juga akan mengalami hal yang sama dan
itu semua cukup aku saja yang menanggungnya.
Aku langsung menuju kamar mandi
untuk membersihkan badanku karena lengket oleh keringat lagi pula hari ini
cuaca juga sangat panas sekali, aku mandi dengan menggunakan air dingin namun
tetap saja rasanya badan aku sangat panas dan gerah walaupun sudah mandi dengan
menggunakan air dingin. Tak butuh waktu lama kini aku selesai mandi dan keluar
kamar mandi dengan menggunakan bathrobe.
“Re, lebih baik kamu mandi lebih
dulu sana,” ucapku dan Rehan pun segera beranjak dari duduknya, berjalan ke
kamar mandi. Sedangkan aku berganti pakaian, jam sudah menunjukkan pukul 07.00
malam. Aku masih menunggu Rehan selesai mandi sambil menyisir rambutku di meja
rias dan tak lama kemudian Rehan keluar dari kamar mandi dan menuju walk in
closet untuk segera berganti baju.
“Re, apa kamu setelah ini mau turun
ke bawah untuk makan malam bersama dengan yang lainnya?” tanyaku pada Rehan.
“Kenapa memangnya sayang? Apa kamu
enggak lapar?” tanya balik Rehan, sedangkan aku menggelengkan kepalaku.
“Aku masih kenyang dan mungkin aku
enggak ikut makan malam, sebaiknya kamu saja Re jika kamu lapar,” ucapku.
Rehan hanya mengangguk saja dan dia
bahkan juga menyuruhku untuk istirahat lebih dulu, sedangkan dia mau ke ruang
__ADS_1
kerjanya dulu sebelum ikut bergabung makan malam dengan yang lainnya.