
“Hai Nes,” sapa Alex sambil menyuruh Nesya masuk ke dalam.
Nesya hanya mengangguk dan berjalan menuju ke sofa, Nesya duduk di sofa itu sambil memijat keningnya yang terasa pusing.
“Kenapa Nes?” tanya Alex sambil memperhatikan Nesya seksama lalu duduk di sofa, Alex duduk di samping Nesya yang masih memperhatikannya.
“Nggak apa – apa hanya sedikit pusing karena nggak ada yang aku kerjakan. Apa kamu tau informasi lowongan pekerjaan?” tanya Nesya menatap Alex.
Alex masih diam dan belum menjawab pertanyaan Nesya, Alex berpikir ngapain Nesya harus capek – capek kerja padahal dirinya mendapatkan segalanya dari pria brengsek itu.
“Kenapa kamu tiba – tiba tanya lowongan pekerjaan Nes?” tanya balik Alex.
“Aku bosan Alex kalau tiap hari hanya ada di apartemen, sekali jalan juga Cuma ke mall dan sebagainya, kalau aku kerja setidaknya aku punya kegiatan,” ucap Nesya.
Alex hanya mengangguk – angguk saja, Alex jega berpikir ini kesempatan baik untuk dekatin Nesya kembali. Mungkin dulu hanya diam tanpa bertindak dan mungkin sekarang waktunya untuk Alex merebutnya.
“Ada, kapan kamu mau masukin lamaran pekerjaan kamu?” tanya Alex.
Nesya sangat senang bahwa ada lowongan pekerjaan, jadi dirinya tak sia – sia menemui Alex.
__ADS_1
“Bagaimana kalau besok?” tanya balik Nesya.
Alex lagi – lagi hanya mengangguk dengan masih menatap Nesya sedari tadi.
“Baiklah, akan aku antarkan besok,” ucap Alex lalu memrubah posisi duduknya agar posisinya bisa bersenderan di sofa.
“Makasih,” ucap Nesya.
Alex hanya diam saja dan hanya menoleh ke Nesya, jam sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Nesya hanya melirik jam tangannya sebentar lalu menghembuskan nafasnya secara kasar.
“Kamu kenapa Nes?” tanya Alex sambil menoleh ke Nesya.
“Nggak apa – apa hanya saja suana hatiku kurang membaik,” ucapnya dengan lesu.
“Lalu bagaimana dengan lowongan pekerjaan tadi?” tanya Nesya sambil kedua tangannya di taruh depan dada.
Alex tersenyum tipis melihat Nesya jika sedang marah terlihat sangat lucu bagi Alex.
“Kamu nggak usah takut, nanti aku bisa bilang ke teman aku. Jadi gimana kamu kan?” tanya Alex sekali lagi.
__ADS_1
Nesya masih belum menjawab dan masih memikirkan kembali, bagaimana jika dirinya pergi nanti Rehan ke apartemen dan dirinya tak ada maka Rehan akn menanyakan keberadaannya dengan menelponnya.
Nesya sangat dilema antara pergi atau tidak, yang pasti Nesya masih berpikir keras.
“Nes … Nesya ada apa? Kenapa melamun?” tanya Alex.
Nesya hanya mengelengkan kepalanya.”Bagaiman kalau nanti malam saja aku kasih jawabannya,” ucap Nesya.
“Baiklah, tapi kenapa harus menunggu nanti malam?” tanya Alex yang masih kepo saja.
“Nggak apa – apa, hanya saja aku hanya perlu sedikit waktu berpikir untuk pergi atau tidak,” ucap Nesya agak sedikit gugup.
“Aku mengerti Nes, jika kami takut sama pria itu kan?” tanya Alex agak sedikit keras suaranya.
“Cukup Lex, aku nggak mau bahas itu lagi, dan maaf kayaknya aku haru kembali,” ucap Nesya lalu berdiri dari duduknya dan berjalan keluar apartemen milik Alex.
Nesya berjalan dengan sangat cepat menuju pintu lift, Nesya memencet tombol pintu lift naik dan setelah terbukan Nesya langsung masuk kedalamnya.
Nesya masuk ke dalam apartementnya dan langsung ke dalam kamar, Nesya menangis, ya, Nesya menangis pasalnya beberapa hari Rehan tak datang atau hanya menghubunginya.
__ADS_1
“Re, kamu kemana aku sangat merindukanmu,” ucapnya dengan air matanya yang masih mengalir deras.
“Kamu tahu Re, aku sangat merindukanmu,” ucapnya kembali. Nesya benar – benar seperti orang bodoh, padahal dirinya sudah menjadi tunangan Rehan, tapi sampai saat ini di mana Rehan tak memberinya kabar.