
Saat Kalina baru saja keluar meninggalkan rumah Rehan, Rehan masuk kedalam pelataran rumahnya dan langsung memarkirkan mobilnya. Rehan turun dari mobil dan melihat mama dan anaknya di luar.
“Mama dan Raina ngapain di luar ini kan sudah malam,” ucap Rehan dan mengajak mereka berdua untuk masuk, dan Rehan juga menyuruh Raina untuk pergi kealam kamarnya terlebih dahulu.
“Kamu kenapa baru pulang Re?” tanya Maria sambil menaruh kedua tangannya di depan dada.
“Tadi aku ke apartemen ma.” Rehan melonggarkan dasi yang mengantung di lehernya.
“Oh iya, tadi Kalina juga kesini dan bermain dengan Kalina,” ucap Maria.
“Apa dia bicara sesuatu sama mama?” tanya Rehan kembali sambil memicingkan matanya.
“Tidak, dia tidak bicara apa –apa ke mama, memangnya kalian punya masalah?” tanya Maria balik kepada Rehan.
Rehan hanya menghembuskan nafas kasarnya dan bersenderan pada sofa menatap langit – langit rumahnya.
__ADS_1
“Ma, Rehan harus gimana sekarang apa yang mama katakan ke Rehan kini jadi kenyataan ma.” Rehan terlihat sedih saat berbicara kepada Maria dan Maria tahu jika anaknya sedang ada masalah.
“Maksud kamu apa Re?” tanya Maria kembali Maria tak mau menebak – nebak apa yang terjadi pada anaknya ini.
Rehan lagi – lagi menghembuskan nafasnya kembali dan menatap mamanya dengan serius dan tak berapa lama Rehan berbicara.
“Kalina hamil anak Rehan ma,” ucap Rehan dengan suara sedih.
“Apa! Apa kamu nggak salah bicara Re, apa yang mama katakan itu nggak beneran terjadikan?” tanya Maria dengan suara kerasnya.
“Benar ma, dan ini ma buktinya.” Rehan mengeluarkan kertas dan juga hasil usg kehamilan Kalina.
Maria hanya diam dan mengeluarkan air matanya, entah dirinya harus membantu Rehan dengan gimana, sedangkan posisi saat ini yang tidak begitu pas, Maria menghirup udara dalam – dalam dan mengeluarkan dengan pelan – pelan untuk mengontrol kesandaranya agar tidak marah kepada Rehan.
“Lalu apa yang akan kamu selanjutnya Rehan?” tanya Maria dengan mata yang sudah berkaca – kaca.
__ADS_1
Rehan hanya menatap sang mama yang terlihat kecewa kepadanya karena perbuatannya.
“Maafkan Rehan ma sekali lagi, untuk saat ini Rehan belum bisa memutuskannya,” ucapnya sambil mengelus wajahnya dengan kasar.
“Kamu nggak bisa menunda terlalu lama Rehan, dan seharusnya kamu meminta maaf kepada Nesya dan bukan kepada mama dan juga harus kamu bicara kepada Nesya karena bagaimana pun kamu harus bertanggung jawab dengan Kalina.” Maria berbicara seperti itu dengan nada dingin kepada Rehan, karena jujur saja Maria sudah tak mau berhubungan dengan keluarga Kalina yang telah menghina anaknya.
Rehan lagi – lagi hanya menatap sang mama, meminta penjelasan kembali kepada sang mama namun Maria enggan berbicara kembali dan memilih meninggalkan Rehan, namun sebelum itu Maria membalikkan badannya sebelum masuk kedalam kamarnya.
“Kamu harus memikirnya baik – baik Rehan, dan mama juga akan mencoba berbicara dengan papa kamu agar tak marah besar kepadamu, dan mama harap kamu memutuskan dengan keputusan yang terbaik,” ucap Maria lalu langsung masuk kedalam kamarnya.
Rehan hanya mendengar sang mama bicara tanpa menolehnya kebelakang dan lagi – lagi mengacak rambutnya dengan kasar. Mungkin Rehan laki – laki bodoh yang saat itu bisa masuk perangkap sang mantan istri.
**
Di lain tempat Nesya yang sedang jalan di taman sendirian mencari udara segar di malam hari setelah kepulangan Rehan tadi yang terlihat aneh. Taman yang sangat luas yang masih berada di kawasan apartemen, Nesya duduk di bangku besar sendirian sambil melihat langit malam ini yang penuh dengan bintang - bintang.
__ADS_1
“Andai saja aku bisa hidup bebas seperti yang aku mau,” teriak Nesya dan banyak pejalan kaki yang melihatnya teriak.
Mereka hanya berbisik – bisik yang masih terdengar oleh telingan Nesya namun Nesya tak peduli dengan semua itu dirinya hanya menghirup udara dalam – dalam dan menghembuskan pelan.