Cinta Om Duda

Cinta Om Duda
Nesya dan Rehan


__ADS_3

Setelah kejadian kemarin kini


seharian aku tak melihat Nesya keluar dari villa, aku jadi gelisah takut jika


dia kenapa-kenapa dan akhirnya pun aku memiliki ide. Aku menyuruh bibi memasak


makanan kesukaan Nesya dan menyuruh mengantarkan masakan itu ke villa Nesya.


Aku mengatakan pada bibi jika masakan ini pertanda perkenalan dari tetangga


yang baru saja menempati villa di samping. Tentu saja itu hanya sebagai alibiku


karena aku ingin mendapatkan kabar bahwa Nesya baik-baik saja, sehari saja aku


tak melihatnya sudah membuatku sangat merindukannya.


Aku duduk di ruang tamu menunggu


kedatangan bibi, tapi kenapa bibi sangat lama sekali padahal villa Nesya hanya


dekat tapi ini rasanya sangat lama dan ini menyebalkan. Aku pun beranjak dari


dudukku dan saat itu bertepatan bibi masuk ke dalam villa.


“Bagaimana bi, apakah Nesya


baik-baik saja?” tanyaku sudah tak sabar mendengarnya langsung dari bibi.


Bibi pun berjalan dengan pelan menghampiriku,


bibi juga tersenyum kepadaku,”Tenang saja tuan, nona Nesya sangat baik-baik


saja dan bahkan nona Nesya sendiri yang menerima makananya,” ucap bibi.


“Benarkah bi?” tanyaku yang tak


percaya dan bibi pun mengangguk.


“Terima kasih bi, bibi sudah membantuku.


Maka nanti aku akan kasih bonus bibi,” ucapku senang, lalu aku pun berjalan


keluar villa sambil tersenyum.


Tak apa tak melihat Nesya asalkan


aku bisa mendapatkan kabar jika ia sedang baik-baik saja. Aku berjalan keluar menuju


tepi pantai dan masih ada beberapa orang berada di pantai karena hari begitu


malam.


Aku merentangkan kedua tanganku


sambil mengambil nafas banyak-banyak. Rasanya begitu sejuk dan angin pantai


menerpa tubuhku, aku memejamkan mataku sebentar menikmati suasana pantai malam


ini.


Andai saja semuanya berjalan dengan


indah pasti saat ini aku sudah membawa Nesya kembali ke Jakarta, pasti mama dan


Raina sangat bahagia namun semuanya tidaklah mudah dan butuh pengorbanan.


Mungkin aku hanya perlu banyak bersabar dan berharap Nesya segera memaafkan


aku. Aku duduk di pinggiran pantai dengan air pantai ombaknya yang begitu


tenang malam ini. Aku masih merenungkan kesalahanku masa lalu yang begitu


diriku sangat gegabah hingga ketakutan terbesarku kehilangan Nesya dan pergi


meninggalkanku semuanya terjadi.


Namun kini fokus hanya perlu


kembali meyakinkan Nesya. Ya, Nesya harus menjadi milikku dan siapa saja yang


mendekatinya mulai sekarang maka orang itu akan aku singkirkan secepatnya.


Di tempat yang sama Nesya sedang


duduk sendirian di pinggir pantai sambil melamum, Nesya tak melihat Rehan


begitu juga dengan Nesya. Memang seharian ini Nesya tak keluar di pagi sampai


sore hari agar Rehan tak melihatnya. Nesya hanya takut jika lama kelamaan


hatinya akan luluh dan memaafkan Rehan begitu saja sebelum Rehan menerima


semuanya, bagaimana merasakan sakit yang selama ini ia rasakan. Ya, aku


menginginkan Rehan merasakan semuanya dan selanjutnya itu urusanku mau


memaafkan atau tidak.


“Arrgggh! Aku benci kamu Rehan!”


teriakku, beruntung saja di pantai tak banyak orang jadi tak akan ada banyak


orang yang memperhatikanku.


Setelah puas aku beranjak dari


duduk dan ingin segera kembali ke villa karena hawa dingin sudah masuk ke


badanku dan aku hanya mengenakan celana pendek dan atasan yang ada tali kecil


di pundak. Namun saat aku mau melangkahkan kaki ku tiba-tiba saja tanganku


sudah di cekal oleh seseorang.


“Malam sayang, akhirnya malam ini


aku bisa melihatmu. Kemana saja seharian ini? Kenapa kamu tak terlihat, kamu


pergi kemana?” tanya Rehan dengan senyuman manisnya yang aku yakin jika semua


wanita melihat senyumannya akan jatuh dalam pesonanya dan sialnya aku termasuk


salah satunya. Padahal aku seharian ini sudah mati-matian tak keluar dari villa


agar tak melihat Rehan namun malam ini aku melihatnya dan ini sangat menyebalkan


bukan?


“Lepaskan aku Re, kenapa kamu


seperti hantu yang muncul tiba-tiba,” ucapku kesal, namun Rehan hanya tertawa


seakan ucapanku tadi sangatlah lucu.


“Apa kamu bilang tadi sayang?

__ADS_1


Hantu? Bagaimana bisa hantu bisa setampan diriku hm,” ucapnya dengan percaya


diri. Ingin rasanya aku menampar wajahnya itu yang sayang sangat tampan,


umurnya yang sudah berumur bukannya semakin jelek tapi semakin tampan saja.


Hah! Aku memikirkan apa sih, kenapa


aku memikirkan yang aneh-aneh. Harusnya aku segera pergi dari sini sebelum


Rehan berbuat jauh kepada diriku.


“Kamu kira ucapanku tadi lucu,


sudah lepaskan aku. Aku mau kembali ke villa,” ucapku.


“Tidak bisa, aku tidak akan


melepaskan kamu dengan mudah sayang. Tetaplah di sini sebentar saja temani aku,


aku sangat kesepian,” ucap Reahan.


“Cari saja wanita lain, lagian di


sini banyak wanita dan kamu bebas untuk memilihnya kamu mau memilih yang


seperti apa,” ucapku dengan kesal, dia nggak tahu apa jika aku sangat


kedinginan masih saja tak memperbolehkan aku pergi.


Rehan lalu tiba-tiba memelukku


dengan erat dan setelah itu ia dengan sigap mengangkat tubuhku, mengendong


badanku ala bridle style menuju tempat seperti gubuk di pinggiran pantai.


“Rehan apa yang kamu lakukan,


lepaskan aku sekarang atau nggak aku teriak,” ucapku mengancam namun tetap saja


ia tak mengubrisku.


“Teriak saja saya di sini sudah tak


ada orang sama sekali, kalau kamu masih akan ada niatan untuk berteriak maka


aku juga akan memperkosamu di sini,” ucap Rehan yang juga mengancamku.


Kini Rehan merebakan tubuhku dia


atas gubuk dengan alas papan, ia mencium bibirku dengan lembut namun aku tak


membalasnya sama sekali, akan tetapi lama kelamaan Rehan menuntut ciumannya


agar aku mebalasnya hingga di dia mengigit bibirku.


Rehan menjelajahi setiap inci


rongga mulutku sedangkan aku memukul dada Rehan namun Rehan menahannya dengan


tangan miliknya yang begitu kuat dan aku tak bisa memberontak kembali.


Selama tiga puluh menit Rehan


menciumku akhirnya ia melepaskan ciumannya, aku mengambil nafas


sebanyak-banyaknya.


“Nes, ayo kita menikah,” ucap


Rehan, dan aku pun menatapnya dengan penuh tatapan penuh tanya. Kenapa? Kenapa


sia-siakan.


“Apa kamu akan membuatku mati lebih


cepat Re,” ucapku.


“Apa maksud kamu sayang, aku hanya


ingin mengajak kamu serius aku tak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya


sayang. Jadi ayo kita menikah membangun rumah tangga yang bahagia,” ucap Rehan.


“Bukannya sudah aku katakan, aku


tak akan kembali kepadamu Re. Jadi lebih baik kamu cari wanita lain,” ucapku.


“Bagaimana kalau aku tidak mau dan


aku tetap akan memaksamu tetap bersamaku, aku akan mengajakmu kembali ke


Jakarta dan kita akan segera menikah,” ucap Rehan sedikit ketus.


“Kenapa? Kenapa kamu memaksaku Re,”


ucapku menatapnya dengan tajam.


Namun Rehan hanya tersenyum dan menyeret


tubuhku kedalam pelukkanya kembali, dan pelukkan ini yang selama ini aku rindukan


dan kini aku merasakannya kembali. Begitu nyaman dan sangat hangat rasanya, bau


wangi dari tubuh Rehan begitu memabukkan bagiku.


Malam ini Rehan memaksaku untuk


pergi ke villanya, padahal aku sudah memberontak sekuat tenagaku namun tetap


saja aku tak bisa menandingi kekuatan Rehan. Dengan terpaksa sekarang aku


berada di villa milik Rehan, dan kini aku sedang duduk di ranjang bersama


dengan Rehan, ia membicarakan banyak hal namun aku mendengarkannya tanpa ingin


menyahutinya.


Rehan juga membuatkanku susu coklat


panas, dan aku meminumnya. Entah kenapa aku tak takut atau yang lainnya padahal


bisa saja Rehan memasuki sesuatu ke susu coklat panas namun aku tak merasa


curiga sama sekali. Padahal jika di lihat dari kemarin Rehan sangat ingin


mengajakku berhubungan intim namun dengan sekuat yang dia bisa dia menahannya


dan aku tak peduli.


Apa lagi jika Rehan sudah marah


maka ia akan melampiaskan dengan berhubungan intim dan terkadang itu sangat


membuatku tersiksa waktu itu, jika mengingatnya aku ingin sekali melempar Rehan

__ADS_1


ke laut yang jauh.


“Apa yang sedang kamu pikirkan


sayang,” ucap Rehan yang tiba-tiba kembali memelukku dari belakang.


Aku beranjak dari ranjang dan


berjalan ingin keluar kamar namun sayangnya Rehan menguncin pintunya dan aku


menoleh kebelakang menatap Rehan yang sudah tersenyum kepadaku.


“Kamu ingin kemana sayang?”


tanyanya kembali.


Aku menatapnya dengan tajam,”Buka


pintunya Re, aku ingin kembali ke villa,” ucapku dingin namun sepertinya Rehan


tak mengubris pembicaraanku barusan.


“Aku tidak akan membiarkan kamu


pergi dari kamar ini sayang, aku mau malam ini kamu bersamaku hingga besok.


Jadi malam ini kamu harus tidur di sini bersamaku,” ucap Rehan, ia berjalan


mendekatiku dengan senyumannya dan jujur saja aku sangat benci melihat senyuman


nakalnya.


Padahal jarak umur diantara kami 11


tahun, namun aku merasa Rehan terkadang bersikap seperti anak-anak. Di kembali


membawa tubuhku ke dalam pelukkannya, ia memelukku dengan sagat erat.


“Temeni aku malam ini, aku sangat


merindukan kamu sayang,” ucap Rehan.


“Lepaskan Re atau nggak aku teriak


biar semua orang tahu kalau kamu ini sangat mesum dan aku pastikan kamu akan


kena omel oleh warga sini,” ucapku, namun Rehan hanya tertawa sambil melepaskan


pelukkanny pada diriku, lalu aku pun sedikit menjauh. Rehan menatap dengan


senyum nakalnya hingga membuatku kembali mundur beberapa langkah. Aku


benar-benar tak mau berada di posisi saat ini, aku ingin kabur namun aku nggak


bisa terlepas dari Rehan begitu saja.


“Biarkan aku keluar dari sini Re,


aku mohon,” ucapku, namun sepertinya Rehan tak ada niatan untuk membiarkan aku


pergi dari sini untuk saat ini.


“Tidak, untuk malam ini temani aku


di sini,” ucapnya.


Akhirnya aku hanya diam di tempat sambil


menatap Rehan, dengan langkah pelan aku pun berjalan dengan pelan mendekati


Rehan namun tatapanku tak lepas dari Rehan hingga membuat Rehan tersenyum


sambil mengerutkan dahinya dengan satu alisnya naik ke atas.


“Ada apa sayang hm? Kenapa kau


menatapku seperti itu?” tanyanya namun aku tak menjawabnya sama sekali dan


terus berjalan sampai di samping Rehan.


Aku memegang pundaknya dengan


pelan, “Apa yang akan kau lakukan jika aku ada di sini Re? Kenapa kamu tak


membiarkan aku untuk kembali ke villa ku hm?” tanyaku balik.


Namun lagi-lagi Rehan hanya


melihatku dengan tersenyum. “Karena mulai detik ini mungkin kamu akan di sini


sayang bersama denganku, karena aku tak akan melepaskan kamu bahkan sampai


meninggalkan aku,” ucapnya sambil mengelus wajahku dengan lembut. Lalu setelah


itu Rehan mendekatkan wajahnya berniat untuk menciumku namun aku menolaknya.


Aku sedikit menjauh dari Rehan lalu ia mencekal tanganku.


“Untuk kali ini tolong beri aku


kesempatan lagi sayang,” ucap Rehan memohon.


“Cukup sudah Re, aku tak mau kau


terus memaohon kepadaku bukankah kau yang melepaskanku begitu saja dan kau juga


yang telah membuatmu meninggalkan kamu lalu untuk apa aku memberimu kesempatan


jika pada akhirnya aku hanya akan tersakiti,” ucapku lagi, entah kenapa memang


aku tak ada niatan untuk kembali kepada Rehan namun ia terus memaksaku


bagaimana caranya ia terus melakukannya.


Mungkin malam ini akan jadi


perdebatan panjang antara aku dan Rehan hingga membuat kita malam hari ini


harus begadang sampai besok pagi, jujur saja aku ingin segera mengakhiri ini


semua namun bagaimana caranya karena bagaimana pun aku tak akan bisa melawan


Rehan.


“Sayang, aku mohon,” ucapnya sambil


memelukku dari belakang, Rehan memelukku dengan sangat erat seakan memang ia


tak akan melepaskan aku kembali.


Aku hanya bisa menghela nafas


panjang dan memejamkan mataku, sambil berpikir bisa tidak aku tidak mengalamai


kondisi seperti ini. Aku melepaskan pelukkan Rehan lalu berjalan ke sofa dan

__ADS_1


Rehan juga mengikutiku dengan duduk di sampingku sambil sesekali menoleh ke


arahku namun aku tak memperdulikan itu, aku lebih baik diam.


__ADS_2