
Setelah kejadian kemarin kini
seharian aku tak melihat Nesya keluar dari villa, aku jadi gelisah takut jika
dia kenapa-kenapa dan akhirnya pun aku memiliki ide. Aku menyuruh bibi memasak
makanan kesukaan Nesya dan menyuruh mengantarkan masakan itu ke villa Nesya.
Aku mengatakan pada bibi jika masakan ini pertanda perkenalan dari tetangga
yang baru saja menempati villa di samping. Tentu saja itu hanya sebagai alibiku
karena aku ingin mendapatkan kabar bahwa Nesya baik-baik saja, sehari saja aku
tak melihatnya sudah membuatku sangat merindukannya.
Aku duduk di ruang tamu menunggu
kedatangan bibi, tapi kenapa bibi sangat lama sekali padahal villa Nesya hanya
dekat tapi ini rasanya sangat lama dan ini menyebalkan. Aku pun beranjak dari
dudukku dan saat itu bertepatan bibi masuk ke dalam villa.
“Bagaimana bi, apakah Nesya
baik-baik saja?” tanyaku sudah tak sabar mendengarnya langsung dari bibi.
Bibi pun berjalan dengan pelan menghampiriku,
bibi juga tersenyum kepadaku,”Tenang saja tuan, nona Nesya sangat baik-baik
saja dan bahkan nona Nesya sendiri yang menerima makananya,” ucap bibi.
“Benarkah bi?” tanyaku yang tak
percaya dan bibi pun mengangguk.
“Terima kasih bi, bibi sudah membantuku.
Maka nanti aku akan kasih bonus bibi,” ucapku senang, lalu aku pun berjalan
keluar villa sambil tersenyum.
Tak apa tak melihat Nesya asalkan
aku bisa mendapatkan kabar jika ia sedang baik-baik saja. Aku berjalan keluar menuju
tepi pantai dan masih ada beberapa orang berada di pantai karena hari begitu
malam.
Aku merentangkan kedua tanganku
sambil mengambil nafas banyak-banyak. Rasanya begitu sejuk dan angin pantai
menerpa tubuhku, aku memejamkan mataku sebentar menikmati suasana pantai malam
ini.
Andai saja semuanya berjalan dengan
indah pasti saat ini aku sudah membawa Nesya kembali ke Jakarta, pasti mama dan
Raina sangat bahagia namun semuanya tidaklah mudah dan butuh pengorbanan.
Mungkin aku hanya perlu banyak bersabar dan berharap Nesya segera memaafkan
aku. Aku duduk di pinggiran pantai dengan air pantai ombaknya yang begitu
tenang malam ini. Aku masih merenungkan kesalahanku masa lalu yang begitu
diriku sangat gegabah hingga ketakutan terbesarku kehilangan Nesya dan pergi
meninggalkanku semuanya terjadi.
Namun kini fokus hanya perlu
kembali meyakinkan Nesya. Ya, Nesya harus menjadi milikku dan siapa saja yang
mendekatinya mulai sekarang maka orang itu akan aku singkirkan secepatnya.
Di tempat yang sama Nesya sedang
duduk sendirian di pinggir pantai sambil melamum, Nesya tak melihat Rehan
begitu juga dengan Nesya. Memang seharian ini Nesya tak keluar di pagi sampai
sore hari agar Rehan tak melihatnya. Nesya hanya takut jika lama kelamaan
hatinya akan luluh dan memaafkan Rehan begitu saja sebelum Rehan menerima
semuanya, bagaimana merasakan sakit yang selama ini ia rasakan. Ya, aku
menginginkan Rehan merasakan semuanya dan selanjutnya itu urusanku mau
memaafkan atau tidak.
“Arrgggh! Aku benci kamu Rehan!”
teriakku, beruntung saja di pantai tak banyak orang jadi tak akan ada banyak
orang yang memperhatikanku.
Setelah puas aku beranjak dari
duduk dan ingin segera kembali ke villa karena hawa dingin sudah masuk ke
badanku dan aku hanya mengenakan celana pendek dan atasan yang ada tali kecil
di pundak. Namun saat aku mau melangkahkan kaki ku tiba-tiba saja tanganku
sudah di cekal oleh seseorang.
“Malam sayang, akhirnya malam ini
aku bisa melihatmu. Kemana saja seharian ini? Kenapa kamu tak terlihat, kamu
pergi kemana?” tanya Rehan dengan senyuman manisnya yang aku yakin jika semua
wanita melihat senyumannya akan jatuh dalam pesonanya dan sialnya aku termasuk
salah satunya. Padahal aku seharian ini sudah mati-matian tak keluar dari villa
agar tak melihat Rehan namun malam ini aku melihatnya dan ini sangat menyebalkan
bukan?
“Lepaskan aku Re, kenapa kamu
seperti hantu yang muncul tiba-tiba,” ucapku kesal, namun Rehan hanya tertawa
seakan ucapanku tadi sangatlah lucu.
“Apa kamu bilang tadi sayang?
__ADS_1
Hantu? Bagaimana bisa hantu bisa setampan diriku hm,” ucapnya dengan percaya
diri. Ingin rasanya aku menampar wajahnya itu yang sayang sangat tampan,
umurnya yang sudah berumur bukannya semakin jelek tapi semakin tampan saja.
Hah! Aku memikirkan apa sih, kenapa
aku memikirkan yang aneh-aneh. Harusnya aku segera pergi dari sini sebelum
Rehan berbuat jauh kepada diriku.
“Kamu kira ucapanku tadi lucu,
sudah lepaskan aku. Aku mau kembali ke villa,” ucapku.
“Tidak bisa, aku tidak akan
melepaskan kamu dengan mudah sayang. Tetaplah di sini sebentar saja temani aku,
aku sangat kesepian,” ucap Reahan.
“Cari saja wanita lain, lagian di
sini banyak wanita dan kamu bebas untuk memilihnya kamu mau memilih yang
seperti apa,” ucapku dengan kesal, dia nggak tahu apa jika aku sangat
kedinginan masih saja tak memperbolehkan aku pergi.
Rehan lalu tiba-tiba memelukku
dengan erat dan setelah itu ia dengan sigap mengangkat tubuhku, mengendong
badanku ala bridle style menuju tempat seperti gubuk di pinggiran pantai.
“Rehan apa yang kamu lakukan,
lepaskan aku sekarang atau nggak aku teriak,” ucapku mengancam namun tetap saja
ia tak mengubrisku.
“Teriak saja saya di sini sudah tak
ada orang sama sekali, kalau kamu masih akan ada niatan untuk berteriak maka
aku juga akan memperkosamu di sini,” ucap Rehan yang juga mengancamku.
Kini Rehan merebakan tubuhku dia
atas gubuk dengan alas papan, ia mencium bibirku dengan lembut namun aku tak
membalasnya sama sekali, akan tetapi lama kelamaan Rehan menuntut ciumannya
agar aku mebalasnya hingga di dia mengigit bibirku.
Rehan menjelajahi setiap inci
rongga mulutku sedangkan aku memukul dada Rehan namun Rehan menahannya dengan
tangan miliknya yang begitu kuat dan aku tak bisa memberontak kembali.
Selama tiga puluh menit Rehan
menciumku akhirnya ia melepaskan ciumannya, aku mengambil nafas
sebanyak-banyaknya.
“Nes, ayo kita menikah,” ucap
Rehan, dan aku pun menatapnya dengan penuh tatapan penuh tanya. Kenapa? Kenapa
sia-siakan.
“Apa kamu akan membuatku mati lebih
cepat Re,” ucapku.
“Apa maksud kamu sayang, aku hanya
ingin mengajak kamu serius aku tak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya
sayang. Jadi ayo kita menikah membangun rumah tangga yang bahagia,” ucap Rehan.
“Bukannya sudah aku katakan, aku
tak akan kembali kepadamu Re. Jadi lebih baik kamu cari wanita lain,” ucapku.
“Bagaimana kalau aku tidak mau dan
aku tetap akan memaksamu tetap bersamaku, aku akan mengajakmu kembali ke
Jakarta dan kita akan segera menikah,” ucap Rehan sedikit ketus.
“Kenapa? Kenapa kamu memaksaku Re,”
ucapku menatapnya dengan tajam.
Namun Rehan hanya tersenyum dan menyeret
tubuhku kedalam pelukkanya kembali, dan pelukkan ini yang selama ini aku rindukan
dan kini aku merasakannya kembali. Begitu nyaman dan sangat hangat rasanya, bau
wangi dari tubuh Rehan begitu memabukkan bagiku.
Malam ini Rehan memaksaku untuk
pergi ke villanya, padahal aku sudah memberontak sekuat tenagaku namun tetap
saja aku tak bisa menandingi kekuatan Rehan. Dengan terpaksa sekarang aku
berada di villa milik Rehan, dan kini aku sedang duduk di ranjang bersama
dengan Rehan, ia membicarakan banyak hal namun aku mendengarkannya tanpa ingin
menyahutinya.
Rehan juga membuatkanku susu coklat
panas, dan aku meminumnya. Entah kenapa aku tak takut atau yang lainnya padahal
bisa saja Rehan memasuki sesuatu ke susu coklat panas namun aku tak merasa
curiga sama sekali. Padahal jika di lihat dari kemarin Rehan sangat ingin
mengajakku berhubungan intim namun dengan sekuat yang dia bisa dia menahannya
dan aku tak peduli.
Apa lagi jika Rehan sudah marah
maka ia akan melampiaskan dengan berhubungan intim dan terkadang itu sangat
membuatku tersiksa waktu itu, jika mengingatnya aku ingin sekali melempar Rehan
__ADS_1
ke laut yang jauh.
“Apa yang sedang kamu pikirkan
sayang,” ucap Rehan yang tiba-tiba kembali memelukku dari belakang.
Aku beranjak dari ranjang dan
berjalan ingin keluar kamar namun sayangnya Rehan menguncin pintunya dan aku
menoleh kebelakang menatap Rehan yang sudah tersenyum kepadaku.
“Kamu ingin kemana sayang?”
tanyanya kembali.
Aku menatapnya dengan tajam,”Buka
pintunya Re, aku ingin kembali ke villa,” ucapku dingin namun sepertinya Rehan
tak mengubris pembicaraanku barusan.
“Aku tidak akan membiarkan kamu
pergi dari kamar ini sayang, aku mau malam ini kamu bersamaku hingga besok.
Jadi malam ini kamu harus tidur di sini bersamaku,” ucap Rehan, ia berjalan
mendekatiku dengan senyumannya dan jujur saja aku sangat benci melihat senyuman
nakalnya.
Padahal jarak umur diantara kami 11
tahun, namun aku merasa Rehan terkadang bersikap seperti anak-anak. Di kembali
membawa tubuhku ke dalam pelukkannya, ia memelukku dengan sagat erat.
“Temeni aku malam ini, aku sangat
merindukan kamu sayang,” ucap Rehan.
“Lepaskan Re atau nggak aku teriak
biar semua orang tahu kalau kamu ini sangat mesum dan aku pastikan kamu akan
kena omel oleh warga sini,” ucapku, namun Rehan hanya tertawa sambil melepaskan
pelukkanny pada diriku, lalu aku pun sedikit menjauh. Rehan menatap dengan
senyum nakalnya hingga membuatku kembali mundur beberapa langkah. Aku
benar-benar tak mau berada di posisi saat ini, aku ingin kabur namun aku nggak
bisa terlepas dari Rehan begitu saja.
“Biarkan aku keluar dari sini Re,
aku mohon,” ucapku, namun sepertinya Rehan tak ada niatan untuk membiarkan aku
pergi dari sini untuk saat ini.
“Tidak, untuk malam ini temani aku
di sini,” ucapnya.
Akhirnya aku hanya diam di tempat sambil
menatap Rehan, dengan langkah pelan aku pun berjalan dengan pelan mendekati
Rehan namun tatapanku tak lepas dari Rehan hingga membuat Rehan tersenyum
sambil mengerutkan dahinya dengan satu alisnya naik ke atas.
“Ada apa sayang hm? Kenapa kau
menatapku seperti itu?” tanyanya namun aku tak menjawabnya sama sekali dan
terus berjalan sampai di samping Rehan.
Aku memegang pundaknya dengan
pelan, “Apa yang akan kau lakukan jika aku ada di sini Re? Kenapa kamu tak
membiarkan aku untuk kembali ke villa ku hm?” tanyaku balik.
Namun lagi-lagi Rehan hanya
melihatku dengan tersenyum. “Karena mulai detik ini mungkin kamu akan di sini
sayang bersama denganku, karena aku tak akan melepaskan kamu bahkan sampai
meninggalkan aku,” ucapnya sambil mengelus wajahku dengan lembut. Lalu setelah
itu Rehan mendekatkan wajahnya berniat untuk menciumku namun aku menolaknya.
Aku sedikit menjauh dari Rehan lalu ia mencekal tanganku.
“Untuk kali ini tolong beri aku
kesempatan lagi sayang,” ucap Rehan memohon.
“Cukup sudah Re, aku tak mau kau
terus memaohon kepadaku bukankah kau yang melepaskanku begitu saja dan kau juga
yang telah membuatmu meninggalkan kamu lalu untuk apa aku memberimu kesempatan
jika pada akhirnya aku hanya akan tersakiti,” ucapku lagi, entah kenapa memang
aku tak ada niatan untuk kembali kepada Rehan namun ia terus memaksaku
bagaimana caranya ia terus melakukannya.
Mungkin malam ini akan jadi
perdebatan panjang antara aku dan Rehan hingga membuat kita malam hari ini
harus begadang sampai besok pagi, jujur saja aku ingin segera mengakhiri ini
semua namun bagaimana caranya karena bagaimana pun aku tak akan bisa melawan
Rehan.
“Sayang, aku mohon,” ucapnya sambil
memelukku dari belakang, Rehan memelukku dengan sangat erat seakan memang ia
tak akan melepaskan aku kembali.
Aku hanya bisa menghela nafas
panjang dan memejamkan mataku, sambil berpikir bisa tidak aku tidak mengalamai
kondisi seperti ini. Aku melepaskan pelukkan Rehan lalu berjalan ke sofa dan
__ADS_1
Rehan juga mengikutiku dengan duduk di sampingku sambil sesekali menoleh ke
arahku namun aku tak memperdulikan itu, aku lebih baik diam.