
Paginya Nesya bangun dari tidurnya, Nesya
meregangkan badannya lalu setelah itu mengambil hp do nakas samping tempat
tidur, dan benar Rehan mengirimkan pesan kepadanya.
“Kenapa akhir-akhir ini banyak kerjaan, apa
hanya alasanmu saja,” ucapnya dalam hati namun Nesya mengeyahkan itu semua
membuang jauh-jauh pikiran jelek tentang Rehan.
Tanpa membalasnya Nesya menaruh kembali hpnya
di atas nakas lalu bergegas bangun dan segera menuju kamar mandi untuk
membersihkan badannya.
Tak butuh waktu lama Nesya keluar dengan
menggunakan bathrobe lalu berjalan ke walk in closet, hari ini Nesya langsung
memakai baju kerja dengan di padukan celana jeans panjang.
Setelah selesai berganti pakaian Nesya
langsung memakai make up tipis agar mukanya tak terlihat pucat. Tanpa sarapan
terlebih dahulu Nesya langsung pergi dari apartemen karena dirinya tadi juga
bangun ke siangan, kali ini Nesya berangkat sendiri dengan menggunakan taksi,
tak butuh waktu lama hanya setengah jam sampai kalau tak macet.
Nesya menginjakan kaki masuk ke dalam kafe
dan bersiap untuk membantu yang lain beberes.
“Nesya,” panggil Anton yang sudah ada di
belakangnya.
“Iya, kenapa?” tanya Nesya memutar tubuhnya
ke belakang agar bisa berhadapan dengan Anton.
“Apa boleh kita bicara sebentar?” tanya Anton
menatap Nesya.
Nesya mengangguk, lalu Anton mengajak Nesya
untuk berbicara di halaman belakang kafe yang ternayata ada taman kecil dan
juga ada air mancur buatan.
“Maaf ada apa mengajak ke sinj?” tanya Nesya
bingung.
Anton menoleh ke Nesya dan tersenyum,” hanya
ingin mengobrol santai,” ucap Anton lalu mengalihkan pandangannya pada bunga-bungan
yang bermekaran.
__ADS_1
“Nes, maaf mungkin aku tak berhak mencampuri
masalah kalian, tapi jujur aku lakuin inj demi kebaikan kamu dan Alex,” ucap
Anton.
Nesya memicingkan matanya seolah tak mengerti
apa yang di maksud Anton, perasaan dirinya dan Alex baik-baik saja.
Anton menarik nafasnya dalam dan
menghembuskannya,” Nes, apa kamu sadar jika Alex masih berharap kepadamu?”
tanya Anton menatap Nesya.
Nesya terdiam sebentar dan memutar otaknya
kemana arah pembicaraan Anton.
“Maksud kamu apa Ton, aku masih belum
mengerti,” ucap Nesya yang masih saja tak mengerti.
“Nes, Alex masih berharap kepadamu dan
berharap suatu hari nanti bisa bersama kembali denganmu, sedangkan kamu sudah
bertunangan dengan lelaki lain, tolong Nes kamu perjelas ini dengan Alex,” ucap
Anton.
Nesya menghembuskan nafas beratnya,” aku
sudah mengatakannya Anton, aku kira Alex sudah melupakan aku tapi ternyata
“Lalu, kamu mau bagaimana Nes, aku hanya
tidak mau Alex terjebak lagi dalam dunia percintaannya,” ucap Anton mendekati
Nesya dan memegang ke dua bahu Nesya pelan.
“Nes, aku harap kamu punya jalan keluarnya,”
ucap Anton kembali.
Nesya mendongak ke atas agar bisa melihat
Anton,” mungkin aku akan menjauhinya Ton,” ucap Nesya.
Anton sedikit menjauh dari Nesya dan
memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Apa pun yang kamu lakukan Nes, aku harap itu
yang terbaik, aku peduli dengan Alex karena dia sudah ku anggap seperti
saudaraku,” ucap Anton.
Anton membalikkan tubuhnya dan tersenyum
kepada Nesya,” Nes, pikirkan sekali lagi, mungkin ini aku memberi tahu kamu
cukup sekali ini saja dan selanjutnya urusan kamu dengan Alex,” ucap Anton lalu
__ADS_1
berjalan masuk ke dalam kafe meninggalkan Nesya sendiri yang masih termenung
memikirkan semuanya.
Nesya tidak menyangka ternyata Alex masih
saja kekeh dengan perasaannya, Nesya sendiri sudah menyuruhnya move on tapi
kenapa Alex masih berharap saja dengannya.
Nesya kembali masuk ke dalam kafe untuk
segera bekerja, Nesya tidak enak dengan teman yang lainnya yang sedari tadi
sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
**
Di kamar yang begitu luas terdapat Kalina
yang masih tertidur dengan pulas, sedangkan Rehan duduk di sofa dengan
menikmati secangkir kopi sambil memegang ipadnya.
Ya, tadi malam Rehan tidur di rumah Kalina
karena paksaan dan ancaman dari Kalina. Entah kenapa kali ini Rehan kalah
dengan Kalina padahal dirinya sudah memikirnya dengan baik-baik.
Mungkin kali ini Rehan harus mencari cara
agar Rehan bisa menundukkan Kalina dan mengusirnya dari Jakarta kalau perlu.
“Pagi Re,” ucap Kalina khas suara bangun tidur.
Rehan hanya menatap Kalina tanpa ada niatan
untuk menjawabnya.
“Kenapa nggak bagunin aku?” tanya Kalina
kembali.
Rehan menatap kembali Kalina,” aku nggak tega
bangunin kamu karena tidur kamu sangat nyenyak. Oh iya, sebentar lagi aku akan
berangkat ke kantor karena aku ada meeting dengan klien ku,” ucap Rehan.
“Kenapa harus hari ini, padahal aku mau
menghabiskan waktu bersamamu,” ucap Kalina sambil memayunkan bibirnya.
“Tolong Na kamu jangan ke kanak-kanakan
seperti ini, aku juga punya pekerjaan dan Raina akhir-akhir ini juga kurang
perhatian dari aku, jadi kamu jangan bersikap seperti anak kecil,” ucap Rehan
ketus dan menatap Kalina dengan tajam seperti ingin membunuh.
Namun sayangnya Kalina tak peduli dengan
tatapan Rehan seperti itu justru dirinya semakin tertantang ingin merebut Rehan
__ADS_1
dari tunangannya itu.