Cinta Om Duda

Cinta Om Duda
Nesya


__ADS_3

Aku sendirian duduk di tepi pantai sambil menatap


ombak pantai yang tak begitu besar, di sinilah aku selalu menenangkan


pikiranku. Entahlah mau bagaimana lagi hubunganku dengan Alex untuk saat ini,


bahkan saat ini ada yang lebih membutuhkan Alex agar bertanggung jawab dengan


kehamilan Adeline.


“Tuhan, aku harus bagaimana,” ucapku dengan pelan


menatap ke atas langit.


Bagiku ini sangatlah sulit untuk kujalani, jujur saja


hingga saat ini aku tak pernah sama sekali menghubungi keluargaku bahkan kakak


aku yang berada di Jakarta pun aku tak pernah memberinya kabar. Ingin rasanya


aku berkeluh kesah pada mereka namun itu tidaklah mungkin karena aku tak mau


membuat orang tua aku khawatir kepadaku dan untuk kakak aku jujur saja aku


masih merasakan sakit hati yang begitu dalam.


“Sedang apa di sini?” tanya seseorang di belakang, aku


pun menoleh kebelakang dan melihat siapa orang yang berbicara kepadaku.


“Maaf siapa ya? Apa kita pernah sebelumnya?” tanyaku


sambil melihat laki-laki yang berdiri di depanku. Aku menatapnya dari atas


sampai bawah mengingat apa sebelumnya aku pernah mengenalnya.


“Tidak, kita tidak pernah kenal sebelumnya. Hanya saja


aku ingin menyapamu saja karena tidak baik wanita sendirian di pinggiran pantai


sambil melamun bagaimana jika nanti ada setan yang masuk kedalam tubuhmu,” ucap


lelaki itu lalu setelah itu ia tertawa.


“Aku rasa bercandanya tidak lucu kenapa kamu tertawa,


dan itu suka-suka aku dong mau diamana saja untukku melamun,” ucapku dengan


sedikit sebal.


Namun laki-laki itu hanya mengangguk sambil menahan


tawanya,”Aku rasa kamu orang baru ya? Karena aku baru melihatmu di sini


sekarang,” ucapnya kembali.


“Bisa di bilang begitu dan lebih baik kamu segera


pergi dari sini karena dengan kehadiran dirimu jadi mengangguk diriku untuk


sendirian,” ucapku lalu aku memutar tubuhku dan menatap air pantai dengan ombak


yang tak begitu besar, pasir putih yang begitu memanjakan mata.


“Apa kamu sedang sedih?” tanya laki-laki itu lagi,


namun bukannya aku menjawab, aku hanya mendiamkan saja sambil memejamkan mataku


menikmati hembusan angin laut yang begitu sangat menyegarkan berbeda di Jakarta


yang kebanyakan sudah di penuhi polusi udara.


“Perkenalkan namaku Candra, nama kamu siapa? Kebetulan


aku ada di sini juga ingin menyendiri. Aku habis di putuskan oleh kekasihku


karena kekasihku lebih memilih calon yang di pilihkan oleh orang tuanya,”


ucapnya.


Aku pun menoleh padanya, dan menatap matanya yang


seolah-olah perkataannya benar dan tidak bohong atau pun mengada-ngada, matanya


juga terpancarkan kesedihan yan begitu dalam.


“Nesya, itu nama aku dan kamu bisa memanggilku Nes


atau terserah kamu saja kamu mau panggil aku apa. Kenapa sampai sesedih itu


bukankah kamu laki-laki yang setiap saat bisa mendapatkan wanita mana saja


sesuai dengan selera kamu,” ucapku.


Candra hanya tersenyum kecut,”Tidak semudah itu Nes,

__ADS_1


aku sangat mencintainya dan kami juga sudah merencanakan semuanya, kami sudah


menjalin hubungan selama 8 tahun dan hubungan kami juga sudah terlalu jauh tapi


mengapa dia tega meninggalkan aku begitu saja,” ucap Candra.


“Lalu apa yang harus kamu lakukan selanjutnya? Jika


kenyataan wanitamu lebih memilih calonnya yang di pilihkan kedua orang tuanya,”


ucapku.


“Entahlah aku juga bingung untuk saat ini, jujur saja


pikiranku sangatlah kacau,” ucapnya.


Aku pun menatap Candra dan tersenyum,”Hidup di dunia


ini memanglah menyenangkan bagi mereka yang bisa mengatasi masalahnya namun


tidak denganku Ndra, kehidupanku jauh lebih rumit dari pada yang kamu alami


saat ini, jika kamu benar-benar mencintai wanitamu maka kejarlah yakinkan pada


orang tuanya dan jangan menunda-nundanya aku yakin kamu bisa melewati semua


ini,” ucapku.


Candra yang belum mengerti akan masalahku hanya


mengeryitkan dahinya,”Apa kamu memiliki masalah yang begitu membuatmu menyendiri


di sini? Apa aku boleh tahu masalahmu, maaf mungkin ini lancang namun siapa


tahu aku bisa membantu kamu,” ucap Candra.


Aku menggelengkan kepalaku,”Masalahnya sangatlah rumit


Ndra dan jika aku ceritakan itu pun sangat panjang. Aku seperti kabur dari


keluargaku dan mengatasi masalahku sendirian di sini jujur saja aku sangatlah


merasa menderita, pertama aku kehilangan anakku dua kali dan kedua setiap


menjalin hubungan dengan orang yang aku sayang yang ada hanya kegagalan,


entahlah aku juga bingung,” ucapku lalu tersenyum.


“Maaf jika aku curhat masalahku kepadamu, padahal kita


kamu harus yakin dan wanitamu juga akan percaya akan tulusnya kamu mencintai


dirinya. Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab Ndra, dan aku yakin umur kamu


lebih mudah dariku dan mungkin kalian masih memiliki perjalanan yang panjang


sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius coba bicarakan semuanya dengan


baik-baik dan nanti apa pun keputusannya itu akan membuatmu merasa puas


walaupun tak sesuai yang kamu harapkan,” ucapku lalu tanganku terulur menepuk


pundaknya dengan pelan.


Hari sudah menjelang semakin sore, aku memutuskan


untuk kembali ke villa karena aku tak mau jika nanti Alex sudah kembali ke


villa akan binggung mencariku. Aku berjalan dengan pelan di tepi pantai, karena


hari sudah semakin sore banyak orang berdatangan hanya untuk melihat sunset


sore ini. Angin sepoy-sepoy berhembus menerpa tubuhku, aku hanya mengenaka


dress sampai atas lutut dengan lengan pendek hingga udara dingin mulai memasuki


kedalam tubuhku.


“Kalau keluar harus mengenakan jaket biar nggak


dingin,” ucap seseorang dan ia juga memberikan jasnya untukku agar aku tak


kedinginan. Ya, siapa lagi kalau bukan Alex, entah dari mana dia tahu aku ada


di sini. Kini Alex memeluk pinggangku agar lebih dekat dengannya lagi.


“Dari mana kamu tahu jika akua da di sini?” tanyaku.


“Aku banyak mata-mata sayang jadi aku bisa mengetahui


keberadaan kamu dimana, lagi pula kenapa kamu keluar sendirian hm? Kenapa nggak


minta di temani sama bibi,” ucap Alex.


Aku hanya menggelengkan kepalaku,”Aku ingin sendirian,

__ADS_1


jadi lebih baik aku pergi sendirian saja menikmati udara sejuk di pantai,”


ucapku seadanya, karena jujur saja aku masih marah dengan Alex.


“Sayang maafkan aku, sudah jangan marah lagi dong,”


ucap Alex.


“Sebaiknya kamu perbaiki dahulu hubungan kamu dengan


keluarga kamu dan Adeline Lex, jujur aku tak mau semuanya nanti akan menjadi


masalah besar dan akan membahayakan nyawaku kembali seperti kemarin karena jujur


saja aku juga masih takut dengan kejadian waktu itu,” ucapku.


“Baiklah kalau itu mau kamu Nes, aku akan melakukannya


asal kamu bisa berada di sampingku selamanya dan bukan Adeline yang berada di


sampingku,” ucapnya.


“Apa pun itu hanya tuhan yang tahu kedepannya Lex,


lagi pula jika memang jodoh maka kita akan tetap dipersatukan walaupun kita


terpisah jauh,” ucapku, dan menoleh ke arah Alex dan mencoba tersenyum


kepadanya.


Aku tahu sebenarnya apa yang aku lakukan ini adalah


keputusanku yang salah besar, entah kenapa aku menerima Alex saat ia mengajak


diriku bertunangan ini karena memang aku nggak mau menyakiti Alex apa lagi


selama ini ia sudah baik denganku. Namun dengan begini caranya jika Alex


mengetahui aku yakin ia juga akan merasakan sakit yang teramat sangat, maafkan


aku memang ini yang harus aku lakukan dan aku akan mencoba mencintainya dan


melihat kedepannya jika orang tua Alex setuju dengan hubungan ini maka aku akan


tetap menikah dengannya dan membuang perasaanku pada Rehan yang selama ini


sudah menyakitiku.


“Nes, jika suatu saat aku menepati janji ku maka


berjanjilah kamu tak akan pergi meninggalkan aku ataupun kembali bersama dengan


laki-laki brengsek, berjanjilah Nes,” ucap Alex menatapku dengan serius, dan


aku hanya bisa mengangguk.


“Ya, aku berjanji tak akan pernah meninggalkan kamu


Lex, namun jika yang terjadi sebaliknya maka terimalah dan jangan pernah


menyeselinya Lex. Mungkin itu adalah jalan hidup kita,” ucapku, entah kenapa


aku mempunyai firasat yang buruk akan hubunganku dengan Alex dan aku mengatakan


ini agar nanti Alex tak salah paham denganku ataupun menyalahkan dirinya


sendiri.


“Baiklah, mungkin besok aku harus pergi ke Jakarta


menemui orang tuaku dan meminta mereka untuk menyetujui hubungan kita, dan kamu


di sini menunggu,” ucapnya dengan senang, aku mencoba tersenyum walaupun aku


bisa menebak kalau mereka tak akan pernah setuju sekalipun Alex bersimpuh dan


Alex akan tetap dalam awasan kedua orang tuanya.


Memang benar kata orang jika berhubungan dengan orang


kaya selalu banyak masalah yang akan di hadapi, mungkin karena aku ini hanya


orang biasa yang tak memiliki apa-apa sedangkan Alex memiliki segalanya dan


perbedaan diantara kita itu sudah membuktikan jika memang kita tak di takdirkan


bersama. Jika itu masalah ku dengan Alex maka masalahku dengan Rehan dulu


karena mantan istrinya, dimana Rehan kembali menikah dengannya namun aku tak


pernah tahu akan hal itu dan itu yang membuatku marah bahkan tak ada yang


memberi tahu tentang itu semuanya diam, padahal aku sudah menjadi tunangannya


bukankah itu sangat keterlaluan.

__ADS_1


__ADS_2