
Aku sendirian duduk di tepi pantai sambil menatap
ombak pantai yang tak begitu besar, di sinilah aku selalu menenangkan
pikiranku. Entahlah mau bagaimana lagi hubunganku dengan Alex untuk saat ini,
bahkan saat ini ada yang lebih membutuhkan Alex agar bertanggung jawab dengan
kehamilan Adeline.
“Tuhan, aku harus bagaimana,” ucapku dengan pelan
menatap ke atas langit.
Bagiku ini sangatlah sulit untuk kujalani, jujur saja
hingga saat ini aku tak pernah sama sekali menghubungi keluargaku bahkan kakak
aku yang berada di Jakarta pun aku tak pernah memberinya kabar. Ingin rasanya
aku berkeluh kesah pada mereka namun itu tidaklah mungkin karena aku tak mau
membuat orang tua aku khawatir kepadaku dan untuk kakak aku jujur saja aku
masih merasakan sakit hati yang begitu dalam.
“Sedang apa di sini?” tanya seseorang di belakang, aku
pun menoleh kebelakang dan melihat siapa orang yang berbicara kepadaku.
“Maaf siapa ya? Apa kita pernah sebelumnya?” tanyaku
sambil melihat laki-laki yang berdiri di depanku. Aku menatapnya dari atas
sampai bawah mengingat apa sebelumnya aku pernah mengenalnya.
“Tidak, kita tidak pernah kenal sebelumnya. Hanya saja
aku ingin menyapamu saja karena tidak baik wanita sendirian di pinggiran pantai
sambil melamun bagaimana jika nanti ada setan yang masuk kedalam tubuhmu,” ucap
lelaki itu lalu setelah itu ia tertawa.
“Aku rasa bercandanya tidak lucu kenapa kamu tertawa,
dan itu suka-suka aku dong mau diamana saja untukku melamun,” ucapku dengan
sedikit sebal.
Namun laki-laki itu hanya mengangguk sambil menahan
tawanya,”Aku rasa kamu orang baru ya? Karena aku baru melihatmu di sini
sekarang,” ucapnya kembali.
“Bisa di bilang begitu dan lebih baik kamu segera
pergi dari sini karena dengan kehadiran dirimu jadi mengangguk diriku untuk
sendirian,” ucapku lalu aku memutar tubuhku dan menatap air pantai dengan ombak
yang tak begitu besar, pasir putih yang begitu memanjakan mata.
“Apa kamu sedang sedih?” tanya laki-laki itu lagi,
namun bukannya aku menjawab, aku hanya mendiamkan saja sambil memejamkan mataku
menikmati hembusan angin laut yang begitu sangat menyegarkan berbeda di Jakarta
yang kebanyakan sudah di penuhi polusi udara.
“Perkenalkan namaku Candra, nama kamu siapa? Kebetulan
aku ada di sini juga ingin menyendiri. Aku habis di putuskan oleh kekasihku
karena kekasihku lebih memilih calon yang di pilihkan oleh orang tuanya,”
ucapnya.
Aku pun menoleh padanya, dan menatap matanya yang
seolah-olah perkataannya benar dan tidak bohong atau pun mengada-ngada, matanya
juga terpancarkan kesedihan yan begitu dalam.
“Nesya, itu nama aku dan kamu bisa memanggilku Nes
atau terserah kamu saja kamu mau panggil aku apa. Kenapa sampai sesedih itu
bukankah kamu laki-laki yang setiap saat bisa mendapatkan wanita mana saja
sesuai dengan selera kamu,” ucapku.
Candra hanya tersenyum kecut,”Tidak semudah itu Nes,
__ADS_1
aku sangat mencintainya dan kami juga sudah merencanakan semuanya, kami sudah
menjalin hubungan selama 8 tahun dan hubungan kami juga sudah terlalu jauh tapi
mengapa dia tega meninggalkan aku begitu saja,” ucap Candra.
“Lalu apa yang harus kamu lakukan selanjutnya? Jika
kenyataan wanitamu lebih memilih calonnya yang di pilihkan kedua orang tuanya,”
ucapku.
“Entahlah aku juga bingung untuk saat ini, jujur saja
pikiranku sangatlah kacau,” ucapnya.
Aku pun menatap Candra dan tersenyum,”Hidup di dunia
ini memanglah menyenangkan bagi mereka yang bisa mengatasi masalahnya namun
tidak denganku Ndra, kehidupanku jauh lebih rumit dari pada yang kamu alami
saat ini, jika kamu benar-benar mencintai wanitamu maka kejarlah yakinkan pada
orang tuanya dan jangan menunda-nundanya aku yakin kamu bisa melewati semua
ini,” ucapku.
Candra yang belum mengerti akan masalahku hanya
mengeryitkan dahinya,”Apa kamu memiliki masalah yang begitu membuatmu menyendiri
di sini? Apa aku boleh tahu masalahmu, maaf mungkin ini lancang namun siapa
tahu aku bisa membantu kamu,” ucap Candra.
Aku menggelengkan kepalaku,”Masalahnya sangatlah rumit
Ndra dan jika aku ceritakan itu pun sangat panjang. Aku seperti kabur dari
keluargaku dan mengatasi masalahku sendirian di sini jujur saja aku sangatlah
merasa menderita, pertama aku kehilangan anakku dua kali dan kedua setiap
menjalin hubungan dengan orang yang aku sayang yang ada hanya kegagalan,
entahlah aku juga bingung,” ucapku lalu tersenyum.
“Maaf jika aku curhat masalahku kepadamu, padahal kita
kamu harus yakin dan wanitamu juga akan percaya akan tulusnya kamu mencintai
dirinya. Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab Ndra, dan aku yakin umur kamu
lebih mudah dariku dan mungkin kalian masih memiliki perjalanan yang panjang
sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius coba bicarakan semuanya dengan
baik-baik dan nanti apa pun keputusannya itu akan membuatmu merasa puas
walaupun tak sesuai yang kamu harapkan,” ucapku lalu tanganku terulur menepuk
pundaknya dengan pelan.
Hari sudah menjelang semakin sore, aku memutuskan
untuk kembali ke villa karena aku tak mau jika nanti Alex sudah kembali ke
villa akan binggung mencariku. Aku berjalan dengan pelan di tepi pantai, karena
hari sudah semakin sore banyak orang berdatangan hanya untuk melihat sunset
sore ini. Angin sepoy-sepoy berhembus menerpa tubuhku, aku hanya mengenaka
dress sampai atas lutut dengan lengan pendek hingga udara dingin mulai memasuki
kedalam tubuhku.
“Kalau keluar harus mengenakan jaket biar nggak
dingin,” ucap seseorang dan ia juga memberikan jasnya untukku agar aku tak
kedinginan. Ya, siapa lagi kalau bukan Alex, entah dari mana dia tahu aku ada
di sini. Kini Alex memeluk pinggangku agar lebih dekat dengannya lagi.
“Dari mana kamu tahu jika akua da di sini?” tanyaku.
“Aku banyak mata-mata sayang jadi aku bisa mengetahui
keberadaan kamu dimana, lagi pula kenapa kamu keluar sendirian hm? Kenapa nggak
minta di temani sama bibi,” ucap Alex.
Aku hanya menggelengkan kepalaku,”Aku ingin sendirian,
__ADS_1
jadi lebih baik aku pergi sendirian saja menikmati udara sejuk di pantai,”
ucapku seadanya, karena jujur saja aku masih marah dengan Alex.
“Sayang maafkan aku, sudah jangan marah lagi dong,”
ucap Alex.
“Sebaiknya kamu perbaiki dahulu hubungan kamu dengan
keluarga kamu dan Adeline Lex, jujur aku tak mau semuanya nanti akan menjadi
masalah besar dan akan membahayakan nyawaku kembali seperti kemarin karena jujur
saja aku juga masih takut dengan kejadian waktu itu,” ucapku.
“Baiklah kalau itu mau kamu Nes, aku akan melakukannya
asal kamu bisa berada di sampingku selamanya dan bukan Adeline yang berada di
sampingku,” ucapnya.
“Apa pun itu hanya tuhan yang tahu kedepannya Lex,
lagi pula jika memang jodoh maka kita akan tetap dipersatukan walaupun kita
terpisah jauh,” ucapku, dan menoleh ke arah Alex dan mencoba tersenyum
kepadanya.
Aku tahu sebenarnya apa yang aku lakukan ini adalah
keputusanku yang salah besar, entah kenapa aku menerima Alex saat ia mengajak
diriku bertunangan ini karena memang aku nggak mau menyakiti Alex apa lagi
selama ini ia sudah baik denganku. Namun dengan begini caranya jika Alex
mengetahui aku yakin ia juga akan merasakan sakit yang teramat sangat, maafkan
aku memang ini yang harus aku lakukan dan aku akan mencoba mencintainya dan
melihat kedepannya jika orang tua Alex setuju dengan hubungan ini maka aku akan
tetap menikah dengannya dan membuang perasaanku pada Rehan yang selama ini
sudah menyakitiku.
“Nes, jika suatu saat aku menepati janji ku maka
berjanjilah kamu tak akan pergi meninggalkan aku ataupun kembali bersama dengan
laki-laki brengsek, berjanjilah Nes,” ucap Alex menatapku dengan serius, dan
aku hanya bisa mengangguk.
“Ya, aku berjanji tak akan pernah meninggalkan kamu
Lex, namun jika yang terjadi sebaliknya maka terimalah dan jangan pernah
menyeselinya Lex. Mungkin itu adalah jalan hidup kita,” ucapku, entah kenapa
aku mempunyai firasat yang buruk akan hubunganku dengan Alex dan aku mengatakan
ini agar nanti Alex tak salah paham denganku ataupun menyalahkan dirinya
sendiri.
“Baiklah, mungkin besok aku harus pergi ke Jakarta
menemui orang tuaku dan meminta mereka untuk menyetujui hubungan kita, dan kamu
di sini menunggu,” ucapnya dengan senang, aku mencoba tersenyum walaupun aku
bisa menebak kalau mereka tak akan pernah setuju sekalipun Alex bersimpuh dan
Alex akan tetap dalam awasan kedua orang tuanya.
Memang benar kata orang jika berhubungan dengan orang
kaya selalu banyak masalah yang akan di hadapi, mungkin karena aku ini hanya
orang biasa yang tak memiliki apa-apa sedangkan Alex memiliki segalanya dan
perbedaan diantara kita itu sudah membuktikan jika memang kita tak di takdirkan
bersama. Jika itu masalah ku dengan Alex maka masalahku dengan Rehan dulu
karena mantan istrinya, dimana Rehan kembali menikah dengannya namun aku tak
pernah tahu akan hal itu dan itu yang membuatku marah bahkan tak ada yang
memberi tahu tentang itu semuanya diam, padahal aku sudah menjadi tunangannya
bukankah itu sangat keterlaluan.
__ADS_1