
Setelah pertemuanku dengan Alex
kini aku menjadi sedikit lega karena akhirnya aku bisa mengembalikan semuanya
dimana memang semua itu bukan hak aku. Kini aku kembali ke apartemen bersama
dengan Rehan, kami berdua hanya berjalan kaki karena memangnya sangat dekat
sambil berjalan-jalan. Kami berdua bergandengan tangan hingga banyak pasang
yang melihat kami berdua mungkin karena mereka penasaran atau sebaliknya aku
juga enggak tahu akan tetapi aku sangat cuek dan menikmati hari ini yang begitu
indah.
Sampai di apartemen aku langsung
menuju ke dapur, di mana aku mengambil air dingin dan menuangkannya di gelas
karena aku benar-benar haus karena hawa panas dan terik matahari yang begitu
sangat menyengat. “Sayang, kamu lagi apa?’ tanya Rehan yang juga mengikuti ke
dapur, setelah itu dia juga meminta air minum padaku.
Kami kembali ke sofa kami istirahat
di sofa dengan aku tiduran dan paha Rehan aku jadikan bantal. “Re, kapan kita
akan ke rumah kamu, kamu juga bilang jika hari ini akan pulangkan?” tanyaku
mendongak keatas menatap Rehan, sedangkan Rehan hanya tersenyum sambil mengelus
puncak kepalaku dengan lembut.
“Nanti malam saja bagaimana? Kamu
enggak keberatan sekalian nanti kita makan malam bersama, lagi pula aku juga
sudah mengirimkan pesan pada mama dan dia juga enggak sabar menunggu untuk
bertemu dengan kamu,” ucapnya.
“Hm, baiklah. Lalu setelah ini kita
mau apa?” tanyaku kembali namun Rehan sedikit berpikir sejenak, sebenarnya aku
ingin mengajak Rehan untuk ke rumahnya sekarang saja akan tetapi dia maunya
nanti malam.
“Bagaimana kalau kita pergi ke
kamar,” ucapnya.
“Mau apa Re?” tanyaku, namun aku
juga sedikit curiga dengan ajakan Rehan ke kamar dan ya, aku sadar bahwa memang
benar Rehan mesum. Aku pun segera bangun dari tidur dan setelah itu baru Rehan
beranjak dari sofa dan langsung menyeret tanganku untuk mengajak ke kamar.
“Rehan, apa yang akan kamu lakukan?
Aku enggak mau Re,” ucapku memohon namun Rehan tak peduli bahkan kini dia juga
sudah mengunci pintu kamar dan aku hanya bisa menatap Rehan dengan tajam dan
ya, Rehan hanya tersenyum mesum.
“Ayolah sayang, kita akan
bersenang-senang sebentar. Apa kamu sangat keberatan hm?” tanya Rehan sambil
berjalan pelan mendekatiku dan aku hanya bisa berjalan mundur hingga aku
menubruk ranjang dan jatuh ke atas ranjang. Dan kini posisi Rehan sudah berada
di atasku dan menatapku dengan penuh nafsu.
“Re, ini masih siang,” ucapku,
namun itu sepertinya hanya sia-sia saja karena Rehan juga tak akan pernah peduli
dan dia juga sudah sangat menginginkannya.
“Enggak apa, aku ingin melakukannya
__ADS_1
sekarang sayang,” ucap Rehan lalu ia mencium bibirku dengan sangat rakus, aku
juga tak membalas ciumannya namun Rehan menuntutnya sehingga aku membuka
mulutku dan dia menjelajahi rongga mulutku. Aku yang terbuai akan permainan
Rehan mengalungkan tangaku di lehernya dan menikmati setiap kecupan yang dia
berikan.
Ciuman Rehan juga semakin turun
kebawah dan dia juga meninggalkan bekas di leherku yang aku yakini sangat
banyak, tangan Rehan masuk ke dalam kaos yang aku kenakan dan Rehan juga
meremas bukit kembarku yang masih terbungkus oleh bra. “Re, bisakah kita
menundanya sampai nanti malam hm?” tanyaku dengan terengah-engah, dan Rehan
menggelengkan kepalanya.
“Aku ingin melakukannya sekarang
sayang,” ucap Rehan dan kini ia mulai melepaskan baju dan juga bra yang aku
kenakan. Rehan bermain dengan bukit kembarku yang begitu sudah tegang, aku
menikmati sentuhan yang Rehan berikan, aku sudah lama tak merasakannya.
Sentuhan Rehan yang begitu memabukkan.
“Sttts, Re,” ucapku pelan.
“Ya, sayang,” ucapnya sambil
menatapku.
“Lakukan secepatnya dan jangan
menyiksaku seperti ini,” ucapku, karena aku sudah tak tahan lagi.
Namun Rehan hanya tersenyum dan
kembali memainkan area intimku hingga membuatku merasakan geli bercampur dengan
nikmat. Dan ya, kami melakukannya dimana setelah lama kita tidak melakukan dan
sore. Rehan menyuruhku untuk istirahat sebentar sedangkan dia beranjak dari
ranjang untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya karena setelah
itu dia akan bekerja sebentar dan aku hanya menuruti saja.
Malam harinya aku kembali pulang
bersama dengan Nesya dan ya, Nesya di sambut oleh mama dan Raina dengan
antusias bahkan mereka berpelukan hingga aku di lupakan. Namun sebelum itu aku
mengajak Nesya untuk masuk ke dalam kamar lebih dulu dan setelah itu kita
keluar langsung menuju ke ruang makan dan di sana begitu banyak makanan yang
sudah di siapkan oleh mama untuk menyambut kedatangan Nesya.
“Akhirnya kamu kembali sayang, mama
sangat menyesali dengan apa yang telah rehan dan mama perbuat sama kamu, andai
saja waktu itu mama tak mendukukng atau menyuruh Rehan pasti kejadiannya tak
seperti ini dan sekarang mungkin sudah menikah dan memiliki anak,” ucap Maria
merasa bersalah dengan tindakan yang telah dia ambil untuk kebaikan Rehan.
Aku hanya bisa tersenyum saat mama
Rehan membicarakan masa lalu itu yang begitu menyakitkan bagiku hingga aku
harus melewati beberapa rintangan yang begitu berat bagiku. “Aku sudah maafin
tante dan lagi pula itu sudah menjadi masa lalu ma, jadi kita enggak perlu
ingat-ingat itu kembali ma, bukan begitu? Lebih baik kita makan malam lebih
dulu bagaimana aku sudah sangat laper banget,” ucapku, sedang mama dan yang
lainnya hanya bisa tertawa hingga kita makan malam bersama tanpa ada obrolan
__ADS_1
lagi.
Aku bahagia bisa kembali seperti
dulu dan bahkan aku sebentar lagi akan menjadi bagian dari mereka dan bahkan
aku harus menjadi ibu buat Raina, namun itu bukan masalah besar bagiku karena
aku akan berusaha untuk menjadi ibu terbaik untuk Raina. Setelah makan malam
selesai kami berkumpul dengan yang lainnya di ruang keluarga sedangkan aku
menemani Raina bermain dan Rehan sibuk dengan ipadnya mungkin dia masih banyak
pekerjaan yang harus dia kerjakan.
“Sayang, coba kamu lihat kamu suka
yang mana dengan dekorasinya kamu tinggal pilih saja dan mama yang akan atu
semuanya,” ucap mama Maria, dan ya. Mama memperlihatkan dekorasi untuk
pernikahanku dengan Rehan nanti dan semuanya yang akan mempersiapkan adalah
mama Maria dibantu oleh anak buahnya.
“Semuanya sangat bagus ma, tapi
Nesya suka dengan yang ini. Ada warna biru, putih, dan pink,” ucapku pada mama
dan mama juga mengangguk setuju sedangkan Rehan tak akan banyak komentar karena
memang semuanya sudah di serahkan padaku dan mama, sedangkan gaun yang di beli
kemarin di bali juga sudah di kirimkan.
“Oh, iya. Satu lagi Nesya mau pilih
mana kartu undangannya?” tanya mama Maria kembali.
Aku kembali lagi memilih warna putih
dan biru dengan warna gold, itu menurutku sangat indah dengan ada hiasan bunga.
Sederhana akan tetapi begitu terlihat mewah dan aku rasa pilihanku tak begitu
jelek-jelek banget dan kali ini mama dan Rehan juga setuju walau Rehan lebih
sibuk dengan ipadnya. Selesai membicarakan semuanya aku mengantarkan Raina ke
kamarnya hingga menunggunya tertidur, lalu aku baru meninggalkan dan masuk ke
dalam kamar Rehan dan melihatnya kini sibuk dengan hpnya.
“Kenapa belum tidur memangnya
enggak capek hm,” ucapku sambil berjalan mendekati ranjang dan duduk di samping
Rehan.
Rehan menaruh hpnya kembali ken
akas dan menatapku sambil tersenyum. “Tidak, bagaimana kalau kita melanjutkan
aktifitas yang tadi siang,” ucap Rehan.
Aku menatapnya dengan tajam,
“Tidak, Re. aku lelah dan sebaiknya kita istirahat saja dan besok kamu harus
pergi ke kantor bukan?” tanyaku.
“Ayolah
sayang, aku masih menginginkannya,” ucap Rehan memohon, akan tetapi aku
membaringkan tubuhku dan membelakangi Rehan. Hingga Rehan ikut tidur dan
memelukku dari belakang, aku juga mendengarkan Rehan mendengkur dan pertanda
dia sudah tertidur. Aku tersenyum kecil, terkadang sikap Rehan yang seperti
anak kecil yang suka memaksa jika tak di beri namun aku benar-benar lelah
dengan permainan tadi siang dimana Rehan tak bisa di hentikan dan baru berhenti
saat sore harinya. Mau bagaimana Rehan aku tetap mencintainnya dan hanya dia
yang bisa menerimaku apa adanya dan bahkan dia juga telah tahu segalanya
__ADS_1
tentang diriku. Bagiku tuhan sangat baik karena telah mengirimkan sosok lelaki
yang begitu sayang kepadaku dan juga perhatian.