Cinta Om Duda

Cinta Om Duda
Rehan


__ADS_3

Rehan berada di ruang kerjanya sambil menatap foto yang ada di meja kerjanya, foto itu di ambil saat mereka melakukan pertunangan namun semua itu hanya tinggal kenangan dimana Nesya sudah meninggalkan dirinya. Rehan tak tahu harus mencari Nesya kemana lagi, apa lagi Nesya di Jakarta hanya ada kakaknya namun Nesya tak ada di rumah kakak dan juga di kampung halaman orang tuanya Nesya juga tak ada.


“Sayang, sebenarnya kamu kemana?” Rehan mengambil bingkai foto itu dan mengelus wajah Nesya yang terlihat sangat cantik dan anggun.


“Kamu tahu? Aku sangat merindukan dirimu,” ucapnya pelan sambil masih menatap foto pertunagan mereka.


Rehan kembali meletakkan foto itu kembali ke meja, Rehan menghela nafas panjangnya dan beranjak dari duduknya. Rehan keluar dari ruang kerjanya, Rehan menuruni tangga untuk mencari udara segar di halaman belakang. Akhir-akhir ini Rehan banyak menghabiskan waktunya di rumah dari pada di kantor, Rehan menyuruh sekretarisnya untuk mengirimkan semua pekerjaan ke rumahnya saja dan Rehan akan pergi ke kantor jika ada hal penting atau bertemu dengan klien.


“Re, sedang apa kamu di sini?” Maria mendekati Rehan yang sedang berdiri sambil melamun.


Rehan menoleh, tersenyum kepada mamanya yang ada di sampingnya,”Mama, bikin kaget Rehan saja. Rehan sedang mencari udara segar ma.”

__ADS_1


“Mama tahu kamu sedang ada masalah Re, ceritakan kepada mama Re. Siapa tahu mama bisa menolongmu walaupun tak sepenuhnya,” ucap Maria.


“Ini masalah Rehan ma, jadi biar Rehan saja yang menyelesaikan semuanya. Oh iya, Rehan putuskan untuk meninggalkan Kalina ma dan keluarga kita juga akan pindah untuk beberapa tahun agar Kalina tak mencari ku lagi,” ucap Rehan sambil ke dua tangannya di masukkan ke kantong saku celananya.


Sedangkan Maria masih memikirkan apa maksud perkataan anaknya itu,”Maksud kamu apa Re? Apa kamu memutuskan Kalina dan bagaimana nasib anak yang ada di kandungannya Re?”


Rehan kembali menghela nafas panjang, lalu menepuk pundak mamanya dengan pelan.


Lagi-lagi Maria tak bisa marah kepada anaknya, Maria tersenyum dan memeluk anaknya kedalam pelukkannya.


“Mama tahu apa yang kamu rasakan Re, dan mama juga akan ikut campur lagi ke dalam masalah kamu. Apa pun yang akan kamu lakukan akan mama dukung asalkan kamu bahagia,” ucap Maria.

__ADS_1


Rehan melepaskan pelukkan mamanya dan menatap Maria,”Terima kasih ma, maafkan Rehan jika selama ini Rehan selalu berulah.”


“Nggak Re, kamu anak mama yang sangat mama banggakan. Mama selalu begini karena mama sangat menyangimu,” ucapnya lalu kembali memeluk Rehan dengan erat.


Setelah itu Maria meninggalkan Rehan sendirian di halaman belakang, memberikan waktu kepada Rehan untuk menenangkan dirinya. Rehan duduk di bangku taman sambi melamun dan mengingat akan kenangannya bersama dengan Nesya dimana dirinya menghabiskan waktu bersama Nesya setiap harinya.


Rehan juga merasa bersalah saat Nesya mengalamin keguguran dimana itu anak pertama yang seharusnya lahir dari rahim Nesya namun kenyataannya mereka tak di izinkan untuk membesarkan anak itu hingga tumbuh menjadi dewasa.


“Maafkan aku sayang, semoga kamu bisa memaafkan aku dan kembali kepadaku,” ucap Rehan pelan dengan tatapan kosongnya.


Ini memang cobaan yang harus Rehan lewati, karena dirinya yang ceroboh melakukannya tanpa memikirkan kedepannya. Rehan yang kurang begitu tegas dengan Kalina, Rehan memgusap wajahnya begitu kasar.

__ADS_1


Rehan begitu kesal dengan dirinya sendiri, Rehan merutuki dirinya dengan caciannya sendiri.


__ADS_2