
Terik matahari yang sudah mulai meninggi, dan panas siang ini sangatlah ingin membakar kulit, Nesya dengan Rehan yang sedang berada di taman dekat apartemen, mereka berdua sedang duduk di bangku kosong yang sudah tersedia.
Nesya dan Rehan hanya duduk bersantai dan berbicara ringan seperti biasanya, hari ini Rehan begitu cerewet, Rehan banyak cerita mulai dari pekerjaan hingga masalah kecil yang di laluinya. Yang Nesya tahu Rehan hanya akan bicara jika dirinya memang ingin berbagi masalahnya dengan Nesya.
Masih banyak yang belum Nesya ketahui tentang Rehan, mereka memang bersama namun tak semuanya Rehan akan berbicara jujur, itu yang Nesya tahu. Selama hubungan mereka semakin lama Nesya sendiri tak mengetahui apa yang ingin di inginkan seorang Rehan, dan hanya Rehanlah yang tahu dengan apa yang di inginkan Nesya.
“Apa kamu tak bosan dengan hubungan kita?” tanya Nesya kepada Rehan, dan Rehan menoleh ke Nesya dan tersenyum lalu tangannya mengusap rambutnya dengan lembut.
“Aku tak akan pernah bosan dengan hubungan kita sayang, karena akau sangat mencintai dan menyanyangimu,” ucap Rehan dengan tulus, walaupun Nesya selalu menyakiti hati Rehan namun entah kenapa Rehan masih tetap mencintainya dan tak ingin meninggalkan Nesya.
“Lalu? Sampai kapan hubungan kita akan seperti ini?” tanya Nesya menoleh ke Rehan.
“Kamu sabar sebentar sayang, aku akan menikahi kamu segera dan kita akan hidup bahagia selamanya,” ucap Rehan lalu memeluk Nesya dengan erat.
**
Hubungan yang mereka jalani tak semuadah apa yang mereka bicarakan, mungkin ini baru awal hubungan yang baik namun kedepannya mereka akan melewati banyak rintangan yang berat. Nesya sendiri sampai saat ini belum yakin dengan hatinya, entah dirinya mencintai Rehan atau tidak itu yang selama ini Nesya bimbangkan.
“Apa kamu tak percaya denganku sayang?” tanya Rehan sambil melepaskan pelukkannya dan menatap mata Nesya dengan insten.
Nesya pun menolehkan wajahnya kesembarang arah dan menarik nafas dalam – dalam lalu melepaskannya dengan perlahan – lahan.
__ADS_1
“Aku selalu percaya dengan apa yang kamu bicarakan Re,” ucap Nesya bohong dalam hatinya dirinya tak pernah percaya dengan Rehan, Nesya yakin bahwa Rehan di luar sana pasti selalu genit dengan wanita lain.
“Terima kasih sayang, aku menyanyangimu dan aku juga nggak akan macam macam,” ucap Rehan dan kembali memeluk Nesya kembali.
Mereka berdua kembali ke apartemen dengan berjalan, banyak pasangan mata yang tertuju kepada mereka, mungkin mereka sangat iri melihat sepasang kekasih yang satu tampan dan yang satunya lagi sangat cantik atau sebaliknya mereka berbicara jelek tentang mereka berdua, namun lagi – lagi mereka berdua tak menghiraukan kata mereka, apa lagi Nesya mungkin Nesya sudah terlalu kebal dengan mulut orang hingga tak pernah menganggap pembicaraan mereka serius.
“Kalina, ayo masuk dulu,” ucap Maria, dan Kalina pun masuk dengan berjalan di belakang Maria mengikutinya.
“Ayo duduk, tumben pagi – pagi gini kamu sudah sampai di sini?” tanya Maria menyambut bekas calon menantunya itu dengan baik walaupun dalam dirinya masih merasa marah dengan Kalina dengan keluarganya.
“Maaf ya Ma, pagi – pagi gini Kalina sudah menganggu, Kalina hanya ingin bertemu dengan Raina Ma, apa Raina sudah bangun Ma?” tanya Kalina.
“Belum Lin, atau begini saja kamu bangunin saja ya di kamarnya, mama mau buati kopi untuk papa, kamu tahu kan kamarnya dekat kamar Rehan,” ucap Maria.
Kalina berjalan ke pintu kamar Rehan, Kalian terdiam sebentar, dirinya ingin sekali mengetuk pintu kamar bekas suaminya itu tetapi bimbang. Sampai akhirnya Kalina memberanikan diri mengetuk pintu kamar Rehan hingga Rehan pun membukakannya.
“Lin, kamu ngapain pagi – pagi ke sini?” tanya Rehan dengan masih muka bantalnya kerena baru bangun.
“A-aku kesini ingin bertemu dengan Raina,” ucap Kalina dengan gugup, dan Rehan pun menoleh ke pintu kamar Raina lalu menoleh kembali menatap Kalina.
“Raina belum bangun?” tanya Rehan kepada Kalina.
__ADS_1
“Belum, a-apa aku boleh masuk ke kamarmu?” tanya Kalian dengan pelan.
Saat Rehan belum sempat bicara Kalina langsung masuk begitu saja ke dalam kamar, Kalina duduk di tepi ranjang, Kalina ingat ini kamar mereka saat mereka masih bersama dan belum berubah sama sekali, Kalina tersenyum menatap Rehan yang menutup pintu kamarnya dan jalan mendekati Kalian lalu duduk di samping Kalina.
“Kamar ini masih sama seperti dulu,” ucap Kalina, namu tak ada jawaban dari Rehan sama sekali.
“Re, aku boleh tanya sesuatu kepadamu,” ucap Kalian kembali, dan Rehan hanya menoleh menatap Kalina menunggu apa yang akan di tanyakan kepadanya.
“Re, kalau boleh jujur aku masih mencintaimu dan ingin kita kembali lagi seperti dulu Re, membesarkan anak kita Raina bersama – sama,” ucap Kalina.
“Bukannya kita sudah membahas ini kemarin – kemari Lin, aku sudah tak ada perasaan lagi dan kita juga tak bisa bersama lagi, apa aku kemarin kurang jelas,” ucap Rehan.
“Tapi Re, apa benar kamu sudah benar – benar melupakan aku,” ucap Kalina sambil lebih mendekatkan dirinya kepada Rehan.
“Lin cukup jangan bahas ini lagi aku sudah muak,” ucap Rehan, dirinya juga sebenar masih bimbang dengan perasaanya apa dirinya masih mencintai Kalina atau dirnya sudah smelupakannya namun saat dekat dengan Kalina kenangan kebahagian mereka dulu selalu teringat di kepala Rehan hingga membuat Rehan lemah akan hal ini untuk menjauh dari Kalina.
“Aku tahu Re, kamu masih ada perasaan denganku, kamu nggak bisa bohongi aku Re,” ucap Kalina yang sekarang posisinya benar benar dekat dengan Rehan.
Kalina memeluk Rehan dengan tiba tiba dan itu membuat Rehan terkejut dengan perlakuan Kalina mantan istrinya itu.
“Apa yang kamu lakukan Lin, lepaskan,” ucap Rehan.
__ADS_1
“Aku nggak akan lepasin Re, atau pagi ini aku akan membuatmu puas, pasti kamu sudah lama tidak melakukannya’kan,” ucap Kalina dengan nada nakalnya.
Rehan yang mendengar Kalina seperti itu, buru – buru melepaskan pelukkan Kalina namun Rehan kurang beruntung saja pagi ini Kalina yang lebi gesit dengan menurunkan boxer milik Rehan lalu Kalina berjongkok di depannya dan memasukkan junior Rehan kemulut Kalina, dan Rehan tak bisa berkutik lagi dirinya menikmati itu.