
Malam harinya aku mengantarkan
Nesya pulang ke villanya bahkan dia juga menyuruhku untuk masuk ke dalam villa.
Aku merasa bahwa Nesya sudah lagi tak memberikan jarak antara diriku dan dia
bahkan dia juga menawariku kopi dan aku pun menerima. Kami berdua duduk di
balkon kamar Nesya namun kita hanya saling berdiaman saja dan aku menoleh ke
arah Nesya yang sedang menatap langit dan aku pun memberanikan untuk berbicara.
“Kenapa? Apa langit malam ini
begitu cerah dan indah karena banyak bintang yang bertaburan bahkan bersinar
terang,” ucapku namun Nesya tetap diam, hingga pandangannya kini beralih ke
arahku dan sedikit memaksakan senyumannya.
“Tidak, aku hanya berharap tentang
diriku. Di mana aku bisa mendapatkan kebahagiaanku sendiri,” ucapnya lalu
menatap kembali lagi ke atas.
“Aku akan merubahnya, aku akan
membuatmu bahagia dan menuruti apa yang kamu inginkan dan bahkan aku berjanji
tak akan membuatmu menangis lagi,” ucapku, Nesya kini menatapku kembali. Bahkan
dia juga belum memberi jawaban tentang ajakanku yang mengajaknya menikah dan
kembali ke Jakarta.
“Buktikan Re, jangan pernah
sekali-kali berjanji jika kamu tak bisa menepatinya karena itu hanya akan
memberi harapan yang tak pasti dan aku tak mau merasakan sakit lagi bahkan aku
harus menanggung semuanya sendirian dan itu sangat mengakitkan Re,” ucap Nesya
yang kini matanya sudah kembali berkaca-kaca hingga aku mendekatinya, karena
aku tak mau melihat Nesya kembali menangis.
“Aku akan buktikan, dan aku juga
akan mempersiapkan semuanya. Aku akan bilang ke mama dan pasti ia akan sangat
bahagia jika aku bisa membawamu kembali bersama denganku,” ucapku lalu aku
mengambil tangannya lalu mencium punggung tangannya dengan lembut.
Hari sudah semakin malam dan hawa
dingin semakin masuk ke dalam tubuh kami masing-masing bahkan aku juga mengajak
Nesya untuk masuk ke dalam kamar. Lalu setelah itu aku berpamitan untuk kembali
ke villa. Nesya hanya mengangguk dan aku benar-benar pergi dari villa Nesya,
aku tersenyum kecil dengan perubahan sikap Nesya yang semakin luluh. Namun
sebelum aku benar-benar pergi aku berpesan pada bodyguard yang menjaga Nesya
selama ini agar mengawasinya dengan baik bahkan jangan sampai Nesya pergi atau
kabur, aku melakukan ini hanya untuk berjaga-jaga saja jika nanti Nesya
benar-benar akan kabur dariku lagi.
Sampai di villa aku langsung menuju
ke dalam kamar, aku membaringkan badanku di ranjang. Aku menatap langit-langit
berharap semuanya akan menjadi indah dan Nesya akan menjadi milikinya
selamanya.
“Karena aku tak akan pernah
membiarkan kamu kabur dan pergi meninggalkanku lagi sayang, aku akan
membuktikan semuanya bahwa aku tak pernah bermain-main dengan ucapanku,” ucapku.
Di tempat yang berbeda di mana
Adeline dan Alex yang sudah sah menjadi suami istri kini mereka berdua sedang
berada di dalam kamar denga Alex duduk di tepi ranjang sedangkan Adeline
sedangkan membersihkan diri di toilet sekalian berganti baju, tak berapa lama
Adeline keluar dan sudah berganti baju dengan baju tidur. Setelah itu Alex
pergi ke kamar mandi untuk mandi dan juga sekalian membawa baju ganti.
“Aku tahu kamu tak suka dengan
pernikahan kita tapi kamu harus terima Lex,” ucapku dalam hati.
Aku menghela nafas panjang lalu
duduk di depan cermin untuk memulai aktivitas rutin memakai skincare sebelum
tidur. Mau bagaimana juga aku harus tetap berusaha meyakinkan Alex jika mulai
hari ini dia sudah menjadi milikku dan dia juga harus sadar bahwa dia juga tak
akan pernah bisa bersama dengan Nesya karena Nesya juga harus bahagia dengan
lelaki yang begitu mencintainya dengan tulus. Setelah selesai memakai skincare
aku naik ke atas ranjang dan mengambil hpku namun tak ada pesan atau pun
panggilan untukku, aku pun segera menaruh kembali hpku di atas nakas samping tempat
tidur.
Alex pun keluar dari kamar mandi,
ia juga sudah memakai baju tidur. Ia membawa handuk kecil untuk mengeringkan
rambutnya.
“Mau aku bantu mengeringkan rambut
kamu,” ucapku.
“Tidak usah aku bisa melakukannya
sendiri dan lebih baik kamu tidur duluan pasti kamu juga sangat lelahkan,”
ucapnya sambil menoleh ke arahku bahkan Alex juga tersenyum padaku.
“Ya, sangat lelah kalau begitu aku
tidur lebih dahulu, dan nanti kamu juga cepat tidur jangan begadang,” ucapku,
dan Alex hanya mengangguk. Setelah itu aku membaringkan tubuhku dan juga
menutup mataku.
Aku tahu malam ini adalah malam
__ADS_1
pertama namun ini bukan malam pertama yang aku harapkan di mana Alex tak
menyentuhku bahkan dia menyuruhku tidur lebih dulu. Aku tahu jika Alex masih
memikirkan tentang keadaan Nesya namun aku saat ini adalah istri sah nya,
mungkin aku hanya perlu bersabar agar Alex menerima keberadaanku dan jika nanti
saatnya tiba aku yakin semuanya akan baik-baik dan bahagia. Aku tahu mungkin di
sini aku terlihat jahat namun ini juga bukan kemauanku namun hatiku juga
mencintainya dan tak bisa di bohongi lagi. Aku berusaha untuk tidur namun aku
tak bisa dan aku juga merasakan bahwa Alex berada di sampingku dan ia juga
sibuk dengan ipadnya, namun aku tetap berpura-pura tidur agar Alex tak mengetahuinya.
“Maafkan aku, aku butuh waktu untuk
melakukan semuanya. Aku hanya tak mau jika aku melakukannya sekarang maka orang
lain yang aku sebut, sekali lagi maafkan aku, aku butuh waktu dan aku harap
kamu mengerti,” ucapnya sambil menyelimutiku.
“Ya, aku akan memberikan kamu
waktu. Aku akan menunggumu sampai kamu siap, aku tahu jika ini juga sangat
berat untukmu,” ucapku dalam hati.
Alex juga mencium keningku sebentar
lalu setelah itu ia juga mengucapkan selamat malam padaku, aku sangay bahagia
perhatian kecil yang ia kasihkan padaku. Hingga aku pun benar-benar tertidur.
Pagi harinya aku terbangun karena
aku merasa ada sesuatu yang berat melingkar di pinggangku, aku pun membuka
mataku dan melihatnya dan ternyata itu tangan milik Alex. Aku pun kembali tertidur
lagi, aku pun juga merubah posisiku dan kini pun kami saling berhadapan.
“Aku bahagia memilikimu,” ucapku
dalam hati, aku menenggelamkan kepalaku pada dada bidang Alex aku tak peduli
jika Alex bangun namun aku sangat suka melakukan ini. Sampaj akhirnya aku
kembali tertidur lagi, bahkan kami berdua bangun kesiangan.
Kami berdua bangun sekitar pukul
09.00 pagi, aku mandi terlebih dahulu setelah itu Alex, aku kali ini mengenakan
dress dengan menamnpilkan pundakku. Aku menunggu Alex selesai mandi, dan setelah
ini aku ingin mengajak Alex ke bawah untuk sarapan pagi. Alex pun keluar dari
kamar mandi, ia juga sudah memakai baju santai.
“Setelah ini ayo kita sarapan pagi
dahulu ke bawah setelah itu baru kembali pulang,” ajakku dan Alex hanya
mengangguk, setelah itu pun kami keluar kamar hotel dan turun kebawah
menggunakan lift.
Siang ini aku kembali ke villa Nesya,
dan ia sedang duduk di balkon sambil melihat deburan ombak. Nesya hanya duduk
juga kue namun masih ada dan sepertinya belum ia makan. Aku berjalan
mendekatinya, lalu memegang pundaknya dengan pelan.
“Kamu sedang apa hm?” tanyaku, dan ia
hanya menoleh ke arahku dan tersenyum. Aku duduk di samping dan melihat ke deburan
ombak.
“Ada apa ke sini?” tanya tanpa
menoleh kearahku.
“Aku merindukan kamu, tentu saja
aku datang ke sini,” ucapku menoleh ke arah Nesya.
Namun Nesya hanya diam dan tersenyum
itu pun bisa aku lihat karena terpaksa, entah apa yang sedang Nesya pikirkan.
Namun hanya satu yang aku inginkan jika Nesya mau kembali menerimaku, maka aku
akan segera menikahinya.
“Re, apa kamu masih yakin dengan
perasaan kamu?” tanyanya tanpa menoleh ke arahku.
“Maksud kamu apa sayang? Jika aku
tak yakin dengan perasaanku maka aku tak akan mencarimu selama ini dan lebih
baik melupakan kamu. Tapi kamu tahu kan saat ini aku berada di sini di samping
kamu? Aku sungguh sangat mencintaimu sayang, aku berharap kita bisa bersama
kembali dan membangun rumah tangga yang bahagia,” ucapku.
Lagi dan lagi Nesya masih terdiam,
dan tatapannya lurus ke depan. Aku tahu jika ia banyak yang di pikirkan. Maka
aku akan menunggun di mana ia merasa siap, aku yakin jika Nesya masih
mencintaiku dan saat ini ia bersikap seperti ini hanya berpura-pura saja. Aku
beranjak dari tempat duduk dan berjalan mendekati Nesya.
Aku memeluknya dari belakang namun
ia tak menolaknya sama sekali. “Kamu tahu? Aku sangat ingin menjadikan kamu ibu
dari anak-anakku nanti, aku tahu kita sudah kehilangan anak dua kali tapi aku
ingin mempertahankan anak-anak kita nangi hingga mereka tumbuh besar. Aku ingin
hidup bersama denganmu dan tiap pagi aku bisa melihat wajahmu saat aku bangun
tidur,” ucapku lalu aku mencium pipi Nesya dengan lembut.
“Apa kamu berjanji tak akan
menyakitiku lagi Re, aku takut jika kamu hanya akan menyakitiku kembali,” ucap
Nesya dan tiba-tiba saja air matanya jaguh tanpa di suruh.
Aku pun merubah posisi aku berjokok
di bawah sedangkan Nesya masih duduk di kursi, aku memegang kedua tangan Nesya
__ADS_1
dengan begitu erat. “Aku janji sayang, aku tak akan menyakitimu kembali bahkan
aku ingin membuatmu bahagia,” ucapku lalu aku mencium punggung tangan Nesya.
Aku mengajak Nesya untuk masuk ke dalam kamar karena matahari sudah semakin
tinggi dan sinar matahari mengenai tubuh kami.
Nesya duduk di atas ranjang
sedangkan aku keluar kamar untuk mengambil makanan yang ada di dapur dan
membuatkan Nesya susu coklat panas. Aku tahu ini adalah salah satu agar Nesya
percaya padaku, jika aku masih menginginkannya. Aku kembali ke dalam kamar
Nesya dengan membawa nampan berisi makanan ringan dan juga susu coklat panas,
aku memberikannya pada Nesya dan ia pun mulai memakannya.
“Apa kamu masih memikirkannya?”
tanyaku sambil memberikan suapan kue ke Nesya.
“Ya, aku masih memikirkannya karena
tidak mudah Re. Apa lagi kamu sering banget membuatku terluka dan yang lebih
sakit kamu menghianatiku Re dan kamu tak jujur kepadaku,” ucapnya, aku tahu
memang salahku tapi waktu itu aku juga tak bisa berbuat banyak.
“Aku tahu, maka aku akan menunggumu.
Bagaimana hari minggu nanti kita kembali ke Jakarta, aku akan membawamu pulang
kerumah bertemu mama dan Raina mereka sangat mengingkan kamu datang,” ucapku.
Nesya menghentikan mengunyahnya dan
menatapku beberapa saat. “Berikan aku waktu Re, kamu enggak akan keberatan
untuk memberikan aku untuk memikirkan semuanya,” ucap Nesya dan aku hanya bisa
mengangguk karena sebisa mungkin aku akan meyakinkan Nesya dengan perlahan.
Di tempat yang berbeda Alex dan
Adeline sedang menuju perjalanan pulang ke rumah Adeline untuk mengambil baju,
setelahnya mereka akan pergi honeymoon. Jujur saja pikiran Alex masih
memikirkan tentang keadaan Nesya walau ia tahu jika mantannya yang brengsek itu
datang ke Bali dan menemui Nesya karena ia berusaha untuk mendapatkan Nesya
kembali namun ia tak bisa berbuat banyak.
“Lex kamu kenapa hm?” tanya
Adeline.
Aku pun menoleh ke Adeline dan
tersenyum, “Aku enggak apa-apa, kenapa? Apa kamu membutuhkan sesuatu,” ucapku
namun Adeline hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Aku tahu pasti kamu masih
memikirkan Nesya, bagaimana kalau kita tunda saja honeymoonnya. Aku tahu kamu
juga belum siap, aku akan menunggunya Lex jika memang kamu belum
menginginkannya,” ucap Adeline. Akan tetapi aku menggelengkan kepalaku, bahwa
kita harus pergi honey karena aku tak mau berurusah dengan orang tuaku, aku
ingin menuruti apa mau mereka biar saja apa yang mereka inginkan terkabul.
Namun bukan berarti aku juga akan meninggalkan Adeline nantinya karena Adeline
bagaimana juga adalah wanita yang baik.
“Baiklah kalau begitu, jika kamu
tak menginginkannya maka kamu harus bilang kepadaku Lex,” ucap Adeline dan aku
hanya mengangguk, aku juga membawa Adeline ke dalam pelukanku.
“Maafkan aku,” ucapku sambil
mengelus punggung Adeline dengan lembut.
“Tidak perlu minta maaf lagi pula
aku akan tetap setia menunggumu,” ucap Adeline.
Kami ke rumah Adeline dengan
memakai taksi karena aku tak membawa mobil. Membutuhkan satu setengah
perjalanan menuju rumah Adeline dan kini pun kami sampai di rumahnya. Aku dan
Adeline di sambut oleh mama dan papa Adeline dengan bahagia, namun kami
langsung menuju ke atas karena kami mau berkemas baju Adeline secepatnya.
Dulu aku sudah terbiasa bermain ke
rumah Adeline namun setelah kami sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing dan
bahkan aku selalu sibuk ke sana kemari. Hingga akhirnya aku bisa bertemu dengan
Nesya, wanita pertama kali yang aku cintai namun ia tiba-tiba meninggalkan aku
tanpa sebab.
“Enggak usah bawa baju
banyak-banyak, nanti jika kurang kita bisa membelinya,” ucapku dan Adeline hanya
mengangguk.
Aku menatap kamar Adeline yang tak
berubah di mana banyak foto kami berdua semasa dulu waktu kita masih kecil
hingga dewasa, aku juga melihat foto lelaki yang bersama dengan Adeline yang
aku yakin itu adalah pacarnya namun aku tak mau bertanya kepadanya. Karena aku
pikir itu tidaklah terlalu penting hingga akhirnya aku memutuskan membantu
Adeline.
Setelah selesai membereskan
semuanya aku membaringkan tubuhku di ranjang sedangkan Adeline masih sibuk
dengan beberapa barang yang akan ia bawa, aku merogoh kantong saku celanaku dan
mengambil hpku. Aku mengirimkan pesan ke salah satu bodyguardku agar selalu
mengawasi Nesya, aku juga berpesan padanya jika lelaki itu menyakiti Nesya maka
aku menyuruhnya segera menghabisinya, aku tak peduli dengan resiko yang akan
__ADS_1
aku hadapi nanti.