Cinta Om Duda

Cinta Om Duda
Nesya dan Rehan


__ADS_3

Malam harinya aku mengantarkan


Nesya pulang ke villanya bahkan dia juga menyuruhku untuk masuk ke dalam villa.


Aku merasa bahwa Nesya sudah lagi tak memberikan jarak antara diriku dan dia


bahkan dia juga menawariku kopi dan aku pun menerima. Kami berdua duduk di


balkon kamar Nesya namun kita hanya saling berdiaman saja dan aku menoleh ke


arah Nesya yang sedang menatap langit dan aku pun memberanikan untuk berbicara.


“Kenapa? Apa langit malam ini


begitu cerah dan indah karena banyak bintang yang bertaburan bahkan bersinar


terang,” ucapku namun Nesya tetap diam, hingga pandangannya kini beralih ke


arahku dan sedikit memaksakan senyumannya.


“Tidak, aku hanya berharap tentang


diriku. Di mana aku bisa mendapatkan kebahagiaanku sendiri,” ucapnya lalu


menatap kembali lagi ke atas.


“Aku akan merubahnya, aku akan


membuatmu bahagia dan menuruti apa yang kamu inginkan dan bahkan aku berjanji


tak akan membuatmu menangis lagi,” ucapku, Nesya kini menatapku kembali. Bahkan


dia juga belum memberi jawaban tentang ajakanku yang mengajaknya menikah dan


kembali ke Jakarta.


“Buktikan Re, jangan pernah


sekali-kali berjanji jika kamu tak bisa menepatinya karena itu hanya akan


memberi harapan yang tak pasti dan aku tak mau merasakan sakit lagi bahkan aku


harus menanggung semuanya sendirian dan itu sangat mengakitkan Re,” ucap Nesya


yang kini matanya sudah kembali berkaca-kaca hingga aku mendekatinya, karena


aku tak mau melihat Nesya kembali menangis.


“Aku akan buktikan, dan aku juga


akan mempersiapkan semuanya. Aku akan bilang ke mama dan pasti ia akan sangat


bahagia jika aku bisa membawamu kembali bersama denganku,” ucapku lalu aku


mengambil tangannya lalu mencium punggung tangannya dengan lembut.


Hari sudah semakin malam dan hawa


dingin semakin masuk ke dalam tubuh kami masing-masing bahkan aku juga mengajak


Nesya untuk masuk ke dalam kamar. Lalu setelah itu aku berpamitan untuk kembali


ke villa. Nesya hanya mengangguk dan aku benar-benar pergi dari villa Nesya,


aku tersenyum kecil dengan perubahan sikap Nesya yang semakin luluh. Namun


sebelum aku benar-benar pergi aku berpesan pada bodyguard yang menjaga Nesya


selama ini agar mengawasinya dengan baik bahkan jangan sampai Nesya pergi atau


kabur, aku melakukan ini hanya untuk berjaga-jaga saja jika nanti Nesya


benar-benar akan kabur dariku lagi.


Sampai di villa aku langsung menuju


ke dalam kamar, aku membaringkan badanku di ranjang. Aku menatap langit-langit


berharap semuanya akan menjadi indah dan Nesya akan menjadi milikinya


selamanya.


“Karena aku tak akan pernah


membiarkan kamu kabur dan pergi meninggalkanku lagi sayang, aku akan


membuktikan semuanya bahwa aku tak pernah bermain-main dengan ucapanku,” ucapku.


Di tempat yang berbeda di mana


Adeline dan Alex yang sudah sah menjadi suami istri kini mereka berdua sedang


berada di dalam kamar denga Alex duduk di tepi ranjang sedangkan Adeline


sedangkan membersihkan diri di toilet sekalian berganti baju, tak berapa lama


Adeline keluar dan sudah berganti baju dengan baju tidur. Setelah itu Alex


pergi ke kamar mandi untuk mandi dan juga sekalian membawa baju ganti.


“Aku tahu kamu tak suka dengan


pernikahan kita tapi kamu harus terima Lex,” ucapku dalam hati.


Aku menghela nafas panjang lalu


duduk di depan cermin untuk memulai aktivitas rutin memakai skincare sebelum


tidur. Mau bagaimana juga aku harus tetap berusaha meyakinkan Alex jika mulai


hari ini dia sudah menjadi milikku dan dia juga harus sadar bahwa dia juga tak


akan pernah bisa bersama dengan Nesya karena Nesya juga harus bahagia dengan


lelaki yang begitu mencintainya dengan tulus. Setelah selesai memakai skincare


aku naik ke atas ranjang dan mengambil hpku namun tak ada pesan atau pun


panggilan untukku, aku pun segera menaruh kembali hpku di atas nakas samping tempat


tidur.


Alex pun keluar dari kamar mandi,


ia juga sudah memakai baju tidur. Ia membawa handuk kecil untuk mengeringkan


rambutnya.


“Mau aku bantu mengeringkan rambut


kamu,” ucapku.


“Tidak usah aku bisa melakukannya


sendiri dan lebih baik kamu tidur duluan pasti kamu juga sangat lelahkan,”


ucapnya sambil menoleh ke arahku bahkan Alex juga tersenyum padaku.


“Ya, sangat lelah kalau begitu aku


tidur lebih dahulu, dan nanti kamu juga cepat tidur jangan begadang,” ucapku,


dan Alex hanya mengangguk. Setelah itu aku membaringkan tubuhku dan juga


menutup mataku.


Aku tahu malam ini adalah malam

__ADS_1


pertama namun ini bukan malam pertama yang aku harapkan di mana Alex tak


menyentuhku bahkan dia menyuruhku tidur lebih dulu. Aku tahu jika Alex masih


memikirkan tentang keadaan Nesya namun aku saat ini adalah istri sah nya,


mungkin aku hanya perlu bersabar agar Alex menerima keberadaanku dan jika nanti


saatnya tiba aku yakin semuanya akan baik-baik dan bahagia. Aku tahu mungkin di


sini aku terlihat jahat namun ini juga bukan kemauanku namun hatiku juga


mencintainya dan tak bisa di bohongi lagi. Aku berusaha untuk tidur namun aku


tak bisa dan aku juga merasakan bahwa Alex berada di sampingku dan ia juga


sibuk dengan ipadnya, namun aku tetap berpura-pura tidur agar Alex tak mengetahuinya.


“Maafkan aku, aku butuh waktu untuk


melakukan semuanya. Aku hanya tak mau jika aku melakukannya sekarang maka orang


lain yang aku sebut, sekali lagi maafkan aku, aku butuh waktu dan aku harap


kamu mengerti,” ucapnya sambil menyelimutiku.


“Ya, aku akan memberikan kamu


waktu. Aku akan menunggumu sampai kamu siap, aku tahu jika ini juga sangat


berat untukmu,” ucapku dalam hati.


Alex juga mencium keningku sebentar


lalu setelah itu ia juga mengucapkan selamat malam padaku, aku sangay bahagia


perhatian kecil yang ia kasihkan padaku. Hingga aku pun benar-benar tertidur.


Pagi harinya aku terbangun karena


aku merasa ada sesuatu yang berat melingkar di pinggangku, aku pun membuka


mataku dan melihatnya dan ternyata itu tangan milik Alex. Aku pun kembali tertidur


lagi, aku pun juga merubah posisiku dan kini pun kami saling berhadapan.


“Aku bahagia memilikimu,” ucapku


dalam hati, aku menenggelamkan kepalaku pada dada bidang Alex aku tak peduli


jika Alex bangun namun aku sangat suka melakukan ini. Sampaj akhirnya aku


kembali tertidur lagi, bahkan kami berdua bangun kesiangan.


Kami berdua bangun sekitar pukul


09.00 pagi, aku mandi terlebih dahulu setelah itu Alex, aku kali ini mengenakan


dress dengan menamnpilkan pundakku. Aku menunggu Alex selesai mandi, dan setelah


ini aku ingin mengajak Alex ke bawah untuk sarapan pagi. Alex pun keluar dari


kamar mandi, ia juga sudah memakai baju santai.


“Setelah ini ayo kita sarapan pagi


dahulu ke bawah setelah itu baru kembali pulang,” ajakku dan Alex hanya


mengangguk, setelah itu pun kami keluar kamar hotel dan turun kebawah


menggunakan lift.


Siang ini aku kembali ke villa Nesya,


dan ia sedang duduk di balkon sambil melihat deburan ombak. Nesya hanya duduk


juga kue namun masih ada dan sepertinya belum ia makan. Aku berjalan


mendekatinya, lalu memegang pundaknya dengan pelan.


“Kamu sedang apa hm?” tanyaku, dan ia


hanya menoleh ke arahku dan tersenyum. Aku duduk di samping dan melihat ke deburan


ombak.


“Ada apa ke sini?” tanya tanpa


menoleh kearahku.


“Aku merindukan kamu, tentu saja


aku datang ke sini,” ucapku menoleh ke arah Nesya.


Namun Nesya hanya diam dan tersenyum


itu pun bisa aku lihat karena terpaksa, entah apa yang sedang Nesya pikirkan.


Namun hanya satu yang aku inginkan jika Nesya mau kembali menerimaku, maka aku


akan segera menikahinya.


“Re, apa kamu masih yakin dengan


perasaan kamu?” tanyanya tanpa menoleh ke arahku.


“Maksud kamu apa sayang? Jika aku


tak yakin dengan perasaanku maka aku tak akan mencarimu selama ini dan lebih


baik melupakan kamu. Tapi kamu tahu kan saat ini aku berada di sini di samping


kamu? Aku sungguh sangat mencintaimu sayang, aku berharap kita bisa bersama


kembali dan membangun rumah tangga yang bahagia,” ucapku.


Lagi dan lagi Nesya masih terdiam,


dan tatapannya lurus ke depan. Aku tahu jika ia banyak yang di pikirkan. Maka


aku akan menunggun di mana ia merasa siap, aku yakin jika Nesya masih


mencintaiku dan saat ini ia bersikap seperti ini hanya berpura-pura saja. Aku


beranjak dari tempat duduk dan berjalan mendekati Nesya.


Aku memeluknya dari belakang namun


ia tak menolaknya sama sekali. “Kamu tahu? Aku sangat ingin menjadikan kamu ibu


dari anak-anakku nanti, aku tahu kita sudah kehilangan anak dua kali tapi aku


ingin mempertahankan anak-anak kita nangi hingga mereka tumbuh besar. Aku ingin


hidup bersama denganmu dan tiap pagi aku bisa melihat wajahmu saat aku bangun


tidur,” ucapku lalu aku mencium pipi Nesya dengan lembut.


“Apa kamu berjanji tak akan


menyakitiku lagi Re, aku takut jika kamu hanya akan menyakitiku kembali,” ucap


Nesya dan tiba-tiba saja air matanya jaguh tanpa di suruh.


Aku pun merubah posisi aku berjokok


di bawah sedangkan Nesya masih duduk di kursi, aku memegang kedua tangan Nesya

__ADS_1


dengan begitu erat. “Aku janji sayang, aku tak akan menyakitimu kembali bahkan


aku ingin membuatmu bahagia,” ucapku lalu aku mencium punggung tangan Nesya.


Aku mengajak Nesya untuk masuk ke dalam kamar karena matahari sudah semakin


tinggi dan sinar matahari mengenai tubuh kami.


Nesya duduk di atas ranjang


sedangkan aku keluar kamar untuk mengambil makanan yang ada di dapur dan


membuatkan Nesya susu coklat panas. Aku tahu ini adalah salah satu agar Nesya


percaya padaku, jika aku masih menginginkannya. Aku kembali ke dalam kamar


Nesya dengan membawa nampan berisi makanan ringan dan juga susu coklat panas,


aku memberikannya pada Nesya dan ia pun mulai memakannya.


“Apa kamu masih memikirkannya?”


tanyaku sambil memberikan suapan kue ke Nesya.


“Ya, aku masih memikirkannya karena


tidak mudah Re. Apa lagi kamu sering banget membuatku terluka dan yang lebih


sakit kamu menghianatiku Re dan kamu tak jujur kepadaku,” ucapnya, aku tahu


memang salahku tapi waktu itu aku juga tak bisa berbuat banyak.


“Aku tahu, maka aku akan menunggumu.


Bagaimana hari minggu nanti kita kembali ke Jakarta, aku akan membawamu pulang


kerumah bertemu mama dan Raina mereka sangat mengingkan kamu datang,” ucapku.


Nesya menghentikan mengunyahnya dan


menatapku beberapa saat. “Berikan aku waktu Re, kamu enggak akan keberatan


untuk memberikan aku untuk memikirkan semuanya,” ucap Nesya dan aku hanya bisa


mengangguk karena sebisa mungkin aku akan meyakinkan Nesya dengan perlahan.


Di tempat yang berbeda Alex dan


Adeline sedang menuju perjalanan pulang ke rumah Adeline untuk mengambil baju,


setelahnya mereka akan pergi honeymoon. Jujur saja pikiran Alex masih


memikirkan tentang keadaan Nesya walau ia tahu jika mantannya yang brengsek itu


datang ke Bali dan menemui Nesya karena ia berusaha untuk mendapatkan Nesya


kembali namun ia tak bisa berbuat banyak.


“Lex kamu kenapa hm?” tanya


Adeline.


Aku pun menoleh ke Adeline dan


tersenyum, “Aku enggak apa-apa, kenapa? Apa kamu membutuhkan sesuatu,” ucapku


namun Adeline hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Aku tahu pasti kamu masih


memikirkan Nesya, bagaimana kalau kita tunda saja honeymoonnya. Aku tahu kamu


juga belum siap, aku akan menunggunya Lex jika memang kamu belum


menginginkannya,” ucap Adeline. Akan tetapi aku menggelengkan kepalaku, bahwa


kita harus pergi honey karena aku tak mau berurusah dengan orang tuaku, aku


ingin menuruti apa mau mereka biar saja apa yang mereka inginkan terkabul.


Namun bukan berarti aku juga akan meninggalkan Adeline nantinya karena Adeline


bagaimana juga adalah wanita yang baik.


“Baiklah kalau begitu, jika kamu


tak menginginkannya maka kamu harus bilang kepadaku Lex,” ucap Adeline dan aku


hanya mengangguk, aku juga membawa Adeline ke dalam pelukanku.


“Maafkan aku,” ucapku sambil


mengelus punggung Adeline dengan lembut.


“Tidak perlu minta maaf lagi pula


aku akan tetap setia menunggumu,” ucap Adeline.


Kami ke rumah Adeline dengan


memakai taksi karena aku tak membawa mobil. Membutuhkan satu setengah


perjalanan menuju rumah Adeline dan kini pun kami sampai di rumahnya. Aku dan


Adeline di sambut oleh mama dan papa Adeline dengan bahagia, namun kami


langsung menuju ke atas karena kami mau berkemas baju Adeline secepatnya.


Dulu aku sudah terbiasa bermain ke


rumah Adeline namun setelah kami sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing dan


bahkan aku selalu sibuk ke sana kemari. Hingga akhirnya aku bisa bertemu dengan


Nesya, wanita pertama kali yang aku cintai namun ia tiba-tiba meninggalkan aku


tanpa sebab.


“Enggak usah bawa baju


banyak-banyak, nanti jika kurang kita bisa membelinya,” ucapku dan Adeline hanya


mengangguk.


Aku menatap kamar Adeline yang tak


berubah di mana banyak foto kami berdua semasa dulu waktu kita masih kecil


hingga dewasa, aku juga melihat foto lelaki yang bersama dengan Adeline yang


aku yakin itu adalah pacarnya namun aku tak mau bertanya kepadanya. Karena aku


pikir itu tidaklah terlalu penting hingga akhirnya aku memutuskan membantu


Adeline.


Setelah selesai membereskan


semuanya aku membaringkan tubuhku di ranjang sedangkan Adeline masih sibuk


dengan beberapa barang yang akan ia bawa, aku merogoh kantong saku celanaku dan


mengambil hpku. Aku mengirimkan pesan ke salah satu bodyguardku agar selalu


mengawasi Nesya, aku juga berpesan padanya jika lelaki itu menyakiti Nesya maka


aku menyuruhnya segera menghabisinya, aku tak peduli dengan resiko yang akan

__ADS_1


aku hadapi nanti.


__ADS_2