Cinta Om Duda

Cinta Om Duda
Rehan


__ADS_3

Siang ini aku berusaha mencari


keberadaan Nesya, apakah ia sudah keluar dari villanya atau belum. Aku


menunggunya di tempat yang semua orang tak memgetahuinya, aku ingin melihat


wajah kekasihku yang selama ini telah meninggalkan aku gara-gara masalah


bodohku. Aku sudah tak sanggup menahannya akan tetapi ini aku lakukan demi


kebaikan hubunganku dengan Nesya, aku hanya bisa melihat dari jarak jauh.


Aku melihat Nesya keluar dari villa


dengan menggunakan rok pendek namun ia memakai daleman celana pendek dan aku


bisa melihatnya, dengan atasan menggunakan baju sabrina warna biru laut. Nesya


mengenakan kacamata yang aku pastikan Nesya akan berjalan ke pinggir pantai.


Ya, Nesya akan duduk di pinggir lantai sambil menikmati es kelapa, aku sudah


beberapa kali melihatnya. Mungkin tak ada pekerjaan jadi yang Nesya lakukan


hanya bersantai dan aku tahu dimana Nesya mendapatkan semuanya. Ya, dari mantan


kekasihnya yang katanya kini  elum


kembali karena sang mantan berniat untuk mendapatkan restu dari orang tuanya namun


sampai saat ini belum ada tanda-tanda mau kembali.


Aku sangat senang, karena itu hanya


akan percuma saja karena memang takdir sudah berpihak kepadanya. Nesya adalah


miliknya, ya, miliknya selamanya dan tak akan ada yang memiliki Nesya selain


dirinya. Namun aku sedikit ragu karena beberapa kali aku juga melihat Nesya


berbicara dengan lelaki dan mereka sangat terlihat santai, apa mereka menjalin


hubungan? Namun aku tak percaya Nesya bukan wanita seperti itu.


Aku sedikit mendekat dan beberapa


kali mengambil foto Nesya, aku tersenyum. Nesya semakin cantik namun sorot


matanya menampilkan kesedihan yang teramat sangat.


“Maafkan aku sayang, aku janji akan


membahagiakan kamu hingga mau memisahkan kita,” ucapku.


Kini pekerjaan seharian hanya


mengikuti Nesya kemana pun ia pergi, ingin aku menculiknya namun ini juga belum


saatnya, aku harus lebih bersabar lagi.


Aku menikmati makan siangku sambil


sesekali memperhatikan Nesya, namun di sini Nesya sama sekali bahwa ia di awasi


olehku. Nesya juga sibuk dengan dunianya sendiri, entahlah mungkin ia sedang


siaran langsung di instagramnya.


Hingga tak terasa waktu sudah


menunjukkan pukul 14.00 dan Nesya pun beranjak dari duduknya dan berjalan entah


kemana namun aku tetap mengikutinya dari belakang. Ternyata ia berjalan ke tempat


sepi dan duduk di kursi sendirian.


“Arrrggghhhh!” teriaknya.


Aku melihat Nesya berteriak dengan


kencang namun tak ada siapapun yang mendengarkannya karena tempat ini sepi, aku


hanya bisa berdiri di tempatku sekarang tanpa berani mendekatinya. Aku tahu


jika Nesya sangat sedih, apa lagi melewati semua masalah sendirian tanpa ada


orang yang di ajak bicara.


“Apa yang akan kamu lakukan Nes di


tempat seperti ini?” tanyaku dengan diriku sendiri.


Aku masih memperhatikan Nesya dari


sini dan ternayata Nesya menangis, meluapkan semua kesedihan yang ia rasakan


saat ini. Apa dayaku yang tak bisa mendekatinya, aku hanya bisa menontonnya


dari sini.


“Maafkan aku sekali lagi sayang,

__ADS_1


tunggulah sebentar lagi dan kita akan hidup bahagia selamanya,” ucapku.


Aku menunggu hingga Nesya selesai


menangisnya, cukup lama juga Nesya berada di sini dan bagaimana bisa Nesya


menemukan tempat seperti ini. Aku melihat Nesya beranjak dari duduknya dan aku


yakini kali ini Nesya pasti akan kembali ke villanya. Setelah Nesya sampai di


villanya aku pun juga kembali ke villa dan mungkin akan menyelesaikan


pekerjaanku yang sempat tertunda.


Aku menghela nafasku dengan kasar,


lalu berjalan dengan cepat agar cepat sampai dan meneyelesaikan tanggung


jawabku.


Tak terasa waktu sudah malam dan


sudah menunjukkan pukul 19.00 malam, aku beranjak dari ranjang dan menutup


laptopku dan bergegas pergi ke kamar mandi. Hanya butuh waktu lima belas menit


untuk mandi dan kini aku sudah berpakaian santai, aku juga merasakan perutku


sangat lapar dan lebih baik aku keluar mencari makan malam.


Namun saat aku baru keluar aku


melihat Nesya kembali kali ini ia bersama dengan wanita paruh baya yang aku


yakini wanita adalah pekerjanya di villa, aku pun mengikutinya kembali di


belakang mereka. Nesya mengenakam dress selutut dengan warna cream, dan kini


badannya memang semakin kurus dan bisa aku tebak bahwa Nesya juga melewatkan


makan hingga tak peduli dengan kesehatan badannya.


Hari terus berjalan dan kini aku


berada di Bali sudah dua minggu, namun aku juga belum berani menemui Nesya. Aku


takut jika Nesya masih marah kepadaku, aku merasa pecundang padahal aku hanya


tinggal menemui Nesya dan mengatakan semuanya dan memintaa maaf kepadanya.


Aku sedang duduk di kursi kosong di


siang ini suara pantai sangat sepi tak ada orang sama sekali. Aku menatap ombak


pantai yang kecil menikmati cuaca hari ini yang terang.


Namun saat aku mengedarkan


pandanganku ke segala arah aku menemukan Nesya yang juga sedang duduk sendirian


di bawah pohon besar yang begitu rindang. Aku tersenyum dan aku pun berniat


untuk mendekatinya, aku beranjak dari dudukku dan berjalan dengan pelan


mendekati Nesya.


Aku menghela nafas panjang, lalu


memberanikan diri untuk berbicara dengan Nesya.”Sudah lama ya, kita tak


berjumpa,” ucapku dengan kedua tanganku masuk kedalam kantong celana.


Nesya menoleh ke belakang dan


menatapku dengan tatapan kagetnya namun ia terlihat tenang,”Sejak kapan kamu


berada di sini? Apa kamu memata-mataiku?” tanyanya.


“Ya, aku memata-matai kamu sayang,


dan selama dua minggu ini aku selalu mengikutimu,” ucapku lalu aku mengambil


duduk di samping Nesya, namun Nesya masih diam saja dan tak menjauhi ku.


“Apa kamu tak pekerjaan lain selain


menguntitku? Dan buat apa kamu datang ke sini?” tanya Nesya dengan ketus.


“Menjemput kekasihku untuk diajak


kembali pulang,” ucapku santai. Namun Nesya hanya menjawab dengan deheman tanpa


menoleh ke arahku.


“Kenapa kamu berada di sini


sayang?” tanyaku kembali, dan Nesya juga tak masalah dengan panggilan sayang ku


kepadanya.


“Apa ada urusan dengan anda, lagi

__ADS_1


pula ini tempat umum dan siapa saja berhak ke sini,” ucap Nesya.


Ya, mungkin ini salahku hingga


membuat Nesya bersikap dingin dan ketus kepadaku  aku mengerti akan semuanya dia masih sangat


marah denganku. Apa lagi perlakuanku kepadanya yang sangat membuatnya kecewa


padaku.


“Aku hanya bertanya saja, lagi pula


juga tak baik jika wanita sendirian di sini. Bagaimana jika ada orang jahat,”


ucapku, namun Nesya hanya tersenyum kecut dan menatapku penuh kebencian dan aku


bisa melihatnya.


“Akan lebih baik jika anda yang


pergi dari sini, lagi pula saya sangat nyaman di sini namun dengan datangnya


anda kenyamanan saya jadi terusik,” ucap Nesya lalu beranjak dari duduknya


berjalan meninggalkan aku.


Aku hanya bisa menghela nafas


panjang dan menatap punggug Nesya, aku tahu Nesya sudah mengeluarkan air


matanya kembali. Aku hanya bisa membuat Nesya menangis, namun bagaimana pun aku


harus mendekatinya dan kembali mendapatkan kepercayaannya kembali.


“Nesya,” panggilku, dan aku pun


segera beranjak dari duduk ku untuk mengejar Nesya. Aku ingin menjelaskan


semuanya kepada Nesya aku tak bisa diam seperti ini atau aku akan kembali


kehilangan Nesya.


Aku memeluk tubuh Nesya dari


belakang dengan erat, dan benar saja tubuh Nesya bergetar hebat ia menangis di


pelukkanku.


“Kenapa? Kenapa kamu kembali jika


hanya akan membuatku sakit kembali, bukan kah lebih baik kau pergi jauh dari ku


dan aku tak akan pernah merasakan sakit lagi,” ucapku


“Tidak, aku tak akan pergi jauh


darimu sayang. Aku sangat mencintaimu dan aku akan menjelaskan semuanya, aku


harap untuk kali ini kamu tak akan meninggalkan aku lagi,” ucapku.


Nesya juga berusaha untuk


melepaskan pelukkanku dengan sekuat tenaganya namun itu tak akan pernah lepas


dari pelukkanku.”Lepaskan aku atau aku akan berteriak jika kamu orang jahat,”


ancamnya dan dengan berat hati aku melepaskannya, aku tak mau jika nanti


terjadi salah paham dan aku akan lebih sulit untuk menemui Nesya.


“Plakkk.”


Tamparan yang sangat keras mengenai


wajahku, Nesya menamparku dengan sangat kencang dan aku hanya bisa diam dan


menatapnya.


“Buat apa kamu ke sini? Buat apa,


bahkan aku ke sini hanya untuk bisa menghindari kamu agar kita tak bertemu lagi


tapi aku salah ternyata kamu masih bisa menemukan aku,” ucap Nesya.


“Ssayang dengarkan aku menjelaskan


semuanya, aku minta maaf memang semua salahku tapi berikan aku kesempatan untuk


kedua kalinya sayang,” ucapku memohon.


“Alasannya apa Re? Sehingga aku


harus memberikan kamu kesempatan hah! Bukannya semuanya sudah cukup jelas dan


buat apa aku mempertahankan suami orang bukannya lebih baik aku bersama dengan


laki-laki lain yang belum memiliki istri, jadi lebih baik kamu kembali saja ke


Jakarta aku sudah tak membutuhkan kamu Re,” ucap Nesya lalu berjalan dengan


cepat meninggalkan aku kembali.

__ADS_1


__ADS_2