
Siang ini aku berusaha mencari
keberadaan Nesya, apakah ia sudah keluar dari villanya atau belum. Aku
menunggunya di tempat yang semua orang tak memgetahuinya, aku ingin melihat
wajah kekasihku yang selama ini telah meninggalkan aku gara-gara masalah
bodohku. Aku sudah tak sanggup menahannya akan tetapi ini aku lakukan demi
kebaikan hubunganku dengan Nesya, aku hanya bisa melihat dari jarak jauh.
Aku melihat Nesya keluar dari villa
dengan menggunakan rok pendek namun ia memakai daleman celana pendek dan aku
bisa melihatnya, dengan atasan menggunakan baju sabrina warna biru laut. Nesya
mengenakan kacamata yang aku pastikan Nesya akan berjalan ke pinggir pantai.
Ya, Nesya akan duduk di pinggir lantai sambil menikmati es kelapa, aku sudah
beberapa kali melihatnya. Mungkin tak ada pekerjaan jadi yang Nesya lakukan
hanya bersantai dan aku tahu dimana Nesya mendapatkan semuanya. Ya, dari mantan
kekasihnya yang katanya kini elum
kembali karena sang mantan berniat untuk mendapatkan restu dari orang tuanya namun
sampai saat ini belum ada tanda-tanda mau kembali.
Aku sangat senang, karena itu hanya
akan percuma saja karena memang takdir sudah berpihak kepadanya. Nesya adalah
miliknya, ya, miliknya selamanya dan tak akan ada yang memiliki Nesya selain
dirinya. Namun aku sedikit ragu karena beberapa kali aku juga melihat Nesya
berbicara dengan lelaki dan mereka sangat terlihat santai, apa mereka menjalin
hubungan? Namun aku tak percaya Nesya bukan wanita seperti itu.
Aku sedikit mendekat dan beberapa
kali mengambil foto Nesya, aku tersenyum. Nesya semakin cantik namun sorot
matanya menampilkan kesedihan yang teramat sangat.
“Maafkan aku sayang, aku janji akan
membahagiakan kamu hingga mau memisahkan kita,” ucapku.
Kini pekerjaan seharian hanya
mengikuti Nesya kemana pun ia pergi, ingin aku menculiknya namun ini juga belum
saatnya, aku harus lebih bersabar lagi.
Aku menikmati makan siangku sambil
sesekali memperhatikan Nesya, namun di sini Nesya sama sekali bahwa ia di awasi
olehku. Nesya juga sibuk dengan dunianya sendiri, entahlah mungkin ia sedang
siaran langsung di instagramnya.
Hingga tak terasa waktu sudah
menunjukkan pukul 14.00 dan Nesya pun beranjak dari duduknya dan berjalan entah
kemana namun aku tetap mengikutinya dari belakang. Ternyata ia berjalan ke tempat
sepi dan duduk di kursi sendirian.
“Arrrggghhhh!” teriaknya.
Aku melihat Nesya berteriak dengan
kencang namun tak ada siapapun yang mendengarkannya karena tempat ini sepi, aku
hanya bisa berdiri di tempatku sekarang tanpa berani mendekatinya. Aku tahu
jika Nesya sangat sedih, apa lagi melewati semua masalah sendirian tanpa ada
orang yang di ajak bicara.
“Apa yang akan kamu lakukan Nes di
tempat seperti ini?” tanyaku dengan diriku sendiri.
Aku masih memperhatikan Nesya dari
sini dan ternayata Nesya menangis, meluapkan semua kesedihan yang ia rasakan
saat ini. Apa dayaku yang tak bisa mendekatinya, aku hanya bisa menontonnya
dari sini.
“Maafkan aku sekali lagi sayang,
__ADS_1
tunggulah sebentar lagi dan kita akan hidup bahagia selamanya,” ucapku.
Aku menunggu hingga Nesya selesai
menangisnya, cukup lama juga Nesya berada di sini dan bagaimana bisa Nesya
menemukan tempat seperti ini. Aku melihat Nesya beranjak dari duduknya dan aku
yakini kali ini Nesya pasti akan kembali ke villanya. Setelah Nesya sampai di
villanya aku pun juga kembali ke villa dan mungkin akan menyelesaikan
pekerjaanku yang sempat tertunda.
Aku menghela nafasku dengan kasar,
lalu berjalan dengan cepat agar cepat sampai dan meneyelesaikan tanggung
jawabku.
Tak terasa waktu sudah malam dan
sudah menunjukkan pukul 19.00 malam, aku beranjak dari ranjang dan menutup
laptopku dan bergegas pergi ke kamar mandi. Hanya butuh waktu lima belas menit
untuk mandi dan kini aku sudah berpakaian santai, aku juga merasakan perutku
sangat lapar dan lebih baik aku keluar mencari makan malam.
Namun saat aku baru keluar aku
melihat Nesya kembali kali ini ia bersama dengan wanita paruh baya yang aku
yakini wanita adalah pekerjanya di villa, aku pun mengikutinya kembali di
belakang mereka. Nesya mengenakam dress selutut dengan warna cream, dan kini
badannya memang semakin kurus dan bisa aku tebak bahwa Nesya juga melewatkan
makan hingga tak peduli dengan kesehatan badannya.
Hari terus berjalan dan kini aku
berada di Bali sudah dua minggu, namun aku juga belum berani menemui Nesya. Aku
takut jika Nesya masih marah kepadaku, aku merasa pecundang padahal aku hanya
tinggal menemui Nesya dan mengatakan semuanya dan memintaa maaf kepadanya.
Aku sedang duduk di kursi kosong di
siang ini suara pantai sangat sepi tak ada orang sama sekali. Aku menatap ombak
pantai yang kecil menikmati cuaca hari ini yang terang.
Namun saat aku mengedarkan
pandanganku ke segala arah aku menemukan Nesya yang juga sedang duduk sendirian
di bawah pohon besar yang begitu rindang. Aku tersenyum dan aku pun berniat
untuk mendekatinya, aku beranjak dari dudukku dan berjalan dengan pelan
mendekati Nesya.
Aku menghela nafas panjang, lalu
memberanikan diri untuk berbicara dengan Nesya.”Sudah lama ya, kita tak
berjumpa,” ucapku dengan kedua tanganku masuk kedalam kantong celana.
Nesya menoleh ke belakang dan
menatapku dengan tatapan kagetnya namun ia terlihat tenang,”Sejak kapan kamu
berada di sini? Apa kamu memata-mataiku?” tanyanya.
“Ya, aku memata-matai kamu sayang,
dan selama dua minggu ini aku selalu mengikutimu,” ucapku lalu aku mengambil
duduk di samping Nesya, namun Nesya masih diam saja dan tak menjauhi ku.
“Apa kamu tak pekerjaan lain selain
menguntitku? Dan buat apa kamu datang ke sini?” tanya Nesya dengan ketus.
“Menjemput kekasihku untuk diajak
kembali pulang,” ucapku santai. Namun Nesya hanya menjawab dengan deheman tanpa
menoleh ke arahku.
“Kenapa kamu berada di sini
sayang?” tanyaku kembali, dan Nesya juga tak masalah dengan panggilan sayang ku
kepadanya.
“Apa ada urusan dengan anda, lagi
__ADS_1
pula ini tempat umum dan siapa saja berhak ke sini,” ucap Nesya.
Ya, mungkin ini salahku hingga
membuat Nesya bersikap dingin dan ketus kepadaku aku mengerti akan semuanya dia masih sangat
marah denganku. Apa lagi perlakuanku kepadanya yang sangat membuatnya kecewa
padaku.
“Aku hanya bertanya saja, lagi pula
juga tak baik jika wanita sendirian di sini. Bagaimana jika ada orang jahat,”
ucapku, namun Nesya hanya tersenyum kecut dan menatapku penuh kebencian dan aku
bisa melihatnya.
“Akan lebih baik jika anda yang
pergi dari sini, lagi pula saya sangat nyaman di sini namun dengan datangnya
anda kenyamanan saya jadi terusik,” ucap Nesya lalu beranjak dari duduknya
berjalan meninggalkan aku.
Aku hanya bisa menghela nafas
panjang dan menatap punggug Nesya, aku tahu Nesya sudah mengeluarkan air
matanya kembali. Aku hanya bisa membuat Nesya menangis, namun bagaimana pun aku
harus mendekatinya dan kembali mendapatkan kepercayaannya kembali.
“Nesya,” panggilku, dan aku pun
segera beranjak dari duduk ku untuk mengejar Nesya. Aku ingin menjelaskan
semuanya kepada Nesya aku tak bisa diam seperti ini atau aku akan kembali
kehilangan Nesya.
Aku memeluk tubuh Nesya dari
belakang dengan erat, dan benar saja tubuh Nesya bergetar hebat ia menangis di
pelukkanku.
“Kenapa? Kenapa kamu kembali jika
hanya akan membuatku sakit kembali, bukan kah lebih baik kau pergi jauh dari ku
dan aku tak akan pernah merasakan sakit lagi,” ucapku
“Tidak, aku tak akan pergi jauh
darimu sayang. Aku sangat mencintaimu dan aku akan menjelaskan semuanya, aku
harap untuk kali ini kamu tak akan meninggalkan aku lagi,” ucapku.
Nesya juga berusaha untuk
melepaskan pelukkanku dengan sekuat tenaganya namun itu tak akan pernah lepas
dari pelukkanku.”Lepaskan aku atau aku akan berteriak jika kamu orang jahat,”
ancamnya dan dengan berat hati aku melepaskannya, aku tak mau jika nanti
terjadi salah paham dan aku akan lebih sulit untuk menemui Nesya.
“Plakkk.”
Tamparan yang sangat keras mengenai
wajahku, Nesya menamparku dengan sangat kencang dan aku hanya bisa diam dan
menatapnya.
“Buat apa kamu ke sini? Buat apa,
bahkan aku ke sini hanya untuk bisa menghindari kamu agar kita tak bertemu lagi
tapi aku salah ternyata kamu masih bisa menemukan aku,” ucap Nesya.
“Ssayang dengarkan aku menjelaskan
semuanya, aku minta maaf memang semua salahku tapi berikan aku kesempatan untuk
kedua kalinya sayang,” ucapku memohon.
“Alasannya apa Re? Sehingga aku
harus memberikan kamu kesempatan hah! Bukannya semuanya sudah cukup jelas dan
buat apa aku mempertahankan suami orang bukannya lebih baik aku bersama dengan
laki-laki lain yang belum memiliki istri, jadi lebih baik kamu kembali saja ke
Jakarta aku sudah tak membutuhkan kamu Re,” ucap Nesya lalu berjalan dengan
cepat meninggalkan aku kembali.
__ADS_1