
Nesya sedang bermalas-malasan di ranjang sambil memainkan game di hpnya, sedari tadi Nesya hanya tiduran tanpa berniat untuk keluar kamar.
“Hah! Aku bosan,” ucapnya sambil menghela nafas panjang.
Nesya kembali mengambil hpnya dan mencari nomor hp Anton, namun saat dirinya mau menelpon Anton mengurungkan niatnya karena ini sangat tak masuk akal dan seolah-olah dirinya tak tahu terima kasih, Nesya membuang hpnya kembali.
“Arrrgghh! Menyebalkan,” teriaknya dengan keras.
Nesya pun beranjak dari ranjangnya dan berniat untuk keluar dari rumah ini, namun naas saat dirinya akan membuka pintu kamar, pintu kamarnya di kunci dari luar oleh Rehan.
“Dasar Rehan brengsek, bajingan,” umpat Nesya sambil mengedor-gedor pintu kamar namun percuma saja dirinya mengedor pintu tak akan ada yang berani membukanya sekalipun di luar kamar ada orang.
Nesya merosotkan tubuhnya dan bersandar dengan pintu kamar,” akhirnya aku menjadi tahanan yang sesungguh,” ucapnya mengusap wajahnya dengan kasar.
Tiba-tiba air matanya keluar begitu saja tanpa di suruh, kali ini Nesya benar-benar merasa tersakiti oleh Rehan karena sebelum-sebelumnya Rehan bersikap baik dan lembut padanya.
Padahal disini jelas-jelas yang salah adalah Rehan bukan Nesya, dan kenapa dirinya harus semarah ini dengan Nesya lalu mengurung Nesya seperti tahanan saja.
__ADS_1
“Rehan aku benar-benar membencimu,” ucap Nesya sambil mengepalkan tangannya.
Nesya bangkit dan berjalan menuju ranjang kembali membaringkan badannya dengan meringkuk sambil menangis.
“Ma, Pa. Nesya kangen ingin kembali pulang, maaf Nesya mungkin banyak salah dengan kalian karena tak pernah memberi kabar kepada kalian,” ucapnya sambil sesengukkan.
Pintu pun terbuka, Rehan melihat Nesya yang sedang tidur meringkuk sambil menangis dan Rehan bisa mendengarkannya itu. Rehan berjalan pelan mendekati Nesya, tangannya terulus mengelus rambut Nesya.
“Baby, kenapa kamu menangis?” tanya Rehan pelan, lalu duduk di samping Nesya.
Nesya masih dengan diamnya sambil sesengukkan.
“Maafkan aku sekali lagi baby, ini aku lakukan karena aku nggak ingin kehilangan dirimu,” ucap Rehan kembali, namun Nesya masih diam saja tak menjawabnya.
**
Hari sudah menjelang malam baik Nesya dan Rehan mereka berdua masih terlelap tidur dengan Rehan memeluk Nesya.
__ADS_1
Rehan terbangun saat bunyi hp di saku celananya berdering, mau tak mau Rehan harus melihat siapa yang menelponnya. Saat tahh siapa yang menelpon dirinya Rehan langsung mengangkat teleponnya
“Hallo, ada apa menelponku,” ucap Rehan.
“Kenapa kamu kembali kesini?” tanya Kalina dari sebrang telepon.
“Apa kamu ingin kabur dariku Re?” tanya Kalina.
“Cihh! Aku bukan pengecut Na, aku lagi banyak urusan yang aku selesaikan dan bukan hanya mengurus kamu saja,” ucap Rehan sambil mengepalkan tangannya.
“Baiklah, aku tunggu di rumah dan cepatlah kembali.”
Kalina mematikan teleponnya sepihak, sedangkan Rehan menahan kesal yang amat sangat. Rehan menoleh kebelakang melihat Nesya yang masih tertidur pulas.
“Maafkan aku sayang, aku harus pergi. Aku akan menyuruh bibi untuk memasakkan makanan kesukaan kamu,” ucap Rehan lalu mencium kening Nesya dan membenarkan selimutnya.
Lalu Rehan benar-benar pergi meninggalkan Nesya di kamar sendirian, Nesya membuka matanya dan menatap pintu yang sudah tertutup rapat. Nesya kembali meneteskan air matanya melihat Rehan yang lebih peduli dengan istrinya dari pada dirinya.
__ADS_1
“Nesya kamu harus sadar diri, kamu itu bukan siapa-siapa lagi jadi jangan berharap banyak kepadanya lagi,” ucapnya dalam hati, Nesya memejamkan matanya sebentar lalu mengusap air matanya yang keluar.