
Pagi ini aku bangun jam 05.00
karena aku merasakan badanku begitu dingin padahal aku sudah memakai selimut,
apa mungkin karena di luar sedang hujan? Aku pun beranjak dari ranjang dengan
selimut yang masih menempel di tubuhku aku berjalan keluar kamar untuk lergi ke
dapur mungkin dengan minum yang hangat-hangay maka badanku juga akan terasa
hangat. Aku membuat minuman jahe yang bisa menghangatkan badanku, aku
membawanya di mana aku bersantai, aku duduk di sofa sambil menyalakan tv. Aku
melihat acara kartun kesukaanku, sambil tiduran di sofa. Sampai-sampai aku
tertidur kembali.
Aku terbangun saat seseorang
membangunkan aku dan aku juga melihat keluar jika hujan sudah reda namun masih
terlihat mendung. Aku menatap lelaki yang dimana beberapa hari ini selalu
mengusikku bahkan ia juga memintaku agat aku kembali padanya karena jujur saja
aku masih takut jika Rehan akan mengulangi semuanya dan aku yang akan
menanggung semua rasa sakit.
“Sayang, kenapa kamu tidur di sofa
hm? Pasti badan kamu sakit-sakit ya?” tanyanya sambil menatapku, namun aku
hanya menggelengkan kepalaku sambil tersenyum.
“Lebih baik aku kembali ke kamar
dan segera mandi,” ucapku dan Rehan hanya tersenyum lalu beranjak dari duduknya
dan membantuku berdiri.
“Jangan lama-lama karena sangat
dingin airnya kalau bisa mandi dengan air hangat saja,” ucap Rehan.
Setelah aku sampai di kamar dan tak
lupa mengunci pintu kamarku takut jika Rehan sampai masuk ke dalam dan aku juga
takut jika nanti Rehan tak bisa menahannya. Aku pun berendam di kamar mandi
dengan menggunakan air hangat. Selesai berendam aku langsung membilas tubuhku
dengan air shower yang mengalir. Setelah itu aku keluar menggunakan bathore dan
melihat Rehan yang duduk di sofa sambil memegang hpnya dengan serius, entahlah
tapi aku terlalu tak memperdulikannya.
Aku meraih handuk kecil untuk
mengeringkan rambutku yang basah, aku duduk di meja rias. Setelah itu aku juga
mengenakan skincare rutin yang biasa aku gunakan. Setelah itu aku berganti
pakaian dengan mengenakan dress, aku juga tak peduli saat berganti baju ada
Rehan lagi pula dia sibuk dengan hpnya. Aku meraih hpku siapa tahu Alex
mingirimkan aku pesan namun nihil, aku menghembuskan nafas panjang, aku pun
ikut duduk di samping Rehan namun aku hanya diam tak mengajak Rehan yang masih
sibuk dengan dunianya sendiri.
“Sayang, kamu sudah selesai
mandinya?” tanya dan aku hanya menoleh sebentar.
“Aku sudah selesai sedari tadi dan
bahkan kamu sangat sibuk dengan hp kamu Re, apa kamu masih memiliki wanita lain
dan kamu datang ke sini hanya akan menyakitiku,” ucapku dengan ketus.
Rehan langsung meraih tanganku dan
menciumnya. “Tidak sayang, bahkan untuk saat ini aku hanya mencintaimu, dan
selamanya hanya kamu yang ada di hatiku,” ucap Rehan.
Lalu Rehan langsung memelukku
dengan erat dan aku pun membalas pelukannya. Jujur saja aku masih takut di mana
Rehan akan melakukan hal yang sama dan aku juga mencoba meyakinkan hatiku jika
aku memang masih mencintai Rehan dab berusaha menerima Rehan kembali dan
melupakan semua yang telah terjadi selama ini. Karena bagaimana pun aku
melakukan agar Rehan menjauh dariku namun ia malah semakin nekat dan berusaha
untuk mendapatkan aku kembali.
“Bagaimana jika hari ini kita pergi
__ADS_1
jalan-jalan,” ucap Rehan.
Aku melepaskan pelukan Rehan dan
menatapnya sebentar. “Kemana?” tanyaku.
Rehan tersenyum lalu mencuri ciuman
dariku dan aku juga tak bisa menolaknya. “Kemana pun kamu mau, aku akan
menurutinya dan kamu akan membeli apa pun aku juga akan membelikannya,” ucap
Rehan.
Aku hanya bisa menghela nafas
panjang, “Aku hanya ingin berjalan-jalan yang dekat saja, kita juga bisa
menggunakan mobil Alex yang berada di garasi. Aku rasa dia juga tak akan marah
atau keberatan,” ucapku.
Rehan hanya mengangguk dan bahkan
Rehan juga menyeret tanganku untuk segera keluar dari villa. Kami pun masuk ke
dalam mobil dan Rehan melajukan mobilnya meninggalkan villa. Sudah agak lama
aku tak jalan jauh semenjak Alex meninggalkan aku kembali ke Jakarta bahkan
sampai saat ini saja dia juga tak memberi kabar kepadaku.
“Sayang, apa kamu mau sarapan lebih
dulu?” tanya Rehan, namun aku menggelengkan kepalaku. Aku merasa pagi ini lagi
tak mau makan apapun.
Rehan melajukan mobilnya dengan
kecepatan sedang dan sesekali kami juga bercanda walau itu sangay bahagia namun
Rehan tetap fokus pada mengemudikan mobilnya. Aku tahu aku seperti tak memiliki
pendirian bagaimana aku bisa kembali lagi ke Rehan di mana selama ini ia sudah
menyakitiku tapi hatiku juga masih menginginkannya. Mungkin butuh waktu satu
jam perjalanan Rehan menghentikan mobilnya di sebuah butik terkenal di Bali.
“Re, kita mau apa ke sini?” tanyaku
menoleh ke arah Rehan dan Rehan hanya tersenyum dan mengajak untuk segera
keluar dari mobil.
pernikahan kita Nes, aku ingin kita segera menikah karena aku ingin kau hanya
menjadi milikku dan bukan milik lelaki lain,” ucapnya, sedangkan aku hanya bisa
terdiam. Rehan menuntunku untuk masuk ke dalam butik dan kami juga di sambut
oleh beberapa pelayan, bahkan sampai pemilik butiknya dan pemilik butik ini
juga mengenal Rehan namun aku tak peduli dan aku masih bergelud dengan
pikiranku.
Beberapa pelayan pun membawaku
untuk memilih gaun yang di mana aku inginkan dan aku pun menunjuk salah satu
gaun yang begitu sangat indah dan cantik di mataku. Sangat terlihat anggun dan mewah,
aku tahu ini pasti harganya sangat mahal dan aku juga tak bisa pergi dari sini
karena pasti Rehan akan menghalangiku untuk pergi dan akan menyuruhku untuk
mencoba gaunnya. Aku pun di bantu dengan dua pelayan untuk mencoba gaun yang
aku pilih tadi, dan saat gaun itu menempel di tubuhku sangat pas dan begitu
indah. Sampai salah satu pelayan butik memujiku aku sangat cantik, aku hanya
bisa mengucapkan terima kasih dan tersenyum kepada mereka.
Rehan yang menatapku sedari tadi
membuatku begitu tersipu malu bagaimana tidak Rehan tatapannya yang tak lepas
sedari tadi aku baru saja keluar dari ruang ganti. Aku tersenyum sambil
berjalan pelan mendekati Rehan yang masih berdiri di tempatnya.
“Bagaimana? Apakah ini cocok
denganku?” tanyaku pada Rehan, dan di mana Rehan baru saja tersadar dari
lamunannya.
“Ya, sayang ini sangatlah cocok dan
pas untukmu, bagaimana apa kamu juga menyukainya, jika kamu menyukainya maka
kita langsung pilih yang ini saja,” ucap Rehan, sedangkan aku hanya mengangguk
saja.
__ADS_1
Sebenarnya aku juga tak pernah
berpikir bahwa Rehan akan membawaku ke sini dan memilih baju penggantin untuk
pernikahan kami berdua. Aku pun kembali ke ruang ganti untuk berganti pakaian
kembali, setelah itu kembali pada Rehan. Aku juga sangat menyukai baju yang
tadi aku kenakan begitu juga dengan Rehan lalu Rehan langsung membayarnya. Apa
mungkin Rehan akan melakukan pesta pernikahan di Bali? Tapi apa pun keputusan
Rehan aku akan memyetujuinya karena aku juga sudah menyerah terus berlari seperti
anak kecil dan tak menyelesaikan masalah yang mengejarku selama ini.
“Sayang, setelah ini kita mau
kemana hm?” tanya Rehan kepadaku.
“Bagaimana kalau kita pergi makan
siang,” ajakku dan Rehan pun mengangguk, Rehan melajukan mobilnya dengan
kecepatan sedang.
Sebenarnya aku masih bingung dengan
diriku sendiri, padahal dulu aku mencoba kabur dari Rehan dan melakukan
berbagai cara namun sekarang aku malah kembali padanya dan pada akhirnya aku
juga akan menikah dengannya. Mungkin aku akan dianggap bodoh karena mau kembali
pada Rehan yang sudah menyakitiku selama ini, bagaimana tidak? Rehan sudah
mengoreskan luka yang begitu dalam padaku namun aku masih bisa memaafkannya dan
bahkan memberikan kesempatan untuk yang kedua kalinya.
“Sayang, apa yang sedang kamu
pikirkan hm?” tanya Rehan menoleh ke arahku sebentar namun kembali lagi fokus
mengendarai mobilnya.
Aku tersenyum pada Rehan, “Tidak
ada Re, aku hanya sedang memikirkan apa makanan apa yang enak untuk makan siang
nanti,” ucapku bohong.
Rehan hanya tertawa dan satu
tangannya meraih tanganku dan mengelusnya dengan lembut, “Memangnya kamu ingin
makan apa sayang, aku akan membelikannya untukmu,” ucap Rehan.
Setelah lama perjalanan Rehan pun
membelokkan mobilnya ke salah satu restoran yang terkenal di Bali, di sini juga
terkenal dengan banyak makanannya sehingga kitab isa memilih apa yang kita mau.
Rehan pun mengajakku keluar dari mobil, Rehan juga menggandeng tanganku untuk
mengajakku masuk ke dalam restoran. Beruntung saja kami masih mendapatkan
tempat duduk karena pengunjungnya sangatlah banyak, setelah itu Rehan juga
memesan makanan yang menjadi favorite di restoran ini.
“Sayang
apa ada lagi yang ingin kamu pesan?” tanya Rehan.
“Tidak Re, apa yang kamu pesan
sudah cukup. Oh, iya mba. Sudah pesanan yang tadi saja, saya enggak akan
menambah yang lainnya, nanti saja jika saya ingin,” ucapku, dan mba pelayan itu
pun mengangguk lalu kembali kebelakang.
“Kenapa? Tadi makanannya juga belum
banyak, aku ingin kamu banyak makan Nesya karena aku melihat badan kamu sangatlah
kurus,” ucap Rehan, sambil kedua tangannya meraih tanganku dan menciumnya
dengan lembut.
“Tadi itu sudah lebih dari cukup
Re, lagi pula aku juga enggak sanggup makan banyak,” ucapku, sedangkan Rehan
hanya mengangguk.
Tak berapa lama pun makanan kami tiba,
aku dan Rehan segera makan, kami berdua sangat menikmati makanannya karena
makanan di sini memang sangatlah enak. Sesekali Rehan juga menyuapiku bahkan
Rehan juga mengelap bibirku yang terkena saus dan itu terlihat sangat romantic.
Aku merasakan kembali Rehan yang dulu yang lembut dan perhatian padaku.
__ADS_1