
Rehan masih terdiam dan belum menjawab pertanyaan Nesya, Rehan masih enggan membicarakan semua ini, Rehan sangat takut jika nantinya dirinya akan kehilangan wanita yang sangat di cintainya.
“Re? Kenapa kamu malah diam saja, katakan Re apa yang sedang terjadi?” Nesya masih dengan bersabar berbicara dengan lembut kepada Rehan.
“Maaf.” Kata maaf yang selalu keluar dari mulut Rehan, dan Nesya hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan pelan, lalu mendekati Rehan dan duduk di sampingnya.
Nesya mengelus punggung kokoh Rehan itu dengan lembut, Nesya mencoba menenangkan Rehan agar lebih membaik.
“Sudahlah Re, aku tak akan memaksamu untuk bicara sekarang jika kamu belum bisa, kamu tunggu sebentar ya, biar aku buatkan the hangat biar pikiran kamu sedikit tenang.” Lalu Nesya berdiri dan berjalan ke dapur untuk membuatkan secangkir the hangat untuk Rehan.
Nesya menoleh kebelakang dan mellihat Rehan yang masih menundukkan wajahnya yang belum berani menanatapnya, Nesya hanya tersenyum kecil. Nesya menyadari bahwa akan terjadi hal buruk dalam hubungannya dengan Rehan.
Nesya kembali lagi dengan secangkir the hangat yang berada di tangannya, Nesya menaruh the hangat itu di meja yang berada di depannya, lalu tangannya mengelus lengan tangan Rehan dan Rehan mulai menampakkan wajahnya yang tak dapat diartikan dan Nesya hanya tersenyum.
“Minum dulu Re, biar pikiran kamu tenang.” Sambil memberikan secangkir the hangat itu kepada Rehan.
__ADS_1
Rehan menerimanya dan hanya meminumnya sedikit lalu meletakkan kembali cangkir itu di meja dan memeluk erat Nesya. Nesya membalas pelukkan Rehan dan mengelus punggung Rehan dengan sayang agar membuat Rehan jauh lebih tenang.
**
Di kediaman rumah Rehan sudah ada Kalina yang sedang duduk bersama dengan Maria, mereka berdua berbicara dengan santai dan sesekali Kalina bercanda dengan Raina.
“Maaf ma, Kalina jadi ganggu waktu mama buat bersantai,” ucap Kalina sambil memamerkan senyumnya.
“Nggak apa, lagian tu kayaknya juga Raina sangat kangen sama kamu, kamu tahu Raina di sekolahnya juga jadi juara terus.” Maria memberi semuanya tentang Raina kepada Kalina agar Kalina bahwa anaknya itu selain cantik tapi juga sangat pintar dalam segala hal.
Maria masih membiarkan Kalina dengan Raina bermain berdua di tuang tamu, sedangkan jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam namun Rehan kenapa belum pulang juga. Maria pun pergi meninggalkan Kalina dan Raina ke halaman belakang untuk menelpon Nesya dan siapa tahu Rehan berada di apartemen.
“Hallo Nes,” ucap Maria.
“Iya, hallo tante, kenapa?” tanya Nesya dari seberang telepon.
__ADS_1
“Apa Rehan ada di apartemen, soalnya belum balik ke rumah Nes, mama sangat khawatir,” ucap Maria yang terlihat gelisah karena Rehan belum sampai rumah, mungkin dulu awalnya sangat cuek kepada Rehan namun entah belakangan ini Maria sangat Khawatir kepada Rehan.
“Rehan baru balik tante, mungkin sekarang lagi di jalan,” ucap Nesya.
“Syukurlah, maaf ya Nes ganggu kamu,” ucap Maria.
“Nggak apa – apa tante, Nesya juga nggak terganggu kok, kalau gitu saya matiin ya tante teleponnya soalnya masih ada urusan Nesya,” ucap Nesya dan Nesya lalu mematikan teleponnya sepihak.
Maria kembali masuk kedalam rumah dan bergabung kembali dengan Raina dan Kalina, Kalina yang melihat Maria dari halaman belakangan hanya memperhatikan saja.
“Mama dari mana?” tanya Kalina saat Maria sudah duduk kembali di sofa.
“Mama dari belakang sebentar, oh iya, kamu mau balik jam berapa Kalina ini sudah malam nggak baik wanita pulang malam – malam,” ucap Maria.
“Ini juga Kalina mau balik tadi ma, tapi mama nggak ada jadi nunggu mama, kalau begitu Kalina balik ya ma.” Kalina berpamitan kepada Maria dan Raina, tak hanya itu Kalina juga di antarkan sampai depan rumah oleh Maria dan Kalina.
__ADS_1