
Seperti apa yang telah semalam Nesya bilang
bahwa hari ini dirinya akan pergi bekerja di kafe, Rehan sudah berangkat ke
kantor tadi pagi dan kini Nesya sedang siap – siap untuk pergi, Alex sudah
menunggunya di luar.
“Hai Nes,” sapa Alex yang bersender pada
dinding tembok.
“Hai juga Lex,” ucap Nesya tersenyum kepada
Alex.
“Sudah siapkan?” tanya Alex kembali.
Nesya hanya mengangguk lalu mengajak Alex
untuk segera berangkat. Mereka jalan bersamaan memasuki lift, di dalam lift
hanya ada Nesya dan Alex saja.
Sampai di basemant Alex membukakan pintu
untuk Nesya lalu setelah itu dirinya berlari kecil mengitari mobilnya dan masuk
ke dalam mobil. Alex mengemudikan mobilnya meninggalkan pelataran apartemen.
“Kemarin kamu pulang kantor jam berapa?” tanya
Nesya menoleh ke Alex.
“Sudah larut malam Nes, karena banyak yang
harus di kerjakan untung saja malam kemarin bisa langsung selesai,” ucapnya
menoleh ke Nesya sebentar lalu fokus kembali ke depan.
Nesya hanya mengangguk mengerti, sudah
terlihat jelas dari wajah Alex yang terlihat sangat lelah dan kurang tidur.
Kini mereka sampai di kafe milik teman Alex,
Alex mengajak Nesya masuk ke dalam kafe. Di dalama temannya sudah menunggu
kedatangannya.
“Hai bro, sudah lama kita tak bertemu,” ucap
laki – laki yang ada di depan mereka, dan kini pandangan laki – laki itu ke
arah Nesya dan melirik kembali ke Alex seakan bertanya siapa.
Alex yang paham akan pandangan temannya
langsung memperkenalkan Nesya,” ini Nesya yang aku maksud di chat dan dia yang
akan kerja di sini,” ucap Alex.
Teman Alex menaikkan alisnya tak yakin,
wanita cantik yang berada di samping Alex mau bekerja sebagai pelayan kafe.
“Tapi, memangnya tak apa bekerja sebagai
pelayan kafe?” tanya laki – laki itu kembali.
Nesya langsung menyahutinya,” tak apa kak,
memang saya lagi butuh kerjaan untuk menghilangkan bosan karena hanya di
__ADS_1
apartemen terus,” ucap Nesya tersenyum.
Laki – laki ifu tersenyum,” oh iya,
perkenalkan aku Anton pemilik kafe ini, dan aku sangat senang jika memang kamu
mau bekerja di sinj,” ucap Anton tersenyum kepada Nesya.
Nesya hanya mengangguk dan menjabat uluran
tangan Anton lalu melepaskan dengan cepat.
“Ingat ya Ton kamu jangan pernah coba macam –
macam untuk mengoda Nesya, nanti bakal aku aduin ke Kayla kamu,” ucap Alex
memperingati Anton.
Anton yang mendengar perkataan temannya
barusan hanya tersenyum sambil mengelengkan kepalanya,” santai bro, aku bukan
laki – laki seperti itu,” ucap Anton.
“Baguslah kalau kamu memang tahu batasan, oh
iya, aku titip Nesya ya, kalau ada apa – apa jangan lupa kabari aku. Aku harus
segera berangkat ke kantor, Nes, aku pergi dulu ya, nanti malam aku jemput
kamu,” ucap Alex berpamitan kepada Anton dan Nesya.
Nesya mengangguk,” hati – hati di jalan Lex,”
ucapnya sambil melambaikan tangannya, Alex menoleh fersenyum lalu mengangguk
setelah itu berbalik lagi melanjutkan jalannya keluar kafe.
dengan menggunakan mobilnya yang terlihat dari dalam karena memang interior
kafe memakai dinding kaca jadi akan terlihat dari dalam.
“Jadi, kamu pacar Alex?” tanya Anton
megagetkan Nesya yang masih memandangi mobil Alex padahal sudah tak terlihat.
“B-bukan, lebih tepatnya mantan pacarnya,”
ucap Nesya gugup.
Anton menaikkan alisnya tak mengerti, mengapa
Alex begitu sangat perhatian sama mantan pacarnya, dan Alex juga terlihat
sangat menganyangi Nesya seperti memuja Nesya.
“Hem … baiklah, sebaiknya kita mulai bekerja
saja, oh iya, ruang ganti karyawan ada pojok sana dan ini baju untuk kamu, jika
ada apa – apa kamu bisa minta bantuan sama yang lainnya atau sama saya,” ucap
Anton.
“Baik, lalu aku harus memanggil kamu apa?”
tanya Nesya.
“Jika ada yang lainnya kamu cukup panggil aku
kak, dan jika hanya ada kita berdua kamu cukup panggil aku nama saja, aku rasa
kita seumuran,” ucap Anton tersenyum.
__ADS_1
Nesya hanya mengangguk dan berpamitan ke
belakang untuk menganti baju dan segera gabung dengan yang lainnya untuk
membersihkan kafe sebelum ada pelanggan yang masuk.
**
Di tempat yang berbeda Rehan sedang meeting
di dalam ruangan, Rehan membahas tentang peningkatan tahun ini yang semakin
tinggi dan pemasukkan mereka juga banyak, maka dari itu Rehan mengajak mereka
tetap mempertahan kinerjanya.
Setelah selesai meeting Rehan pergi ke
ruangannya, namun saat akan masuk ke ruangannya tiba – tiba namanya di panggil.
“Rehan,” ucapnya dari kejauhan.
Rehan menoleh ke orang yang memanggil namanya
dan itu Kalina datang ke kantornya entah mau apa lagi wanita itu datang
kembali.
“Kalina, kenapa kamu datang ke kantor?
Bukannya aku sudah bilang jika kamu lerluh sesuatu kamu tinggal hubungi aku
nanti biar aku atau sekretaris aku yang akan urus,” ucap Rehan, namun sebelum
Kalina menjawab pertanyaannya lebih dulu Rehan menyeret Kalina masuk ke dalam
ruangannya biar tak ada orang yang melihat.
“Aaaww, sakit Re, lepasin,” ucap Kalina,
Rehan pun langsung melepaskan tangan Kalina dengan menghempaskannya begitu
saja.
“Aku sangat merindukanmu Re, masa iya aku
nggak boleh datang ke sinj,” ucap Kalina dengan nada sedihnya.
“Persetan, aku tak mau alasan apa pun yang
terucap dari mulutmu itu Kalina dan lebih baik kamu pergii dari ruangan aku
sekarang,” ucap Rehan dengan lantang, untung saja ruangannya kedap suara jadi
tak akan ada yang mendengarnya.
“Aku nggak mau Re, aku akan tetap di sini
menunggumu sampai kamu pulang titik,” ucap Kalina kekeh dengan pendiriannya.
Rehan menatap nyalang Kalina dengan tingkat
kemarahannya yang sudah mengebu – gebu di ubun – ubun.
“Baiklah, jika itu mau kamu, tapi jangan
pernah ganggu kerjaku, dan satu lagi jangan merengek seperti anak kecil, jika
kamu bosan kamu bisa keluar dari ruanganku dan silahkan pulang,” ucapnya lalu
berjalan ke kursi kebesarannya dan fokus dengan berkas – berkas yang ada di
hadapannya.
__ADS_1