Cinta Om Duda

Cinta Om Duda
Nesya dan Rehan


__ADS_3

Seperti apa yang telah semalam Nesya bilang


bahwa hari ini dirinya akan pergi bekerja di kafe, Rehan sudah berangkat ke


kantor tadi pagi dan kini Nesya sedang siap – siap untuk pergi, Alex sudah


menunggunya di luar.


“Hai Nes,” sapa Alex yang bersender pada


dinding tembok.


“Hai juga Lex,” ucap Nesya tersenyum kepada


Alex.


“Sudah siapkan?” tanya Alex kembali.


Nesya hanya mengangguk lalu mengajak Alex


untuk segera berangkat. Mereka jalan bersamaan memasuki lift, di dalam lift


hanya ada Nesya dan Alex saja.


Sampai di basemant Alex membukakan pintu


untuk Nesya lalu setelah itu dirinya berlari kecil mengitari mobilnya dan masuk


ke dalam mobil. Alex mengemudikan mobilnya meninggalkan pelataran apartemen.


“Kemarin kamu pulang kantor jam berapa?” tanya


Nesya menoleh ke Alex.


“Sudah larut malam Nes, karena banyak yang


harus di kerjakan untung saja malam kemarin bisa langsung selesai,” ucapnya


menoleh ke Nesya sebentar lalu fokus kembali ke depan.


Nesya hanya mengangguk mengerti, sudah


terlihat jelas dari wajah Alex yang terlihat sangat lelah dan kurang tidur.


Kini mereka sampai di kafe milik teman Alex,


Alex mengajak Nesya masuk ke dalam kafe. Di dalama temannya sudah menunggu


kedatangannya.


“Hai bro, sudah lama kita tak bertemu,” ucap


laki – laki yang ada di depan mereka, dan kini pandangan laki – laki itu ke


arah Nesya dan melirik kembali ke Alex seakan bertanya siapa.


Alex yang paham akan pandangan temannya


langsung memperkenalkan Nesya,” ini Nesya yang aku maksud di chat dan dia yang


akan kerja di sini,” ucap Alex.


Teman Alex menaikkan alisnya tak yakin,


wanita cantik yang berada di samping Alex mau bekerja sebagai pelayan kafe.


“Tapi, memangnya tak apa bekerja sebagai


pelayan kafe?” tanya laki – laki itu kembali.


Nesya langsung menyahutinya,” tak apa kak,


memang saya lagi butuh kerjaan untuk menghilangkan bosan karena hanya di

__ADS_1


apartemen terus,” ucap Nesya tersenyum.


Laki – laki ifu tersenyum,” oh iya,


perkenalkan aku Anton pemilik kafe ini, dan aku sangat senang jika memang kamu


mau bekerja di sinj,” ucap Anton tersenyum kepada Nesya.


Nesya hanya mengangguk dan menjabat uluran


tangan Anton lalu melepaskan dengan cepat.


“Ingat ya Ton kamu jangan pernah coba macam –


macam untuk mengoda Nesya, nanti bakal aku aduin ke Kayla kamu,” ucap Alex


memperingati Anton.


Anton yang mendengar perkataan temannya


barusan hanya tersenyum sambil mengelengkan kepalanya,” santai bro, aku bukan


laki – laki seperti itu,” ucap Anton.


“Baguslah kalau kamu memang tahu batasan, oh


iya, aku titip Nesya ya, kalau ada apa – apa jangan lupa kabari aku. Aku harus


segera berangkat ke kantor, Nes, aku pergi dulu ya, nanti malam aku jemput


kamu,” ucap Alex berpamitan kepada Anton dan Nesya.


Nesya mengangguk,” hati – hati di jalan Lex,”


ucapnya sambil melambaikan tangannya, Alex menoleh fersenyum lalu mengangguk


setelah itu berbalik lagi melanjutkan jalannya keluar kafe.


dengan menggunakan mobilnya yang terlihat dari dalam karena memang interior


kafe memakai dinding kaca jadi akan terlihat dari dalam.


“Jadi, kamu pacar Alex?” tanya Anton


megagetkan Nesya yang masih memandangi mobil Alex padahal sudah tak terlihat.


“B-bukan, lebih tepatnya mantan pacarnya,”


ucap Nesya gugup.


Anton menaikkan alisnya tak mengerti, mengapa


Alex begitu sangat perhatian sama mantan pacarnya, dan Alex juga terlihat


sangat menganyangi Nesya seperti memuja Nesya.


“Hem … baiklah, sebaiknya kita mulai bekerja


saja, oh iya, ruang ganti karyawan ada pojok sana dan ini baju untuk kamu, jika


ada apa – apa kamu bisa minta bantuan sama yang lainnya atau sama saya,” ucap


Anton.


“Baik, lalu aku harus memanggil kamu apa?”


tanya Nesya.


“Jika ada yang lainnya kamu cukup panggil aku


kak, dan jika hanya ada kita berdua kamu cukup panggil aku nama saja, aku rasa


kita seumuran,” ucap Anton tersenyum.

__ADS_1


Nesya hanya mengangguk dan berpamitan ke


belakang untuk menganti baju dan segera gabung dengan yang lainnya untuk


membersihkan kafe sebelum ada pelanggan yang masuk.


**


Di tempat yang berbeda Rehan sedang meeting


di dalam ruangan, Rehan membahas tentang peningkatan tahun ini yang semakin


tinggi dan pemasukkan mereka juga banyak, maka dari itu Rehan mengajak mereka


tetap mempertahan kinerjanya.


Setelah selesai meeting Rehan pergi ke


ruangannya, namun saat akan masuk ke ruangannya tiba – tiba namanya di panggil.


“Rehan,” ucapnya dari kejauhan.


Rehan menoleh ke orang yang memanggil namanya


dan itu Kalina datang ke kantornya entah mau apa lagi wanita itu datang


kembali.


“Kalina, kenapa kamu datang ke kantor?


Bukannya aku sudah bilang jika kamu lerluh sesuatu kamu tinggal hubungi aku


nanti biar aku atau sekretaris aku yang akan urus,” ucap Rehan, namun sebelum


Kalina menjawab pertanyaannya lebih dulu Rehan menyeret Kalina masuk ke dalam


ruangannya biar tak ada orang yang melihat.


“Aaaww, sakit Re, lepasin,” ucap Kalina,


Rehan pun langsung melepaskan tangan Kalina dengan menghempaskannya begitu


saja.


“Aku sangat merindukanmu Re, masa iya aku


nggak boleh datang ke sinj,” ucap Kalina dengan nada sedihnya.


“Persetan, aku tak mau alasan apa pun yang


terucap dari mulutmu itu Kalina dan lebih baik kamu pergii dari ruangan aku


sekarang,” ucap Rehan dengan lantang, untung saja ruangannya kedap suara jadi


tak akan ada yang mendengarnya.


“Aku nggak mau Re, aku akan tetap di sini


menunggumu sampai kamu pulang titik,” ucap Kalina kekeh dengan pendiriannya.


Rehan menatap nyalang Kalina dengan tingkat


kemarahannya yang sudah mengebu – gebu di ubun – ubun.


“Baiklah, jika itu mau kamu, tapi jangan


pernah ganggu kerjaku, dan satu lagi jangan merengek seperti anak kecil, jika


kamu bosan kamu bisa keluar dari ruanganku dan silahkan pulang,” ucapnya lalu


berjalan ke kursi kebesarannya dan fokus dengan berkas – berkas yang ada di


hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2