Cinta Om Duda

Cinta Om Duda
Nesya dan Rehan ( END )


__ADS_3

Hari terus berganti kedua orang


tuaku juga sudah ada di Jakarta dan mereka ada di rumah kakak aku, sebelum hari


pernikahan aku juga mengunjungi mereka bersama dengan Rehan dan keluarga yang


lainnya. Aku juga sangat beruntung karena keluarga Rehan juga sangat menerima


keberadaan keluargaku yang di ibaratkan hanya orang biasa bahkan jika di


katakana jauh dari kata mampu dan hidup kami sangatlah sederhana dimana kami


tak banyak memiliki barang berharga dan kami memiliki uang sedikit untuk


memenuhi kebutuhan kami.


Hari ini aku berada di rumah kakak


aku sendirian karena Rehan meninggalkan aku karena ada pekerjaan yang haru


segera di selesaikan dan besok adalah hari pernikahan kami. Aku sangat bahagia


bisa melihat kedua orang tuaku yang masih sehat-sehat dan mereka juga sangat


menyanyangiku, kasih sayang mereka tak berubah sama sekali padaku. Aku duduk


dengan mama, papa dan yang lainnya sambil banyak bercerita. Bahkan kakak aku


juga banyak menceritakan kehidupan menjadi seorang istri apa lagi aku akan


menikah dengan seorang duda anak satu dan aku juga harus menerima, merawat, dan


menyanyangi Raina seperni anak aku sendiri.


“Mama harap kamu akan bahagia


bersama dengannya Nesya dan mama lihat Rehan juga sangat baik padamu dan juga


pada kami,” ucap mama, sedangkan aku mengangguk dan langsung memeluk mama


dengan sangat erat, walau selama ini aku sangat jauh dengan mereka namun aku


begitu merindukan mereka dimana mereka yang sudah membesarkan aku dan memberiku


kasih sayang yang begitu tulus.


“Nesya sangat sayang sama mama, dan


Nesya harap mama dan papa akan tinggal di sini agar Nesya bisa dengan mudah


mengunjungi mama dan papa,” ucapku, namun mama melepaskan pelukanku dan


tersenyum padaku.


“Kami enggak bisa Nesya karena di


kampong mama dan papa juga ada pekerjaan yang harus kami lakukan dan rumah mama


dan papa juga ada di kampong. Jika kamu merindukan mama dan papa, kamu bisa


pulang kampong bersama dengan Rehan. Mama rasa Rehan enggak akan keberatan jika


kamu mengajaknya,” ucap mama.


Aku hanya menghela nafas panjang


dan mengangguk, “Ma, maafin Nesya jika selama ini Nesya banyak salah sama mama


dan papa. Mungkin Nesya bukan anak baik namun Nesya sudah berusaha menjadi


lebih baik akan tetapi semuanya runtuh begitu saja,” ucapku, dan tiba-tiba air


mata ku keluar begitu saja tanpa di suruh.


“Papa dan mama sudah memaafkan kamu

__ADS_1


Nesya walau bagaimana juga kamu adalah anak papa dan mama. Papa harap dengan


kamu menikah dengan Rehan semuanya akan menjadi lebih baik dan kamu harus


menjadi istri yang penurut jika suami kamu menyuruh kamu namun dengan hal yang


baik-baik saja, jika Rehan berlaku keras padamu maka segeralah bilang padanya


jika sudah tak meninginkan kamu maka suruh dia mengembalikan kamu pada papa dan


mama,” ucap papa.


Tangisanku semakin menjadi dimana


aku merasakan sakit yang begitu dalam, selama ini mungkin mereka enggak tahu


akan kelakuanku yang sangat buruk dan aku telah melupakan apa yang telah mereka


ajarkan padaku. Aku benar-benar sangat sakit jika mengingatnya dimana mereka


selalu memberiku nasehat yang baik-baik namun aku mengabaikan semuanya saat aku


jauh dari mereka sungguh miris bukan? “Maafkan aku ma, pa. Selama ini aku


benar-benar mengingkari semuanya,” ucapku dalam hati, lalu setelah itu aku


memeluk mama dan papa secara bersamaan.


Sore harinya Rehan menjemput kami


untuk pergi ke hotel yang dekat dengan gedung resepsi acara pernikahan kami.


Aku duduk di samping Rehan sedangkan mama dan papa ada di belakang sedangkan


kakak aku dan yang lainnya menggunakan mobil lain. Aku benar-benar beruntung di


mana aku bisa mendapatkan Rehan dan aku juga tak henti-hentinya mengucapkan


puji syukur pada tuhan, perjalanan kami membutuhkan dua jam perjalanan itu pun


Sampai di hotel yang dimana lantai


atas telah di booking oleh mama Maria karena untuk keluarga kita bahkan kamarku


dan juga kamar Rehan kini berbeda karena mama Maria melarang kami untuk satu


kamar sebelum sah, padahal awalnya kami juga satu kamar namun aku tak


mempermasalahkan itu namu Rehan yang banyak protes seperti anak kecil dan aku


hanya tersenyum melihat tingkahnya.


“Sudahlah Re, jangan merajuk lagi


pula hanya satu malam kan dan besok malamnya juga satu kamar lagi,” ucapku, dan


Rehan hanya mendesah lesu.


Kami juga makan malam bersama di


restoran hotel bahkan kelurga Rehan yang begitu banyak dan semuanya juga baik


padaku dan keluargaku. Aku merasa lega dengan begini aku tak akan pernah merasa


risih atau bagaimana kepada mereka. Aku duduk di samping mama dan papa, aku


ingin menikmati hari kebersamaanku dengan mereka karena nantinya moment seperti


ini sangatlah jarang. Aku juga sesekali menyuapi mereka dan mereka juga


terlihat begitu sangat senang dan bahkan mereka juga balik menyuapiku. Hingga


malam tiba kami kembali ke kamar kami masing-masing kecuali aku dan Rehan yang


masih mempermasalahkan ingin tidur bersama denganku.

__ADS_1


“Ayolah Re, aku harus tidur dan


besok aku juga harus bangun pagi karena aku mau di make up in lebih dulu,”


ucapku, aku berusaha membujuk Rehan agar tak seperti anak kecil hingga akhirnya


Rehan menyerah dan dia akhirnya mau tidur di kamarnya. Aku sangat merasa lega


akan hal itu dan kini aku segera masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhku


di atas ranjang hingga pergi ke alam mimpi.


Pagi harinya aku di rias oleh mua


pilihan mama Maria dan mereka juga sangat ramah dan mengajakku mengobrol bahkan


mereka juga memujiku sangat cantik, aku yang melihat diriku sendiri di cermin


juga memuji cantik karena sebelumnya aku juga tak pernah melihatku menjadi


cantik seperti dan biasanya aku juga hanya mengenakan make up tipis saja. Aku


juga memakai gaun dimana aku dan Rehan membelinya di Bali dan ini memnambah


penampilanku semakin menarik. Enggak apa-apakan memuji diri sendiri? Bahkan


kini mama dan mama Maria sudah menjemputku karena sebentar lagi ijab qabul akan


di mulai.


Aku bersama dengan mama jalan


keluar dengan pelan-pelan hingga sampai dimana aku bisa melihat Rehan yang


begitu sangat tanpan sudah menungguku di sana aku tersenyum manis saat


bertepatan tatapan dengan Rehan, aku duduk di samping Rehan dan kini dia juga


bersiap untuk melantunkan ijab qabul hingga bunyi sah berdengung di telingaku,


aku begitu sangat senang dan juga bahagia kini akhirnya aku dan Rehan sah


menjadi suami istri, setelah itu Rehan memasang cincin ke jariku dan begitu


juga denganku, aku juga bersaliman pada Rehan, Rehan juga mencium keningku


dengan lembut.


Acara selanjutnya kami berdua


menyambut para tamu yang datang pada kami dan mengucapkan selamat pada kami


berdua. Aku berdoa pada tuhan ini adalah akhir kisah percintaanku dan Rehan


yang menjadi terakhir orang yang aku cintai untuk selamanya dan mau yang memisahlkan


kami. Aku juga berdoa jika kehidupanku kedepan bersama dengan Rehan akan selalu


baik-baik saja jika ada masalah makan kakan cepat selesai dan tidak berlanjut


dan keluarga kecil kita nantinya akan bahagia selamanya. Aku juga berdoa aku


bisa menjadi ibu yang baik bagi Raina dan anak-anakku selanjutnya dan menjadi


istri yang berbakti pada suamiku.


Terima kasih sudah mengikuti


ceritaku dan maaf jika banyak kekurangan dan kesalahan dalam cerita ini dan


sekali lagi aku mengucapkan terima kasih pada pembaca yang sudah setia membaca


ceritaku. Dan tunggu cerita-cerita lain dariku.


Terima

__ADS_1


kasih.


__ADS_2