
Hari terus berganti kedua orang
tuaku juga sudah ada di Jakarta dan mereka ada di rumah kakak aku, sebelum hari
pernikahan aku juga mengunjungi mereka bersama dengan Rehan dan keluarga yang
lainnya. Aku juga sangat beruntung karena keluarga Rehan juga sangat menerima
keberadaan keluargaku yang di ibaratkan hanya orang biasa bahkan jika di
katakana jauh dari kata mampu dan hidup kami sangatlah sederhana dimana kami
tak banyak memiliki barang berharga dan kami memiliki uang sedikit untuk
memenuhi kebutuhan kami.
Hari ini aku berada di rumah kakak
aku sendirian karena Rehan meninggalkan aku karena ada pekerjaan yang haru
segera di selesaikan dan besok adalah hari pernikahan kami. Aku sangat bahagia
bisa melihat kedua orang tuaku yang masih sehat-sehat dan mereka juga sangat
menyanyangiku, kasih sayang mereka tak berubah sama sekali padaku. Aku duduk
dengan mama, papa dan yang lainnya sambil banyak bercerita. Bahkan kakak aku
juga banyak menceritakan kehidupan menjadi seorang istri apa lagi aku akan
menikah dengan seorang duda anak satu dan aku juga harus menerima, merawat, dan
menyanyangi Raina seperni anak aku sendiri.
“Mama harap kamu akan bahagia
bersama dengannya Nesya dan mama lihat Rehan juga sangat baik padamu dan juga
pada kami,” ucap mama, sedangkan aku mengangguk dan langsung memeluk mama
dengan sangat erat, walau selama ini aku sangat jauh dengan mereka namun aku
begitu merindukan mereka dimana mereka yang sudah membesarkan aku dan memberiku
kasih sayang yang begitu tulus.
“Nesya sangat sayang sama mama, dan
Nesya harap mama dan papa akan tinggal di sini agar Nesya bisa dengan mudah
mengunjungi mama dan papa,” ucapku, namun mama melepaskan pelukanku dan
tersenyum padaku.
“Kami enggak bisa Nesya karena di
kampong mama dan papa juga ada pekerjaan yang harus kami lakukan dan rumah mama
dan papa juga ada di kampong. Jika kamu merindukan mama dan papa, kamu bisa
pulang kampong bersama dengan Rehan. Mama rasa Rehan enggak akan keberatan jika
kamu mengajaknya,” ucap mama.
Aku hanya menghela nafas panjang
dan mengangguk, “Ma, maafin Nesya jika selama ini Nesya banyak salah sama mama
dan papa. Mungkin Nesya bukan anak baik namun Nesya sudah berusaha menjadi
lebih baik akan tetapi semuanya runtuh begitu saja,” ucapku, dan tiba-tiba air
mata ku keluar begitu saja tanpa di suruh.
“Papa dan mama sudah memaafkan kamu
__ADS_1
Nesya walau bagaimana juga kamu adalah anak papa dan mama. Papa harap dengan
kamu menikah dengan Rehan semuanya akan menjadi lebih baik dan kamu harus
menjadi istri yang penurut jika suami kamu menyuruh kamu namun dengan hal yang
baik-baik saja, jika Rehan berlaku keras padamu maka segeralah bilang padanya
jika sudah tak meninginkan kamu maka suruh dia mengembalikan kamu pada papa dan
mama,” ucap papa.
Tangisanku semakin menjadi dimana
aku merasakan sakit yang begitu dalam, selama ini mungkin mereka enggak tahu
akan kelakuanku yang sangat buruk dan aku telah melupakan apa yang telah mereka
ajarkan padaku. Aku benar-benar sangat sakit jika mengingatnya dimana mereka
selalu memberiku nasehat yang baik-baik namun aku mengabaikan semuanya saat aku
jauh dari mereka sungguh miris bukan? “Maafkan aku ma, pa. Selama ini aku
benar-benar mengingkari semuanya,” ucapku dalam hati, lalu setelah itu aku
memeluk mama dan papa secara bersamaan.
Sore harinya Rehan menjemput kami
untuk pergi ke hotel yang dekat dengan gedung resepsi acara pernikahan kami.
Aku duduk di samping Rehan sedangkan mama dan papa ada di belakang sedangkan
kakak aku dan yang lainnya menggunakan mobil lain. Aku benar-benar beruntung di
mana aku bisa mendapatkan Rehan dan aku juga tak henti-hentinya mengucapkan
puji syukur pada tuhan, perjalanan kami membutuhkan dua jam perjalanan itu pun
Sampai di hotel yang dimana lantai
atas telah di booking oleh mama Maria karena untuk keluarga kita bahkan kamarku
dan juga kamar Rehan kini berbeda karena mama Maria melarang kami untuk satu
kamar sebelum sah, padahal awalnya kami juga satu kamar namun aku tak
mempermasalahkan itu namu Rehan yang banyak protes seperti anak kecil dan aku
hanya tersenyum melihat tingkahnya.
“Sudahlah Re, jangan merajuk lagi
pula hanya satu malam kan dan besok malamnya juga satu kamar lagi,” ucapku, dan
Rehan hanya mendesah lesu.
Kami juga makan malam bersama di
restoran hotel bahkan kelurga Rehan yang begitu banyak dan semuanya juga baik
padaku dan keluargaku. Aku merasa lega dengan begini aku tak akan pernah merasa
risih atau bagaimana kepada mereka. Aku duduk di samping mama dan papa, aku
ingin menikmati hari kebersamaanku dengan mereka karena nantinya moment seperti
ini sangatlah jarang. Aku juga sesekali menyuapi mereka dan mereka juga
terlihat begitu sangat senang dan bahkan mereka juga balik menyuapiku. Hingga
malam tiba kami kembali ke kamar kami masing-masing kecuali aku dan Rehan yang
masih mempermasalahkan ingin tidur bersama denganku.
__ADS_1
“Ayolah Re, aku harus tidur dan
besok aku juga harus bangun pagi karena aku mau di make up in lebih dulu,”
ucapku, aku berusaha membujuk Rehan agar tak seperti anak kecil hingga akhirnya
Rehan menyerah dan dia akhirnya mau tidur di kamarnya. Aku sangat merasa lega
akan hal itu dan kini aku segera masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhku
di atas ranjang hingga pergi ke alam mimpi.
Pagi harinya aku di rias oleh mua
pilihan mama Maria dan mereka juga sangat ramah dan mengajakku mengobrol bahkan
mereka juga memujiku sangat cantik, aku yang melihat diriku sendiri di cermin
juga memuji cantik karena sebelumnya aku juga tak pernah melihatku menjadi
cantik seperti dan biasanya aku juga hanya mengenakan make up tipis saja. Aku
juga memakai gaun dimana aku dan Rehan membelinya di Bali dan ini memnambah
penampilanku semakin menarik. Enggak apa-apakan memuji diri sendiri? Bahkan
kini mama dan mama Maria sudah menjemputku karena sebentar lagi ijab qabul akan
di mulai.
Aku bersama dengan mama jalan
keluar dengan pelan-pelan hingga sampai dimana aku bisa melihat Rehan yang
begitu sangat tanpan sudah menungguku di sana aku tersenyum manis saat
bertepatan tatapan dengan Rehan, aku duduk di samping Rehan dan kini dia juga
bersiap untuk melantunkan ijab qabul hingga bunyi sah berdengung di telingaku,
aku begitu sangat senang dan juga bahagia kini akhirnya aku dan Rehan sah
menjadi suami istri, setelah itu Rehan memasang cincin ke jariku dan begitu
juga denganku, aku juga bersaliman pada Rehan, Rehan juga mencium keningku
dengan lembut.
Acara selanjutnya kami berdua
menyambut para tamu yang datang pada kami dan mengucapkan selamat pada kami
berdua. Aku berdoa pada tuhan ini adalah akhir kisah percintaanku dan Rehan
yang menjadi terakhir orang yang aku cintai untuk selamanya dan mau yang memisahlkan
kami. Aku juga berdoa jika kehidupanku kedepan bersama dengan Rehan akan selalu
baik-baik saja jika ada masalah makan kakan cepat selesai dan tidak berlanjut
dan keluarga kecil kita nantinya akan bahagia selamanya. Aku juga berdoa aku
bisa menjadi ibu yang baik bagi Raina dan anak-anakku selanjutnya dan menjadi
istri yang berbakti pada suamiku.
Terima kasih sudah mengikuti
ceritaku dan maaf jika banyak kekurangan dan kesalahan dalam cerita ini dan
sekali lagi aku mengucapkan terima kasih pada pembaca yang sudah setia membaca
ceritaku. Dan tunggu cerita-cerita lain dariku.
Terima
__ADS_1
kasih.