
Rehan kembali ke kamar dengan membawa nampan berisi makanan dan segelas susu untuk Kalina khusus untuk ibu hamil, Rehan membawa menaruh nampan di nakas dan duduk di samping ranjang.
“Na ini aku bawain makanan untuk sarapan sama susu, kamu sarapan dulu ya,” Rehan membangunkan Kalina yang tertidur kembali, Kalina terbangun dan tersenyum melihat Rehan yang membangunkannya dan serta membawakan makanan untuknya.
“Makasih ya Re, kamu sudah baik bawain sarapan buat aku,” Kalina mengambil piring yang berisi roti bakar itu lalu mengambilnya dengan tangan dan memasukkan ke mulutnya.
Rehan hanya mengangguk dan tersenyum melihat Kalina.
“Hari ini kamu mau kemana?” Rehan bertanya kepada Kalina yang masih memakan rotinya.
“Aku hanya ingin istirahat di rumah saja, kamu mau kan temenin aku, kamu pulangnya nati sore saja,” rengek Kalina, dan Rehan hanya mengangguk.
Setelah selesai memakan rotinya Rehan memberikan segelas susu agar Kalina meminumnya sampai habis.
“Sekarang kamu mau mandi apa mau balik tidur kembali?” Rehan menaruh kembali gelas itu ke nampan yang berada di nakas samping tempat tidur.
“Aku mau mandi, tapi bantuin ke kamar mandi ya,” Kalina mencari perhatian kepada Rehan agar Rehan selalu ada di dekatnya dan hatinya bisa luluh.
__ADS_1
Rehan pun segera membantu Kalina dengan jalan di samping Kalina dengan satu tangannya merangkul pinggang Kalina agar nggak terjatuh.
**
Di taman siang hari di bawah pohon yang rindang membuat Nesya menerawang jauh entah apa yang di pikirkannya, udara siang di taman apartemen ini anginnya agak sepoy – sepoy jadi tak terlalu panas.
Nesya sedang duduk sendirian dengan di temani air minum yang dirinya beli di supermarket tadi, Nesya sedang melamun sendirian, dirinya memikirkan Rehan hingga sekarang Rehan tak membalas pesan atau menelponnya.
“Re kamu kemana, kenapa kamu pergi dari apartemen tak memberi tahu aku,” batinnya, karena Rehan selalu bilang ke Nesya jika dirinya mau pergi dan ini sampai sekarang juga nggak ada kabar sama sekali.
Apa mungkin dirinya melakukan kesalahan hingga Rehan mendiamkannya, namum kesalahan apa yang di buatnya, Nesya sendiri masih memikirkan kesalahan apa yang dirinya perbuat hingga membuat Rehan marah.
“Nesyaaaaa,” teriak Alex di dekat telinga Nesya dan itu sukses membuat Nesya kaget hingga Nesya menutup telinganya karena teriakan Alex.
“Alex kamu bisa nggak sih nggak teriak bikin kaget saja, ini nanti telinga aku jadi budeg gimana,” kesal Nesya sambil memukul pundak Alex dengan keras. Alex hanya cekikikan saja dan dirinya juga tak marah kepada Nesya.
“Habisnya kamu siang gini melamun, awas nanti kalau ada setan lewat giman,” ucapnya sambil masih dengan tawanya.
__ADS_1
“Biar saja sih, habis kenapa kamu bisa di sini, memangnya kamu nggak kerja.” Nesya menatap Alex jengah.
“Aku, tadi kerja dan sekarang udah pulang, terus kebetulan lihat kamu di sini,” ucapnya.
“Hello Alex ini masih siang masa ada bos yang pulangin anak buahnya siang bolong gini dan ini juga masih jam kerja,” oceh Nesya dengan bibir yang sangat mengoda itu.
Entah kenapa Alex jadi berpikiran kotor saat melihat bibir Nesya yang sangat sensual itu, ingin rasanya Alex mengigit bibir itu, segera Alex membuang pikiran kotornya itu.
“Sudahlah Nes jangan cerewet terus telinga aku jadi panas ni,” ucapnya sambil merentangkan tangannya.
“Gimana kalau kamu ke apartemen aku, kita makan siang bareng, kamu sudah makan belum?” Alex menoleh ke Nesya.
Nesya hanya mengelengkan kepalanya, dan terlihat tak semangat, Alex bisa melihat itu. Alex berdiri lalu menyeret tangan Nesya agar ikut dirinya ke apartemen miliknya.
“Lex kamu bisa nggak sih nggak usah pegang tangan aku, aku bisa jalan sendiri tahu,” dumel Nesya.
“Sudahlah Nes jangan bawel, kamu diam saja,” Alex terus mengandeng tangan Nesya hingga memasuki lift.
__ADS_1
Mereka berdua saja di dalam lift, tak ada pembicaraan mereka berdua hanya diam menunggu lift sampai atas dan terbuka membawa ke apartemen Alex berada.