Cinta Om Duda

Cinta Om Duda
Nesya dan Rehan


__ADS_3

Benar saja kami berdua tak tidur


sampai pagi baik aku dan Rehan masih posisi duduk di sofa, aku menoleh menatap


ke arah Rehan dan tersenyum kepadanya.


“Apa pagi ini aku boleh kembali ke


villaku?” tanyaku namun tetap saja Rehan menggelengkan kepalanya.


“Kamu tetap berada di sini, jika


kamu kembali ke villa maka aku akan ikut padamu,” ucap Rehan.


Sungguh apa yang harus aku lakukan


agar terlepas dari Rehan untuk kali ini. Aku sudah cukup muak dengan semuanya


seakan-akan mereka dengan senang hati bermain-main drnganku dan juga hatiku.


Aku bahkan hanya seperti boneka sebagai permainan mereka.


“Lebih baik kita istirahat karena


dari semalam kita tak istirahat, aku takut jika kamu akan sakit,” ucap Rehan


namun aku menolaknya dan berkata pada Rehan bahwa aku ingin kembali ke villaku.


Hingga akhirnya pun Rehan tak bisa


mengelak lagi, ia pun menuruti apa yang aku mau. Rehan mengantarkan aku sampai


ke villa dimana aku tinggal bahkan kini Rehan sudah berada di dalam villa di


mana dulu aku dan Alex tinggal di sini bahkan kami juga merayakan acara


pertunangan kami di sini namun itu kini hanya tinggal sebuah kenangan saja dan


kami tak benar-benar akan menikah. Aku berjalan masuk ke dalam kamar dengan di


ikuti Rehan di belakangku, aku membiarkan Rehan masuk karena memang aku tak mai


banyak berdebat dengannya, karena jujur saja aku juga sudah merasakan pusing di


kepalaku.


“Lebih baik kamu cepat istirahat


dan aku akan menemanimu di sini,” ucapnya sambil duduk di sofa namun aku tak


peduli dan aku segera merebahkan badanku di ranjang lalu memejamkan mataku


hingga akhirnya aku pergi ke alam mimpi.


Rehan hanya tersenyum menatap Nesya


yang tertidur dengan cepat, bahkan ia juga merebahkan badannya di sofa lalu ia


juga menutup matanya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30,


namun baik Nesya dan juga Rehan masih terlelap dalam tidurnya, bahkan Nesya


juga tak memperdulikan hpnya berbunyi. Hingga akhirnya Rehan terbangun dan


berjalan untuk melihat siapa yang menelepon Nesya, saat Rehan tahu siapa yang


menelepon Nesya ia langsung mematikan teleponnya bahkan ia juga tak peduli jika


Nesya marah karena bagaimana juga Nesya untuk saat ini dan kedepannya bahkan


selamanya adalah miliknya. Bukankah dia sudah menikah kenapa dia menghubungi


Nesya kembali.


Aku pun kembali duduk lagi di sofa


dan menatap Nesya yang masih begitu pulas hingga membuatku tersenyum. “Sangat


nyaman kah? Aku harap itu iya sayang. Maafkan aku yang telah membuatmu sakit


dan menerima semuanya,” ucapku. Aku menghela nafas panjang, dan beranjak dari


dudukku berjalan keluar kamar.


Saat aku keluar kamar dan melihat


bibi, aku menyuruh memasakkan makan malam untuk Nesya, sedangkan aku akan kembali


ke villaku karena aku yakin jika Nesya juga tak akan kembali kabur lagi


meninggalkan Bali karena aku tahu Nesya tak memiliki tujuan untuk saat ini dan


aku juga tahu jika hati Nesya begitu masih hancur. Aku berjalan pelan menuju


villaku sambil memikirkan apa yang harus aku lakukan setelah ini? Karena aku


masih berusaha lebih keras lagi untuk membuat Nesya percaya padaku lagi dan mau


menerimaku lagi.


Saat sampai di villa aku langsung


duduk di sofa dan menyuruh bibi untuk mengambilkan aku minum. Aku pun menengak


air mineral itu hingga tandas tanpa tersisa, aku memijit keningku yang sedikit


pusing. Aku berjalan ke kamar namun bibi berjalan mendekatiku menagatakan mau


makan malam apa malam ini dan aku menyuruh bibi untuk memasak bubur untukku dan


aku juga menyuruh bibi untuk membelikan aku obat di apotik.


Setelah itu aku masuk ke dalam


kamar dan membaringkan tubuhku di ranjang lalu menutup mataku kembali, mungkin


untuk istirahat sebentat maka akan sembuh. Hingga akhirnya bibi membangunkan


aku dan menyuruhku untuk makan malam lebih dulu lalu setelah itu kembali lagi


istirahat.


Benar saja setelah makan dan minum


obat aku kembali tidur lagi hingga esok datang bahkan saja selama seharian


kemarin aku tak mandi sama sekali karena aku sudah merasa pusing dan malas untuk


mandi. Aku segera bangun dan aku juga merasakan kepalaku sudah tak pusing


seperti semalam, aku beranjak dari ranjang berjalan menuju kamar mandi untuk


segera membersihkan badanku.


Hanya butuh lima belas menit untuk


mandi kini aku pun keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian rapi dan


bersiap untuk jalan-jalan keluat untuk menghirup udara segar pagi ini walau jam


sudah menunjukkan pukul 07.30 namun aku ingin saja jalan-jalan keluar karena


aku hari ini tak ada pekerjaan.


Aku meregangkan tubuhku, sambil


berjalan di tepi pantai. Pantai di pagi hari saja sudah banyak pengunjung


bahkan juga sudah ada bule yang berenang yang hanya mengenakan bikini namun aku


sama sekali tak tertarik dan aku hanya tertarik dan mengagumi tubuh indah Nesya.


Hah! Memikirkan saja sudah membuat adik kecilku di bawah sana berdiri namun aku


tak bisa menyalurkannya dan hanya bisa menahanya hingga nanti waktunya tepat.


Bahkan aku memilih lari-lari kecil dari pada memikirkan yang tidak-tidak,

__ADS_1


hingga aku menemukan tempat duduk yang pas untuk istirahat bahkan aku juga


membeli air mineral dan meminumnya hingga tandas. Lalu aku membuang botol itu


ke tempat sampah dan aku berniat untuk membeli sarapan pagi namun aku melihay


Nesya sedang berjalan sendirian dengan mengenakan celana hotpans dan juga baju


crop top itu membuatku sangat marah karena tubuh Nesya bisa di lihat semua


orang. Sampai akhitnya pun aku berjalan untuk mendekatinya dan menyeretnya ke


villaku.


“Aaa, lepaskan,” teriak Nesya,


namun aku langsung membekap mulutnya dengan tanganku.


“Ini aku sayang,” bisikku di dekat


telinga Nesya hingga membuatnya menoleh ke arahku.


Aku pun tersenyum saat Nesya


menatapku namun itu terjadi hanya beberapa detik saja. Aku melepaskan dekapanku


dan Nesya pun juga sedikit menjauhki.


“Sayang kenapa kamu memakai baju


seperti ini hm?” tanyaku sedikit mendekatinya bahkan aku juga memegang dagunya


agar Nesya menatapku kembali.


“Aku nggak suka kamu berpakaian


seperti ini sayang, apa kamu berniat ingin memamerkan tubuh kamu pada lelaki


lain selain aku hm?” tanya namun Nesya berusaha melepaskan tanganku dari


dagunya namun aku memegangnya dengan kuat hingga tak mudah melepaskannya dan


Nesya mengarahkan pandangannya ke arah lain.


“J-jangan t-tatap aku seperti itu,”


ucapnya dengan terbata-bata namun aku hanya tersenyum dan melepaskan tanganku


dari dagu Nesya. Lalu setelah itu aku mencekal tangan dan mengajaknya berjalan


untuk meninggalkan tempat ini, aku mengajak Nesya ke villaku dan Nesya juga


hanya diam saja tanpa penolakan seperti kemarin.


Aku menyuruhnya duduk di sofa


sedangkan aku mengambil minuman kaleng dan memberikannya kepadanya dan ia pun


menerimanya. Nesya membuka minuman kaleng yang aku beri tadi dan meminumnya


hingga tandas, lalu saat itu pula ia beranjak dari duduknya dan ingin pergi.


“Kamu mau kemana sayang?” tanyaku


sambil menaikkan satu alisku ke atas.


Nesya menoleh ke arahku dan


pura-pura tersenyum padaku. “Terima kasih atas minumannya dan aku akan kembali


ke villaku,” ucapnya dengan kesal, dan saat ia akan berjalan aku pun lebih dulu


mencekal tangannya hingga dia tak bisa melajutkan jalannya.


“Ada apa lagi Re, bukannya semuanya


sudah jelas,” ucap Nesya namun aku menggelengkan kepalaku lalu aku ikut


berdiri.


“Tidak, semuanya belum jelas


sayang. Karena kamu belum kasih aku kesempatan untuk kembali kepadamu dan hidup


pelukanku hingga tak ada jarak lagi diantara kami.


Karena bagaimana pun Nesya harus


bersamaku dan harus menjadi milikku, biar saja aku egois namun hanya untuk kali


ini. Karena memang kali ini aku akan membuktikan bahwa akulah yang terbaik,


bahwa aku yang pantas menjadi pendamping Nesya.


“Lepaskan aku Re, aku ingin kembali


ke villaku dan aku minta tolong kamu jangan lagi temui aku,” ucapnya, sambil


berusaha melepaskan pelukanku namun tak semudah itu.


Aku mendekatkan wajahku dengannya


lalu mencium bibirnya, aku memegang tengkuk Nesya agar ia tak berusaha melawan


dan melepaskan ciumanku. Ciumanku yang semakin menuntut agar Nesya membuka


mulutnya hingga aku mengigit bibit bawah Nesya dan ia pun membuka mulutnya. Aku


menjelajahi rongga mulutnya, setelah itu aku melepaskan ciumanku namun aku


masih memeluk tubuh Nesya.


Nesya menangis hingga membuatku


melepaskan pelukanku dan menatapnya. “Kenapa? Kenapa kamu menangis hm?” tanyaku.


Akan tetapi Nesya menangis sejadi-jadinya hingga membuatku khawatir dan aku pun


mengajak Nesya duduk di sofa.


“Maafkan aku sayang, maafkan jika


aku salah,” ucapku, dan beberapa saat Nesya menoleh kearahki dan menatapku.


“Aku muak dengan semua Re, kamu


datang lagi sesuka kamu dan mengajakku kembali, aku juga memiliki hati Re dan


bukan untuk di permainkan kamu kira aku ini apa Re?” tanyanya dengan sedikit


berteriak. Jujur saat itu juga aku benar-benar merasa bersalah bahkan aku tak


bisa berkata-kata lagi. Memang semua masalah aku yang menciptakannya namun


memang untuk kali ini aku tak mau kehilangan Nesya.


Aku berjalan mendekati Nesya dan


membawa tubuhnya ke dalam pelukanku dan dia tak memberontak sama sekali namun


ia menangis sejadi-jadinya dan aku hanya bisa mengelus punggungnya dengan


lembut.


“Maafkan aku sayang, aku yang salah


akan tetapi aku tak akan meninggalkan kamu lagi sayang untuk kali ini aku


benar-benar serius,” ucapku namun belum ada jawaban dari Nesya, aku benar-benar


tak mau melihat Nesya menangis seperti ini dan ini sama saja sangat


menyakitiku.


Aku melepaskan pelukanku lalu


menatap wajah Nesya yang masih banyak air mata yang keluar. Aku mengusapnya


dengan lembut namun tetap saja Nesya menangis. “Jangan menangis lagi sayang,”

__ADS_1


ucapku pelan.


Hingga beberapa menit Nesya


menatapku, lalu ia mendekatkan wajahnya padaku dan ia mencium bibirku dengan


pelan, manis, begitu manis rasanya dan aku pun membalasnya dengan pelan bahkan


tangan Nesya juga mengkalungkan tangannya ke leherku dan aku juga semakin


merepatkan pelukan kami. Beruntung saja bibi tak ada di villa jadi tak ada yang


melihat yang sedang kita lakukan saat ini.


Setelah itu aku membawa Nesya


dengan menggendongnya dan ciuman kami pun madih berlangsung. Aku membawa Nesya


ke dalam kamar karena aku tak mau jika nanti bibi melihatnya pasti dia akan


mengira aku ini pria yang tidak baik. Aku merebahkan tubuh Nesya di ranjang


sedangkan aku berada di atas tubuhnya dan kami masih juga berciuman. Bahkan


tanganku juga sudah naik ke atas meremas bukit kembar milik Nesya, bukit kembar


yang semakin membesar dan aku sangat menyukainya. Aku melepaskan ciumannya dan


menatap Nesya dengan matanya yang masih sembab.


“Apa aku boleh melakukannya,”


ucapku meminta persetujuan Nesya karena aku memang tak mau membuatnya menangis


lagi.


Nesya hanya mengangguk pertanda


setuju dan aku pun tak mau melewatkan kesempatan itu, aku lalu kembali mencium


bibir Nesya, ciumanku yang semakin turun ke bawah membuat banya tanda di sana.


Ya, aku melakukan itu semua karena untuk saat ini Nesya adalah milikku dan


orang lain tak boleh memilikinya.


Aku melepaskan baju milik Nesya dan


membuangnya ke bawah, aku juga melepaskan bra yang di kenakan Nesya. Aku


memainkan bukit kembar milik Nesya bahkan aku juga menyusu seperti anak kecil dan


bahkan aku juga merasakan ada air susu yang keluar dari bukit kembar miliknya,


aku pun menghentikannya dan menatap Nesya.


“Apa kami sedang hamil sayang?”


tanyaku namun Nesya menggelengkan kepalanya dan bahkan aku juga melihat area


perutnya ada bekas jahitan.


“Ini kenapa? Kamu kenapa?” tanyaku


khawatir, dan Nesya hanya menghela nafas panjang lalu menatapku.


“Ya, aku hamil namun aku kembali ke


guguran karena ada yang menusukku,” ucap Nesya singkat.


“S-siapa yang melakukan itu semua?”


tanyaku kembali, dan lagi-lagi Nesya menggelengkan kepalanya.


“Lalu anak siapa yang kamu


kandung?” tanyaku yang masih penasaran karena selama Nesya bersamaku maka Nesya


hanya melakukannya dengank. Akan tetapi aku juga tak bisa menyangkalnya jika


Nesya tak melakukannya dengan Alex.


“Kenapa? Apa perlu aku memberi tahu


kamu? Tapi aku juga tak bisa menutupinya jika aku hamil anak kamu,” ucap Nesya


dan lagi-lagi aku bagaikan tersambar petir di siang hari. Bagaimana tidak?


Selama ini Nesya sudah mengalami keguguran dua kali dan itu anak kami yang


selama ini aku inginkan dan aku juga tak ada di samping Nesya saat mengalami


hal-hal sulit.


“Sayang, sekali lagi aku minta maaf,”


ucapku, aku benar-benar merasa bersalah.


Nesya hanya menggelengkan


kepalanya, “Sudahlah lagi pula itu semua juga sudah berlalu buat apa kamu


meminta maaf dan semuanya sudah terlambat,” ucap Nesya yang sudah mengeluarkan


air matanya kembali.


Aku menghapus air mata yang jatuh


itu dengan lembut lalu kembali memcium bibirnya aku tak mau melihat Nesya


menangis seperti tadi. Aku pun kembali membawa tubuh mungil Nesya kedalam


pelukanku dan aku juga menutup tubuh kami dengan selimut dengan tubuh atas


Nesya sudah telanjang. Aku mencium puncak kepala Nesya dengan lembut.


“Istirahatlah sayang,” ucapku.


Lalu Nesya menutup matanya


sedangkan aku mengusap-usap wajahnya dengan lembut sambil menatapnya dengan


penuh cinta. Sampai akhirnya pun aku ikut tertidur dan ya, kami hanya tidur


biasa tanpa melanjutkan aktivitas kami barusan.


Jam sudah menunjukkan pukul 13.30


dan aku pun terbangun, aku melihag ke samping dan melihat Nesya berada di


sampingku dan aku pin langsung terbangun dan langsung mencari keberadaa Nesya.


Ternyata ia baru saja keluar dari kamar mandi dan ia juga sudah mengenakan


pakaiannya kembali, aku pun langsung berjalan menghampirinya dan langsung


memeluknya.


“Aku kira kamu akan meninggalkan


aku sendiri lagi,” ucapku, lalu setelah itu aku melepaskan pelukanku dan


menatapnya, aku tersenyum. Aku bahagia karena kali ini Nesya tak meninggalkan


aku begitu saja karena aku benar-benar takut itu akan kembali terjadi lagi.


Nesya berjalan lalu duduk di sofa


lalu menatapku sebentar. “Aku sangat lapar dan aku ingin makan,” ucapnya dan


aku segera mengangguk lalu segera keluar kamar untuk menyuruh bibi masak


setelah itu aku masuk ke dalam kamar lagi. Aku duduk di samping Nesya dan


menoleh ke arahnya.


“Terima kasih kali ini kamu tak


kabur lagi dariku, jujur aku sangat takut jika kamu pergi lagi dariku. Aku

__ADS_1


mohon untuk kali ini kamu percaya padaku Nes, aku akan bertanggung jawab atas


semuanya, mari kita kembali lagi ke Jakarta dan mari kita menikah,” ucapku.


__ADS_2