
Benar saja kami berdua tak tidur
sampai pagi baik aku dan Rehan masih posisi duduk di sofa, aku menoleh menatap
ke arah Rehan dan tersenyum kepadanya.
“Apa pagi ini aku boleh kembali ke
villaku?” tanyaku namun tetap saja Rehan menggelengkan kepalanya.
“Kamu tetap berada di sini, jika
kamu kembali ke villa maka aku akan ikut padamu,” ucap Rehan.
Sungguh apa yang harus aku lakukan
agar terlepas dari Rehan untuk kali ini. Aku sudah cukup muak dengan semuanya
seakan-akan mereka dengan senang hati bermain-main drnganku dan juga hatiku.
Aku bahkan hanya seperti boneka sebagai permainan mereka.
“Lebih baik kita istirahat karena
dari semalam kita tak istirahat, aku takut jika kamu akan sakit,” ucap Rehan
namun aku menolaknya dan berkata pada Rehan bahwa aku ingin kembali ke villaku.
Hingga akhirnya pun Rehan tak bisa
mengelak lagi, ia pun menuruti apa yang aku mau. Rehan mengantarkan aku sampai
ke villa dimana aku tinggal bahkan kini Rehan sudah berada di dalam villa di
mana dulu aku dan Alex tinggal di sini bahkan kami juga merayakan acara
pertunangan kami di sini namun itu kini hanya tinggal sebuah kenangan saja dan
kami tak benar-benar akan menikah. Aku berjalan masuk ke dalam kamar dengan di
ikuti Rehan di belakangku, aku membiarkan Rehan masuk karena memang aku tak mai
banyak berdebat dengannya, karena jujur saja aku juga sudah merasakan pusing di
kepalaku.
“Lebih baik kamu cepat istirahat
dan aku akan menemanimu di sini,” ucapnya sambil duduk di sofa namun aku tak
peduli dan aku segera merebahkan badanku di ranjang lalu memejamkan mataku
hingga akhirnya aku pergi ke alam mimpi.
Rehan hanya tersenyum menatap Nesya
yang tertidur dengan cepat, bahkan ia juga merebahkan badannya di sofa lalu ia
juga menutup matanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30,
namun baik Nesya dan juga Rehan masih terlelap dalam tidurnya, bahkan Nesya
juga tak memperdulikan hpnya berbunyi. Hingga akhirnya Rehan terbangun dan
berjalan untuk melihat siapa yang menelepon Nesya, saat Rehan tahu siapa yang
menelepon Nesya ia langsung mematikan teleponnya bahkan ia juga tak peduli jika
Nesya marah karena bagaimana juga Nesya untuk saat ini dan kedepannya bahkan
selamanya adalah miliknya. Bukankah dia sudah menikah kenapa dia menghubungi
Nesya kembali.
Aku pun kembali duduk lagi di sofa
dan menatap Nesya yang masih begitu pulas hingga membuatku tersenyum. “Sangat
nyaman kah? Aku harap itu iya sayang. Maafkan aku yang telah membuatmu sakit
dan menerima semuanya,” ucapku. Aku menghela nafas panjang, dan beranjak dari
dudukku berjalan keluar kamar.
Saat aku keluar kamar dan melihat
bibi, aku menyuruh memasakkan makan malam untuk Nesya, sedangkan aku akan kembali
ke villaku karena aku yakin jika Nesya juga tak akan kembali kabur lagi
meninggalkan Bali karena aku tahu Nesya tak memiliki tujuan untuk saat ini dan
aku juga tahu jika hati Nesya begitu masih hancur. Aku berjalan pelan menuju
villaku sambil memikirkan apa yang harus aku lakukan setelah ini? Karena aku
masih berusaha lebih keras lagi untuk membuat Nesya percaya padaku lagi dan mau
menerimaku lagi.
Saat sampai di villa aku langsung
duduk di sofa dan menyuruh bibi untuk mengambilkan aku minum. Aku pun menengak
air mineral itu hingga tandas tanpa tersisa, aku memijit keningku yang sedikit
pusing. Aku berjalan ke kamar namun bibi berjalan mendekatiku menagatakan mau
makan malam apa malam ini dan aku menyuruh bibi untuk memasak bubur untukku dan
aku juga menyuruh bibi untuk membelikan aku obat di apotik.
Setelah itu aku masuk ke dalam
kamar dan membaringkan tubuhku di ranjang lalu menutup mataku kembali, mungkin
untuk istirahat sebentat maka akan sembuh. Hingga akhirnya bibi membangunkan
aku dan menyuruhku untuk makan malam lebih dulu lalu setelah itu kembali lagi
istirahat.
Benar saja setelah makan dan minum
obat aku kembali tidur lagi hingga esok datang bahkan saja selama seharian
kemarin aku tak mandi sama sekali karena aku sudah merasa pusing dan malas untuk
mandi. Aku segera bangun dan aku juga merasakan kepalaku sudah tak pusing
seperti semalam, aku beranjak dari ranjang berjalan menuju kamar mandi untuk
segera membersihkan badanku.
Hanya butuh lima belas menit untuk
mandi kini aku pun keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian rapi dan
bersiap untuk jalan-jalan keluat untuk menghirup udara segar pagi ini walau jam
sudah menunjukkan pukul 07.30 namun aku ingin saja jalan-jalan keluar karena
aku hari ini tak ada pekerjaan.
Aku meregangkan tubuhku, sambil
berjalan di tepi pantai. Pantai di pagi hari saja sudah banyak pengunjung
bahkan juga sudah ada bule yang berenang yang hanya mengenakan bikini namun aku
sama sekali tak tertarik dan aku hanya tertarik dan mengagumi tubuh indah Nesya.
Hah! Memikirkan saja sudah membuat adik kecilku di bawah sana berdiri namun aku
tak bisa menyalurkannya dan hanya bisa menahanya hingga nanti waktunya tepat.
Bahkan aku memilih lari-lari kecil dari pada memikirkan yang tidak-tidak,
__ADS_1
hingga aku menemukan tempat duduk yang pas untuk istirahat bahkan aku juga
membeli air mineral dan meminumnya hingga tandas. Lalu aku membuang botol itu
ke tempat sampah dan aku berniat untuk membeli sarapan pagi namun aku melihay
Nesya sedang berjalan sendirian dengan mengenakan celana hotpans dan juga baju
crop top itu membuatku sangat marah karena tubuh Nesya bisa di lihat semua
orang. Sampai akhitnya pun aku berjalan untuk mendekatinya dan menyeretnya ke
villaku.
“Aaa, lepaskan,” teriak Nesya,
namun aku langsung membekap mulutnya dengan tanganku.
“Ini aku sayang,” bisikku di dekat
telinga Nesya hingga membuatnya menoleh ke arahku.
Aku pun tersenyum saat Nesya
menatapku namun itu terjadi hanya beberapa detik saja. Aku melepaskan dekapanku
dan Nesya pun juga sedikit menjauhki.
“Sayang kenapa kamu memakai baju
seperti ini hm?” tanyaku sedikit mendekatinya bahkan aku juga memegang dagunya
agar Nesya menatapku kembali.
“Aku nggak suka kamu berpakaian
seperti ini sayang, apa kamu berniat ingin memamerkan tubuh kamu pada lelaki
lain selain aku hm?” tanya namun Nesya berusaha melepaskan tanganku dari
dagunya namun aku memegangnya dengan kuat hingga tak mudah melepaskannya dan
Nesya mengarahkan pandangannya ke arah lain.
“J-jangan t-tatap aku seperti itu,”
ucapnya dengan terbata-bata namun aku hanya tersenyum dan melepaskan tanganku
dari dagu Nesya. Lalu setelah itu aku mencekal tangan dan mengajaknya berjalan
untuk meninggalkan tempat ini, aku mengajak Nesya ke villaku dan Nesya juga
hanya diam saja tanpa penolakan seperti kemarin.
Aku menyuruhnya duduk di sofa
sedangkan aku mengambil minuman kaleng dan memberikannya kepadanya dan ia pun
menerimanya. Nesya membuka minuman kaleng yang aku beri tadi dan meminumnya
hingga tandas, lalu saat itu pula ia beranjak dari duduknya dan ingin pergi.
“Kamu mau kemana sayang?” tanyaku
sambil menaikkan satu alisku ke atas.
Nesya menoleh ke arahku dan
pura-pura tersenyum padaku. “Terima kasih atas minumannya dan aku akan kembali
ke villaku,” ucapnya dengan kesal, dan saat ia akan berjalan aku pun lebih dulu
mencekal tangannya hingga dia tak bisa melajutkan jalannya.
“Ada apa lagi Re, bukannya semuanya
sudah jelas,” ucap Nesya namun aku menggelengkan kepalaku lalu aku ikut
berdiri.
“Tidak, semuanya belum jelas
sayang. Karena kamu belum kasih aku kesempatan untuk kembali kepadamu dan hidup
pelukanku hingga tak ada jarak lagi diantara kami.
Karena bagaimana pun Nesya harus
bersamaku dan harus menjadi milikku, biar saja aku egois namun hanya untuk kali
ini. Karena memang kali ini aku akan membuktikan bahwa akulah yang terbaik,
bahwa aku yang pantas menjadi pendamping Nesya.
“Lepaskan aku Re, aku ingin kembali
ke villaku dan aku minta tolong kamu jangan lagi temui aku,” ucapnya, sambil
berusaha melepaskan pelukanku namun tak semudah itu.
Aku mendekatkan wajahku dengannya
lalu mencium bibirnya, aku memegang tengkuk Nesya agar ia tak berusaha melawan
dan melepaskan ciumanku. Ciumanku yang semakin menuntut agar Nesya membuka
mulutnya hingga aku mengigit bibit bawah Nesya dan ia pun membuka mulutnya. Aku
menjelajahi rongga mulutnya, setelah itu aku melepaskan ciumanku namun aku
masih memeluk tubuh Nesya.
Nesya menangis hingga membuatku
melepaskan pelukanku dan menatapnya. “Kenapa? Kenapa kamu menangis hm?” tanyaku.
Akan tetapi Nesya menangis sejadi-jadinya hingga membuatku khawatir dan aku pun
mengajak Nesya duduk di sofa.
“Maafkan aku sayang, maafkan jika
aku salah,” ucapku, dan beberapa saat Nesya menoleh kearahki dan menatapku.
“Aku muak dengan semua Re, kamu
datang lagi sesuka kamu dan mengajakku kembali, aku juga memiliki hati Re dan
bukan untuk di permainkan kamu kira aku ini apa Re?” tanyanya dengan sedikit
berteriak. Jujur saat itu juga aku benar-benar merasa bersalah bahkan aku tak
bisa berkata-kata lagi. Memang semua masalah aku yang menciptakannya namun
memang untuk kali ini aku tak mau kehilangan Nesya.
Aku berjalan mendekati Nesya dan
membawa tubuhnya ke dalam pelukanku dan dia tak memberontak sama sekali namun
ia menangis sejadi-jadinya dan aku hanya bisa mengelus punggungnya dengan
lembut.
“Maafkan aku sayang, aku yang salah
akan tetapi aku tak akan meninggalkan kamu lagi sayang untuk kali ini aku
benar-benar serius,” ucapku namun belum ada jawaban dari Nesya, aku benar-benar
tak mau melihat Nesya menangis seperti ini dan ini sama saja sangat
menyakitiku.
Aku melepaskan pelukanku lalu
menatap wajah Nesya yang masih banyak air mata yang keluar. Aku mengusapnya
dengan lembut namun tetap saja Nesya menangis. “Jangan menangis lagi sayang,”
__ADS_1
ucapku pelan.
Hingga beberapa menit Nesya
menatapku, lalu ia mendekatkan wajahnya padaku dan ia mencium bibirku dengan
pelan, manis, begitu manis rasanya dan aku pun membalasnya dengan pelan bahkan
tangan Nesya juga mengkalungkan tangannya ke leherku dan aku juga semakin
merepatkan pelukan kami. Beruntung saja bibi tak ada di villa jadi tak ada yang
melihat yang sedang kita lakukan saat ini.
Setelah itu aku membawa Nesya
dengan menggendongnya dan ciuman kami pun madih berlangsung. Aku membawa Nesya
ke dalam kamar karena aku tak mau jika nanti bibi melihatnya pasti dia akan
mengira aku ini pria yang tidak baik. Aku merebahkan tubuh Nesya di ranjang
sedangkan aku berada di atas tubuhnya dan kami masih juga berciuman. Bahkan
tanganku juga sudah naik ke atas meremas bukit kembar milik Nesya, bukit kembar
yang semakin membesar dan aku sangat menyukainya. Aku melepaskan ciumannya dan
menatap Nesya dengan matanya yang masih sembab.
“Apa aku boleh melakukannya,”
ucapku meminta persetujuan Nesya karena aku memang tak mau membuatnya menangis
lagi.
Nesya hanya mengangguk pertanda
setuju dan aku pun tak mau melewatkan kesempatan itu, aku lalu kembali mencium
bibir Nesya, ciumanku yang semakin turun ke bawah membuat banya tanda di sana.
Ya, aku melakukan itu semua karena untuk saat ini Nesya adalah milikku dan
orang lain tak boleh memilikinya.
Aku melepaskan baju milik Nesya dan
membuangnya ke bawah, aku juga melepaskan bra yang di kenakan Nesya. Aku
memainkan bukit kembar milik Nesya bahkan aku juga menyusu seperti anak kecil dan
bahkan aku juga merasakan ada air susu yang keluar dari bukit kembar miliknya,
aku pun menghentikannya dan menatap Nesya.
“Apa kami sedang hamil sayang?”
tanyaku namun Nesya menggelengkan kepalanya dan bahkan aku juga melihat area
perutnya ada bekas jahitan.
“Ini kenapa? Kamu kenapa?” tanyaku
khawatir, dan Nesya hanya menghela nafas panjang lalu menatapku.
“Ya, aku hamil namun aku kembali ke
guguran karena ada yang menusukku,” ucap Nesya singkat.
“S-siapa yang melakukan itu semua?”
tanyaku kembali, dan lagi-lagi Nesya menggelengkan kepalanya.
“Lalu anak siapa yang kamu
kandung?” tanyaku yang masih penasaran karena selama Nesya bersamaku maka Nesya
hanya melakukannya dengank. Akan tetapi aku juga tak bisa menyangkalnya jika
Nesya tak melakukannya dengan Alex.
“Kenapa? Apa perlu aku memberi tahu
kamu? Tapi aku juga tak bisa menutupinya jika aku hamil anak kamu,” ucap Nesya
dan lagi-lagi aku bagaikan tersambar petir di siang hari. Bagaimana tidak?
Selama ini Nesya sudah mengalami keguguran dua kali dan itu anak kami yang
selama ini aku inginkan dan aku juga tak ada di samping Nesya saat mengalami
hal-hal sulit.
“Sayang, sekali lagi aku minta maaf,”
ucapku, aku benar-benar merasa bersalah.
Nesya hanya menggelengkan
kepalanya, “Sudahlah lagi pula itu semua juga sudah berlalu buat apa kamu
meminta maaf dan semuanya sudah terlambat,” ucap Nesya yang sudah mengeluarkan
air matanya kembali.
Aku menghapus air mata yang jatuh
itu dengan lembut lalu kembali memcium bibirnya aku tak mau melihat Nesya
menangis seperti tadi. Aku pun kembali membawa tubuh mungil Nesya kedalam
pelukanku dan aku juga menutup tubuh kami dengan selimut dengan tubuh atas
Nesya sudah telanjang. Aku mencium puncak kepala Nesya dengan lembut.
“Istirahatlah sayang,” ucapku.
Lalu Nesya menutup matanya
sedangkan aku mengusap-usap wajahnya dengan lembut sambil menatapnya dengan
penuh cinta. Sampai akhirnya pun aku ikut tertidur dan ya, kami hanya tidur
biasa tanpa melanjutkan aktivitas kami barusan.
Jam sudah menunjukkan pukul 13.30
dan aku pun terbangun, aku melihag ke samping dan melihat Nesya berada di
sampingku dan aku pin langsung terbangun dan langsung mencari keberadaa Nesya.
Ternyata ia baru saja keluar dari kamar mandi dan ia juga sudah mengenakan
pakaiannya kembali, aku pun langsung berjalan menghampirinya dan langsung
memeluknya.
“Aku kira kamu akan meninggalkan
aku sendiri lagi,” ucapku, lalu setelah itu aku melepaskan pelukanku dan
menatapnya, aku tersenyum. Aku bahagia karena kali ini Nesya tak meninggalkan
aku begitu saja karena aku benar-benar takut itu akan kembali terjadi lagi.
Nesya berjalan lalu duduk di sofa
lalu menatapku sebentar. “Aku sangat lapar dan aku ingin makan,” ucapnya dan
aku segera mengangguk lalu segera keluar kamar untuk menyuruh bibi masak
setelah itu aku masuk ke dalam kamar lagi. Aku duduk di samping Nesya dan
menoleh ke arahnya.
“Terima kasih kali ini kamu tak
kabur lagi dariku, jujur aku sangat takut jika kamu pergi lagi dariku. Aku
__ADS_1
mohon untuk kali ini kamu percaya padaku Nes, aku akan bertanggung jawab atas
semuanya, mari kita kembali lagi ke Jakarta dan mari kita menikah,” ucapku.