
“Baik, aku menerima keputusan yang kamu buat Rehan, kita akan menikah siri dan kita tak akan menganggu urusan kita masing – masing.” Kalina yang berbicara seperti itu menahan air matanya agar tak keluar saat ini juga.
“Bagus kalau begitu, aku akan mengurus semuanya dan nati malam kita akan menikah.” Lalu Rehan pergi meninggalkan Kalina sendirian yang masih duduk di sofa ruamh tamu.
Kalina lalu berlari keluar ruamah untuk masuk kedalam mobilnya dan benar saja saat masuk ke dalam mobil air mata Kalina jatu tak tertahankan dirinya menangis, sambil melajukan mobilnya pelan – pelan meninggalkan pelataran rumah Rehan.
Kalina entah akan pergi kemana namun dirinya butuh menenangkan diri sebelum malam tiba yang akan menikah dengan Rehan, Kalina terus melajukan mobilnya dengan sedang dan beruntung saja jalan siang ini sangat sepi tak banyak pejalan atau pengendara.
Kalina memberhentikan mobilnya di dekat taman yang dimana di sana tak banyak orang, Kalina duduk di bangku kosong, sambil mengusap air matanya yang terus keluar Kalina menghirup nafas dan mengeluarkan dengan pelan.
“Aku kira kamu bakal nikahin aku secara sah Re, tapi apa yang aku dapat kamu menikahiku secara siri dan itu sangat membuatku sedih Re. Awalnya aku bahagia karena kamu masuk kedalam perangkapku tapi kini aku yang masuk dalam permainanmu Re,” batik Kalina dengan mata masih mengeluarkan air mata.
Berkali – kali Kalina mengusap air matanya namun masih saja tetap keluar, mencoba untuk melupakan sejenak namun Kalina tetap saja tak bisa.
__ADS_1
“Sedang apa kau di sini Na,” ucap seseorang dari belakang dan Kalina pun menoleh ke belakang ternyata itu bosnya.
“Loh, kok bos bisa ada di sini?” tanya Kalina sambil mengusap air matanya agar tak ketahuan sang bos kalau dirinya sedang sedih.
“Bukannya tadi pagi saya sudah menyuruhmu untuk istirahat kenapa kamu malah di sini?” Robert berjalan mendekati Kalina dan duduk di samping Kalina.
“Cari angin saja bos untuk melupakan pikirian sejenak,” ucapnya, Kalina menatap lurus kedepan dengan wajah yang terlihat sangat sedih dan Robert bisa melihatnya itu.
“Lebih baik kamu segera pulang, karena kesehatan kamu lagi nggak bagus, apa mau aku antar pulang,” Robert memberi tawaran kepada Kalina untuk mengantarkan pulang.
**
Malam telah tiba, kedua orang tua Rehan sudah bersiap begitu juga dengan Kalina yang sudah berada di rumah Rehan sekitar dari setengah jam yang lalu. Rehan juga belum keluar dari kamarnya sedari tadi, entah apa yang dilakukan Rehan Maria juga tak tahu yang pasti semenjak beberapa hari yang lalu Rehan tak mau diganggu.
__ADS_1
Di sana juga ada beberapa saksi untuk pernikahan Rehan dan Kalina, mereka kini sedang menunggu kedatangan Rehan.
“Maaf bu, apakah semuanya sudah siap, dan mana calon pengantin laki – lakinya?” penghulu itu bertanya kepada Maria, dan saat Maria akan memanggil Rehan, Rehan sudah datang dengan rapi.
Ijab qabul pun di mulai, dan Rehan pun mengucapkannya dengan benar tanpa ada kesalahan, dan saat pernikahan sudah selesai baik Rehan dan Kalina hanya diam saja, mereka berempat duduk di ruang tamu.
“Lalu bagaimana selanjutnya untuk pernikahan kalian berdua?” Maria membuka pembicaraan.
“Seperti biasa ma, Kalina pulang ke rumahnya dan menjalani hari – harinya begitu juga dengan Rehan dan itu jauh lebih baik dan sebaiknya tetap rahasiakan pernikahan siri ini,” ucap Rehan dengan dingin lalu pergi ke kamarnya dengan berlari.
Tak lama kemudian Rehan sudah berganti pakaian dengan membawa kunci mobil, ya, malam ini Rehan hanya ingin menemui Nesya karena beberapa hari ini dirinya tak bertemu dengan Nesya dan membuat Rehan merindukannya.
“Mau kemana kamu Re?” teriak Maria namun tak di gubris oleh Rehan dan hanya menoleh lalu tersenyum yang di paksakan.
__ADS_1
Sedangkan Kalina masih ada di rumah Rehan, dan malam juga sudah semakin larut, Maria tak bisa menyuruh Kalina balik sendirian malam ini dan akhirnya Maria menyuruh Kalina untuk tidur di kamar Rehan malam ini dan paginya baru pulang.