
Tekanan pada tombol saklar lampu menyebar cahaya lampu yang menerangi gelapnya ruang kamar. Netra mengedar pandang mencari sambutan dari sosok cantik yang biasa ia dapat namun nihil untuk malam kali ini.
"Sayang, aku pulang," ucap Arthur mengabarkan kedatangannya.
"Sayang, kau di mana?" mencari keberadaan Vera di kamar mandi maupun di dalam walk in closet yang ternyata tak ditemukan keberadaannya.
Tidak seperti biasanya sang Istri tak berada di rumah pada saat jam Arthur pulang kerja. Tidak ada pelukan manja dan senyuman manis yang didapat. Bahkan meja maka yang biasanya sudah tertata penuh oleh makanan kini tampak kosong.
"Kenapa nomor ponselnya tidak aktif? Sebenarnya pergi kemana Vera?" monolog Arthur mendapati panggilan teleponnya tak bisa tersambung.
Kepenatan yang melanda membuat pria bertubuh jenjang itu memilih menghempaskan diri sejenak di atas sofa kamar. Merenggangkan ikatan dasi yang biasanya Vera lah yang melakukannya.
Suara helaan napas panjang seolah menggambarkan suasana hati yang tengah memikul beban pikiran. Pening yang tiba-tiba merajuk, menggerakkan tangan untuk memberi pijatan ringan di kedua pelipisnya.
"Bagaimana caraku menjelaskan semuanya ke Vera? Apa dia bisa menerima kehadiran mereka?" kesahnya terpenjara ke dalam kegamangan hati.
°°°
Suara ketikan pada tombol di atas keyboard menggema di dalam ruangan pribadi milik pemimpin Willson Corp, Sean. Bukan untuk menyelsaikan berkas kerja apapun, melainkan melawan jaringan penyusup yang berusaha meretas sistem keamanan perusahaan.
Tenggelam dalam suasana menegangkan, terlihat dari butiran keringat menyapu muka serta sorot mata yang tak lepas dari layar komputer yang menampilkan deretan teks bewarna hijau dengan ukuran terlampau kecil. Memusingkan kepala bagi siapa saja yang tak biasa melihatnya.
Security Alert! alarm peringatan keamanan bewarna merah kembali berkedip-kedip pada layar komputer.
"Tuan, sepertinya Black Head Hacker berusaha melumpuhkan database server perusahaan dengan mengirimkan serangan SQL Injection," lapor David, seorang personal assistant dan ternyata sekaligus merangkap sebagai teknisi yang ahli dalam bidang Information Technology terutama bagian Cloud Computing.
"Kirim balik serangan malware dari mereka," titah Sean.
Warning!
Peringatan keras berwarna merah kembali muncul pada layar komputer ketika Security Alert mendeteksi virus yang kian merambah ke cabang sistem jaringan.
"Sial! Kita harus menolak akses mereka. Cepat aktifkan backup sistem otomatis," tukas Sean yang juga ambil andil dalam melawan serangan hacker gelap, memberi atensi maksimal pada layar laptop berlatar belakang biru. Otak dan jari bekerja secara selaras, bergerak cekatan dalam mematahkan serangan virtual lawan.
Mengisi kode password.
Enter.
Waiting process.
system security is successful.
Detik demi detik berlalu dengan cepat. Sean yang di backing oleh kepiawaian David, mulai menerbitkan seringaian kecil di mukanya. Jaringan database server kembali sukses diamankan dengan mebentang perisai berupa perangkat lunak anti malware.
"Akhirnya kita berhasil menebas balik serangan lawan, Tuan. Tapi sayang, sistem pelacak yang kita tangguhkan tidak dapat menemukan alamat lokasi penyerang karena mereka terlebih dahulu memblokir akses koordinat titik menuju ke lokasi," lapor David.
Sepuluh jari yang terkait dibuat menopang dagu. Kendati sekali lagi masalah terselesaikan dengan cepat, namun otak terus diajak berkerja lebih keras. Mempraduga dari mana sumber masalah ini berasal, namun belum juga mendapat titik temu.
"Untuk saat ini, lebih perketat sistem keamanan kita," titah Sean. "Terapkan juga pengamanan akses database server secara konservatif," tambahnya.
Sean melirik ke arah jam yang melingkari pergelangan tangannya. "Sudah waktunya menjemput istri kecilku sekarang. Aku tidak ingin membuatnya menunggu lama."
°°°
PLAK!
PLAK!
__ADS_1
"Kalian memang tidak becus dalam bekerja! Mati saja kalian!" sarkas pria tengah baya kepada kedua anak buahnya.
Badan tegap dan gagah hanya menundukkan kepala pasrah, menerima kemarahan pria ber-jas yang memancarkan aura kekuasaannya.
"Maaf Tuan," ucap kedua bawahan yang baru saja menerima tamparan panas dari bos besarnya.
"Lagi-lagi gagal gagal gagal!" berangnya karena kekalahan yang harus ia telan. "Cepat cari tahu kelemahan Sean Willson lainnya!" titahnya.
"Kita bisa melumpuhkannya melalui wanitanya, Tuan," ucap salah satu anak buah.
°°°
Di sebuah bangunan dua lantai tempat beragam jenis dan model gaun berkualitas tinggi berjajar cantik, Ve boutique.
"Kak Vera gaun ini cantik sekali," Allesya memandang kagum midi dress berwarna lavender yang terbuat dari sutra murbey. "Gaun ini untukku?" tanya Allesya memastikan.
"Tentu saja, itu khusus aku buat sebagai hadiah ulang tahunmu," jawab Vera.
Allesya terkesima, ternyata sang Kakak masih mengingat hari lahirnya di sela kesibukannya sebagai desainer yang sangat dikenal di kalangan elite.
"Terima kasih ya kak," berhamburan memeluk sang Kakak, Allesya menumpahkan kegembiraannya.
Vera mengulas senyuman hangat, meski hati tengah dirundung kepiluan, namun setidaknya senyuman sang Adik mampu mengarak pergi perasaan menyesakkan itu.
"Kau bisa mencobanya sekarang," tutur Vera, menggiring tubuh Allesya menuju ke fitting room. "Cepat bergantilah, aku ingin melihatnya," imbuhnya kembali.
"Ya, tunggulah sebentar."
Setelah Allesya masuk ke dalam fitting room, Vera menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Mengeluarkan sesak yang tiba-tiba kembali menghimpit melalui helaan napas panjangnya. "Sebaiknya aku meminta kejelasan terlebih dahulu kepada Arthur nanti. Siapa wanita dan anak kecil itu. Tak seharusnya aku langsung berasumsi hanya dengan sekali pandang," lirihnya kepada dirinya sendiri.
"Kau memang harus melakukan itu, daripada berujung penyesalan."
Selaan seseorang menarik perhatian Vera begitu saja. Tersenyum simpul ditorehkan ke dalam muka suramnya untuk menyambut kedatangan sosok tampan yang berdiri gagah di sana. "Kau seolah menyuruhku belajar dari pengalamanmu, Sean," timpalnya.
"Dia sedang mencoba pakaian di dalam."
Sementara di dalam fitting room, Alleysa tengah kesulitan menjangkau resleting baju belakang. Menyerah karena rasa pegal di tangan, memilih memanggil seseorang yang bisa membantunya.
"Kak Vera, bisakah kau masuk ke dalam untuk membantuku?" pinta Allesya setengah berteriak tanpa membuka pintu ruangan, yakin sang Kakak masih menunggunya di luar.
CEKLEK!
Bertepatan pintu sedikit terbuka, seseorang masuk dari luar.
"Apa yang bisa kulakukan, Allesya?"
Allesya sedikit terkesiap saat tahu sang Suami lah yang masuk, bukan Vera. "Kak Sean, kau sejak kapan kau datang?"
"Apa perlu aku jawab?"
"Kau tinggal menjawab, apa susahnya?" menyebik dalam mode bibir mengerucut.
"Aku belum lama sampai, Allesya. Katakan apa yang bisa ku bantu?"
Allesya memunggungi Sean, hingga tampak resleting baju yang masih terbuka lebar, memperlihatkan punggung seputih susunya. "Tolong bantu aku menutupnya."
"Kak Sean kenapa diam? Cepat bantu aku," ucapnya kembali karena tak merasakan pergerakan Sean.
"Ahh! Kak Sean turunkan tanganmu," pekik Allesya setengah tertahan saat tubuh rampingnya sudah berada di dalam kuasa belenggu tangan besar Sean.
__ADS_1
"Allesya, apa kau sedang menggodaku?" memasrahkan kepala untuk tenggelam ke dalam ceruk leher Allesya.
"Kak! Jangan lakukan itu di sini, ada Kak Vera di luar," bibir ranum itu mengingatkan, tahu betul sang suami mulai terpancing hasrat gairah.
"Sekali saja ya," bujuk Sean.
"Enggak," tolak Allesya.
"Beberapa tembak saja."
"Jangan rayu aku."
"Boleh ya?"
"Ahh! Nggak boleh. Kak...!" gigitan kecil di telinga, membuat des*han samar mencelos dari bibir Allesya.
"Tapi aku ingin."
Allesya gegas memutar tubuhnya, membuat dorongan kecil di dada Sean, memberi sedikit ruang jarak di antara mereka. "Tahan dulu keinginanmu itu, ada Kak Vera di luar. Dia sedang bersedih, dan kita harus menjaga perasaannya," tutur Allesya.
Bibir di ajak tersenyum simpul, mengiyakan perkataan Allesya yang dinilainya benar. "Baiklah, tapi biarkan aku bermain sebentar dengan bibirmu sebagai gantinya kali ini."
Sean membasahi bibir ranum nan mungil Allesya dengan sapuan bibirnya, mencecap lembut salah satu benda kenyal kesukaannya itu. Permainan bibir di sebuah ruangan sempit, tak menyurutkan kenyamanan mereka, justru kian menambah suasana intim dan hangat di antara sepasang suami istri tersebut.
SREK.....!
Sean menutup resleting Allesya setelah mengakhiri cumbuan manisnya. Memutar tubuh ramping itu untuk menghadap ke cermin. "Kau semakin cantik dengan gaun ini, sayang," puji Sean mendamba.
"Sungguh?"
"Hm, dan lebih cantik lagi jika tidak ada sehelai benangpun di tubuhmu."
"Dasar si Kakak mesum!" sungut Allesya langsung mengundang gelak tawa Sean.
"Kita keluar sekarang," ajak Sean.
"Kak Vera bagaimana menurutmu?" tanya Allesya yang berdiri di depan Vera.
"Seperti biasanya, hasil karya tanganku memang tidak diragukan," ucap Vera yang lebih cenderung memuji hasil jahitannya.
Mimik berseri seketika berubah masam. "Aku menyesal bertanya kepadamu. Padahal aku sangat berharap kau memujiku."
Vera tergelak lirih. "Iya, iya ... kau sangat cantik Allesya. Apapun yang kau kenakan selalu cocok. Bukankah begitu Sean?" ucap Vera dengan kalimat tanya di akhir kata.
"Iya kau benar, Vera."
Suara langkah sepatu yang menyeruakk di dalam ruangan, menarik seluruh perhatian para anak manusia tersebut.
"Kak Arthur," sapa Allesya lalu berhambur pergi ke dalam pelukan sang Kakak.
❣
❣
❣
Bersambung~~~
Terimakasih ya..
__ADS_1
Di saat lainya pada kabur dan bahkn ada yang terang-terang ingin stop baca cerita ini, kalian masih setia menyimak..
Oya sebagai bocoran nih. Karya ini tinggal melewati satu konflik setelah itu mendekati tamat. Tapi nggak tau tamatnya tinggal berepa episode lagi.🤭