Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 97


__ADS_3


Suara rintihan menguar memenuhi langit-langit ruangan. Layar laptop menyala terang mempertontonkan adegan setiap adegan yang bisa mengundang bulu kuduk berdiri tegak, memacu adrenalin jantung yang membuat tubuh panas dingin.


Bukan film bergenre action, thriller maupun horror, melainkan film panas yang menampilkan sepasang anak manusia bahkan lebih yang tengah memainkan perannya layaknya seorang


menunggangi seekor kuda seraya melayang pecut di pantat kuda.


"Iishh! Itu sangat menjijikkan. Wanita itu menjilatnya seperti menjilat lolipop," Allesya meringis menampakkan reaksi muka jijik.


"Apa yang kau pikirkan Allesya? Aku rasa itu sangat menyenangkan," sahut Lilly tanpa melepas tautan matanya dari layar laptop seakan tidak ingin ketinggalan adegan panas itu barang sedetik saja. Beberapa suapan kripik kentang juga mengiringi keasyikannya.


"Benarkah? Apa kau pernah mencobanya?" sama halnya dengan Lilly, pandangannya masih terus terpaku menyaksikan film dewasa yang terlampau ganas baginya.


Sesekali ia terlihat bergidik karena adegan yang ia lihat sangat jauh dari kata lembut. "Kak Sean tidak seagresif itu semalam," Allesya sempat membatin.


"Aku belum pernah mencobanya, tapi sering membayangkannya," jawab frontal Lilly tak menunjukkan rasa malu sedikitpun.


"Ish! Yang benar saja, ternyata aku berteman dengan orang berotak mes*m," cibirnya.


Melayang tatapan menyelidik ke arah Allesya. "Jangan bilang kau tidak pernah melakukannya, Allesya?"


Seketika muka Allesya memerah seiring dengan kebisuannya, enggan untuk membalas. Dan Lilly tentu langsung bisa mendapatkan jawaban dari reaksi temannya tersebut.


"Apa kau tidak tahu cara menyenangkan suamimu? Semua pria pasti sangat menyukainya. Coba kau lihat pria di dalam film itu, dia terlihat menikmatinya bukan?" tutur Lilly seolah lebih tahu perihal kegiatan di atas ranjang.


"Di sini aku yang sudah menikah, tapi kenapa justru kau yang terlihat lebih berpengalaman?"


"Karena aku sering menonton film seperti ini tidak seperti kau yang terlalu polos," cibirnya.


"Ck! Pantas saja pikiranmu selalu penuh oleh para pria beroti sobek dan bersosis urat," sembur Allesya, mendapat respon kekehan kecil Lilly.


"Sshht! Aku tiba-tiba ingin buang air kecil. Aku ke kamar mandi sebentar," Lilly berjalan setengah berlari karena rasanya sudah sampai pucuk.


"Sshht! Aku sebenarnya juga ingin buang air kecil sedari tadi," gumamnya setelah Lilly menghilang namun sama sekali tak berpindah posisi.


Waktu terus berlalu, puluhan film luknut sudah ditonton, drama bolak balik ke kamar mandi untuk buang air kecil ikut mewarnai keasyikan kedua wanita itu. Mungkin kalau tidak mengingat Sean sebentar lagi akan pulang kerja, Lilly tidak akan berniat pulang dengan cepat sebelum memberi ultimatum ke Allesya untuk tidak bercerita ke siapapun jika mereka pernah menonton sesuatu yang bikin panas.


°°°


"Kak Sean kau sudah pulang," berhamburan ke dalam pelukan Sean yang baru saja menjejakkan kakinya ke dalam apartemen mewahnya.


Langsung menyambut pelukan manja istri kecilnya disusul sebuah kecupan sayang di ujung kepalanya. "Apa kau bosan seharian di rumah?"


Menggeleng pelan sabagai jawaban 'tidak'. "Aku merindukanmu," tangan menelusup ke dalam jas kerja yang membungkus tubuh kekar suaminya. "Apa kau tidak merindukanku?"

__ADS_1


"Aku selalu rindu, Allesya."


"Kak."


"Hmm?"


"Aku ingin."


Sean menarik muka kecil Allesya untuk melihat ke arahnya. "Kau ingin apa? Katakan saja."


"Aku ingin ini."


Sean meremang seketika saat tangan kecil menelusup ke dalam celananya. Membangunkan peliharaannya yang semula masih tertidur. Tak di sangka Allesya sudah seberani itu padahal baru semalam ia mengajarinya senam panas di atas ranjang.


"Hmm... Allesya... ternyata kau sudah berani nakal sekarang," Sean mulai gemas dengan ulah vulgar istri kecilnya.


"Apa Kak Sean tidak menyukainya?" tangan masih bermain di bawah sana.


"Aku sangat suka, ohh..."


Allesya menjeda aksinya, mendorong Sean hingga tubuh besarnya terduduk di atas sofa ruang tamu. Tangan bergerak lincah membuka gesper dan resleting di depannya.


"Hmm.. Ohh..," des*han meluncur spontan dari sepasang bibir Sean ketika Allesya mengulum permen lolipopnya dengan lembut.


"Aku akan memuaskanmu. Sstt.. Oh.. Kak Sean."


"Kau sangat seksi sayang. Lebih cepat..aah.."


Kegiatan panas di atas sofa ruang tamu berlangsung cukup lama. Kedua insan yang sudah dimabukkan asmara itu saling berbagi kenikmatan.


°°°


Malam larut mengantar sepasang suami istri muda tenggelam di bawah selimut tebal yang sama. Mengambil posisi ternyaman dalam sebuah dekapan penyalur kehangatan.


"Allesya."


"Iya Kak," mendongak ke arah Sean.


"Selama aku kerja, apa saja yang kau lakukan di apartemen bersama Lilly?"


Menghindar tatapan Sean, mendadak ingat dengan perkataan Lilly untuk tidak bercerita tentang film yang dilihatnya tadi siang.


"Aku hanya menonton film sambil ngemil makanan ringan dan mengobrol," jawabnya sedikit menutupi.


Senyuman tipis terbit di muka Sean. "Ya sudah kau tidurlah sekarang," membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, mendaratkan kecupan manis di kening sebagai pengantar tidur.

__ADS_1


Jarum jam dinding terus berdetak di setiap putarannya mengelilingi poros. Sepasang lensa biru milik Sean menelisik muka Allesya yang sudah lena, hanyut ke dalam lelapnya. Dengkuran halus sebagai tanda jiwa telah menitih dunia bunga tidur.


Allesya yang agresif dan mendominasi dalam kegiatan bercinta mereka sore tadi, mengantar pikiran untuk terus mengulang ingatan itu.


Senang? Sudah jelas bukan? Allesya terang-terang menunjukkan ekspresi gairahnya dalam bercinta, membutuhkan Sean sebagai partner ranjangnya.


Puas? Tentu saja. Entah dari mana ilmu yang di dapatkan, nyatanya Allesya mampu memberinya kepuasan hingga pencapaian puncak kenikmatan berkali-kali.


Heran? Tepat sekali. Kenapa kelinci kecil yang pemalu mendadak berubah menjadi seekor kelinci kecil agresif.


Di dorong oleh rasa penasaran, Sean mencoba mencari tahu apa saja yang di lakukan istri kecilnya itu sepanjang hari selama ia masih bekerja. Terlebih tentang film apa yang dilihat. Hati-hati, melepas tangan yang memeluk tubuh kecil kesayangannya dan meraih laptop dari atas nakas kamar.


"Sepertinya aku bisa mencari tahu, melalui rekaman CCTV," gumamnya.


Sean tampak memberi pijitan ringan pada kedua pelipisnya. Melihat isi rekaman CCTV membuatnya mendadak pusing.


"Bisa-bisanya mereka berdua melihat film seperti itu," menggerutu lirih.


Gegas di ambilnya ponsel yang tergeletak di atas meja lampu tidur untuk menelepon seseorang.


"Sam! Apa kau tidak pernah mengawasi adikmu?" semburnya langsung setelah panggilan telepon tersambung.


"Apa maksudmu Sean?"


"Coba kau cek isi laptop adikmu sekarang. Ada banyak film tak senonoh di sana."


"Benarkah? Wahh..! Dia pasti mencurinya dari laptopku."


Sean Menggeleng jengah. "Ternyata kemesum*nmu menurun ke adikmu."





Bersambung~~


Apakah aku sangat tak tahu diri jika terus meminta dukungan kalian? berupa like, komen, gift, dan Vote?


Terima kasih masih setia nyimak.karya recehku ini.


Aku tanpa kalian, pasti langsung patah arang untuk menulis.


🥰🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2