
Sayup-sayup nyanyian kicauan burung pipit yang bertengger di balkon apartemen lantai 9 terdengar merdu. Menembus ke dunia bunga tidur, menarik jiwa melayang untuk segera mengakhiri petualangan mimpi. Menggugah insan yang terlelap untuk melanjutkan perjalanan kisah hidup yang belum saatnya bertepi.
"Eemmm..." lenguhan lemah terdengar sebagai penyambut awal pagi.
Garis-garis lipatan halus terlukis pada keningnya di kala hangatnya anak sinar mentari mengusap lembut mukanya. Sepasang kelopak mata perlahan terbuka memamerkan beningnya mutiara biru yang menawan.
Kepala yang masih pusing mengajak mata menyapu langit-langit ruangan. Mencari tahu di mana dia berada saat ini.
"Hmm, ini kamar apartemenku," suaranya masih terdengar parau. Sepasang netra menyipit di kala biasan cahaya menerobos paksa lensa birunya.
Rasa yang bergejolak di dalam perut seakan meminta dikeluarkan memaksa ia untuk segera bangkit dari ranjang namun urung terlaksana. Tubuhnya terasa berat dan kesulitan bergerak seolah sesuatu tengah membelenggunya.
Digiringnya muka ke arah sumber masalah hingga akhirnya ia terkesiap karena mata sayunya menangkap dua sosok pria yang sedang terlelap di atas ranjang yang sama. Mereka adalah Sammy dan Alvin yang masih merajut mimpi dengan posisi tidur mengapit kanan kiri tubuh Sean seraya menggamit kedua tangannya.
"Apa-apa'an ini?" dengan kesulitan Sean meronta berusaha lepas dari lilitan tangan mereka.
"Hei! Kalian bangunlah!" sentaknya lagi sembari menghempas dua pasang kaki yang sedang bertumpang tindih di atas tubuhnya.
"Ssttt..! Jangan berisik! Ayo tidur lagi," gumam Sammy yang merasa terusik dan masih dalam mode setengah sadar lalu kembali tidur memunggungi Sean.
Namun berbeda dengan Alvin. Ia tampak menggeliat maraup kesadarannya lalu mendongak ke arah Sean yang sudah memasang muka masam. "Eemm... Ternyata kau sudah bangun?" ucapnya dan kembali meregangkan otot-otonya yang kaku. "Sepertinya kau sudah kembali waras," mengubah posisi berbaringnya ke dalam posisi duduk tanpa bersandar head board.
"Kenapa kalian bisa tidur disini?" muka bantal Sean tampak terheran-heran.
"Hooaamm..," Alvin menguap sembari menggaruk kepalanya sebelum berniat menepis rasa keheranan Sean. "Apa kau tidak ingat semalam kau mabuk dan terus-terusan berusaha keluar dari apartemen sambil berteriak Allesya.. Allesya.. kau di mana? Kelinci kecilku.. Allesya... Dan membuat kami bergadang semalaman," terang Alvin seraya meniru gaya racauan Sean yang tengah mabuk semalam.
Dipijatnya kepala yang kembali terasa berat karena dipaksa mengingat kejadian semalam. "Allesya..," lirih Sean. Dia bahkan sampai lupa akan keinginannya untuk meluncur ke kamar mandi beberapa saat yang lalu seolah perutnya yang bergejolak seketika sirna ketika kembali mengingat wajah tersakiti Allesya.
"Ck! Bajingan seperti kau ternyata bisa menyesal juga. Makanya jangan menyelimuti hatimu dengan kebencian yang berkepanjangan karena bisa merusak dirimu sendiri dan bahkan menghancurkan hati orang lain," cibiran yang berujung sebuah tuturan dari Alvin kembali sukses menjegal hati Sean.
"Kau semalam sungguh merepotkan Sean," sela Sammy meski matanya masih terpejam.
Muka sendu terulas jelas di muka Sean.
"Apa aku masih bisa memperbaiki semuanya?"
__ADS_1
"Penyesalan memang selalu datang terlambat tapi bukan berarti sebuah kesalahan tidak bisa diperbaiki," Alvin kembali menuturi sebelum akhirnya dia beringsut dari ranjang. "Aku mau pulang. Istriku pasti sudah memasang dua tanduk di kepalanya sekarang. Kau tahu kan apa artinya itu?"
PLAK!
"Woi monyet! Kau mau tidur sampai kapan?"
"Aawh!" Sammy terjingkat dari tidurnya seraya mengusap pantatnya karena pukulan keras Alvin memberi sensasi panas.
"Iya.. iya..," Sammy terpaksa bangun dan beringsut dari ranjang dengan mode malas. Membawa muka bantalnya namun menyempatkan mata melirik ke arah Sean yang masih terpekur dengan pikirannya. "Kalau ada apa-apa bilang ke kami. Jangan sampai kau gantung diri karena frustrasi," tutur Sammy meski rasa kantuk masih mendera lalu mengayun kakinya menuju pintu keluar seraya menguap ala-ala kudal nil. Mendahului Alvin yang masih berpijak di sebelah ranjang Sean.
Sean terpaksa keluar dari lamunannya menyadari tatapan tak terbaca Alvin yang nyata belum juga keluar dari kamar. "Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Alih-alih segerah menjawab, Alvin justru memasang mimik muka jijik. "Sebaiknya segera kau cuci bibirmu itu dengan sabun sebanyak lima puluh kali," Sean sontak menyentuh benda kenyal kissablenya menyadari ada yang salah dengan perkataan Alvin.
"Memangnya kenapa?"
"Ck ck ck. Sungguh Sammy yang malang," bukannya menjawab, respon Alvin seolah memaksa Sean untuk mengingat kembali apa yang telah ia lakukan saat mabuk semalam. "Aku benar-benar pergi sekarang," dibawanya kaki melewati bingkai pintu keluar untuk menyusul Sammy.
Bertepatan dengan menghilangnya Sammy dan Alvin dari balik dinding kamar, Sean berusaha keras memutar kembali ingatan yang berkelibatan secara acak-acakkan di otaknya. Hingga akhirnya sebuah klise bayangan adegan ketika ia mencium Sammy mementok otak, membuatnya terlonjak dari ranjang dan ngacir menuju ke kamar mandi sembari bersumpah serapah.
°°°
Di sudut belahan bumi lainnya. Tepatnya di ibu kota negara Perancis, Paris. Sebuah daratan yang terkenal akan menara megah yang dijadikan sebagai ikon kota, Eiffel Tower.
“Eiffel, I’m in love.” Sebuah kutipan judul film berasal dari Negara Seribu Pulau, Indonesia, cukup menggambarkan citra kota Paris yang selalu menyuguhkan suasana begitu romantis. Maka tak salah jika julukan Kota Cinta dilabelkan untuk ibu kota Perancis.
Langit Paris di hari libur sedang cerah. Seperti halnya di London, Paris juga sedang beselimut musim semi. Musim peralihan dari musim dingin ke musim panas. Di mana bunga-bunga mulai bermekaran memamerkan keindahan mahkota kelopak.
"Seani sayang, kau duduklah di sini dulu, Mommy akan kesana sebentar membeli minuman," ucap Raffaela seraya menunjuk sebuah swalayan yang terjangkau oleh mata dan terletak tidak jauh dari kawasan sungai Seine.
Sungai Seine adalah sungai besar yang membelah kota Paris dan berada tepat di pelataran menara Eiffel. Jadi tidak salah jika banyak turis yang menjadikan sungai Seine sebagai spot romantis ke dua di Paris. Setiap akhir pekan sungai Seine memang sering dimanfaatkan sebagai trek jogging atau hanya sekedar pelepas penat oleh masyarakat Paris maupun wisatawan yang berkujung.
"Baiklah Mom," Allesya mengambil tempat ternyaman untuk diduduki sembari menunggu Raffaela kembali.
Manik hazelnya tak jua teralih dari pemandangan menawan di depannya. Sebuah sungai yang terkenal akan kebersihannya, bus air juga tampak berjajar rapi pada pinggiran sungai serta di lengkapi menara Eiffel yang membelah langit sebagai background utamanya, sungguh begitu memanjakan bagi mata yang memandang.
__ADS_1
Guk! Guk!
Allesya terkesiap dan sontak menyudahi kegiatannya dalam menghayati panorama yang masih tersaji cantik di depannya di kala seekor anjing pudel menggonggong riang di depannya.
Anjing berbulu keriting itu mengibas-ngibaskan ekor seraya sesekali kembali berseru dengan gonggongan menyapanya. Moncong panjangnya tampak mendorong sebuah mainan gigit berbetuk tulang mendekati Allesya, seolah sedang memberi isyarat bahwa si Anjing ingin Allesya mengajaknya bermain lempar tulang mainan. Badan kecil berkaki empatnya dibawa berputar dan melompat diikuti lidah yang terus menjulur seakan tidak sabar untuk segera bermain.
Allesya terkikik melihat tingkah si Anjing yang terlampau menggemaskan baginya. "Hai anjing kecil, apa kau ingin aku melempar tulang mainan ini?"
Guk!
Si Anjing Pudel kembali menggogong sebagai jawaban iya.
Suara kikikan tawa Allesya kembali terdengar. "Baiklah. Aku lempar ya..," diambilnya tulang mainan lalu di lempar sedikit jauh.
Si Anjing Pudel langsung berlari lincah dan kembali seraya membawa mainan di dalam gigitannya lalu meletakkannya tepat di bawah kaki Allesya. "Kau memang anjing pintar," puji Allesya dengan tangan terulur, memberi usapan lembut di kepala hewan berbulu keriting tersebut.
Guk!
Kegiatan itupun berlangsung hingga beberapa kali. Keberadaan si Anjing seperti sukses membuat Allesya lupa sejenak akan kegalauan yang sudah beberapa hari melanda hatinya. Hingga akhirnya keasyikan di antara Allesya dan si Anjing Pudel harus usai karena seorang pria muda menyapa dengan napas ngos-ngosan tak beraturan.
"Maaf Nona, apakah anjingku telah mengganggumu?" ia bertanya di sela usaha mengatur napasnya.
❣
❣
❣
Bersambung~~
Waah...! Sepertinya Sean bakal dapat saingan nih🤭🤭
Maaf ya para Readers tersayang. Kemarin Nofi nggak bisa up karena setelah menjalani Check medical di Rumah Sakit Taiwan, ni badan langsung kembali tepar. Pusing banget, serasa ada kunang-kunang yang muter-muter tak sopan di atas kepala. Perut juga mual-mual seperti diaduk-aduk. Belum lagi tuntutan kerja masih terus berjalan meski badan lagi sakit.
Mohon dimaklumi ya, jangan kabur duluan.. Bisa nangis akooh..😭 Tetep kasih dukungan pada karya recehku. Nofi maksa lo ini.🤭🤭
Terima kasih.. Wo ai nimen🥰
__ADS_1