Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 79


__ADS_3


CEKLEK!


Terdengar suara tarikan handle, disusul daun pintu yang langsung terbuka lebar, diikuti badan gagah menyembul masuk.


GLEK!


Sesaat Sean terkesima, pemandangan yang tersaji di depan mata sukses membuat kinerja tenggorokan kesusahan mendorong turun cairan saliva yang terasa berat.


Sesuatu di dalam tubuhnya berdesir deras. Menguji pikiran yang dituntut untuk tetap berpikir waras. Memancing sesuatu yang terlelap untuk bangun dan mulai mengeras.


"Errgg! Aku bisa menggila karena yang kulihat sungguh menggoda!" batin Sean berteriak frustrasi.


Hanya melihat bibir ranum Allesya saja sudah cukup membangkitkan hasrat kelakiannya, apa lagi melihat tubuh polosnya yang sama sekali tak terhalau seutas benangpun. Membuat yang di bawah nyut-nyutan.


Sial! Ini sungguh ujian teramat berat dalam melawan hasrat libidonya agar tidak menguar lebih jauh.


Rintihan yang terdengar memaksa Sean untuk segera menguasai situasi. Menghempaskan segala pikiran kotor di otak meski tak tahu pasti sekuat apa dia akan bertahan.


Kecemasan kembali menggerayangi perasaan si Pria ketika Allesya terlihat kesakitan di sela kecanggungan karena tubuh polosnya tertangkap jelas oleh lensa biru Sean. "Aiishh! Ini sangat memalukan! Hiks!" batin Allesya berseru.


Tidak ingin terlalu lama membiarkan tubuh polos itu merebah seksi di atas atas lantai, Sean membungkus tubuh Allesya dengan handuk yang baru saja disabet dari rak pojokan kamar mandi. Membawa tangan kekarnya membopong tubuh kecil yang hanya berbalut handuk itu menuju ranjang.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau bisa terjatuh Allesya? Katakan bagian mana yang sakit," beberapa kalimat wujud kecemasan terlontar secara beruntun dari sepasang bibir Sean.


Alih-alih segera menjawab, rasa malu yang melebihi rasa sakit ditubuhnya mengajak Allesya kian membisu. Memilih memalingkan muka merahnya agar tak bertemu tatap dengan muka Sean yang berjarak sangat dekat.


TOK! TOK! TOK!


Suara ketukan pintu yang menguar tiba-tiba, sontak mengalihkan sementara atensi Sean. "Itu pasti petugas hotel, tunggulah sebentar," beranjak dari tepi ranjang, menuju pintu keluar.


"Fyuuhh..!" setidaknya Allesya bisa bernapas lega untuk sesaat. Meski ia harus kembali gugup ketika Sean kembali dengan beberapa jenis obat di tangannya.


"Biar aku obati dulu kakimu," tangan menyentuh kaki Allesya lalu diletakkan di atas pahanya dan mulai mengobati beberapa luka lecet akibat terlalu lama menggunakan high heels.


"Kenapa kau tadi bisa terjatuh?" tahu akan ketidak nyamanan yang dirasa Allesya, Sean mencoba mencairkan suasana. Mata masih tertuju ke arah luka yang tengah diobati.


"Karena kurang berhati-hati," jawab Allesya seperlunya.


Beberapa lembar plester luka sudah melekat di kedua kaki Allesya. Sean lanjut menyusuri bagian lain kaki ramping itu, kali aja masih ada luka lain yang terlewatkan. Hingga sebuah luka di lutut menarik perhatiannya.

__ADS_1


Desah*n berat meluncur begitu saja dari bibir Sean. Sesuatu kembali bergejolak, seolah ingin merobohkan benteng pertahanan yang sudah susah payah dibangun ketika matanya menyusuri kulit mulus kaki Allesya terlalu jauh. Bahkan melewati di mana letak lutut berada.


Tubuh yang hanya terbelit handuk memudahkan mata mengexplore paha putih dan mulus yang tersaji. Andai saja itu hanyalah sepotong paha ayam goreng krispi Kentucky, KFC atau Mc Donal's, pasti dia tidak akan semerangsang saat ini. Tapi kenyataan itu adalah dua paha yang dulu pernah ia buka dan jajah dengan paksa.


Ayolah, jangan terus menghujat Sean sebagai pria mesum, bagaimanapun juga ia adalah pria perkasa normal dilengkapi tingkat libido tinggi. Jadi lumrah saja kalau adik kecilnya mulai bereaksi jika dihadapkan dalam situasi semacam sekarang ini. Apalagi semua aset yang ada pada Allesya teramat menyandukan baginya.


(Di sini ada nggak sih reader cowok, kalau ada pasti tahu banget apa yang dirasakan Sean. Nggak mungkin nggak nyut-nyutan ngilu itu si adek. Wkwkwk)


"Lututmu berdarah," ucap Sean lalu kembali mengobatinya.


"Ahh..! Bisakah pelan sedikit? Kau terlalu kasar," sungut Allesya.


Karena otak sudah berada dalam kuasa pikiran kotor yang hakiki, desah*n serta protesan Allesya justru terdengar seksi di pendengaran Sean, bagaikan seorang wanita yang tengah merajuk ketika bermain panas di atas ranjang.


"Maaf, aku akan pelan-pelan."


"Tolong sedikit mundur, aku ingin kembali ke kamar mandi," pintanya setelah Sean selesai mengobatinya.


Tubuh yang sudah mencondong ke arah bibir ranjang harus kembali terhuyun ke tempat semula karena sebuah tangan besar menariknya dan menghalau pergerakan yang ingin memberontak dengan mencengkeram kedua pundak polosnya.


Allesya kembali cemas. Tatapan Sean sungguh mengintimidasi, membuat jantungnya bergerak cepat di luar ritme normal. "Jangan macam-macam Sean!" sebuah peringatan dilontarkan.


Tak menjawab, sepertinya tingkat kewarasan Sean telah berada di bawah naungan kehasratan ingin mencumbu. Bibir sudah sangat gatal ingin menyesap yang manis, Sean membunuh jarak di antara mukanya dan muka Allesya.


Sayang sekali, ciuman Sean meleset, Allesya buru-buru menghindar dengan menoleh ke samping, hingga bibir hanya mendarat pada rahang tirusnya.


Tidak masalah, Sean masih menyukainya, rahang seksi itu juga sangat menggoda baginya. Keinginan untuk menikmati belumlah berakhir. Kecupan demi kecupan menjalar hingga bermuara ke leher.


"Sean hentikan!" mendorong dada lebar di depannya namun lagi-lagi Allesya tak berkutik karena Sean mengunci kedua pergelangan tangannya dengan satu cengkeraman.


Kulit leher yang basah karena jejak saliva sudah terhias beberapa pola kupu-kupu merah. Menerbitkan senyuman bangga di bibir Sean. Tak peduli akan reaksi tak suka Allesya, dia terus melanjutkan permainannya. Tangan menggerayang menuju benda kenyal di balik kain putih yang hanya membungkus sebagian tubuh Alleysa.


SREK!


Hanya dengan satu tarikan, lilitan handuk beringsut jatuh di atas ranjang. Tubuh polos kembali tersaji di depan mata dan siap disantap dengan lahap.


"Aahhk! Jangan bertindak gila kau Sean!" sentak Allesya yang sudah berada di bawah kuasa kungkungan tubuh gagah yang masih berbalut tuxedo itu.


"Maaf, aku tidak bisa bertahan lebih lama Allesya."


Sepasang mata kian berkabut gairah, desiran darah di dalam otak terus membuncah, debaran jantung sudah tak terarah. Sean kembali kalap, pertahanan n*fsunya nyatanya perlahan mulai roboh.

__ADS_1


Diremasnya dua bukit dengan gemas, menghisap dua biji bewarna peach secara bergantian. Semakin Allesya meronta semakin gencar Sean bermain lidah. Ahh ... ini baru bermain dengan sepasang gunung kembar miliknya tapi sudah senikmat ini. Begitu batin Sean.


Gila memang! Sesuatu yang sudah menjadi candu memang begitu sulit diacuhkan bahkan dilupakan. Bagaikan candu nikotin yang memabukkan. Membuat sakit kepala dan frutrasi jika berhenti menyesapnya.


"Lakukanlah sesuka hatimu, dan aku akan semakin membencimu," kegiatan Sean terhenti seketika saat sebuah gertakan keluar dari sepasang bibir Allesya.


Tersadar dari keterbuaian, ditariknya muka yang masih tenggelam di antara kedua benda kenyal itu. Sean tertegun setelah menyadari bahwa Allesya sedang menangis sekarang.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh melakukannya denganmu? Kau istriku sekarang," menatap lekat muka Allesya yang masih berbadan polos di bawahnya.


"Apa kau lupa alasan kita menikah?" ia bertanya balik. Membalas tatapan pria di atasnya.


Sean mendes*h pasrah, tahu bahwa pernikahannya bersama Allesya bukanlah sesuatu yang diinginkan. Tepatnya hanya Sean yang menyukai pernikahan ini tapi sebaliknya bagi Allesya.


Menarik ke samping tubuh yang masih mengukung istrinya, mengambil handuk dan menutup kembali tubuh polos tersebut.


"Maaf, aku tidak akan meminta hingga kau mengijinkannya," ucapnya tapi tidak sepenuhnya menyesal. Baginya, ia tidak salah karena apa yang dia lakukan adalah haknya sebagai suami. Hanya saja ia akan mencoba memahami dan memberi waktu untuk Allesya untuk menata hati, hingga tiba saatnya Allesya siap memberikan kewajibannya sebagai istri.


GREP!


"Apa lagi ini Sean, kenapa kau malah menggendongku?!" Allesya terkesiap akan tindakan tiba-tiba Sean.


"Tubuhmu pasti masih merasakan sakit, aku akan membantumu mandi."


"Tidak! Aku bisa mandi sendiri," tolaknya yang masih meronta.


"Menurutlah Allesya, aku tidak akan bertindak jauh," tak mengindahkan penolakan yang didengar. terus membawa tubuh Allesya ke kamar mandi.


"Aku malu Sean."


"Kau tidak perlu malu, karena aku sudah melihat setiap lekuk tubuhmu."


💚


💚


💚


Bersambung~~


Belooomm...! Belom waktunya mereka bermain kuda-kudaan. Kalian itu ya... ngebet banget perasaan. Nofi masih ingin berlagak Folos dulu🤣

__ADS_1


Jangan lupa..! Injek gambar like, kasih komentar hot! Agar Author paling syantiek sekebon binatang ini nggak galau karena kesepian.


Terima Kasih.. lop you yang bwanyak!😘😍


__ADS_2