Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 114


__ADS_3


Bumi masih setia pada peran sejati. Berputar pada poros inti, mengantar hari yang terus silir berganti. Seiring dengan waktu yang terus melenggang pergi, menyisakan kenangan kisah terpatri.


Di sebuah salah satu ruangan mansion, tempat kediaman baru Sean dan Allesya. Sepasang mata tajam terus fokus pada layar laptop yang masih menyala terang. Pergerakan jari-jari di atas keyboard menciptakan irama ketukan tak teratur. Pria yang tinggal dalam kurung waktu hitungan hari akan menjadi seorang Daddy itu tampak berkutat pada pekerjaannya.


"Kak Sean, aku turun ya," ucap Allesya, lebih tepatnya ia tengah meminta ijin sekarang. Sudah satu jam lebih dia berada di atas pangkuan kokoh suaminya.


"Jangan dulu, Allesya. Aku masih merasa mual," meski konsentrasinya sebagian tertuju pada komputer, namun tak menyurutkan hasrat untuk terus menghirup aroma tubuh istri kecilnya.


Terlihat beberapa kali, calon Daddy itu menjeda pekerjaannya untuk sekedar mengendus harum surai coklat Allesya, setelah puas ia akan kembali melanjutkan pekerjaannya dan itu terus terulang hingga mual di perutnya mereda.


"Kau sungguh aneh, Kak Sean. Aku yang hamil tapi kau yang ngidam," seloroh si Wanita yang tengah hamil menginjak bulan ke sembilan itu.


Iya, selama masa kehamilan Allesya, justru Sean lah yang merasakan segala gejala kehamilan sang Istri atau biasa disebut kehamilan simpatik. Hampir setiap pagi ia mengalami morning sickness dan tak jarang di waktu tertentu rasa mual juga kembali menyerang. Dan jika itu terjadi hanya aroma tubuh Allesya yang mampu menghilang rasa tidak nyaman itu.


Bahkan, pria tampan bermanik biru itu juga merasakan ngidam makanan dan suasana hati yang mendadak berubah layaknya wanita hamil.


Sean tersenyum hangat di sela kefrustrasian dalam menghadapi rasa mualnya. Ada kebahagiaan yang tercetak. Kehamilan Allesya adalah salah satu anugerah terindah baginya.


Ditutupnya layar pipih di atas meja menandakan ia menyudahi pekerjaannya. Sedikit menggeser tubuh Allesya ke samping hingga memudahkan tangan menjangkau perut besar di balik pakaian hamil itu. Lalu sedikit membungkukkan tubuh, mengecup penuh sayang bulatan besar di depan mukanya.


"Hai ... prince dan princess-nya Daddy, sedang apa kalian di dalam?" Sean menciptakan interaksi pada calon bayi kembar di dalam perut sang Istri.


Det!


Det!


Calon Daddy tampan itu terkesima saat merasakan dua tendangan di perut Allesya, seolah para calon malaikat kecilnya baru saja memberi respon dari perkataannya.


Allesya terkikik melihat reaksi lucu muka suaminya. "Sepertinya mereka menyukaimu Kak," ucapnya.


"Tentu saja. Karena aku adalah calon Daddy yang keren untuk mereka," ucap Sean penuh percaya diri. Lalu kembali menaruh atensinya pada perut bulat Allesya. "Percayalah, Daddymu ini sangat tampan dan keren. Dan kalian pasti juga akan bangga karena memiliki Mommy yang sangat cantik seperti bidadari."


Det!


Det!


Sepasang suami istri itu kembali terkikik karena kembali mendapatkan respon dua tendangan dari dalam perut.


"Aku tidak akan menyangkalnya bahwa Kak Sean memang tampan dan keren." Allesya membelai rambut blonde suaminya.


Sean lantas menarik kepalanya dan mengambil posisi duduk tegak. Matanya mendamba muka Allesya yang menurutnya semakin cantik di masa kehamilannya. "Jadi kau mengakuinya?"


"Aku sudah mengakui ketampananmu sejak pertama kali kita bertemu di kota Liverpool. Tepatnya saat aku masih berusia enam tahun," Allesya menjeda ucapannya, mencoba mengingat sesuatu. "Hmmm ... sejak lima belas tahun yang lalu. Itu berarti selama itu juga aku mengagumi ketampananmu Kak Sean," terangnya kembali.


Sean melabuhkan tatapan intens. Menikmati keindahan pahatan di setiap lekuk muka istrinya. "Aku ingin kau menciumku," pinta Sean terkesan manja, mungkin karena bawaan kehamilan simpatik. "Cium yang banyak, di sini, di sini, dan di sini," imbuhnya lagi seraya menunjuk bagan kening, pipi, dan bibirnya.


"Tapi ada syaratnya," ucap Allesya.


"Haruskah memakai syarat?"


"Harus."


"Apa?"


"Kalau aku cium, Kak Sean tidak boleh meminta lebih."

__ADS_1


Mendengus geli, paham arah tujuan pembicaraan sang Istri. "Aku tidak akan memintanya untuk saat ini, karena aku tidak ingin menyakitimu dan bayi kembar kita. Kalian sangat berharga."


CUP!


Allesya mencium di kening.


CUP! CUP!


Turun di kedua pipi.


CUP!


Kecupan trakhir di bibir dengan durasi sedikit lama, karena Sean tak membiarkan Allesya menyudahinya dengan cepat. Pria itu menyumbu sepasang benda ranum itu dengan lembut. Mensesap rasa manis yang tak akan pernah habis.


"Ssst..!"


Perpagutan bibir harus berhenti saat Allesya tiba-tiba merasakan mulas di perutnya.


"Sayang, kau kenapa?" Sean langsung panik melihat istrinya meringis seperti merasakan sakit di perutnya. "Apa di sini sakit?" calon Daddy itu terus mencari tahu seraya mengusap hati-hati perut besar itu.


"Kak Sean, sstt! Rasanya sakit sekali," rintih Allesya yang masih berada di pangkuan Sean. "Sepertinya aku mau melahirkan?"


"Kita ke rumah sakit sekarang."


"Aku masih bisa berjalan sendiri," tolak Allesya lembut ketika Sean berniat menggendongnya.


"Aku tidak akan membiarkan hal itu," ucap Sean tak ingin dibantah.


°°°


Kontraksi perut yang selalu datang pada setiap beberapa menit, membuat Allesya harus lebih bersabar untuk menahan sensasi mulas yang sangat luar biasa hingga pembukaan sempurna. Bahkan berbagai posisi sudah diambilnya agar menemukan kenyamanan.


"Kak aku ingin berdiri." Berada di posisi duduk, Allesya mengusap tangan besar yang sedari tadi melingkari perutnya, sebagai isyarat agar Sean membantunya.


"Apa kau kuat?" tanya Sean, ia masih menyempatkan bibir untuk melabuh kecupan di pundak Allesya.


Si Wanita berusaha mengukir senyuman tipis di sela usahanya menahan nyeri di punggung dan perutnya. Sungguh, keberadaan sang Suami meluruhkan segala kecemasan pada dirinya. Pembawaan Sean yang tenang seolah mengalirkan sebuah sugesti positif. Tanpa ia ketahui, bahwa suaminya itu jauh lebih cemas darinya.


"Aku akan kuat karena Kak Sean ada di sini," balasnya.


"Baiklah, tapi jangan dipaksakan jika tidak kuat ya," tutur Sean penuh perhatian dan langsung menerima angggukan patuh.


Tak luput dari pengawasan ketat dan tak lepas dari pegangan posesif Sean, Allesya mengitari ruang observasi yang merupakan tempat jalani persalinan kala 1. Fase di mana berlangsungnya pembukaan serviks, mulai dari bukaan 0 sampai 10. 


"Sstt..! Huh! Huh!" ia berdesis menahan sakit, langkah kakinya terhenti karena rasa mulas datang lagi.


"Apa mulasnya kembali lagi?" tanya Sean.


"Iya Kak, rasanya nikmat sekali," Allesya masih sempat berkelakar.


Sebuah kecupan kembali mendarat di pucuk kepala Allesya. "Maafkan aku."


"Maaf untuk apa? Lagi-lagi kau berkata maaf."


"Maaf karena aku tidak bisa menggantikan posisimu saat ini."


"Ini memang sudah peranku sebagai calon Ibu, Kak Sean. Sstt..! Huh...!"

__ADS_1


Sean menuntun istrinya untuk kembali duduk, lalu bersimpuh di depan perut buncit yang sudah tampak menurun. "Kedua anak Daddy, tolong kerja samanya ya. Kasihan Mommy kalian kesakitan." Allesya tersenyum hangat melihat interaksi manis antara calon Daddy dan anak-anaknya itu.


"Cepatlah keluar untuk bertemu dengan Daddy dan Mommy. Daddy berjanji akan mengajak kalian berkeliling dengan helikopter dan membelikan sebuah pulau untuk kalian," bisik Sean kembali terdengar seperti sebuah rayuan. Membuat Allesya mendengus geli. Bahkan seorang dokter dan perawat yang juga berada di dalam satu ruangan tampak tersenyum.


Sepertinya interaksi yang diciptakan Sean memperlihatkan peningkatan. Cairan bening dan kental tiba-tiba mengalir di antara kedua paha Allesya karena ketuban yang pecah. Bersamaan dengan itu, serangan kontraksi dengan itensitas kenyerian lebih tinggi kembali datang disusul suara rintihan kesakitan Allesya.


Seorang dokter dan perawat yang bertugas langsung mengambil tindakan. Melakukan serangkaian pemeriksaan dan mengecek pembukaan serviks secara manual.


"Tuan, istri anda sudah mengalami pembukaan sempurna dan siap untuk melahirkan. Mari saya bantu pindah ke ruangan kala 2," terang sang Dokter.


"Baik, Dok."


Di ruang bersalin kedua, Allesya sudah berbaring di atas ranjang bersalin. Sang Dokter pun siap memberi aba-aba mengejan untuk mendorong bayi keluar.


"Sekarang coba tarik napas lalu keluarkan perlahan. Silahkan anda mengejan ketika saya memberi intruksi ya," ucap sang Dokter dengan ramah setelah membuka lebar kedua kaki Allesya.


"Allesya sayang, kau pasti bisa," Sean memberi suport lengkap dengan kecupan hangat di pelipis.


"Segaralah mengejan sekarang!" Sang Dokter memberi arahan.


"Emmmpp...! Huh! Huh! Kak Sean ... sakit!"


"Iya Sayang, bertahan ya. Maafkan aku."


"Rasanya lebih sakit dari pada saat kau memperk*saku dulu!" racau Allesya, seketika membuat petugas yang membantu persalinan terperangah.


Sementara itu, bagaimana dengan Sean? Sudah jelas ia tengah menahan rasa malu setengah mati. "Sstt.. Allesya bertahanlah, aku ada di sini," ia mengalihkan rasa tidak nyamannya dengan terus memberi dukungan ke istri.


Setelah memberi jeda beberapa detik dokter kembali memberi aba-aba. "Sekali lagi ya Nona. Jangan tegang, terus ikuti instruksi dari saya. Baik, mengejanlah!"


"Emmmmpp! Huh! Huh!" Allesya mengejan lebih kuat.


"Kepala bayi pertamanya sudah kelihatan Nona kurang sedikit lagi," ucap Dokter.


"Kak Sean, rasanya sakit sekali!" rintih Allesya.


Proses persalinan terus berlangsung. Suara tangis bayi pertama terdengar melengking memenuhi langit-langit ruangan. Selang beberapa menit, tangisan bayi kedua kembali terdengar.


Sean yang kini sudah resmi menyandang status ayah tak bisa menahan rasa haru yang datang membanjiri jiwa. Tanpa terasa kebahagiaan yang berseru di hati mendorong air mata untuk membasahi bingkai netranya. Dilabuhkannya kecupan-kecupan penuh syukur di muka cantik Allesya. "Kau wanita yang luar biasa, Sayang. Terima kasih atas segala perjuangan dan pengorbananmu. Aku sangat mencintaimu." bisik Sean. Suaranya bergetar karena luapan perasaan yang tidak akan cukup diungkapkan dengan untaian kata saja.


Tenaga yang baru saja terkuran habis, membuat Allesya kepayahan untuk berlisan kata. Namun, percayalah, binar cahaya di muka lelahnya serta garis senyuman di bibir, menunjukkan betapa kebahagiaan yang dia rengkuh sungguh tak terkira.





Bersambung~~


Siapa yang kemarin request bayi kembar? Nih dah Nofi kabulkan permintaan kalian.😆😆


Terima kasih ya masih setia nemenin kisah cinta Sean dan Allesya...


Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya..


Eeh.. gk kerasa udah senin lagi, boleh dong sumbangkan vote mingguannya🥰

__ADS_1


__ADS_2