
Padang rumput terbentang luas, laksana permadani hijau menyambut dua pasang langkah kaki berpijak. Suara simponi alam mengalun merdu. Arus sungai mengalir lembut, membawa dedaunan kering yang melandai ke permukaan air jernih sebab tangkai tak lagi memangku.
Sepasang anak kecil berseru senang seiring tawa riang yang bersautan satu dengan yang lain. Saling berpagut tangan berhamburan ke tengah sabana hijau yang bergoyang karena belaian manja angin.
"Aaahk! Sakit..! Hiks! Hiks! Kak Sean...," si Gadis kecil merintih kesakitan disusul tetesan kristal bening di pipi ketika kaki salah melangkah hingga membawa tubuhnya terjatuh.
"Esya, apa kau terluka?" menelisik keadaan si Gadis dan seketika dia dibuat terkejut karena melihat banyak luka lebam di tubuh Esya.
"Kak Sean.., hiks!"
"Apa mereka menyiksamu lagi?" Esya mengangguk sebagai jawabannya.
"Tenanglah kau akan baik-baik saja selama ada aku," memeluk sayang tubuh Esya. Tangan terangkat, mendaratkan usapan lembut di kepalanya. "Aku berjanji, aku akan menjadi pria dewasa pelindungmu kelak. Tidak akan ada lagi orang yang akan memukul dan membuatmu bersedih."
Sean terjengkang ke belakang ketika tangan kecil Esya tiba-tiba mendorongnya. Sekali lagi, keterkejutanya bertambah berkali-kali lipat di kala Esya kecil tiba-tiba menjelma menjadi seorang wanita berparas cantik dan melemparnya tatapan penuh kebencian.
"Allesya...," lirihnya masih di ambang rasa tak percaya.
"Kau bohong! Kau tidak menepati janjimu! Nyatanya kau yang merusakku dan membuatku bersedih!" serunya penuh amarah sebelum melangkah pergi, meninggalkan Sean yang masih terpaku tak bisa bergerak.
"Allesya..! Jangan pergi! Kembalilah. Aku mohon jangan meninggalkanku," Allesya tak bergeming. Tubuhnya semakin menjauh, mengecil, dan menghilang bak ditelan ruang tak kasat mata.
"Allesya...!"
Tubuh yang sudah basah bermandi keringat terlonjak kasar dari balik selimut tebal. Napas tersengal patah-patah sebab jantung bertabuh kencang keluar jalur ritme. Netra lembabnya dibawa menyapu ruangan yang masih sama. "Ternyata aku bermimpi lagi."
°°°
Di dalam sebuah kabin pesawat komersial kelas bisnis, Erlan menyempatkan diri menerima panggilan telepon sebelum transportasi udara yang ia tumpangi benar-benar lepas landas.
"Iya sayang, aku sudah berada di dalam pesawat."
(...)
"Obatnya sudah aku minum, tenang saja."
(...)
"Iya baiklah aku janji."
(...)
"Benarkah? Oke, aku akan segera menghubungi jika sudah sampai bandara. Lagian hanya butuh jarak waktu tidak lebih dari satu jam perjalanan."
(...)
__ADS_1
"Bye.. See you, love you."
Panggilan telepon berakhir namun senyum yang terbias tak urung menyurut. Menggiring muka ke arah jendela pesawat di sebelahnya. Pikiran diajaknya kembali menerawang sebuah percakapan antara dia dan seorang pria yang baru ia kenal semalam.
"Apa kau sangat mencintai wanita itu?" sebelum memilih menurunkan kaki dari mobil yang sudah berhenti di depan lobi hotel, Erlan akhirnya nekat bertanya karena tak kuasa menahan sesuatu yang sangat mengusik hatinya semenjak dari sungai Thames tadi.
Sementara Sean memutar leher ke arah Erlan diikuti kedua pangkal alis yang mengerut hampir bersatu, sejurus timbulnya mimik muka bertanya yang tergambar jelas. Bersamaan dengan itu, Erlan melempar senyuman dan gegas memperbaiki pertanyaannya yang sempat terkesan ambigu.
"Maaf tadi aku tidak sengaja melihat foto seorang wanita cantik dari dalam dompetmu," jelasnya mengundang sebuah helaan pasrah dari mulut Sean.
Beberapa detik kebisuan melingkupi pada diri Sean. Bersandar pasrah pada bangku mobil, menikmati kepedihan yang kembali meremas relung hati karena bayangan muka tersakiti Allesya berterbangan di dalam pikiran otaknya.
"Iya, aku sangat mencintainya. Dan sekarang aku menggila karena kehilangannya," jawabnya berterus terang.
Entah mengapa tidak sedikitpun terbesit rasa berat hati ketika mengatakannya kepada Erlan yang notabene orang asing yang baru ia jumpai beberapa saat yang lalu. Dia bahkan tak pernah bercerita perihal Allesya ke Erick yang selalu berharap bisa menjadi tempat menapung segala keluh kesah sang Putra.
Sekilas Erlan termenung. Mengontrol sesuatu yang bertabuh di dalam dada. Menghempas kegamangan yang mengundang resah. Hingga bibirnya kembali bertutur. "Apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengannya?"
"Meminta maaf dan membahagiakannya," jawabnya tegas dan lugas.
"Ada pepatah yang mengatakan 'Cinta tak harus memiliki.' dan itu juga berlaku ketika kau ingin membahagiakannya bukan berarti harus memilikinya," ucap Erlan yang mengandung makna terselubung. "Baiklah aku akan turun sekarang, terima kasih telah berbaik hati untuk mengantarku," tak berniat menunggu respon dari Sean, diajak tangannya mendorong handle pintu disusul langkah kaki yang menuruni mobil. Meninggalkan Sean yang tengah mencerna rangkaian kalimat yang baru ia terima.
"Apakah aku dikatakan egois jika tetap menginginkannya berada di sampingku dan tak kan membiarkan pria ini kembali di kehidupannya? Sama halnya dengan pria ini, aku juga ingin membahagiakan wanita yang kucintai," suara hati Erlan berbisik sendu hingga akhirnya memilih memejamkan mata guna melepas penat. Berharap pesawat segera landing ke daratan Perancis dan melepas rindu dengan wanita kesayangan.
°°°
Meski sebelumnya ada beberapa drama antara Erick dan Sean. Karena niat Erick untuk kembali menikahi Sarah terbilang sangat mendadak. Membuat Sean sedikit menentangnya karena belum ada persiapan apapun meski pada akhirnya dia memilih mundur dan membiarkan kedua orangtuanya kembali merajut kebahagiaan yang dulu pernah sempat hilang.
Baru tadi malam Erick berkata akan menikahi Sarah dalam kurung waktu seminggu. Nyatanya tak lebih dari 24 jam, pria yang sudah menginjak usia kepala angka lima namun masih memancarkan ketampanan paripurna itu sudah mendatangi kediaman Willson dengan membawa sepasang baju pengantin yang pernah ia dan Sarah pakai di saat pernikahan pertama mereka 28 tahun yang lalu. Baju pengantin yang selalu ia simpan dan rawat dengan segenap jiwa.
Tidak ada acara mewah dan megah untuk merayakan hari pernikahan. Hanya sebuah ruang gereja dijadikan tempat saksi bisu di kala mereka mengucap ikrar janji suci pernikahan di depan pendeta. Dan hanya Sean dan Henry yang mengantar sepasang calon pengantin yang tak lagi muda tersebut.
"Putraku, bukankah seharusnya kau kembali memanggilku Papa?" tanya Erick terselubung sebuah tuntutan. Lalu melirik ke arah Sarah dan Henry guna mencari dukungan.
"Jangan memaksa karena aku tidak terbiasa," tandasnya. Terus terang, kebencian dan kekecewaan yang telah lama mengukung hatinya telah merangkak pergi entah sejak kapan, namun dia merasa aneh saja jika tiba-tiba harus memanggil Erick seperti yang dipinta setelah sekian lama sebutan Papa dikuburnya dalam-dalam ke dasar palung hati yang gelap.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Lagian tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini ketika kau mau menerimaku kembali di dalam keluarga," kini mukanya beralih ke Sarah yang lebih banyak mengulas senyuman daripada berucap kata. "Sarah, terima kasih kau masih bersedia memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya," ucapnya penuh haru. Menatap lekat muka cantik Sarah meski sudah menampakan garis-garis menua disusul sebuah kecupan singkat di bibir yang sukses membuat Sarah terkesiap dan tersipu malu seperti gadis perawan.
"Ck! Kalian sepertinya lupa dengan usia yang tak lagi muda," cebik Sean yang sebenarnya iri melihat kemesraan antara Erick dan Sarah.
"Kalian mengingatkanku di saat aku masih muda dulu. Haruskah aku menikah lagi?" kelakar Henry.
"Jika Kakek berniat menikah lagi, sebaiknya buang jauh-jauh ke laut niatmu itu."
"Kau selalu tidak suka melihat Kakek bahagia," sungut Henry.
"Menggelikan," Sean bergidik.
__ADS_1
Alunan nada dering panggilan vidio pada ponsel Erick tiba-tiba menyeruak ke dalam indera pendengaran setiap penghuni ruangan. Memaksa jari untuk segera mengangkatnya.
"Raffaela," ucapnya membaca nama yang tertera di layar ponsel.
Gegas diajaknya ibu jari untuk menekan tombol hijau hingga wajah Raffaela dan raffaresh memenuhi layar ponselnya. Disusul sebuah sapaan gembira serta ucapan selamat atas pernikahan terlontar dari keduanya untuk Erick dan Sarah. Hingga obrolan via video call yang berlangsung beberapa menit tersebut berakhir meninggalkan rona suka cita.
"Sean apa kau masih mengingat kedua sahabat Papa, Raffaela dan Raffaresh?" tanya Erick kepada Sean.
"Bagaimana aku bisa lupa sedsngkan mereka adalah salah satu penanam saham terbesar di Willson Corp," balas Sean.
Seutas senyuman mengulas di muka Erick. "Satu tahun yang lalu Papa berhasil menemukan putri mereka yang sempat hilang selama 17 tahun. Dan kamu pasti terkejut jika tahu putri mereka adalah orang yang dulu pernah bekerja merawat Sarah," terangnya seraya melempar senyuman hangat ke Sarah yang ternyata bersambut balas.
"Memang siapa dia? Apakah Ana?" tanya Sean diselingi sebuah pradugaan.
"Bukan dia, tapi gadis muda yang bernama Allesya," bebernya.
Sementara Sean, apa yang terjadi dengannya saat ini? Tentu saja ia terkejut luar biasa bercampur rasa tak percaya. Dadanya berdenyut dalam seolah takut bahwa praduganya bahwa sang Papa tahu menahu akan keberadaan Allesya meleset. "Jadi kau..," kalimatnya tersendat, mengatur deguban jantung yang membuat suaranya bergetar. "Jadi kau sudah lama tahu di mana Allesya berada?" tanyanya meyakinkan.
"Tentu saja aku mengetahuinya. Aku bahkan sering bertukar kabar dengannya," jawabnya yang memang tidak paham akan pelik masalah antara Sean dan Allesya selama ini.
DEG!
"Kenapa kau tidak memberitahuku sejak dulu?!" dibawa tubuhnya beranjak dari duduk. Melangkah pergi dengan segera meninggalkan Erick yang masih memasang muka bertanya-tanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" mencoba mencari jawaban dengan bertanya kepada Sarah dan Henry yang ternyata sudah melempar tatapan menghakimi.
"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang? Apa kau tidak tahu aku sangat merindukannya? Sarah bahkan berkali-kali meminta bertemu dengan Allesya," sungut Henry memasang muka kecewa dan membawa tubuhnya melenggang pergi bersama tongkat kesayangannya.
Erick kembali melirik ke arah Sarah. "Sayang, sungguh aku tidak mengerti dengan situasi saat ini. Memangnya apa salahku?" bukannya mendapat jawaban, lagi-lagi Erick kembali dibuatnya tercengang.
"Nanti malam jangan tidur bersamaku karena aku kecewa denganmu," sengit Sarah yang juga gegas melenggang pergi dengan perasaan dongkol. Meninggalkan Erick yang membatu dengan segala ketidak pahamannya.
°°°
Di luar bangunan mansion. Sean tengah menelepon asisten pribadinya. "Siapkan tiket penerbangan menuju Paris saat ini juga."
❣
❣
❣
Bersambung~~
Poor Erick, baru nikah seharusnya merasakan MP kan? Kandas sudah..😆😆
Dari awal cerita, Erick memang tidak tahu menahu tentang hubungan Sean dan Allesya. Dan begitu juga dengan kedua ortu Allesya.
__ADS_1