Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 87


__ADS_3


Bersikap manjalah kepadaku, jadikan pundakku sebagai tempat bersandarmu, bergantunglah kepadaku, berhamburlah ke dalam dadaku.


Begitu manis didengar, hingga potongan cuplikan kalimat yang terlontar dari bibir Sean beberapa saat yang lalu terus terngiang di otak Allesya.


Bagaikan mantra ajaib dari dunia sihir, rangkaian kata indah itu seolah membawa jiwa Allesya terbang bersama peri-peri bersayap, menembus terpaan angin cinta yang membuai.


Istri mana yang tidak meleleh, jika mendapatkan untaian kalimat yang begitu mengayomi dari sang Suami.


"Bukankah kau bilang akan membelikannya untukku?"


Allesya terkesiap, bangun dari terlenanya lamunan. Menggiring muka ke samping, hingga mata menemukan sosok kekasih tampan yang tengah memandangnya. "Sean... kau mengagetkanku," protesnya.


"Sebenarnya apa yang kau lamunkan?"


"Aku hanya sedang menikmati pemandangan sungai Seine," kilahnya. Memutus tautan mata dengan Sean, menjadikan genangan air sungai sebagai objek pandang.


Sean mengulas senyuman. Hingga sebuah kekehan terdengar ketika melihat candy cotton di tangan Allesya yang ternyata hampir habis. "Bukankah kau tadi bilang ingin membelikannya untukku?" ia mengulang kembali pertanyaan yang belum sempat terjawab oleh Allesya tadi.


Seketika senyuman kikuk mengulas. "Ee? Maaf lupa. Ini masih ada sedikit, mau?" menyodor permen kapas ke arah bibir Sean.


"Suapi aku."


Sangat patuh, tanpa protes dan debat atau ba bi bu lainnya, menggunakan jari telunjuk dan ibu jari untuk mencubit sedikit bagian permen dan menyuapkannya ke Sean.


BLUSH...


Pipi yang sudah merona alami kian memerah, Sean mel*mat lembut kedua ujung jari telunjuk dan ibu jarinya, membersihkan sisa permen yang begitu manis. Sensasi hangat dan geli di ujung jari bagaikan sengatan listrik bertegangan kecil, menjalar ke seluruh tubuh, merangsang sesuatu hasrat yang pernah ia dapatkan di dalam mimpinya.


"Ihh..! Apa kau tidak jijik?"


"Aku bahkan bisa melakukannya lebih dari ini, tapi tidak di sini. Ahk!" niat menggoda namun berakhir pada rasa sakit di perut karena sebuah cubitan kecil.


"Kau masih saja mes*m Sean!" umpatnya.


Tergelak, respon ketus dari Allesya sungguh menyenangkan.


"Permisi Tuan, apa kau tidak ingin membeli sebuah gembok?"


Perhatian sepasang suami istri muda itu seketika beralih kepada seorang bocah lelaki yang baru saja menawarkan dagangannya.


"Tidak, terima kasih," tolak Sean.


"Tapi Tuan, akan sangat sayang sekali jika anda melewati tradisi romantis penggembokan cinta di jembatan ini. Aku lihat, sepertinya anda datang bersama kekasih anda. Belilah satu gembok miliku, ada berbagai bentuk dan warna, anda bisa memilih sesuai selera anda," si Penjual masih keukuh menawarkan dagangannya. Tanpa memperdulikan garis kerutan di dahi Sean, menandakan ia tidak begitu paham dari maksud perkataan si Penjual.


Sekilas ia tampak melirik ke Allesya yang tampak berekspresi biasa-biasa saja karena memang selama tinggal di Paris ia sudah tahu menahu tentang tradisi di Jembatan Gembok Cinta.


"Apa maksudnya?"


Si Penjual tersenyum ramah. "Anda sekarang sedang berada di Jembatan Gembok Cinta atau biasa disebut dengan Pont des Arts Bridge. Coba anda lihat pemandangan di sini Tuan. Ada banyak gembok yang berjejer di dinding jembatan. Banyak pasangan menuliskan nama mereka di gembok ini kemudian mengunci cinta mereka secara simbolik dengan menggembok di dinding jembatan lalu kuncinya dibuang ke sungai Seine. Mereka meyakini bahwa tradisi ini bisa membuat cinta mereka abadi," jelas si Penjual yang memang lebih tahu akan sejarah Jembatan Tembok Cinta yang membelah sungai Seine itu.



Alih-alih memberikan apresiasi akan penjelasan si Penjual dengan membeli dagangannya. Mimik muka tak tertarik akan kisah Jembatan Gembok Cinta justru menjadi responnya. Membuat si Penjual terheran dan begitu juga Allesya.

__ADS_1


"Kau terlihat masih kecil, harusnya kau belajar di rumah atau bermain bersama teman-temanmu, bukan malah berjualan di sini," Sean mengalihkan topik.


"Ibuku sedang sakit Tuan, jadi saya menggantikannya untuk berjualan untuk membeli makanan," terangnya, tiba-tiba kesenduan tercetak di mukanya yang terlihat masih polos.


Mendengar keluhan, Sean langsung mengeluarkan beberapa lembar 100 pounds dari dompet dan memberikannya kepada si Penjual itu.


"Ambil ini dan pulanglah, aku kira ini cukup untuk membelikan obat ibumu dan membeli stok makanan untuk sebulan."


Rona berseri seketika bersinar di muka si Penjual. Dengan tangan bergetar diterimanya uang yang berjumlah tak sedikit itu dari tangan terulur Sean. "Tuan, uang ini banyak sekali, aku bahkan bisa membayar tunggakan sekolahku dengan uang ini. Terima kasih Tuan," ucap penuh syukur mengiringi keharuan yang dirasakan.


Dan ternyata, ada hati lain yang tengah menyimpan kekaguman akan sikap Sean. Meski terlintas juga kekecewaan karena Sean tampak sekali tidak tertarik untuk memasang gembok bertuliskan namanya dan Sean di Jembatan Gembok Cinta.


"Pulanglah, Ibumu pasti menunggumu," tutur Sean.


Senyumannya mengembang sempurna. "Baik Tuan. Oya, hari minggu saya dan ibu akan pergi ke gereja dan kami pasti akan berdoa kepada Tuhan untuk kebahagiaan Tuan dan pasangan Tuan," ucapnya tersirat akan ketulusan yang benar-benar dari hati. Lalu berlari meninggalkan Sean dan Allesya. Seolah sudah tidak sabar menunjukkan uang yang dia dapat kepada sang Ibu. 'Ibu pasti akan sangat senang,' begitulah batinnya.


"Seharusnya kau membeli satu gembok tadi," cicit Allesya setelah kepergian si Penjual Kecil.


"Itu hanya mitos Allesya..."


"Tapi apa salahnya jika kau melakukannya untuk hubungan kita?" muka yang cemberut kian kusut. Kecewa akan ketidak pekaan sang Suami.


"Allesya, kau lucu sekali. Terlalu percaya dengan mitos."


"Iya.. iya.. terserah kau saja. Lagian hubungan kita ini tidaklah penting," memutar tubuh dengan dua kali hentakan kaki, menandakan sebuah kekesalan tengah menggumpal di dada, lanjut melangkah pergi meninggalkan Sean, menenteng perasaan dongkolnya.


Sean terpaku pada pijakannya, melihat punggung Allesya kian mengecil. "Allesya... Apa kau marah hanya karena hal ini?" tanyanya sedikit berteriak.


"Aku akan pulang sendiri!" sahutnya, sedikit meninggikan volume suara tanpa menghentikan ayunan kaki yang kian membentang jarak dengan Sean.


°°°


Kaki berayun menyusuri menyusuri jalan berlapis block paving, memasuki sebuah jembatan yang menghubungkan daratan di seberang sungai. Hingga mau tidak mau, kaki berhenti mengayun ketika tubuh besar Sean menghadang tepat di depannya. Menampilkan muka berhias senyuman manis seolah menggambarkan tidak ada sebuah rasa bersalah di sana.


"Allesya sayang, berhentilah marah," pinta Sean.


"Tidak ada yang marah di sini, Sean," membuang muka ke sembarang arah.


Sepasang bibir terlipat ke dalam, menahan suara tawa agar tidak mencelos terlalu frontal. Perasaan senang menuntun mata untuk memandang lebih dalam muka cantik yang masih dalam mode masam.


"Apa kau juga berharap kita bisa bersama selamanya, menjalin kasih yang abadi?"


Bibir mengerucut karena cemberut itu masih mengatup. Enggan menjawab pertanyaan yang tertangkup di alat pendengaran.


"Allesya, coba kau dengar dulu penjelasanku. Tidak mengikuti tradisi memasang gembok di dinding jembatan itu berarti kita telah berpartisipasi meringankan beban pemerintah kota," penjelasan Sean berhasil membuat Allesya melabuhkan atensi penuh kepada Sean.


"Maksudnya?"


Sean kembali menampilkan seutas senyuman di bibir. " Coba kau pikir, jika dalam sehari puluhan gembok terpasang ada berapa ton berat beban yang akan ditampung badan jembatan dalam setahun?" menjeda penjelasannya sejenak, memberi kesempatan Allesya untuk mencerna perkataannya.


"Kalau sampai berton-ton berat yang ditampung kemungkinan jembatan bisa rubuh," Allesya melempar asumsi dengan muka seriusnya.


Mengayak gemas surai coklat Allesya. "Tepat sekali. Ternyata istriku ini tidak terlalu bodoh."


"Hish!! Apa susahnya berkata aku ini pintar," sungut Allesya.

__ADS_1


"Tradisi konyol tersebut bisa menyebabkan tiga masalah besar, yaitu kerusakan yang signifikan pada warisan kota, risiko keamanan pengunjung, serta pencemaran sungai karena jutaan kunci logam mengendap di dasarnya.”


Ekspresi takjub terlukis di muka Allesya. "Aku bahkan tidak berpikiran sampai ke sana. Kau sungguh luar biasa Sean."


"Apa kau sedang memujiku sekarang?"


"Tentu saja."


"Apa kau masih marah kepadaku?"


Kembali melempar muka ke arah lain. "Masih marah sedikit."


"Tapi tadi kau bilang tidak ada yang marah di sini," melempar balik kalimat Allesya beberapa saat yang lalu.


Mendengus kesal. "Bisa tidak untuk tak terlalu jujur? Menyebalkan sekali," cebik Allesya. Sean mendengus geli.


Sean sangat bahagia karena secara tidak langsung Allesya menunjukkan sikap membukakan hati untuknya. Mencoba memaklumi akan kemarahan Allesya karena keengganan Sean memasang gembok cinta semata-mata karena ingin mengabadikan momen romantis di kisah jalinan cinta. Kendati pengakuan cinta belum terucap langsung oleh ujung lidah Allesya.


Gengsinitas pada diri Allesya memang masih berlanjut.


"Tuan, belilah daganganku," jaja seorang gadis kecil yang mengenakan dress berwarna merah muda dilengkapi tudung berwarna selaras, persis dengan tokoh anime kartun Masha di film Masha And The Bear.


Perhatian sepasang suami istri itu sontak berpindah ke arah si Gadis Kecil.


"Tuan belilah daganganku ini, aku mempunyai bunga yang cantik-cantik," ia kembali menawarkan dagangannya.


Tubuh gagah yang masih berdiri diajak berjongkok, mengimbangi tinggi badan si Gadis Kecil. "Bunga apa yang kau jual?" Kali ini Sean terlihat sangat tertarik.


"Bunga Calla Lily. Bunga ini memiliki aroma harum dan lembut dan melambangkan kecantikan luar biasa," jelasnya.


"Baiklah, aku beli semua bunga-bungamu."


"Benarkah? Yey...!" Si Gadis Kecil tampak meloncat kegirangan. "Terima kasih Tuan, tapi uang ini kebanyakan," ucapnya setelah menerima uluran uang dari Sean.


"Kelebihannya khusus untuk gadis manis sepertimu," timpalnya.


Senyumannya kian merekah ketika mendapat pujian dari Sean. "Tuan apa kau tahu, sekarang kau berada di tempat yang terkenal dengan sebutan 'Jembatan Harapan'," perkataan si Gadis Kecil membuat Sean serta Allesya mengedar pandang ke sekeliling lalu kembali menaut pandang ke gadis yang berdandan seperti Masha itu.


"Pasti kau akan menceritakan sebuah mitos?"


Si Gadis mengangguk cepat. "Jembatan ini merupakan jembatan para kekasih. Konon legenda mengatakan kalau apapun yang diungkapkan di atas jembatan dan menguncinya dengan ciuman mampu menjadi kenyataan."


Sean sontak melirik ke arah Allesya melempar mimik muka penuh makna. Allesya yang bisa menangkap gurat-gurat maksud di muka Sean seketika menegang.


πŸ’š


πŸ’š


πŸ’š


Bersambung dulu ya~~


Sudah pulul setengah dua pagi nih. Mata dah sepet kayak di lemπŸ₯±πŸ₯±πŸ₯±


Terima kasih ya masih setia nyimak cerita receh ini. lop lop you sekebon pisang🍌🍌🍌🍌😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2