Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 59


__ADS_3


Tiga belas, empat belas, lima belas. Sean berdecak setelah menghitung jumlah para berandalan yang tengah menghadangnya mencapai angka lima belas orang. "Apa kalian bercanda? Datang bergerombolan hanya untuk melawan wanita bertubuh kecil ini? Pengecut," ledeknya meski tahu posisi keselamatannya dan Allesya sedang terancam. Namun bibirnya tidak tahan untuk tidak mencibir.


Bayangkan saja, semua berandalan itu bertubuh besar, bermuka sangar, asesoris rantai dan besi serta coretan tato bertebaran acak di sekujur permukaan kulit tubuhnya. Belum lagi senjata yang mereka bawa seperti sekop, gergaji, palu, tali tambang, cangkul, dan kayu balok turut melengkapi kesan tak ramah. Bukankah tidak seimbang jika dilawankan dengan tubuh mungil Allesya yang menggemaskan.


Sempat terlintas di pikiran otak Sean dan juga Allesya, apakah mereka ini preman yang merangkap sebagai pekerja bangunan. Atau pekerja bangunan yang merangkap sebagai preman? Mungkin kedua-duanya.


Please Thor.. Emang apa bedanya Thor. Itu kalimat cuma dibolak balik saja, artinya tetap sama Thor..! Jangan buatku menangis!


Oke lanjut.


"Tutup mulut busukmu itu!" hardik salah satu preman membuat Sean dan Allesya reflek bersamaan mengangkat tangan guna menutup mulutnya karena hujan liur bercampur polusi udara menyembur dahsyat dari mulutnya.


"Sial! Apa dia tidak pernah mencuci mulutnya selama se-abad? Bau mulutnya sangat busuk seperti bangkai katak," dengan mode suara semut Sean menggerutu seraya menahan untuk tidak memuntahkan isi perutnya.


Namun berbanding terbalik dengan Allesya yang tak segan-segan meluapkan kekesalannya secara terang-terangan. "Hiish! Kau sangat jorok sekali! Seharusnya kau yang menutup mulut busukmu itu!" ia berseru pantang takut dengan tangan yang masih setia menutup mulutnya sebagai benteng antisipasi jika serangan hujan liur dan polusi udara kembali datang.


Tindakkan frontal Allesya kembali memancing kemarahan si Preman yang kian mendidih. Membuat hidung bertindik anting besarnya mendengus kasar seperti kerbau kepanasan. Sebagai tanda amarah yang menggebu. Diangkat cangkul yang dipegang ke udara, siap melesatkan ke arah Sean dan Allesya. "Kalian ingin mati rupanya!"


"Hentikan!" seruan seseorang sukses menghentikan aksi niat nekat si Preman bercangkul. Ia gegas memutar lehernya ke arah sumber suara dan diikuti para preman lainnya.


Bersamaan dengan itu seorang preman yang di yakini ketua geng berjalan angkuh menembus kerumunan para anak buahnya yang menguarkan bau tidak sedap karena sudah berpuasa untuk mandi selama sebulan. Hingga kakinya berpijak tepat di depan Sean yang tengah dalam posisi siaga melindungi Allesya di belakangnya. Menelisik penampilan Sean dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Berikan uangmu sebagai ganti ruginya dan kau akan bebas tanpa babak belur," si Ketua geng mencoba bernegoisasi dengan jari kelingking tengah asyik menjelajah lubang hidung lalu melahap hasil panennya.


Hueek! Author mau muntah.


"Jorok!" jerit batin Sean dan Allesya bersamaan. Seolah chemestry mereka saling terhubung.


"Cepat! Berikan uangmu sekarang atau sekop itu akan mendarat di muka tampanmu!" gertak si Preman.


"Ck! Di dalam situasi seperti ini masih saja ada yang memujinya tampan," batin Allesya mencebik ria.


"Baiklah, aku akan memberimu uang dan biarkan kami pergi," tidak ingin menghabiskan tenaganya dengan berdebat, Sean menerima tawaran yang berat sebelah itu. Baginya, segera bebas dari kerumuman para berandal dengan tanpa ada goresan luka sedikitpun adalah pilihan yang tepat.

__ADS_1


Lagian dia bukanlah seorang tokoh pada novel ber-gendre action fiction yang di mana, sekali tebas lima belas lalat terlibas. Bukan. Dia sekarang berada pada kisah hidup yang nyata, di mana segala hal berjalan secara logika. Terlepas dari ikut campur tangan ajaib milik Tuhan Maha Kuasa.


"Apa kau gila?! Jangan mau menuruti permintaan mereka. Kita tidak salah dan seharusnya melawan," bisik Allesya geram yang hanya terdengar oleh indera pendengaran Sean. Sedangkan bagi para preman, suara Allesya hanyalah seperti cicitan tikus yang tentu sangat sulit mereka jangkau untuk dipahami.


"Allesya, jumlah mereka sangat banyak dan bersenjata. Lagian hari juga semakin gelap. Lebih baik menggunakan cara yang lebih aman," Sean balik berbisik. Sepasang bibirnya bahkan hampir tak bergerak.


"Dasar pengecut," bisik Allesya kembali mengandung ejekan. Terus terang tangannya sudah sangat gatal ingin menghajar para cecunguk yang menguarkan bau tidak sedap itu kalau saja Sean melepas cekalan pada tangannya saat ini juga.


"Cepat! Mana uangnya?!" sentak si Ketua geng karena sudah tidak sabar melihat gelagat kedua mangsanya yang terkesan mengulur-ngulur waktu.


Tangan meraba semua saku pada celana dan kemejanya. Mencari keberadaan dompet tempat ia menyimpan uang tunai. Namun muka Sean seketika berubah pasi. Titik-titik keringat dingin mulai mencelos dari pori-pori mukanya di kala tangan tak menemukan barang yang diharapkan.


"Sial! Dompetku sepertinya ketinggalan," umpat Sean di dalam hati. Beberapa kali melirik ke arah Allesya yang tengah menatap curiga akan gelagatnya. Hingga akhirnya ******* pasrah meluncur bebas dari bibir Sean.


"Dompetku ketinggalan. Aku akan memberimu uang besok tapi sekarang biarkan kami bebas dulu," tawar Sean.


Gelak tawa tiba-tiba terdengar pecah diiringi raut muka mencemooh. "Penampilanmu terlihat seperti orang kaya, tapi ternyata kau sangat miskin," membawa kaki lebih mendekat. "Apa kau pikir aku bodoh? hah?!" menyeringai iblis lalu mendorong tubuh tegap Sean hingga terhuyun ke belakang lanjut mencengkeram tangan Allesya yang sudah tak terbenteng dan menyeretnya paksa. "Kau harus ikut denganku, menggantikan barang jarahan yang telah kau hilangkan."


KEDEBUK!


"Arrggghh! Dasar wanita kurang ajar!" si Ketua geng mengerang kesakitan karena baru saja menjadi korban bantingan teknik kaki Allesya.


BRUAK!


"Aakkhh!" Allesya memekik tegang dan terkejut ketika balok kayu itu berakhir menjadi dua bagian setelah menghantam tubuh seseorang dengan sangat keras.


"Allesya apa kau baik-baik saja?" tanya Sean yang baru saja menjadikan tubuhnya sebagai tameng pelindung Allesya. Terlihat jelas ia sedang mati-matian untuk tetep berdiri kokoh meski harus menahan sakit pada punggungnya.


Allesya mengangguk patah-patah sebagai jawaban. Terus terang, kecemasan sudah merangkat membalut hatinya.


"Dengarkan aku, kita harus kabur sekarang. Dalam hitungan ketiga kau harus lari sekencang-kencangnya," Sean menginstruksi di dalam bisikannya.


"Tapi..,"


"Ssstt! Tidak ada tapi-tapian," tukasnya lalu mulai berhitung disusul jari-jarinya mengait kuat jari-jari Allesya. "Satu.. dua.. tiga..!"

__ADS_1


Dengan gesit, Sean dan Allesya mencari cela dan mengambil langkah seribu untuk meloloskan diri.


"Bangs*t! Mereka mencoba kabur. Apa yang kalian lakukan?! cepat kejar mereka!" titah si Ketua yang merasa geram.


°°°


Vera tampak berdiri di depan mobil yang masih terpakir. Mata diajak menyapu sekitarnya guna mencari keberadaan Allesya yang sedari tadi tak kunjung menampakkan diri.


"Di mana Seani sekarang? Kenapa dia belum kembali juga? Aku sudah menunggu satu jam lebih di sini. Dan apa ini? Dia lagi-lagi meninggalkan ponselnya di mobil," gerutunya tak henti-henti.


Bertepatan dengan itu, mata yang masih mengedar tanpa sengaja menangkap sosok pria yang dia kenal datang dari berlawan arah. "Bukankah itu David Personal Asisstantnya Sean?" lirihnya dan ternyata dugaannya benar ketika David menyapa dengan sebuah pertanyaan yang membuatnya bertanya-tanya.


"Permisi Nona, apakah anda mengetahui keberadaan Tuan Sean dan Nona Allesya?"


"Apa kau tidak salah bertanya?" Vera malah balik bertanya.


"Begini Nona, tadi Tuan saya bertemu dengan Nona Allesya beberapa jam yang lalu, tapi hingga sekarang mereka belum kembali," terangnya.


"Akhirnya dia berhasil menemukan Allesya. Semoga saja Allesya baik-baik saja setelah bertemu dengannya. Hahh! Sekarang aku malah mencemaskannya," sempat bermonolog di dalam hati sebelum menanggapi David.


"Aku juga tidak tahu di mana Allesya saat ini. Sebaiknya kita tunggu saja mereka sampai datang," ucapnya lalu menyandarkan pantatnya pada kap mobil depan.


Mengulas senyuman tipis lengkap dengan anggukan ringan, David menyetujui saran Vera.


Drrtt..! Drrtt..! Drrtt..!


Getaran ponsel di dalam saku celananya memaksa tangan untuk menjamahnya. Membawa jari-jari untuk gegas menggeser kunci pada layar benda pipih tersebut lanjut membaca pesan singkat yang ternyata dari si Tuannya. Sedetik kemudian muka yang semula terlihat tenang seketika berubah tegang.





Bersambung~~

__ADS_1


Terima kasih banyak loh karena kalian masih setia nyimak karya recehku hingga sampai di bab ini. Seneng banget rasanya🥰🥰


Arigatou gozaimasu🙏


__ADS_2