Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 60


__ADS_3


Derap dua pasang kaki terus menyuarakan ketegangan di tengah gelapnya malam. Membelah jalanan tikus yang terletak pada kawasan sepi. Berlari secepat mungkin, menjauh dari kawanan berandalan bermuka sangar yang mengejar. Hingga dua tangan yang saling bertautan erat itu menyelinap di sebuah gang sempit yang dirasa aman sebagai tempat persembunyian sementara.


Hening...


Lidah tak berucap satu katapun. Hanya deru napas serta degub jantung yang saling mengejar meliputi suasana malam berselimut sunyi di bawah bulan yang berpendar. Kedua tubuh mereka hanya menyisakan jarak beberapa inci yang bisa dikatakan hampir menempel sempurna.


Dipalingnya muka cantik itu ke sembarang arah guna menghindar tatapan hangat Sean yang menuntut sebuah balasan. Disusul sepasang tangan mendarat di depan dada bidang dan keras yang masih bergerak naik turun sebagai pembatas di antara tubuhnya dan tubuh Sean.


"Allesya.." kalimat Sean terputus di kala sebuah kepalan tangan memukul dada lebarnya.


"Jangan katakan apapun karena aku tidak ingin mendengarnya," pungkasnya dingin. Melirik sekilas ke arah Sean sebelum kembali melempar pandangan ke arah lain seraya berjaga-jaga bahwa persembunyian mereka masih aman dari jangkauan para berandal.


GREP!


Digenggam erat tangan Allesya yang masih menempel di dada. Menuntunnya untuk menekan lebih dalam hingga terasa deguban jantung yang bergerak lebih cepat menyentuh kulit telapak tangannya. Seolah memberi sinyal bahwa getaran tak biasa di dalam dada masih ada hingga sekarang. Sebuah ritme perasaan menyenangkan ketika berdekatan dengan sosok yang bertahta di hati.


Tindakan bahasa tubuh itu sukses mengundang perhatian Allesya yang sempat terkesiap. Reflek menggiring mutiara hazelnya untuk membalas tautan mutiara biru Sean yang sedari tak melepas pandang.


Pria blonde itu mengangkat tangan Allesya hingga sebuah kecupan mendarat di telapak tangan yang dulu sering menebar cinta untuknya dan kembali meletakkannya pada dada yang kian bergemuruh. Berharap, wanita di hadapannya bisa menangkap makna dari tindakannya.


SREK!


Gegas ditariknya tangan dari kungkungan jari-jari besar Sean. Sungguh tindakan yang diterima membuat Allesya tidak nyaman. Perasaan kecewa masih terpatri kuat di hatinya. Jadi, apapun tindakan manis yang diberikan Sean tidak merubah apapun yang berhubungan dengan debaran jantungnya.


Allesya berusaha menggeser tubuhnya, merubah posisi agar memberi ruang lebih untuk menggerakan tubuh. Namun ia langsung bersungut ketika tangan Sean mengunci tubuhnya ke dinding dari kedua belah sisi. Semakin membunuh ruang gerak yang buat ia tak berkutik.


Dilempar tatapan tajam ke muka tampan berahang tegas itu sebagai respon bahwa ia tidak suka akan tindakannya. Berkali-kali meronta agar bebas dari posisi yang membuatnya sulit bernapas. Tak menghiraukan Sean yang sedari tadi tampak menikmati sentuhan pelipis, kening, dan ujung kepala yang beberapa kali tak sengaja bertemu dengan bibirnya.


"Allesya.. kau sungguh membuatku gila. Hanya kau satu-satunya yang ku inginkan," kata hati Sean meronta.


Hingga akhirnya sebuah gejolak hasrat yang sudah terbendung selama dua belas kali purnama tak kuasa tertahan lagi.


CUP!


Sepasang bibir kenyal Sean mendarat mulus pada bibir ranum Allesya. Satu kecupan dalam dan penuh penghayatan sebagai pembuka penyaluran hasrat berlangsung beberapa detik hingga dorongan keras di dadanya melepas pagutan bibirnya.


"Kau memang pria mesum kurang ajar!" tatapan tajam berkabut. kecewa kian melesat ke arah muka tampan Sean.


"Maaf, tapi aku tidak bisa menahannya lagi," direngkuh tengkuk leher kecil dengan jari-jarinya, bersamaan satu tangan melingkari pinggang ramping Allesya. Mengunci telak pergerakan tubuh yang terus menolak sentuhannya.


Mengikis jarak muka di antara mereka hingga kedua pasang bibir kembali bertemu. Sebuah kecupan yang bertransisi ke dalam mode melahap dengan rakus. Membasahi bibir Allesya dengan sapuan lidah yang meninggalkan jejak cairan saliva di atas permukaannya. Mel*mat setiap inci bibir tipis yang menyandukan.


Perasaannya dibiarkan terbuai akan manisnya benda kenyal yang lama tak dia sesap. Membiarkan jiwanya terbang bersama pelampiasan kerinduan yang telah lama terpendam. Tak mengindahkan penolakan keras si Wanita yang terus meronta. Mengabaikan pukulan di dadanya yang menghantam berkali-kali.


"Ahk!" pekik Sean setelah terpaksa melepas pagutan bibirnya ketika Allesya menggigitnya.

__ADS_1


PLAK!


Berlanjut sebuah tamparan keras melesat cepat pada mukanya hingga terhempas ke samping.


"Aku sangat membencimu!" hardiknya diikuti dorongan tangan pada tubuh gagah Sean dan membawa kaki keluar dari persembunyian. Meninggalkan Sean yang masih menikmati perihnya luka gigitan di bibirnya dan sensasi panas bekas tamparan di mukanya.


"Arrg! Kau memang bodoh Sean. Kalau begini dia bakal semakin menjauh karena membencimu," merutuki dirinya sendiri akan ketidak mampuannya menahan hasrat untuk tidak mencium bibir manis Allesya.


Tak ingin berlama-lama terpaku di atas pijakan kaki, gegas disusulnya Allesya yang sudah menghilang di depan mata.


"Allesya..." panggil Sean. Mencoba mengimbang gerak langkah cepat kaki Allesya.


"Allesya, maaf tadi aku benar-benar.."


"Cukup! Jangan katakan apapun lagi dan biarkan aku pergi sendiri!"


"Aku akan mengantarmu."


"Aku bisa pulang sendiri."


"Nanti bagaimana kalau para berandalan menemukanmu Allesya. Mereka pasti sedang berusaha menemukan kita. Jadi biarkan aku mengantarmu," bujuk Sean. Masih mengimbangi langkah kaki kecil Allesya.


"Tidak! Aku pulang sendiri," Allesya masih bersikeras menolak tawaran Sean.


Terus terang, saat ini bayangan wajah Erlan tengah memenuhi pikirannya. Entah mengapa ia sangat merasa bersalah kepada sang Kekasih setelah Sean menciumnya. Meski permainan bibir itu terjadi bukan berdasarkan suka saling suka melainkan sebuah cumbuan paksaan yang tak mampu dia hindari.


Hingga langkah kaki keduanya lagi-lagi harus terhenti diikuti reaksi tubuh yang tercekat di kala keberadaan mereka tertangkap mata oleh dua berandalan yang ternyata masih berpatroli secara terpisah dengan yang lain.


"Akhirnya kami menemukan kalian," salah satu preman menyeringai puas seraya mengayun-ayunkan tongkat besinya. "Cepat kita tangkap mereka!" komandonya kepada satu preman lainnya yang langsung mendapat anggukkan mantap.


"Satu lawan dua, baiklah. Setidaknya ini lebih bisa diatasi daripada melawan lima belas lalat kotoran sekaligus," prediksi Sean di dalam hati lalu menyempatkan diri untuk meminta Allesya menjauh di belakangnya. Tidak ingin tubuh wanita pujaan tergores meski barang sekecilpun. "Aku akan olah raga malam sebentar, kau tunggulah di sini," tuturnya yang hanya mendapat respon cebikan dari Allesya.


Akhirnya perkelahian sengit satu lawan dua tak terelakkan. Sean melawan dua berandalan bersenjata tumpul dengan tangan kosong. Namun tak menyurutkan keberaniannya. Kedua lawannya semakin dibuat geram karena Sean selalu sukses menghindar dan menangkis serangannya dengan lincah.


Sekilas, di sela perlawanannya Sean tampak beberapa kali meringis karena merasakan sakit pada tulang punggungnya akibat hantaman kayu balok beberapa saat yang lalu sebelum ia dan Allesya melarikan diri. "Aarg! Tulangku terasa patah. Sakit sekali," gumamnya di dalam hati tanpa menjeda perlawanannya.


BUG! BUG! BRUAK!


"Arrgg! Gigiku..!"


Beberapa bogeman mentah mendarat cantik pada salah satu muka preman hingga keempat gigi tonggosnya rontok bagaikan dedaunan kering di musim gugur.


BUG! BUG! BUG!


Tak berhenti di situ saja. Tendangan indah kembali dilayangkan di tubuh preman yang sudah berguling-guling di atas bumi seperti cacing kepanasan.


"Aarrgg..!"

__ADS_1


"Aarrgg..!


Melihat satu preman sudah babak belur tak menyerupai wujud manusia ia menghentikan serangannya. Sedangkan preman satunya yang sempat kencing di celana karena ketakutan menyaksikan keganasan Sean saat menghajar tanpa ampun memilih mengambil kesempatan untuk melarikan diri, namun na'as karena nasibnya juga jauh dari kata beruntung. Tubuhnya tiba-tiba terjerembab kasar karena jegalan kaki Allesya.


"Enak saja mau kabur begitu saja. Rasakan ini!" Allesya menginjak burung pipit si Preman dengan geram seperti menggilas puntung rokok yang terjatuh di atas tanah.


"Aarrgg...! Burungku..!" meraung kasakitan.


"Aauuuuuhhh.." longlongan si Preman semakin menjadi ketika kaki Allesya kembali menendang telur kembarnya yang diyakini ukurannya sudah tidak lagi simetris. Miris.


Sementara Sean dibuat tercengang akan aksi ganas Allesya yang cukup membuatnya ikut merasakan ngilu pada batangnya meski tidak menjadi korban.


"Fyuuh! Seharusnya aku juga melakukan hal ini kepada seseorang karena sudah bertindak cabul pada seorang gadis perawan!" sindirnya seraya melirik tajam ke arah Sean. Membuat Sean sontak manangkup batangnya seraya bergidik. Tertohok karena sindiran halus Allesya mencubit manja hatinya.


Berjalan sedikit tertatih, Sean mendekati Allesya. Menelisik ke seluruh tubuhnya barang kali ada bagian yang kurang. "Allesya syukurlah kau baik-baik saja," ucapnya seratus persen menaruh kekhawatiran lebih kepada wanita cantik di hadapannya.


"Aah! Kenapa rasanya semakin sakit? badanku seperti remuk," tanpa sepengetahuan Allesya, ia mati-matian menyembunyikan rasa sakit yang di derita.


Bertepatan dengan itu, David datang bersama Vera serta diikuti beberapa petugas polisi yang segera mengamankan para preman yang masih terkulai ta berdaya.


Tuan apa kau baik-baik saja?" David memeriksa setiap inci tubuh Sean dengan teliti. "Tuan kenapa mukamu terlihat sangat pucat?"


"Kenapa kau datang sangat terlambat David?" Sean malah balik bertanya, tak berniat menjawab kecemasan David.


"Maaf Tuan, saya sedikit mendapat kendala di pertengahan pencarian, karena titik koordinat pada GPS pelacak di ponsel anda tiba-tiba menghilang," lapornya.


"Allesya, kau baik-baik saja kan?" tanya Vera kepada sang Adik yang langsung mendapat respon sebuah anggukan ringan disertai senyuman simpul. "Syukurlah. Kau memang ingin sekali melihat kakakmu ini mati muda karena jantungan," gerutunya karena sangat mencemaskan saudara sedarahnya itu.


"Baiklah, sebaiknya kita pulang sekarang. Aku akan mengantar kalian," tawar Sean kepada Allesya dan Vera.


"Tidak terima kasih, kami bisa pulang sendiri," sekali lagi, ungkapan penolakan meluncur di bibir Allesya.


"Allesya.. aku mohon jangan men," belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuh Sean tiba-tiba terhuyun lemas ke arah Allesya dan langsung tak sadarkan diri.


"Hei..! Kau kenapa?!"





Bersambung~~


Terima kasih karena masih setia menyimak kisah Sean dan Allesya ya..🥰


lope yu sekebon jengkol..😘😘

__ADS_1


__ADS_2