
Langit kota Paris di pagi ini memang sedang cerah. Di sepanjang bentangan luas permadani biru tak berujung tampak berhias gumpalan awan putih yang mengawang cantik.
Di sebuah balkon hotel, dentingan sendok dan garbu yang beradu dengan piring, tampak mengisi suasana kegiatan menyantap sarapan yang tengah berlangsung.
Pemandangan indah yang tersuguhkan di depan balkon kamar membuat sepasang pengantin baru itu lebih memilih menikmati ritual mengisi perutnya di sana dari pada di luar hotel.
Salah satu icon kota Paris yang sudah mendunia akan desain cantik dan menawan tampak menjulang tinggi ke angkasa begitu memanjakan mata bagi yang melihat.
Di sela kegiatan makan, obrolan-obrolan ringan tampak mewarnai suasana di antara mereka. Meski beberapa kali sebuah perdebatan turut berandil, mengundang muka masam Allesya yang hanya ditanggapi senyuman oleh Sean.
"Itu hanyalah bangunan besi yang berdiri di tengah kota, indahnya dari mana?" tak menghiraukan tatapan kesal Allesya, tangan masih lanjut menyuap makanan ke dalam mulut.
"Kau memang tidak pandai menilai sebuah keindahan Sean. Padahal semua mata mengakui keindahan menara Eiffel," cibir Allesya. Melalaikan perut kosongnya yang seharusnya segera di isi makanan. Wanita beriris hazel itu lebih menuruti hasratnya untuk berdebat.
Alih-alih menanggapi kekesalan si Istri kecilnya. Tangan kekar berbalut lengan kemeja yang dilipat sesiku itu terulur ke depan, menyodorkan potongan Beef Bourguignon ke mulut Allesya.
"Kau harus makan dulu," ucapnya.
"Ini pinta atau titah?"
"Keduanya. Cepat buka mulutmu," desak Sean, membuat mulut Allesya yang semula masih mengatup akhirnya terbuka, memberi akses kepada potongan Beef Bourguignon masuk ke dalam rongga mulut.
"Dari dulu kau memang begitu. Suka sekali memerintah," mencebik dengan mulut masih mengunyah makanan.
"Bangunan besi itu memang tidak indah di mataku. Ada hal lain yang jauh lebih indah dan hal itu aku nilai dari apa yang aku rasa," Sean melanjutkan topik. Nyatanya dia tak semerta-merta mengabaikan cibiran Allesya.
"Waow! Sepertinya seleramu sangat tinggi Tuan Sean Willson," pujian sekaligus sindirian meluncur dari bibir ranum itu.
"Tentu saja."
"Aku jadi penasaran, bagaimana wujud benda yang kau anggap indah itu."
Menyelesaikan kunyahan dan menelannya, sebelum akhirnya kembali bersuara. "Lihatlah kaca di sebelahmu," Sean menunjuk kaca jendala dengan ujung matanya dan langsung dipatuhi Allesya. "Apa yang kau lihat sekarang?"
"Aku tidak melihat apa-apa selain bayangan diriku sendiri."
Sepasang siku yang bertumpu di atas meja di ajak menopang dagunya. "Keindahan bagiku adalah apa yang kau lihat sekarang," menatap Allesya penuh damba.
Sungguh, bagi Sean semua yang ada pada diri Allesya sangat indah dan tentunya menyandukan. Jernihnya mata air di pegunungan Alpen tak sejernih telaga bening bermutiara hazel milik Allesya. Cantiknya hamparan jutaan bunga poppy di padang savana tak mengalahkan cantiknya wajah Allesya yang berseri. Manisnya bulan sabit di ujung langit nyatanya tak semanis lengkungan bibir Allesya ketika tersenyum.
Allesya menarik kembali muka yang semula masih memandang bayangan dirinya di kaca jendela. "Aku sungguh tersipu akan gombalan recehmu itu Tuan Sean," jujur Allesya hampir saja terbuai akan ucapan manis yang di dengar kalau saja tidak cepat-cepat ia tutup dengan gengsinitas yang tinggi.
Kembali sebuah senyuman yang menjadi tanggapan awal Sean akan sindiran Allesya. "Apakah suatu lisan yang terangkai dari hati bisa disebut sebuah gombalan?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu apa yang kau katakan benar-benar dari hati atau bukan," melepas pandang ke arah menara Eiffel yang seolah menjadi saksi percakapan mereka.
__ADS_1
"Apa kau tahu? Ada dua mitos seputar menara kebanggaan warga Paris itu."
"Aku tidak tahu," sela Sean, mengundang muka masam Allesya.
"Aku belum selesai Sean," protesnya.
"Lanjutkan."
Masih kesal sebenarnya, namun tak menghalau niat Allesya untuk lanjut bercerita. "Jika ada pasangan yang berfoto di depannya, hubungan mereka bisa langgeng selamanya atau hancur seketika. Cinta yang akan abadi atau cinta yang akan berakhir dalam waktu singkat," sambung Allesya.
"Sayangnya aku tidak mempercayai mitos," tukas Sean. Sapuan napkin di mulutnya pertanda kegiatan menyantap sudah selesai. "Segera habiskan makananmu Allesya. Apa perlu aku menyuapimu?"
"Kau memang menyebalkan."
Belum sempat melahap sepotong daging dari ujung garbu, deringan ponsel menguar meminta perhatian, menaruh kembali daging di atas piring yang seolah memelas karena sama sekali belum terjamah.
"Halo..?" sapanya setelah sambungan panggilan diterima.
(...)
"Benarkah?!"
(...)
"Syukurlah, aku ikut senang. Aku akan segera menjengukmu kembali Erlan," Allesya mengakhiri panggilan dengan senyuman mengembang.
Perasaan tidak suka seketika menjalari hati Sean. Bukan karena Erlan yang baru saja menjadi lawan bicara Allesya di telepon, melainkan senyuman manis yang tak pernah di dapatkan dari Allesya untuknya. Miris.
"Kabar baik," respon Sean seperlunya.
"Apa kau tahu? Ini semua berkat seseorang berhati malaikat yang rela menyita waktunya untuk mencari tahu keberadaan orangtua Erlan yang ternyata masih hidup," terang Allesya.
Sean kian memusatkan perhatian kepada wanita yang duduk di hadapannya. "Apa kau sudah tahu siapa seseorang berhati malaikat itu?" lisan pertanyaan yang terlontar mendapat respon gelengan kepala Allesya.
"Aku belum tahu. Tapi aku ingin sekali bertemu dengan orang itu."
"Apa yang akan kau berikan jika bertemu dengan orang itu?"
"Mungkin kalau perempuan akan aku jadikan saudara dan mentraktirnya dengan makan lezat dan mewag, kalau lelaki akan...." Allesya tampak berpikir.
"Akan kau jadikan apa?" Sean mendadak diserang rasa penasaran.
"Hmm ... aku harus memastikannya terlebih dahulu. Dia tampan atau jelek."
"Maksudnya?"
"Kalau dia jelek, gendut, berjerawat, bertompel, berambut keriting, tonggos, berkaca mata, dan hitam, sebaiknya aku jadikan teman dan akan aku bawa ke salon untuk perawatan agar terlihat tampan," asalkan kalian tahu, Allesya sangat serius dengan perkatannya meski terdengar konyol.
Pfftt..!
__ADS_1
Sean tampak menahan tawa karena ucapan Allesya yang terdengar lucu dan tak biasa bahkan bisa dikatakan unik.
"Lalu apa yang akan kau berikan jika orang itu tampan? Bahkan sangat tampan," Sean berniat sekali memuji dirinya sendiri.
"Aku akan menjadikannya suamiku," jawabnya spontan tanpa berpikir panjang.
Mimik muka Sean mendadak datar. "Apa kau bercanda?"
"Aku serius. lima rius malahan."
Tak!
"Awh! Sakit...!" mengaduh seraya mengusap permukaan kening setelah mendapat satu hadiah sentilan dari Sean. Kendati kedua tubuh mereka terhalang meja, tangan jenjang tetap bisa dengan mudah menjangkau kepala Allesya.
"Itu hukumanmu karena terlalu berani berkata seperti itu di depanku," beranjak menyusuri lantai menuju kamar. Namun langkahnya terpaksa berhenti karena permintaan yang di dengar.
"Aku ingin menemui Erlan setelah ini," pinta Allesya. Tanpa disadari, kepeduliannya kepada mantan kekasihnya itu mengundang kecemburuan bagi Sean.
Sebisa mungkin tak membiarkan kesabaran yang telah terpupuk di hati terkikis begitu saja. "Kau bisa mengunjunginya setelah operasi," tandasnya bagaikan titah telak tak membutuhkan bantahan apapun.
"Tapi Erlan tidak ada yang menjaga sekarang."
"Di sana ada Papa Erick yang menemaninya."
Allesya terheran. Kenapa sang Papa mertua menjaga Erlan. Bukankah hubungan mereka tak sedekat orang yang saling memberi perhatian?
"Erlan adalah putra angkat Papa Erick," beber Sean cepat. Seolah paham akan sesuatu yang bersarang di otak Allesya.
Dan hal itu tentu sukses membuat wanita itu tertegun tak percaya. "Itu berarti kalian adalah saudara angkat?"
Sean tampak malas menjawab pertanyaan si Istri kecilnya, lebih memilih membahas topik lain.
"Kau tidak akan pergi menemuinya di Rumah Sakit hari ini. Dan bersiap-siaplah lima hari lagi ikut aku ke London. Semua surat-surat perpindahan warga negara dan kuliahmu sudah aku urus."
"Apa?! Kenapa secepat itu? Padahal baru satu tahun aku menjadi warga negara Perancis, eh sekarang harus kembali menjadi warga negara Inggris," protesnya kendati dia tak mampu menolak.
💚
💚
💚
Bersambung~~
Pokoknya, selama ini jempolan masih mampu mengetik, selama itu pula Nofi tak bosan-bosannya untuk mengingatkan kalian agar menekan tombol like sebelum/sesudah membaca di setiap babnya.
Dan tinggalkan komen, itulah cara Nofi beinteraksi kepada kalian.. Ya meskipun Nofi sering telat membalas komentar kalian. Tapi percayalah, Nofi selalu berbunga-bunga ketika membaca komenan positif kalain.
Vote dan gift juga boleh kok dsumbangin buat Sean dan AllesyaðŸ¤
__ADS_1
Terima kasih. Lop lop you super😘😘