Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 71


__ADS_3


"Sayang sekali hasil milikmu juga tidak cocok," ucap Emily seraya menyodorkan kertas hasil tes serangkaian pemeriksaan rekomendasi ginjal yang akan didonorkan.


Sean mendes*h kecewa. Tinggi harapannya bahwa salah satu ginjalnya akan cocok untuk Erlan, meski dia juga sama sekali tak menampik bahwa mencari ginjal dari pendonor yang tak memiliki hubungan darah memanglah sangat susah.


Dan di saat seperti ini, bayang muka cantik Allesya lah yang berlalu lalang di pikirannya. Muka yang tersirat akan segala doa untuk kesembuhan Erlan. Muka yang menggurat garis kesedihan akan kesakitan Erlan. Muka yang tersenyum untuk kebahagiaan Erlan.


Memang memilukan ketika melihat Wanita pemilik hatinya bergundah gulana demi pria lain. Menyesakkan di kala mendengar bibir manis Allesya berucap tegas bahwa Erlan adalah kebahagiaannya. Pasrah di kala ia tak mampu mengelak akan sayatan ribuan pisau yang terus mengukir luka tak bersyarat di hatinya.


Rasanya ingin sekali ia rebut paksa Allesya. Membelenggunya dengan keegoisme. Mengungkungnya atas dasar kepemilikan sepihak.


Namun dia tekan kuat-kuat rasa ego yang menyesatkan hingga ke dasar relung, membiarkan semua berjalan dengan mangatas namakan ketulusan. Mengihklaskan angan-angannya untuk bahagia bersama Allesya.


"Apa dia benar-benar sudah tidak memiliki sanak saudara lainnya?"


Emily melepas kaca mata kerjanya diikuti helaan gundah. " Selama lima belas tahun aku tinggal bersamanya di panti asuhan yang sama yang aku tahu bahwa Erlan dulu adalah bayi yang ditemukan seorang wanita asing dan diantar ke panti asuhan untuk mendapatkan kehidupan yang layak," papar Emily.


"Wanita asing?" Sean mengoreksi.


"Iya, wanita asing yang mengaku telah menemukan bayi Elran terlantar di pinggir jalan."


"Apa kau tahu di mana keberadaan wanita itu sekarang?"


Emily menggeleng lesu sebagai maksud bahwa ia tidak tahu menahu.


Drrtt..! Drrtt..! Drrtt..!


Sean mengalihkan pandang ke arah saku mantelnya yang bergetar. Gegas ia rogoh benda pipih dari dalamnya. Mimik muka penuh harap seketika terpancar ketika nama Jeffrey tertera di layar ponselnya.


"Maaf, sepertinya urusan kita hari ini sementara cukup sampai di sini, aku akan pergi sekarang," pamit Sean sebelum menjawab desakan panggilan telepon yang minta diterima.


Emily mengangguk diselingi senyuman ramah. "Baiklah."


Sesampainya di luar ruangan Emily, Sean segera menjawab panggilan telepon yang sedari belum diangkat.


"Halo?"


"Kami sudah menemukan pelakunya beserta bukti kejahatannya. Apa selanjutnya yang ingin kau lakukan?"


Sebelah sudut bibir menyungging ke atas. "Biarkan pelakunya menikmati hidupnya di penjara."


"Kau yakin tidak ingin memberi palajaran terlebih dahulu?"


"Allesya yang berhak melakukannya."

__ADS_1


"Ada satu lagi yang harus kau tahu. Ternyata salah satu pelakunya adalah putri dari Thomson Lores, salah satu klien yang bekerja sama dengan perusahaanmu di London."


Sean mengerutkan kedua alis tebalnya hingga hampir menyatu. Apa lagi ini? Kenapa hidupnya penuh dengan kejutan? Segala yang berhubungan dengan Allesya bagaikan dua ujung tali yang saling terikat. Tetap akan bertemu di titik yang sama.


"Kalau itu biar aku yang urus."


"Baiklah."


"Terima kasih."


"Itu tidak gratis."


"Ck! Baiklah aku akan menerima tendermu tanpa syarat."


"Keputusan yang tepat."


Tut! Panggilan berakhir


°°°


PLAK!


Tamparan melesat tajam di pipi pemilik muka tampan yang tampak pasrah. Tidak ada perlawanan maupun balasan tatap mata menyalang karena tak terima akan perlakuan yang didapat.


"Sungguh berani kau memperlakukan putriku seperti wanita murahan!" Aura panas akibat amarah yang tersulut api mengundang keberangan Raffaresh.


Iya, saat ini Sean tengah berada di kediaman Damirich. Berhadapan langsung dengan Raffaresh, Ayah Allesya.


Ceritanya, setelah menyerahkan Becca dan Oliv ke pihak kepolisian atas laporan tindak kejahatan yang membahayakan Allesya dan menyebabkan hilang nyawa janin di dalam kandungan serta pencemaran nama baik, keesokan harinya Sean mendatangi kampus Allesya.


Seantero kampus dibuat gempar oleh keberadaan Sean yang berusaha membersihkan nama baik Allesya dengan cara meluruskan segala tuduhan tidak benar orang-orang terhadapnya. Mengesampingkan harga diri dan rasa malu, mulutnya secara gamblang mengumumkan bahwa Allesya adalah korban dari perbuatannya.


Hingga akhirnya aksi nekat Sean terdengar sampai ke telinga Raffaresh. Dan membawa kakinya berpijak di posisinya saat ini, yaitu di kediaman keluarga Damirich.


"Kemana letak otakmu waktu itu hah?!"


PLAK!


Seolah sebuah tamparan sebelumnya belum cukup meredamkan amarahnya, Raffaresh kembali melayangkan tamparan keras di pipi Sean hingga mukanya terhempas ke samping. Sementara Raffaela tampak beberapa kali berupaya mengehentikan kemurkaan sang Suami dengan melayangkan kalimat-kalimat penenang meski berakhir sia-sia.


"Maaf," hanya sepatah kata itu yang mampu terucap dari ujung lidah Sean.


"Gara-gara tindakan kotormu, putriku hampir meregang nyawa karena keguguran!" gemuruh di dalam dadanya kian menggebu. "Putriku sudah sangat banyak menderita selama ini. Kenapa kau masih tega menambah penderitaannya lagi? Kau benar-benar bajingan!" bendungan darah di dalam kepalanya seakan sudah mencapai titik didih tertinggi dan siap untuk diluapkan.


Satu tangan meraih stick golf yang terletak di salah satu sudut ruangan kemudian diangkatnya tongkat berbahan iron dan siap dilayangkan ke arah Sean.

__ADS_1


"Faresh hentikan!" teriakan Raffaela disertai sebuah tarikan tangannya sontak mengurungkan niat sang Suami. "Kau harus bertindak dengan kepala dingin. Jangan seperti ini, perbuatanmu bisa mencelakainya," tuturnya.


Merasa perkataan sang Istri ada benarnya, Raffaresh mengambil langkah mundur lanjut mendudukkan tubuhnya di atas sofa empuk ruang tamu. Memberi kesempatan pada jantungnya untuk kembali berdetak normal.


Sebagai seorang istri, Raffaela juga berinisiatif menenangkan emosi sang Suami dengan mengusap lembut naik turun punggung lebarnya.


"Seanie sayang.. Kemarilah," panggil Raffaela tiba-tiba. Membuat Allesya yang sedari tadi berdiri di sudut bawah tangga dengan perasaan tegangnya seketika terkesiap.


Baginya ini baru kali pertama melihat sisi amarah sang Daddy. Dia tidak menyangka Raffaresh yang selalu bersikap lembut dan penyayang kepadanya bisa segila itu jika sedang marah.


"Seanie..," panggil sang Mommy kembali karena Allesya tak kunjung menyahut.


"Iya Mom," sahutnya lirih seraya kaki melangkah mendekati Raffaela.


"Sayang, kau bawa tamu kita ke ruangan lain dan tolong obati lukanya," pintanya tak meninggalkan kelembutan di setiap tutur katanya.


"Baik Mom."


Allesya menggiring pandang ke arah Sean yang masih membisu dan mambatu. Dan dengan cepat ia melangkah mendekati Sean dan menarik tangannya untuk dibawa pergi meninggalkan ruang tamu.


"Raffaela, kenapa kau masih berbaik hati kepadanya? Seharusnya usir pria itu dari sini, bukan malah menyuruh Seanie mengobati lukanya," protes Faresh, tak habis pikir dengan istrinya yang masih bisa berbaik hati kepada orang yang pernah menyakiti putri mereka. "Apa kau tidak sakit hati dan kecewa juga?


"Kau salah bertanya seperti itu Faresh. Hati seorang ibu mana yang terima jika putrinya menjadi korban pelecehan," sanggahnya. Menatap lembut muka sang Suami yang masih terlihat sangat tampan di usianya yang sudah menginjak kepala angka lima itu. "Setidaknya kita juga harus melihat dari sudut pandang yang lain juga Faresh. Apa kau tidak lihat usahanya untuk membersihkan nama baik putri kita di kampus? Dia bahkan berhasil menyeret pelaku yang pernah mencelakai putri kita dengan cepat. Ini sangat terlihat jelas bahwa Sean sedang berusaha memperbaiki segala kesalahannya kepada Seanie," tuturnya disertai sebuah kesimpulan yang dia dapat.


Raffaresh berdecak kesal. "Ck! Andai Seanie dari dulu mau sedikit terbuka, aku juga pasti bisa menyeret si Pelaku," Faresh nyatanya tak mau kalah.


"Itu karena Seanie masih sangat terpukul akan insiden yang telah menimpanya," Raffaela mengulas senyuman hangat. "Apa kau tahu? Dia mengingatkanku akan dirimu sebelum kita menikah dahulu."


Raffaresh sontak memutar lehernya ke arah sang Istri. Dia bisa menangkap dengan cepat maksud dari perkataan wanita kesayangan di depannya saat ini. "Tolong jangan ungkit lagi hal itu Raffaela. Kau membuatku kembali merasa bersalah."


Tak mengindahkan permintaan Raffaresh, Raffaela melanjutkan kalimatnya. "Kau dulu juga pernah melakukan kesalahan yang sama seperti kesalahan yang dilakukan Sean. Kau bahkan sampai berkali-kali meperk*saku hingga aku pingsan dan harus dilarikan ke Rumah Sakit, dan kau..,"


Ucapan Raffaela terputus di kala Raffaresh membungkam bibirnya dengan menciumnya secara tiba-tiba. "Sudah aku katakan, jangan ungkit hal itu kembali," ucap Raffaresh setelah melepas pagutan bibirnya.


πŸ‘‡


πŸ‘‡


πŸ‘‡


Bersambung~~


Loh loh loh.. ini kok yang nampol tombol like kok semakin nyungsep ya..πŸ˜”


🀲 Nofi berdoa semoga yang lupa jadi ingat. Amin..

__ADS_1


Ya sudah, Author yang paling polos ini mau berburu roti sobek dulu di negeri kapuk ya..☺


Wo ai nimen😘😘😘


__ADS_2