
Langit muram berselimut awan kelabu. Rintikan demi rintikan mulai berguguran dari perut peraduan. Cuaca kelam selaras dengan suasana hati yang suram. Tergugu ke dalam pelukan tubuh mungil yang harusnya mendapat usapan cinta kasih orangtua.
Sapuan hangat di punggung seolah tak mampu mengusir kesedihan dengan segera. Wanita itu, justru kian terisak. Mengasihani garis jalan takdir kedua malaikat kecil yang kini harus memanggul status yatim piatu di usianya yang masih sangat dini.
Ibu dari kedua malaikat kecil, Danny dan Lora memang sudah berpulang dan tak akan pernah kembali lagi. Baru kemarin malam, Vera berkesempatan berbicara dengan Marry dari hati ke hati karena Marry mulai menunjukan sedikit perkembangan pada psikisnya, namun sayang, keesokan paginyanya ia harus mendengar kabar bahwa Marry meninggal karena mengakhiri hidupnya sendiri dengan melompat dari atap gedung Rumah Sakit.
"Vera, sudah jangan terlalu lama bersedih," kalimat penenang terus terlontar dari mulut Arthur untuk sang Istri yang belum juga mentas dari kedukaan.
"Aku ... sangat sedih, Arthur. Mereka masih terlalu kecil tapi sudah harus berpisah dengan orangtuanya untuk selamanya. Mereka ... mereka membutuhkan belaian kasih sayang, Arthur. Aku ... aku sungguh tak tega melihatnya, betapa malang nasib mereka. Ya Tuhan ...," terbata-bata karena terisak, Vera berusaha menumpahkan segala kesedihan di hatinya.
Direngkuh lebih erat tubuh kecil Danny yang memang belum mampu mencerna situasi yang telah terjadi. Yang dia tahu, wanita cantik yang sedari tadi tak melepas pelukan dari tubuhnya itu sedang menangis karena bersedih. Sangat polos sekali.
Merasakan hal yang sama dengan Vera, Arthur juga sedih namun ia tak ingin membohongi diri sendiri bahwa secercah kehangatan mulai hinggap di hatinya. Tak menyangka, bahwa Vera yang selama ini dikenal berwatak sangat bar-bar dan bertindak sesuka hati memiliki sisi kemanusiaan yang begitu sensitif.
Sebelas dua belas dengan sang Adik, Allesya, sifat penyayang dan penuh belas kasih juga ada pada diri Vera.
"Vera ... mereka tidak akan kekurangan kasih sayang, karena ada kita," ucap Arthur.
Sedikit mengurai pelukannya terhadap Danny, Vera menatap Arthur dengan seksama. Mencari makna tersirat dari ucapan Arthur. "Apakah boleh?"
"Tentu saja boleh, Vera. Aku malah akan sangat senang jika kau bersedia menjadikan mereka dari bagian keluarga kecil kita."
Samar-samar kedua sudut bibir Vera terlihat tertarik ke atas, menyelipkan sebuah senyuman haru di antara isakan tangis pilu. "Terima Kasih, Arthur."
"Seharusnya aku yang berterima kasih, Vera."
"Mommy."
Suara menggemaskan menyusup ke dalam suasana yang masih berduka. Sepasang suami istri itu menggiring muka ke arah Danny yang masih tenggelam ke dalam pelukan Vera.
"Mommy."
Cepat-cepat ia usap sapuan air mata dari pipi sebelum menanggapi Danny. "Iya Sayang," jawab Vera.
"Mommy di mana?" tanyanya dengan muka polosnya.
"Mommy?" suara yang hampir mencelos akhirnya tercekat di tenggorokan. Lidah berkelu, tak mampu untuk segera berucap.
Bingkai netra basah Vera berotasi ke arah Arthur, seolah meminta bantuan karena ketidak mampuannya dalam menjawab dari pertanyaan sederhana yang terlontar dari bibir mungil Danny.
Pria tampan bertubuh jangkung itu berjongkok, mensejajarkan diri dengan tubuh kecil Danny. Muka sendu dipaksa untuk tersenyum hangat. Mengibas tatapan nanar menjadi tatapan teduh. "Danny Sayang, apakah kau ingin melihat Mommy bahagia?" tanyanya diselingi usapan lembut di kepala kecil itu.
"Iya, Daddy. Danny ingin Mommy bahagia. Tidak menangis lagi, tidak marah-marah lagi," jawabnya dengan segunung ketulusan, tanpa adanya kepalsuan.
Vera tampak berusaha keras menahan isakan tangisnya agar tidak kembali pecah. Sungguh lisan ketulusan hati si Bocah kecil itu justru terdengar menyayat hati.
"Sekarang Mommy sudah bahagia sekarang. Danny tidak akan melihat Mommy bersedih dan marah-marah lagi."
Muka polos tanpa dosa itu seketika tampak berseri, sepasang mata jernihnya berbinar terang seolah kebahagiaan sang Mommy adalah kebahagiaanya juga. "Benarkah? Tapi Mommy di mana? Danny ingin bertemu Mommy," ia mulai merengek.
"Danny ... dengarkan Daddy ya, Mommy sekarang sudah berada di surga," tuturnya.
"Surga itu di mana Daddy?"
"Surga itu berada di tempat yang sangat jauh dari sini, jadi Mommy tidak bisa pulang," tutur Arthur memberi pengertian. "Di surga, mommy sudah bahagia. Biarkan dia tinggal di sana ya? Sekarang Danny dan adik Lora akan ikut bersama Daddy dan Tante Vera," imbuhnya kembali.
__ADS_1
"Tante Vera?" mata bening dan polos itu kini bergilir menatap ke arah muka basah Vera. "Mommy, Danny ingin memanggil Tante Vera seperti itu."
Perasaan haru menyeruak hebat dari dalam hati Vera, menyongsong hasrat untuk merengkuh lebih erat tubuh kecil Danny. Buliran kristal yang tertimbun di pelupuk mata, kembali luruh ke permukaan pipi. "Iya, Sayang. Panggil aku Mommy. Mommy akan menyayangi Danny dan adik Lora seperti anak kandung Mommy sendiri."
Arthur yang tak kalah terharu, tak henti-hentinya mengucapkan banyak kalimat syukur di dalam hati karena kecemasan akan penolakan Vera yang selama ini mengganggu pikirannya hanya ketakutan tak berlandas belaka.
°°°
Pandangan iba seolah tak lekang oleh jendela kaca mobil yang membatasi. Kelembutan hati menumbuhkan rasa untuk bersimpati. Tak mampu mengelak sisi kemanusiaan yang mengantri. Sungguh tak tega, melihat potret kehidupan anak jalanan di kota metropolitan ini. Sesakpun turut menjejal asa yang mulai mematri.
"Kak Sean, kenapa banyak sekali anak-anak berkeliaran di pinggir jalan pada jam segini? Bukankah seharusnya mereka bersekolah? Dan lihatlah mereka yang di sana, masih sangat terlalu kecil, tapi sudah harus menjajakan dagangannya di setiap mobil yang berhenti," ucap Allesya.
Batinnya menangis, melihat badan kecil nan rapuh itu menerjang terik panas tanpa rasa lelah. Hinggap dari satu mobil ke mobil yang lainnya. Senyuman tak kian surut kendati dagangan mereka masih terlihat banyak karena belum laku.
"Itu memang sudah nasib mereka seperti itu, Allesya. Kurang beruntung," Sean menanggapi dengan nada sangat ringat dan terkesan acuh.
"Aku sangat kasihan sama mereka," timpalnya tanpa mengalihkan pandangan dari luar jendela.
"Jangan habiskan waktumu hanya untuk mengasihani mereka karena itu tidak akan membantu."
Kalimat yang terbentuk oleh lidah Sean sontak menarik atensi Allesya. Tukikan tajam pada kedua sudut alisnya menandakan sebuah ketidak sukaannya. Tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.
"Kau membuatku kecewa Kak Sean. Apa tidak ada sedikitpun rasa kasihan pada dirimu untuk mereka yang kurang mampu?" cercanya. Ia sangat kesal saat ini.
"Rasa kasian ya? Entahlah," jawab Sean tak menghiraukan reaksi muka masam Allesya yang baginya sangat menggemaskan. Menggiring bibir untuk menciumnya namun sayangnya hasrat tak tersampaikan.
"Jangan lakukan itu! Aku masih kecewa kepadamu!" tolak tegas Allesya.
"Kecewanya jangan lama-lama."
Terpana luar biasa. Muka masam yang dibawanya selama perjalanan seketika sirna, berganti kebahagiaan dan syukur. Binar matanya melukiskan berbagai perasaan positif yang menari-nari di dalam hati.
Melalui panduan dari Master Of Ceremony, kegiatan acara dapat berlangsung lancar tanpa hambatan sesuai dengan susunan acara yang telah tertulis rapi. Dari pembukaan, doa, sambutan-sambutan, simbolik prakata peresmian, hingga prosesi gunting pita dan pemotongan tumpeng, semua mendapat bagian tanpa ada yang tertinggal.
"Ini yang aku maksud Allesya. Jangan habiskan waktumu hanya untuk mengasihani mereka karena itu tidak akan membantu. Tindakan nyatalah yang mereka butuh sekarang. Sekolah gratis ini diperuntukkan bagi mereka yang bernasib kurang beruntung seperti anak-anak jalanan yang kau lihat tadi. Dan bagi tunawisma dan tidak memiliki orangtua atau sanak keluarga bisa tinggal di asrama panti," terang Sean membuat Allesya terkesima luar biasa. Dia tidak menyangka bahwa suaminya itu memiliki sisi kemanusiaan yang begitu tinggi.
Sudah kaya raya, tampan, penyayang, romantis dan baik. Nikmat mana yang mampu Allesya dustai? Memiliki suami seperti Sean Willson sungguh ada kebanggan tersendiri.
"Maaf, karena tadi aku sempat marah kepadamu Kak," sesal Allesya yang diserang rasa bersalah karena sempat berpikiran buruk kepada Sean.
Sean mendekati muka ke daun telinga Allesya dan mulai berbisik. "Aku akan memaafkanmu, tapi dengan syarat layani aku nanti malam."
Tertegun sesaat karena malu, hingga ulasan senyum di bibir menunjukkan ketersediaan Allesya. "Dengan senang hati, suamiku."
"Kelinci kecilku yang pintar."
"Kak?"
"Hm?"
"Tindakanmu hari ini membuatku semakin cinta," bisik Allesya.
"Cinta kepada siapa?"
"Tentu saja kepadamu."
"Aku jauh lebih mencintaimu, Allesya."
__ADS_1
"Aku percaya."
°°°
"Langsung kembali ke penginapan dan jangan pergi kemana-mana. Kau hanya boleh keluar bersamaku," tutur Sean, memberi peringatan.
"Iya, Kak."
Sean terpaksa meminta Allesya untuk kembali ke penginapan terlebih dahulu dengan diantarkan si Supir pribadi karena masih ada hal penting seputar pekerjaan lain yang harus diselesaikan bersama ketiga sahabatnya.
"Lilly, jangan coba-coba kau mengajak istriku melakukan hal yang aneh-aneh. Jangan ajak dia kelayapan. Mengerti?" peringatan keras juga tertuju kepada Lilly yang memang akan pulang bersama Allesya.
"Iya ... Iya. Tidak akan aku ajak Allesya aneh-aneh Kak, mungkin cuma aku aja nonton film."
"Tidak boleh!" Sean mulai curiga.
"Iih..! Kenapa?"
"Jangan banyak tanya. Cepat kalian masuk mobil."
Di sepanjang perjalanan, Allesya dan Lilly mengurai kejenuhan mereka dengan obrolan konyol dan bahkan terdengar sama sekali tidak berfaedah. Biasanya memang seperti itu mereka.
Hingga, kecurigaan mulai merayapi perasaan kedua wanita itu, saat mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba menepi.
"Pak, apa ada masalah dengan mobilnya?" tanya Allesya yang keheranan.
"Bukankah penginapan mssih jauh?" tambah Lilly.
Alih-alih menjawab pertanyaan yang didapat. Pria itu menekan tombol cental lock mobil hingga semua pintu diyakini telah terkunci rapat.
Tindakan si Supir sukses menimbulkan rasa was-was pada kedua wanita itu. Saling menggenggam tangan untuk menetralkan ketakutan yang menyapa diri.
"Pak? Kenapa kau hanya diam?" tanya Allesya yang mulai menegang.
"Al, mungkin dia tidak dapat mendengar," bisik Lilly yang juga tegang.
Kedua wanita itu kian terheran saat si Supir tampak mengenakan topeng masker dan mengeluarkan sebuah benda yang mengeluarkan asap.
Uhuk! Huk! Huk! Huk!
Allesya dan lilly sempat terbatuk-batuk karena asap yang menyesakkan, sebelum pusing di kepala mulai menyerang dan membawa mereka tak sadarkan diri.
"Bos, rencana kita hampir berhasil," ucap si Supir kepada seseorang di seberang panggilan telepon.
❣
❣
❣
Bersambung~~
Terima kasih ya bagi yang masih mau nyimak🥰
Tolong tinggalkan jejak like dan komen di karyaku ini ya.. karena itulah modboster Nofi untuk lanjut menulis.
Vote dan hadiah, bolehlah disumbangkan ke karyaku yang kian sepi kayak kuburan cina ini🤣
__ADS_1
lop lop you superrr🥰🥰