
Derap langkah beberapa anak buah Thomson mengiringi kedatangan seseorang yang sudah dinantikan. Di rooftop gedung berlantai sepuluh, di sanalah Sean diarak secara paksa namum berkesan halus.
"Selamat datang, Sean Willson. Aku merasa terhormat karena kau bersedia menyisihkan waktumu untuk menemuiku," sambutan ramah terlontar dari bibir Thomson.
Raut muka tak bersahabat dijadikan tanggapan dingin dari Sean untuk sambutan yang dianggap sekedar basa basi memuakkan. Keramahan yang tersaji tak lebih dari sebuah kamuflase rencana licik di balik punggung Thomson.
"Di mana istriku? Cepat lepaskan dia," ucap Sean bersifat titahan mutlak.
Thomson mengulas senyuman berlagak baik, namun sepintas mata memandang, tampak jelas bahwa gurat-gurat amarah dan kebencian terpahat dalam pada mimik muka yang sudah tak muda lagi itu. "Tenanglah, dia masih berada di gedung yang sama dengan kita."
Sungguh ironis. Dia meminta Sean untuk tenang setelah memperlihatkan kondisi Allesya yang jauh dari kata baik-baik saja melalui panggilan video beberapa saat yang lalu.
"Sebenarnya apa tujuanmu?" berusaha bersikap tenang, Sean berusaha mengulik alasan tindakan Thomson.
"Tujuanku? Kau menanyakan tujuanku?" pria tengah baya berjas rapi itu malah bertanya balik.
"Kau ingin harta, akan kuberikan sebanyak yang kau minta, asal serahkan istriku sekarang," Sean mulai menciptakan sebuah negoisasi.
Thomson seketika tergelak keras, suaranya menggema menjalar ke udara lingkungan sekitar. Merasa lucu seolah sedang menonton acara stand up Comedy. "Harga dari keinginanku tidak setara dengan semua hartamu Sean, karena yang ku inginkan lebih dari itu."
"Kau terlalu berbasa basi. Cepat katakan apa tujuanmu!" tukas Sean hampir meledakkan amarahnya, namun cepat-cepat ia redam.
Kentara jelas bahwa ia tengah menahan sesuatu yang sudah bergemuruh di dalam dada. Kecemasan akan keadaan wanita kesayangannya, sungguh menguras batinnya. Bayang-bayang Allesya yang terikat dalam kondisi tak sadarkan diri, merongrong dalam kegelisahan. Tubuh kecil istrinya tak seharusnya diperlakukan seperti itu. Tubuh kecil itu harusnya didekap sayang olehnya.
"Kau sudah saatnya menuai apa yang kau tanam. Dan aku datang untuk menagih tuaian itu."
"Maaf Tuan, saya ingin melaporkan sesuatu," kedatangan salah satu anak buah Thomson memangkas sesaat interaksi yang berlangsung.
"Katakan," titah Thomson.
"Begini Tuan," si Anak buah mendekat dan berbisik ke telinga bos besarnya.
Laporan yang sudah diterima hingga titik ujung kalimat ternyata langsung memancing kemarahan Thomson. "Dasar tidak berguna! Cepat cari wanita itu, kalau perlu kasih pelajaran jika sudah tertangkap!"
"Baik Tuan," si Anak buah langsung pergi melaksanakan perintah.
Yakin terjadi sesuatu kepada Allesya, Sean seketika cemas bercampur geram. Ombak di dalam dada kian bergemuruh. Ucapan Thomson barusan sukses memancing amarah yang sedari tadi ia kurung.
"Jangan macam-macam kau Thomson! Sedikit saja kau sentuh wanitaku, akan ku bunuh kau!" gertak Sean. Mata merah menyalang tajam, menunjukkan itensitas emosi yang menjulang ke ubun-ubun.
Sean memangkas jaraknya dengan Thomson hanya dengan dua langkah lebar kakinya. Mencengkeram kuat kerah leher berdasi itu lalu mendorongnya hingga membetur dinding. Tidak bisa dipungkiri, Sean memang selalu lepas kontrol jika wanitanya diusik. Perasaan itu menyeruak begitu saja, mengikuti naluri kelakiannya yang memegang tanggungjawab besar sebagai benteng pelindung si Tulang rusuknya.
Thomson menyeringai lirih seolah tiada ketakutan akan tatapan menyalang Sean, kemudia Ia memberi isyarat kepada anak buahnya melalui lirikan mata.
"Lepaskan Aku!" bentak Sean saat kedua tangannya dicengkeram kuat oleh kedua anak buah Thomson.
BUG! BUG!
Dua tinjuan langsung diterima Sean. Meski muka tampan itu tak menunjukkan sedikitpun gurat kesakitan di sana. Baginya, keselamatan Allesya sudah mengalahkan segala rasa yang diterima.
Allesya, nama itu terus berputar di otaknya. Frustrasi rasanya, karena hingga saat ini ia tak kunjung melihat istri kecilnya itu. Memastikan bagaimana keadaanya sekarang.
"Aku memang tidak menginginkan hartamu Sean Willson, karena yang ku inginkan adalah penderitaanmu. Dan melalui wanitamu akan aku tunjukkan arti penderitaan yang sesungguhnya."
"Kembali ku ingatkan. Jangan sentuh wanitaku!"
°°°
__ADS_1
"Aku hitung sampai tiga, lalu kita serang mereka."
"Oke."
"Satu ... Dua ... Tiga ...!"
HIYAAAT.....!
Allesya langsung membanting tubuh besar itu dengan satu kali sapuan kaki ke samping dan tarikan tangan memutar. Lanjut memiting tangan lawan yang sudah tersungkur di lantai hingga tak berkutik.
"Arrggg...! Aduh duh duh! Sakit..! Lepaskan tanganku."
Allesya spontan melepas pitingannya saat menyadari ia salah sasaran. "Kak Alvin?!
"Iya ini aku, kenapa kau malah menghajarku?" sahut Alvin yang masih menggeliat di atas lantai seperti cacing kepanasan, menikmati sensasi bantingan maut Allesya. "Sepertinya pinggangku patah."
"Maaf, aku kira kau penjahatnya. Apa kau bisa berdiri?" Allesya tampak tak enak hati.
BUG! BUG! BUG!
BUG! BUG! BUG!
BUG! BUG! BUG!
"Aw! Aw! Aw! berhenti memukulku!" Sammy terus menangkis serangan jurus seribu tangan yang dilayangkan Lilly meski hasilnya sia-sia. Mukanya sudah terlihat babak belur.
"Aw! Sakit! Berhentilah memukulku!"
"Rasakan ini! Pergi saja ke neraka. Dasar bajingan!" Bagaikan jin kesurupan setan, Lilly meninju, menampar, menendang, dan menjambak tanpa ampun dengan mata terus memejam.
"Ku potong uang sakumu lima puluh persen!"
Ancaman Sammy kali ini sepertinya terbukti ampuh. Serangan Lilly berhenti secara kontan. Gadis itu memang paling sensitif kalau sudah menyinggung uang sakunya.
"Dasar adik durhaka! Apa kau ingin membunuhku?! Semangat sekali kau menghajarku? Jangan-jangan kau punya dendam tersembunyi kepadaku," cerca Sammy seraya menonyol-nonyol gemas kening si adik hingga terhuyun ke belakang.
"Ehe ... tadi aku kira kau penjahatnya, Kak Sammy," sanggah Lilly.
"Bos! Mereka ada di sana!" tunjuk salah satu penjahat yang menemukan keberadaan sanderanya yang lepas.
Allesya terperanjat begitu juga dengan yang lainnya. Sammy sontak menarik Lilly agar berdiri di belakangnya bersama Allesya. Alvin bergegas beranjak dari lantai, membawa tubuhnya yang masih kesakitan, bersejajar dengan Sammy.
"Sepertinya ada tikus lain yang datang untuk menyelamatkan sanderanya Bos!" lapor si Anak buah.
"Habisi semuanya, kecuali wanita itu!" titah si Pemimpin komplotan yang terdiri dari empat orang itu.
Tidak ingin membuang waktu, para berandalan mulai menyerbu. Perkelahianpun tak terelakkan. Pukulan demi pukulan terus melayang mencari sasaran. Sammy dan Alvin mengelak, menangkis, dan membalas balik segala serangan yang datang dari segala arah.
Dua musuh telah tumbang dan tinggal sisa dua cecunguk lagi.
"Aduh duh duh!" rintih si Berandal bertato Donal Bebek di lengannya.
"Aarrgg! lepaskan tidak?!" hardik Sammy.
"Lepas dulu tanganmu baru aku lepaskan!"
"Tidak! Kau yang lepas duluan!"
Sammy dan si Berandal saling menjambak rambut dan keduanya tidak ada yang mau mengalah.
__ADS_1
"Kita batu kertas gunting saja, siapa yang kalah harus melepasnya duluan," Sammy bernegoisasi.
"Baik."
"Batu kertas gunting!" hasilnya sama.
"Batu kertas gunting!" Sammy menyeringai karena dia yang menang.
"Cepat lepaskan!"
Dan bodohnya si Berandalan patuh begitu saja. Melepas cengkeraman tangannya.
"Dasar bodoh!" Sammy menyeret si Cecunguk itu dan melemparnya ke luar jendela gedung.
Sementara sepasang lawan lainnya, Alvin dan si Cecunguk botak tampak merehatkan tubuhnya sebentar karena kelelahan.
"Tunggu sebentar! Biar aku bernapas dulu," tukas Alvin, sedikit membungkuk dengan kedua tangan bertopang di kedua lututnya. "Apa kau tidak membawa air? Aku sangat haus."
"Aku tidak membawa air," sahut si Berandal botak yang tak kalah ngos-ngosan. Membawa tubuhnya duduk di ambang jendela yang tak berdaun pintu.
Alvin mendekat ke jendela yang sama, melihat keadaan di bawah gedung. "Di bawah sana ada air," ucapnya, seraya jari menunjuk ke genangan kolam di bawah sana. Si Berandal melongok ke arah di mana jari Alvin menunjuk.
Sekilas keduanya terlihat akrab.
"Memang kenapa?" tanya Si Berandal botak mendadak polos.
"Aku haus, ambilkan aku air di sana," tanpa aba-aba Alvin mendorong tubuh si Berandal ke luar jendela.
"Aaaahhh.....!"
BYUURR....!
"Kak Sammy! Kak Alvin! Allesya menghilang!" teriak Lilly yang baru menyadari bahwa temannya sudah tidak berada di dekatnya.
"Sialan! Kita kecolongan!" umpat Sammy.
"Sam? Vin?"
Bertepatan dengan itu, Jeffrey yang memang langsung menyusul ke gedung tanpa sengaja bertemu dengan kedua sahabatnya.
"Jeff, kemana saja kau? Kami sampai kewalahan melawan mereka," ucap Alvin.
"Aku rasa kalian tidak membutuhkan bantuanku," sahut Jeffrey, melihat ke arah para berandal yang sudah terkapar tak berdaya. "Kalian belum belum bertemu dengan Sean dan Allesya?"
"Kami tadi sempat bertemu dengan Allesya saja, sayangnya kami kecolongan, para berandal berhasil membawanya kembali," terang Sammy.
"Sam, sebaiknya kau bawa pergi adikmu, di sini tidak aman. Biar aku dan Alvin yang mencari Sean dan Allesya," saran Jeffrey.
"Tapi Jeff."
"Lagian aku tidak datang sendirian. Beberapa petugas keamanan sudah membekuk semua berandalan yang berjaga di depan gedung," potong Jeffrey.
"Baiklah."
❣
❣
❣
__ADS_1
Bersambung~~
Waah.. kurang beberapa bab lagi, siap-siap berpisah dengan Sean dan Allesya nih😆