Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 49


__ADS_3


Langit London begitu cerah hari ini. Menggugah semangat para penghuni daratan kota untuk tetap terus menjalani segala aktivitas yang tentunya sangat beraneka ragam. Di sebuah bangunan gedung, tepatnya di ruangan tahta tertinggi, Sean tengah melakukan percakapan melalui saluran telepon.


"Bagaimana keadaan Mama, Kek? Apa dia sudah meminum obat?"


"Kau tenang saja, dia terurus dengan baik di sini?"


"Apa pria itu ada bersamanya sekarang?"


Sejenak tidak ada sahutan dari balik telepon seolah Henry ragu hanya untuk berkata iya.


"Hah..! Jangan biarkan dia berlama-lama berada di dekat Mama Kek," pinta Sean yang memang sudah tahu betul bahwa Erick sering menjenguk Sarah setelah peristiwa kecelakaan itu.


"Cucuku, bisakah kau buka sedikit saja hatimu untuk memberi kesempatan kepada Ayahmu untuk memperbaiki kesalahannya? Aku lihat Sarah mulai terlihat tenang sekarang jika bersamanya, tidak seperti sebelumnya," bujuk Henry penuh akan harapan.


"Jangan paksa aku Kek, aku masih sangat kecewa dengannya," tolaknya.


"Baiklah, kalau begitu bawa Allesya kembali untuk menjaganya."


DEG!


"Sudahlah Kek, jangan bahas gadis itu. Aku akan kembali bekerja sekarang," Sean menutup sepihak sambungan telepon.


Rasanya dia sangat tidak ingin membahas apapun tentang Allesya saat ini. Meski, bayangan gadis itu sering kali mengusik pikirannya. Apalagi setelah ia menjajah liar tubuhnya di malam itu, membuat organ bawahnya sering turn on tanpa sebab.


Dipijatnya kedua pelipisnya yang mendadak pusing seraya menghela napas berat.


"Ada ataupun tidak ada dia di sini, nyatanya ia tetaplah pengganggu, merusak ketenanganku," gerutunya.


Diambilnya posisi duduk tegap. Mendaratkan kembali 10 jarinya di atas Keyboard komputer. Melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk," ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer lipat di depannya hingga akhirnya dua manusia menyembul dari balik pintu sukses menarik perhatiannya.

__ADS_1


Masih berada di tempat duduk singgasana, dilemparnya mimik muka bertanya-tanya kepada Jeffrey yang tak biasanya datang ke kantornya bersama Jenny.


"Maaf jika kedatanganku menyita waktu kerjamu," ucap Jenny yang masih berdiri tidak jauh dari meja kerja Sean.


Sedangkan Jeffrey sudah mengambil posisi duduk ternyaman di sofa ruangan. Membiarkan Jenny menyelesaikan urusannya. Menyiapkan telingan dan mata untuk menjadi pendengar dan penonton yang baik.


"Kalian ada perlu apa datang ke kantorku? Dan kau Jenn duduklah dulu, sepertinya ada yang ingin kau sampaikan," Sean menutup layar komputernya, memberi perhatian penuh kepada Jenny yang tengah menatapnya.


Sesaat Sean menyadari sesuatu. Dia sudah tidak merasakan sebuah getaran berbeda di dadanya ketika bersisitatap dengan Jenny. Rasa cinta yang selama ini dia simpan dalam-dalam seolah tak lagi bertahta di hatinya. "Allesya..," tanpa dia inginkan batinnya berbisik, menyebut pemilik nama yang baru saja terlintas di pikirannya.


"Sebenarnya Allesya sudah melarangku untuk menceritakan semuanyanya kepadamu Sean. Tapi aku sudah tidak tahan lagi," baru dua penggal kalimat yang terucap, kedua netra almond Jenny sudah memanas.


Jeffrey tampak menghela napas panjang di kala mendengar suara istri tercintanya mulai bergetar seolah mengisyaratkan sesuatu yang tertahan di dada sewaktu-waktu bakal meluap. Ia berharap, tidak ada adegan menangis kali ini. Karena dia sangat tidak suka melihat pujaan hatinya menangis.


Sedangkan Sean kembali melempar pandangan penuh tanya ke Jenny, diikuti munculnya garis kerutan di antara kedua pangkal alis tebalnya. "Berbicaralah langsung pada intinya saja Jenny, aku sedang tidak ingin menerka-nerka."


"Kenapa kau lakukan itu kepadanya Sean? Selama ini dia sudah sangat menderita. Harusnya kau tahu itu," Jenny mulai mengutarakan sesuatu yang seharusnya dari kemarin-kemarin ia lakukan.


Mimik muka penuh tanya seketika menguap, seolah ucapan Jenny barusan sudah dijadikan sebuah jawaban. Dihempasnya tubuh berbalut jas kerja itu pada sandaran kursi kebesarannya. Di susul sebuah sunggingan pada salah satu sudut bibir seraya berdecak. "Tambah satu orang lagi yang membelanya seolah dialah korban sesungguhnya," ucapnya jengah.


Jenny tercengang mendapati tanggapan tak mengenakan dari Sean. Seakan tidak ada secuilpun rasa bersalah di hatinya. "Iya, dia memang korban sesungguhnya Sean, dialah yang paling menderita, dialah yang paling tersakiti!" bebernya penuh penekanan.


"Aku hanya ingin meluruskan saja karena tindakanmu sudah sangat parah Sean. Agar kau segera menyesali perbuatanmu dan memperbaiki semuanya."


"Tidak ada yang harus aku sesali jadi tidak ada yang perlu diperbaiki," tukasnya.


Jenny tersenyum miris. Dia yakin, Sean akan mengutuki dirinya sendiri jika mengetahui yang sebenarnya. "Apa kau tetap tidak akan menyesalinya kalau mengetahui kebenarannya bahwa Allesya bukanlah anak kandung Inggrid melainkan anak korban penculikan yang selalu disiksa? Apa kau masih tidak akan menyesalinya jika aku bilang kalau Allesya adalah teman kecilmu yang bernama Esya?"


DUAR....!


Dan benar. Muka tampan yang semula terbias keangkuhan seketika berubah pasi. Bagaikan dijatuhi ribuan batu meteor, kepala Sean seketika terasa berat. Perkataan Jenny barusan sukses membuat tulang-tulang penyangga tubuh lemas tak bertenaga. Dadanya bergemuruh seolah gulungan ombak tsunami menghantam jiwa dan menariknya ke dalam pusaran air laut raksasa, menenggelamkannya ke dasar palung tergelap.


Tidak ada rangkaian huruf yang pantas untuk menggambarkan sebuah rasa yang tengah menghimpit sekujur tubuhnya kecuali kata penyesalan.


Lidahnya membisu karena memilu. Organ pemompa darahnya seakan membeku. Tubuhnya seketika memaku. Jenny terus saja menghujaminya dengan segala kebenaran tentang Allesya. Membuatnya kian tak berkutik. Membunuh segala ego yang telah menjerumuskannya dalam kesalahpahaman yang merusak suatu hubungan manis. Menghempas pemikiran bahwa aku tidak salah selama ini.

__ADS_1


Diremasnya kain di dada. "Apakah sesakit ini yang dirasakan Allesya waktu itu?" batinnya menjerit.


"Kenapa kau hanya diam?! Kemana kearogangsianmu beberapa detik yang lalu? Hah?" cerca Jenny. Sekali lagi Sean tak mampu membela diri.


"Aku akan menemuinya," tubuh yang sudah dibawa beranjak dari peraduan tak urung membuatnya langsung melangkah karena Jenny melempar secarik kertas berisi tulisan tangan.


"Kau sudah terlambat Sean."


Di ambil kertas yang berserak di atas meja kerjanya. Manautkan pandangan pada lembaran bertinta hitam tersebut. Menyapu satu persatu huruf-huruf yang berjajar rapi membentuk beberapa paragraf kalimat.


To : Kak Jenny


Kak, maaf jika Allesya pergi tanpa berpamitan langsung denganmu terlebih dahulu. Karena aku tidak akan sanggup jika harus melihatmu menangis, yang ada aku tidak jadi pergi karena merasa berat. Hehehe... Kak, mungkin setelah kau membaca surat ini aku sudah pergi jauh meninggalkan kota London. Kota yang menyimpan seribu luka di hatiku. Kota yang memberitahuku apa itu rasa pahitnya kehidupan. Kota yang mengajarkan aku bahwa tidak semua perjuangan cinta harus berakhir dengan kisah manis seperti di dunia pernovelan.


Aku rela menjadi manusia paling bodoh di dunia agar ada tempat untukku di hatinya. Namun ada kalanya aku terjatuh pada titik terlelah untuk mengejar cinta yang nyatanya tidak bisa ku gapai.


Cintaku sudah berubah haluan menjadi sebuah rasa yang disebut benci. Daripada rasa ini menjerumus dan merusak hatiku, lebih baik aku menjauh. Mencari kebahagiaan lain dengan melupakan dia yang telah menghancurkanku dengan membuka lembaran baru.


Percayalah, aku tidak akan pernah melupakanmu Kak Jenny. Kau sudah ku anggap sebagai Kakak kandungku sendiri. Kelak entah kapan, jika Tuhan masih memberi kesempatan aku akan menemuimu kembali.


Sekali lagi Allesya minta maaf jika tidak bisa memberitahu kemana aku pergi.


From : Allesya.


Sepertinya syok terapi yang baru saja ia terima telah menguras habis tenaganya hingga tak tersisa membuat kertas yang semula ia pegang terlepas begitu saja.


Masih dengan raut muka kecewa, Jenny beranjak dari duduknya. "Sebaiknya kau renungi kembali segala perbuatan berdosamu itu Sean," tuturnya sebelum memutuskan untuk keluar dari ruangan dengan perasaan sedikit lega. Meninggalkan Sean yang mulai dirundung rasa bersalahnya.


Jeffrey yang sedari tadi menempatkan dirinya sebagai pendengar dan penonton yang baik juga ikut beranjak dari duduknya. "Asal kau tahu Sean, Allesya waktu itu pasti sangat kesakitan luar dalam. Hatinya kau sakiti dan tubuhnya kau siksa. Dia gadis baik yang polos tapi kau memperlakukannya seperti wanita jal*ng. Bahkan wanita jal*ng di luar sana bisa mendapatkan perlakuan yang jauh lebih baik daripada Allesya. Aku harap, cukup sekali saja kau bertindak seperti bajingan mesum," tutur Jeffrey yang akhirnya memilih segera menyusul istri tercintanya.




__ADS_1


Bersambung~~


Ya Allah ni jempolan sampai kesemutan dibuat ngetik. Doakan ya, semoga besok jempolan ajaibku ini masih bisa dipakek untuk ngetik. Makacieh..untuk para readers tercayang.. lop lop hot cuperr..😘😘😘


__ADS_2