Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 50


__ADS_3


Sebuah jiwa seolah terlepas dari raga. Tak mampu bergerak untuk sekedar meraih sesuatu yang menghilang. Menyisakan keputus asaan hati berpayung sesal. Ingin kaki terus berlari, menerobos ruang waktu, memutar kembali masa yang nyatanya sudah berbentuk sepenggal kisah kenangan kelam.


Semuanya sudah terlambat. Tangannya sudah melubangi hati tulus itu dengan kejam, menyisakan luka terlampau dalam. Meskipun sejuta maaf yang terucap, tidak akan mampu mengubur bekas luka yang menganga lebar.


Dok! Dok! Dok!


"Allesya...," tangan dibuat menggedor daun pintu yang nyatanya masih tak bersambut oleh sang Tuan Rumah.


Dok! Dok! Dok!


"Allesya..," panggilnya lagi.


Entah sudah berapa kali bibirnya terus memanggil nama Allesya, padahal ia sudah tahu bangunan di depannya tak berpenghuni. Padahal ia sudah tahu, sekeras apapun dia menggedor pintu atau bahkan mendobraknya sekalipun, tidak akan membuatnya bertemu dengan seseorang yang telah ia sia-siakan.


Lemas sudah. Tubuh gagahnya beringsut jatuh ke lantai. Bersandar pasrah pada daun pintu yang dijadikan kekekuatan agar tidak limbung.


Allesya sudah sangat menderita Sean.


Kau memang tidak punya hati. Setelah memperlakukannya dengan kasar, kau mengusirnya meski hari masih gelap.


Kau biarkan dia pulang berjalan kaki dengan kondisi berantakan, membawa hati yang terluka.


Kau bahkan tidak peduli meski waktu itu ia sedang sakit.


Gara-gara kau, dia bahkan tidak bisa melihat muka Neneknya untuk terakhir kali.


Dia sungguh sangat terpukul hingga tubuhnya tumbang dan harus dirawat di Rumah Sakit.


Kau! Telah mematahkan hati kecilnya dengan sangat kejam. Kau merusak hidupnya. Batinnya kau cabik-cabik, raganya kau remuk. Kau telah menyia-nyiakan ketulusan cintanya.


Kau bahkan merusak harapannya akan janji yang telah kau berikan kepada Allesya kecil.


Apa kau masih pantas disebut manusia?


Bagaikan layar TV hitam putih. Otaknya terus memutar ulang semua ucapan Jenny beberapa waktu yang lalu. Bak dilempar ribuan tombak tak kasat mata, semua kebenaran yang meluncur dari bibir Jenny seolah sukses menghunus rongga dada, mendorong tubuhnya ke dalam jurang penyesalan. Terjebak oleh rasa bersalah yang tak berujung.


"Kau memang brengsek Sean. Kau pria bajingan yang tak lebih baik dari binatang!" ia terus mengutuki dirinya sendiri seraya membentur-bentur kepala belakangnya pada daun pintu yang dibuat bersandar.

__ADS_1


Dia ajak kakinya untuk berpijak agar kembali berdiri. Melangkah lunglai menuju mobil mewah yang terparkir rapi di depan pelataran rumah Allesya yang sudah kosong.


BRAK!


Dibanting kasar pintu mobil yang tak bersalah.


BUG! BUG! BUG!


Dan dipukulnya kemudi mobil yang tak berdosa itu berkali-kali. Andai mobil bisa berbicara, mungkin ia sudah menjerit kesakitan seraya mengajukan protes akan tindakan penganiyaan.


"Aaaarrrrgg! Kau pergi kemana Allesya.." teriakan frustrasi menggema di langit-langit mobil. Rambut blonde lebatnya juga jadi korban incaran remasan kuat tangannya.


"Allesya.. Kau di mana? Maafkan aku, ijinkan aku memperbaiki semuanya," sesalnya menggiring tetesan buliran bening yang membasahi muka tampannya.


Dirogohnya ponsel dari dalam saku jas kerja. Menggeser terus ke atas daftar kontak telepon yang tersimpan rapi hingga nama kelinci kecilku tertangkap mata. Gegas ia menekan tombol permintaan sambungan panggilan namun kekecewaan kembali ia terima di saat suara operator mesinlah yang ia dengar.


Pria itu tampak menyugar kasar rambut blondenya hingga sebuah ingatan terlintas di otak yang tengah berkecamuk. Tubuh dia ajak beringsut ke bangku mobil belakang. Mencari sesuatu yang diyakini masih berada di sana.


Tidak butuh waktu lama, sebuah ponsel pintar milik Allesya yang terlantar di bawah bangku berhasil ia temukan. Lanjut menekan tombol swicth on-off namun layar masih gelap bertanda ponsel tidak dapat dinyalakan.


Helaan napas kasar menyusul mata yang menatap nanar benda pipih di tangannya. Kembali teringat muka pucat Allesya yang ketakutan ketika Sean membentak dan melempar ponselnya dengan kasar.


Di sebuah bangunan bar tempat para tamu melepaskan penat dan pikiran dengan meneguk beberapa gelas minuman beralkhohol yang memabukkan. Sammy dan Alvin terlihat berjalan berdampingan memasukki bangunan. Kedua pria itu menyapu setiap sudut ruangan, mencari keberadaan Jeffrey yang telah menyuruh mereka datang. Tepatnya memberi sebuah titah mutlak yang haram untuk dibantah.


"Ada apa lagi?" tanya Sammy seraya menarik kursi di sebelah Jeffrey.


"Aku sampai terpaksa meninggalkan istriku yang merengek minta asupan gizi di atas ranjang demi mendatangi tempat ini," gerutu Alvin sontak mengundang gelak tawa Sammy.


"Aku yakin setelah ini kau tidak berani pulang," ledeknya.


"Itu semua gara-gara si Manusia kutub satu ini," sengitnya tertuju ke Jeffrey yang masih bersikap acuh tak acuh.


"Antar si Keparat ini pulang," pinta Jeffrey yang langsung menyadarkan Sammy dan Alvin akan keberadaan Sean yang terlihat sangat kacau.


"Allesya.. di mana kau sekarang..? Kembalilah, tolong maafkan aku," dalam kondisi sudah mabuk berat Sean terus meracau.


Suara decakan kompak terdengar dari mulut Sammy dan Alvin.


"Apa yang terjadi dengannya? Yang aku tahu dia tidak akan membiarkan dirinya dikalahkah oleh minuman beralkhohol," Sammy tampak heran. Di guncangnya tubuh Sean yang sudah terkulai di atas meja bar. Allesya.. Allesya.. Sean tak henti-hentinya memanggil nama Allesya di dalam kondisi yang sudah dipengaruhi minuman setan.

__ADS_1


"Tidak seperti biasanya dia seperti ini." imbuh Alvin terheran.


"Dia ditinggal pergi Allesya, makanya dia jadi gila sekarang," jawab Jeffrey begitu santai lanjut menyesap cairan keemasan dari dalam gelas kristalnya.


Pernyataan Jeffrey sukses membuat Sammy dan Alvin tercengang. "Waow! fenomena langka," celetuk keduanya kompak.


"Sebentar, aku harus mengabadikan fenomena ini dulu. Akan sangat sayang jika dilewatkan," Sammy gegas merogoh ponselnya untuk merekam sahabatnya yang tak henti-hentinya meracau seperti orang gila hingga seringai kepuasan terbit di bibirnya. "Ini bisa aku jadikan senjata jika dia menolak proposal kerjasamaku nanti."


"Allesya.. Kelinci kecilku, kau kemana sayang. Jangan siksa aku seperti ini... Aku bisa mati.."


"Baru pertama kali aku melihatnya seperti ini karena seorang wanita. Aku yakin dia sudah melakukan kesalahan besar kepada Allesya," Alvin berasumsi.


"Bajingan ini telah memperk*sanya," terang Jeffrey dengan muka datar.


"APA?!" lagi-lagi Sammy dan Alvin terkejut bersamaan membuat Jeffrey sedikit terjingkat dan hampir tersedak minuman.


"Yaaakkk! Apa kalian sudah bosan menghirup udara segar?!" sentak Jeffrey kesal.


"Sungguh memalukan. Apa kita tenggelamkan saja ia di sungai Thames?" saran Sammy ngawur bercampur jengkel.


"Aku tidak menyangka dia melakukan itu kepada Allesya si Gadis Polos itu," ucap Alvin dengan tangan menjangkau minuman yang hampir diteguk Jeffrey lalu meneguknya hingga tandas. Mengabaikan muka kesal Jeffrey yang memiliki panggilan sayang si Beruang Kutub oleh sang Istri.


"Pesanlah minumanmu sendiri, jangan merampok milik orang lain.," sengit Jeffrey.


"Aku cuma mencicipinya, kenapa mukamu sudah semasam itu?"


"Ck!" decih si Jeffrey


"Kyaaakk! Aku bukan Allesya! menyingkirlah!" tiba-tiba perhatian Jeffrey dan Alvin teralih ke Sammy yang terus memekik jijik ala-ala makhluk bepedang bengkok.





Bersambung~~


Maaf bab kali ini lebih pendek dari sebelumnya. Soalnya Nofi lagi tepar nih..🥺

__ADS_1


__ADS_2