
Beberapa pakaian tampak berserakan di atas lantai kamar. Tas dan sepatu teronggok di sembarang sudut.
"Kyaakk..! Kenapa besar sekali?!" Vera memekik syok ketika melihat benda sebesar jagung bakar berdiri tegak di depan mata. "Arthur, bisakah kita menundanya besok?" pintanya memelas.
Jujur, batin berkali-kali merutuki diri dan ingin rasanya lidah menarik kembali ucapan tantangan yang membawanya ke posisi sekarang. Yaitu berada di bawah kungkungan posesif tubuh besar Arthur.
Tak mengindahkan permintaan Vera yang seolah meminta belas kasihan, pria itu justru membungkus tubuhnya dan Vera yang sudah sama-sama polos di bawah selimut tebal. "Jadi kau tidak ingin melakukannya bersamaku?" suara parau menandakan n*fsu yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Bukannya seperti itu? Ini terlalu tiba-tiba," keberanian diawal nyatanya tersingkirkan oleh kegugupan. Nyalinya menciut begitu saja.
"Ini bukan sesuatu yang tiba-tiba Vera. Selama satu tahun lebih enam bulan, kau terus memintaku menjadi kekasihmu, harusnya kau sudah siap bukan?"
"Tapi."
"Sstt! Aku akan memulainya," memposisikan bendanya.
"Aahhkkkk!" Vera memekik histeris.
"Belum Vera."
"Ee? Belum ya? Aku kira sudah."
"Kau berisik sekali, sama seperti Allesya."
"Karena kami sekandung dan sedarah."
"Ya aku tahu itu."
"Ya sudah, buruan saja?"
"Apanya?"
"Masukin."
"Kau sudah siap?"
"Sedikit."
"Aku mulai sekarang."
"Tunggu," menghentikan pergerakan Arthur.
"Ada apa?"
"Pelan-pelan, karena aku masih virgin."
"Benarkah?" Arthur tak percaya, karena selama ini kesan gaya hidup bebas begitu melekat pada diri Vera.
Mengangguk pelan. "Kau pasti tidak akan percaya bukan?"
"Aku akan membuktikannya sekarang," kembali memposisikan bendanya, siap menerobos masuk.
"Sebentar!"
"Apa lagi Vera...?!" menggeram frustrasi, menahan ngilu yang kian berdenyut.
"Bagaimana dengan perasaanmu kepadaku?"
"Menurutmu?"
"Kenapa balik bertanya?" mendengus kesal.
"Aku mencintaimu Vera."
"Sungguh?" ganti Vera yang tak percaya meski hati tak menampik sebuah rasa yang bermekaran di sana.
Tatapan yang semula berkabut n*fsu seketika berubah menjadi tatapan hangat syarat akan cinta. Mengembalikan otak untuk berpikir jernih, menghempas hasrat yang hampir melenakan, mengurung sementara keinginan untuk bercinta, mengabaikan sensasi ngilu di ujung batangnya.
Memberi sebuah kecupan di kening sebagai ekspresi lembut kasih sayang darinya untuk Vera. "Sebaiknya aku tidak melakukannya sekarang. Masih ada hal lain yang jauh lebih penting," berhenti mengungkung tubuh polos Vera. Mengambil satu persatu kain yang berserakan di lantai.
Tubuh polos berbalut selimut dibawa bersandar pada headboard ranjang. Vera memperhatikan segala pergerakan Arthur. "Apa yang lebih penting?"
__ADS_1
"Kita pergi ke gereja sekarang."
"Ee? Kau ingin melakukan pengakuan dosa setelah menelanjangiku?"
"Iya, sekalian mengajakmu menikah."
"APA?! Sekarang? Tidak besok atau lusa?" Vera seketika syok. "Jangan bercanda Arthur..!"
"Harus sekarang," tangan yang sudah menenteng pakaian terulur ke arah Vera. "Segera kenakan pakaianmu."
"Tapi bagaimana dengan kedua orangtuaku?"
"Sebenarnya, aku sudah meminta ijin kepada kedua orangtuamu untuk menikahimu dan mereka merestui."
Tercengang tapi senang, kedua perasaan itu terbingkai menjadi satu. Tidak menyangka, ada keseriusan di balik sifat cuek Arthur kepadanya selama ini.
"Arthur... Kau manis sakali..!" meloncat girang ke arah Arthur, seraya memekik penuh kekaguman.
"Cepat pakai bajumu Vera."
°°°
"Cepat jelaskan." titah Sean kepada David si Asisten.
David menyerahkan beberapa berkas laporan yang terkait dengan masalah eksternal perusahaan yang baru saja diterimanya. "Galton Corp mengklaim bahwa brand fashion dari perusahaan kita telah menjiplak beberapa rancangannya tanpa ijin, Tuan. Dan berita miring ini telah menyebar luas di berbagai media sosial."
Masih dengan pembawaan diri tenang, CEO dari kerajaan bisnis Willson Corp itu membuka lembaran berkas laporan yang diberikan David. Terlihat di dalam sana, beberapa foto yang membandingkan gambar-gambar hasil rancangan Willson Corp dan Galton Corp yang memang memiliki banyak kemiripan. Tepatnya mirip tapi tak sama, itulah hasil pengamatan kejelian mata Sean.
"Lanjutkan."
"Mereka menuntut kompensasi sejumlah 500.000 Pounds dan mengancam menyeret perkara ini ke meja hijau," lapornya lagi.
Sean menyungging salah satu sudut bibirnya, reaksinya sungguh diluar ekspetasi. Mimik serius yang sedari tadi membingkai muka David seketika pudar, berganti muka penuh tanda tanya.
"Semua rancangan desain produk kita selalu melewati tahap-tahap prosedur dan seleksi yang sangat ketat, termasuk menghindari plagiarisme. Jika hal seperti bisa sampai terjadi, tentunya kau pasti tahu penyebabnya, David."
Kerutan di dahi tercetak jelas, memaksa otak untuk berpikir keras. Hanya dalam waktu singkat, David memasang muka penuh akan jawaban jelas. "Kemungkinan besar rekapan rancangan desain kita terlebih dahulu bocor sebelum produk kita diluncurkan dan ada pihak gelap yang berkaitan dengan ini."
"Baik Tuan."
"Besok, kita akan menyelenggarakan konference pers. Persiapkan semuanya."
"Baik Tuan," jawab David mematuhi.
Teringat ada keperluan lain yang tak kalah penting, Sean melirik ke arloji yang melingkari pergelangan tangannya. "Aku akan pergi sekarang. Istri kecilku pasti sudah menungguku," satu pijakan kaki, membawa tubuh gagahnya berdiri dari kursi kebesaran.
"Tapi Tuan, di depan pintu masuk utama beberapa wartawan sudah berdiri di sana," lapornya, tubuh berotasi mengikuti gerak pindah sang Tuan.
Tanpa menghentikan ayunan kaki, tangan menyematkan kaca mata hitam. "Aku tahu."
Langkah lebar menyongsong tubuh gagah melewati pintu putar kaca empat sayap yang langsung di sambut oleh sodoran microphone dan bidikkan kamera para reporter.
"Tuan Sean Willson, apakah benar berita yang terkait penjiplakkan rancangan milik Dalton Corp tersebut?"
"Apakah Willson Corp sudah melepas prinsip 'katakan tidak untuk plagiarisme'?"
"Apakah perusahaan sedang minim ide sehingga berani melanggar hukum dalam dunia bisnis?"
"Benarkah selama ini anda sering terinspirasi oleh rancangan perusahaan lain untuk produk terbaru sebelum dikeluarkan?"
Deretan pertanyaan yang terkesan memberatkan Willson Corp atas kesalahan mencelos satu persatu dari para mulut juru warta yang mengerubungi Sean sebagai narasumber utama mereka.
Tiada gelagat gugup maupun grogi yang membiasi. Sean justru menyematkan senyuman berkarisma pada pembawaan dirinya yang tenang dalam menghadapi serangan para wartawan. "Semua pertanyaan kalian akan saya jawab di acara konferensi pers besok di auditorium perusahaan," terangnya sebelum memasuki mobil yang sudah disiapkan.
"Tuan, tolong jawab satu saja pertanyaan dari kami."
Terlihat seorang wartawan terus gigih mencari informasi, meski tubuh Sean sudah tenggelam di dalam kendaraan roda empatnya. Hingga akhirnya, para pemburu berita tersebut harus menyerah karena incaran narasumber mereka menghilang dari pandangan.
°°°
"Ahkk..!"
"Ah. Maaf Alles, aku tidak sengaja," sesal Lilly setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman pada pakaian Allesya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar biar aku membersihkannya," tangan mengobrak-abrik isi tas, mencari sesuatu yang dikira bisa mengurangi noda minuman tersebut. "Hiish! Sepertinya tadi aku meletakkan sapu tangan di dalam," gerutunya, tak menemukan apa yang dia butuhkan.
"Bersihkan pakai ini saja," ganti Loye yang berinisiatif, memberikan sapu tangan kepada Allesya. Sementara Lilly seketika merasa lega.
Namun belum sempat benda tersebut berpindah tangan, Loye menariknya kembali. "Biarkan aku membantumu," tawarnya.
"Tidak perlu, Loye. Terima kasih," tolak lembut Allesya tapi tak diindahkan oleh si Pemilik sapu tangan.
Tangan bergerak cekatan, membersihkan tumpahan minuman di kain. Perlahan, sapuan berpindah menyusuri bagian tubuh yang lain.
"Sudah cukup Loye," merasa tidak nyaman karena sapuan Loye mulai merambat ke pakaian bagian dada.
"Jauhkan tangan kotormu dari tubuhnya."
Gema suara bariton sontak menarik atensi ketiga manusia, Allesya, Lilly, dan Loye yang serempak menggiring mukanya ke arah pemilik sumber suara.
"Kak Sean," lirih Allesya.
"Hai Kak?" sapa Lilly yang nyatanya tak bersambut ramah dari Sean.
Memaku pijakan kaki tepat di depan Loye, aura tak bersahabat mengiringi tatapan tajam yang tertuju ke pria berkaca mata tersebut. "Kau memiliki keberanian yang cukup untuk menyentuh wanitaku rupanya," suara rendah dan dalam namun terkesan dingin, menyiratkan ketidak sukaan yang begitu kentara.
"Maaf Tuan, aku tidak bermaksud seperti itu," sanggah Loye, gugup karena serangan kilatan tajam tatapan Sean.
"Kak Sean, dia tadi hanya ingin membantuku," belaan untuk Loye terdengar dari bibir Allesya.
Sementara Lilly masih setia dengan remasan pada jari-jari gemuknya, menempatkan diri sebagai dalang masalah, jelas membuatnya merasa bersalah. Kalau saja ia tidak menumpahkan air pada pakaian Allesya, Loye juga tidak akan membantu membersihkan dan suasana tegang seperti saat ini tidak akan terjadi.
Pembelaan yang didengar bagaikan wujud sebuah perhatian lebih terhadap Loye. Barang tentu Sean sangat tidak menyukainya.
"Kita pulang sekarang, Allesya," menarik tangan Allesya dan membawanya pergi menuju mobil. Menyisakan Lilly dan Loye yang masih memaku.
°°°
"Menjauhlah dari pria itu Allesya."
Pemandangan luar jendela mobil yang semula menjadi pusat pandangannya beralih ke arah Sean yang masih memegang benda bulat di depannya. "Kak, kau jangan berlebihan. Dia tadi hanya berniat mebersihkan pakaianku yang kotor."
"Tapi aku tidak suka jika dia menyentuhmu. Lagian tadi terlihat sekali kalau dia sedang memanfaatkan kesempatan untuk menyentuhmu."
"Dia tidak seperti yang kau pikirkan, Kak Sean," lagi-lagi sebuah pembelaan untuk Loye yang di dengar, membuat Sean kian dirundung hawa panas.
"Kau seolah tidak keberatan disentuhnya," ucapan Sean kali ini sukses menyinggung perasaan Allesya.
"Apa maksudmu?" melempar mimik muka tak bersahabat.
"Kau bahkan selalu berhati-hati jika aku menyentuhmu terlampau intim, padahal aku suamimu."
"Ow, jadi kau menyalahkanku akan hal itu? Apa kau lupa itu juga karena perbuatanmu? Kau yang membuatku bersikap seperti itu!" hardik Allesya.
Kesalahan di masa lalu yang diangkat kembali ke permukaan oleh Allesya, langsung bersambut oleh rasa bersalah di hati Sean.
Tersenyum getir, mengasihani diri sendiri karena kata 'dihargai' seolah tak layak ia dapatkan sebagaimana seorang suami yang harusnya dihormati sang Istri, hanya karena kesalahannya di masa lalu.
"Maaf, aku memang bersalah. Tenang saja, setelah ini aku benar-benar tidak akan menyentuhmu sebelum kau sendiri yang memintanya."
💚
💚
💚
Bersambung~~
Fyuuhh..! Akhirnya hari ini bisa up juga.
Terima kasih ya, masih bersedia meluangkan waktu untuk mengikuti kisah Sean dan Allesya.
Terima kasih juga atas segala dukungan kalian.
Meski sudah banyak yang bosan dan meninggalkan cerita ini, Nofi akan tetap melanjutkan hingga tuntas.
Bye.. big kiss n hug untuk kalian🤗💋💋
__ADS_1