
"Aahhk..! Perutku sakit sekali..! Arthur tolong bawa aku ke Rumah Sakit," pinta Marry, merintih kesakitan.
"Biar aku saja yang membantunya," Vera gegas menghalau Arthur yang hendak memapah Marry. Terus terang ia tidak rela jika Arthur bersentuhan dengan wanita lain. Bagaimanapun juga keposesifan tetaplah ada. Cemburu? Sudah pasti. Apa lagi kentara sekali bahwa Marry tampak berusaha mencuri perhatian Arthur dengan memanfaatkan keadaannya.
"Kau tidak akan kuat membantuku berdiri, biar Arthur saja. Arthur cepat bantu aku," di sela rasa sakit karena kontraksi, Marry masih sempat menolak bantuan Vera. Keukuh meminta Arthur untuk membantunya.
"Dasar pilih-pilih, kalau kau tidak mau aku bantu, ya sudah berjalan sendiri saja," sembur Vera. Ia tak habis pikir dengan sikap si Wanita yang belum ia ketahui namanya tersebut.
"Vera ... sudah ya, biar aku yang membantunya, dia harus segera di bawa ke Rumah Sakit, takut bayinya kenapa-kenapa," sebisa mungkin, Arthur mencoba memberi pengertian kepada sang Istri.
"Terserah kau saja," melenggang pergi menuju mobil.
"Bi Anne tolong jaga Danni ya," pinta Arthur kepada seorang pembantu untuk menjaga putra Marry yang masih berusia 3 tahun tersebut.
"Arthur kau harus temani aku duduk di bangku belakang. Biar wanita ini yang menyetir mobil," rengek Marry, terang-terangan secara halus mengusir Vera yang duduk di sampingnya.
Ya Tuhan...! Rasa-rasanya kesabaran Vera sudah mencapai taraf maksimal. Jengkel dan geregetan sudah mentok sampai ujung. Sesuatu yang panas mulai meletup-letup di pucuk ubun-ubun.
"Cepat Arthur ... berpindahlah ke belakang," pinta Marry kembali karena Arthur yang tampak terpaku, sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Vera sepertinya sangat marah sekali sekarang. Errg..! Kenapa situasinya malah seperti ini? Semoga saja dia nanti masih mau mendengarkan penjelasannku," batin Arthur berkecamuk.
"Cepat berpindahlah," Arthur kembali dari lamunannya, Vera sudah membuka pintu mobil sebelah kemudi yang dia tempati, memintanya untuk segera berpindah.
"Vera ... ?" lirih Arthur dirundung cemas akan perasaan si Istri.
"Cepat pindah ke belakang," suaranya terdengar dingin.
Setibanya di Rumah Sakit, petugas kesehatan Marry di bawa ke dalam ruang persalinan, sementara Arthur dan Vera memilih di kursi tunggu yang terletak di depan ruangan.
Rangkuman tangan besar pada jemari lentik Vera seolah menuntut sebuah pengertian. Tatap cemas Arthur terus berlabuh ke muka Vera yang sedari tadi memilih membisu. "Vera ... aku akan menjelaskan semuanya. Aku Mohon jangan salah paham dulu ya?" bujuknya.
__ADS_1
"Sumpah demi Tuhan, aku tidak berniat membohongimu," imbuhnya lagi.
"Langsung to the point saja Arthur, aku sudah tak tahan jika harus menunggu penjelasan darimu lebih lama lagi," sela Vera yang mulai kembali bersuara.
Arthur mengecup buku-buku jari Vera sebelum akhirnya bercerita. "Lima bulan yang lalu, sebelum aku menikahimu, aku sempat mengalami sebuah insiden kecelakaan lalu lintas yang di mana mobil yang aku kemudi menabrak motor yang dikendarai Roland, suami Marry," Menjeda cerita, helaan napas yang dibuat menyisakan ruang kosong pada rongga dada yang terasa sesak.
Selama lima bulan terakhir, Arthur memang rutin mengunjungi Marry dan Danni satu minggu sekali. Membiayai kebutuhan mereka dan bahkan mengantar Marry memeriksakan kandungannya. Danni, putra Marry bahkan sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan 'Daddy' meski dia bukanlah ayahnya.
Vera tampak masih setia dengan bibir yang terkatup namun terlihat jelas dari sorot matanya ia tengah memberi atensi penuh untuk menampung cerita Arthur lebih jauh.
"Kecelakaan itu tidak sepenuhnya kesalahanku, melainkan Roland yang juga kurang berhati-hati dalam berkendara. Namun, sebelum ia menghembuskan napas trakhirnya, ia memohon kepadaku untuk menjaga anak dan istrinya, dan pada saat itu aku menyanggupinya," imbuh Arthur.
Lega memang mulai menjalar perasaan Vera, namun mengingat sikap Marry yang terkesan berosebsi kepada suaminya, meraih kembali rasa cemas dan jengkelnya.
"Kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu, Arthur? Siapa saja pasti akan salah paham jika berada di posisi yang sama denganku," ucap Vera yang tampaknya mulai menerima situasi.
"Aku memang sempat ingin memberitahumu, namun belum lama ini Marry menuntut aku untuk ... " keraguan membuat lidah mendadak kelu.
"Untuk apa Arthur? Jangan buat aku takut," desak Vera, kalimat yang terjeda di bibir Arthur membuat kesabarannya memberontak. Basahnya bingkai netra menatap cemas muka tampan di depannya.
Tercekat, sesaat suara yang ingin mendobrak untuk berseru tertahan di tenggorokan. Mengingat dia berada di dalam gedung Rumah Sakit yang sangat menjunjung ketenangan. Memilih menyesapi sendiri kegetiran rasa dalam pelik baru di dalam rumah tangganya yang baru seumur jagung. "Apa keputusanmu, Arthur?"
"Tuan, tolong masuk ke dalam untuk mendampingi istri anda," seorang perawat yang baru saja keluar dari ruang bersalin memberi instruksi kepada Arthur yang hampir saja memberi jawaban atas pertanyaan Vera.
"Tapi saya buk," teriakan Marry yang meraung dari dalam ruangan seolah menghalau lidahnya untuk lanjut berlisan.
"Arthur ... tolong temani aku!" rintih Marry.
"Vera?" pria itu seolah meminta persetujuan wanitanya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam ruang persalinan.
"Masuklah," ucap Vera meski berat yang dirasa, menghalau muka dengan menoleh ke sembarang sudut.
Adakah satu keikhlas di hatinya? Jawabannya tidak ada. Istri mana yang rela membiarkan suaminya mendampingi wanita lain saat melahirkan? Vera bukanlah sosok ibu beri yang terlampau baik hati. Ia hanyalah wanita biasanya yang memiliki rasa cemburu dan posesif kepada pria yang dicintainya.
__ADS_1
°°°
Proses persalinan berjalan lancar, kini Marry sudah dibawa ke ruang kamar perawatan pasien. Bayi perempuannya juga terlihat lelap di dalam baby box.
Dan sekali lagi Vera harus kembali dihadapkan oleh sikap menyebalkan Marry yang membuat darahnya kembali mendidih. Rasa-rasanya ingin sekali ia menyembur segala sumpah serapah yang tertimbun di dalam benak.
Anjing, kambing, buaya, kalkun, jangkrik, babi, dan masih banyak lagi nama hewan lainnya yang dia absen, meluapkan semua amarah yang mengikat jiwa.
"Arthur, coba kau lihat bayi kita," bukankah dia sangat cantik," ucap Marry, memindai tubuh kecil si Bayi.
"Apa bayi kita?! Gila gila gila! wanita ini sepertinya nekat mengibarkan bendara perang,“ Vera membatin kesal.
“Iya, dia sangat cantik," jawabnya kikuk setengah terpaksa.
Marry menoleh ke arah Vera yang tampak membisu dengan muka tak bersahabat. Kemudian kembali menghadap ke arah Arthur.
"Arthur, bayi ini juga menjadi tanggung jawabmu," ucapnya sangat ringan sekali.
Vera dibuatnya tercengang hebat karena perkataan Marry yang terkesan berobsesi kepada Arthur. "Dia itu bukan ayah dari bayi itu, dia juga bukan suamimu. Sangat tidak tahu malu sekali kau memintanya bertanggung jawab. Ck! Yang benar saja," sembur Vera sedikit menahan gejolak keberangan hati.
"Kami berdua akan menikah, jadi sudah sepatutnya bayi ini menjadi sebagian dari tanggung jawabnya."
❣
❣
❣
Bersambung~~
1 bab khusus tentang Vera dan Arthur. Maaf jika banyak sekali typo bertebaran karena ni mata dah beberapa kali ketiduran pas ngetik.
Terima kasih ya masih setia nyimak kisah Sean dan Allesya.
__ADS_1
Jika suka, boleh kok bantu Author mempromosikan karya ini.🥰
lop you😘