Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 109


__ADS_3


"Apa kau sangat yakin dengan apa yang kau dengar?" Sean kembali mencari keseriusan dari apa yang tersampaikan dari mulut Alvin beberapa saat yang lalu.


"Ck! Kalau kau tidak percaya kau bisa lihat ini, aku mengambilnya secara diam-diam waktu itu," Alvin menggeser ponselnya ke arah Sean dan menunjukkan sebuah rekaman video di sana.


Sean mencoba menekan panel play pada permukaan benda pipih itu. Melihat secara seksama isi rekaman tersebut, hingga muncul kerutan di dahi. "Bagaimana caraku menanggapi isi video ini? Aku hanya bisa melihat kedua orang sedang berinteraksi di dalam bar milikmu namun tak dapat mendengar isi percakapan mereka. Suaranya terlalu berisik," protes Sean kepada Alvin.


Alvin menyengir kikuk seraya menggaruk tengkuk lehernya yang sama sekali tidak gatal. Membenarkan perkataan Sean. Namun gegas ia kembali ke mode ekspresi serius. "Tapi kau harus percaya kepadaku, Sean. Lagian waktu itu ada Jeffrey dan Sammy juga di sana," terangnya lagi sembari bergantian melirik ke arah kedua sahabatnya yang lain guna mencari pembelaan.


"Iya Sean, aku juga mendengar semua pembicaraan mantan kolega bisnismu itu. Kau harus berhati-hati dengannya," imbuh Sammy lalu memutar leher ke arah Jeffrey yang tampak sibuk berkutat dengan ponsel pintarnya. "Jeff, bukankah kau sedang menyeledikinya? Bagaimana? Sudah mendapat informasi belum?" ia memberondong beberapa pertanyaan sekaligus namun tak segera diindahkan. "Jeff? Apa kau tidak mendengarku?"


Bukannya segera memberi tanggapan kepada para sahabatnya yang tengah menunggu, Jeffrey malah mengangkat satu jari telunjuk dan diletakkan di depan bibir. Memberi isyarat agar mereka tidak berisik dan meminta sedikit waktu untuk menerima panggilan telepon dari seseorang.


"Sudah kau dapatkan?"


( .... )


"Cepat katakan."


( ... )


"Hm."


Panggilan berakhir, disusul tatapan penuh arti yang tertuju ke Sean. "Thomson adalah otak dari semuanya," Jeffrey menyampaikan informasi yang baru saja ia dapat dari orang suruhannya.


"Otak?" Sean mengajak otak untuk berpikir lebih keras. "Jangan bilang bahwa dialah dalang dari masalah bocornya rancangan desain produkku, layangan tuduhan penjiplakan, peretasan ilegal jaringan sistem perusahaan, hingga aku yang terpengaruh efek obat perangsang?" tebaknya.


"Iya, itu memang dia," Jeffrey membenarkan.


"Sialan!" otak yang semula diajak berpikir keras mulai tersulut amarah. Sementara Sammy dan Alvin masih setia menyimak.

__ADS_1


"Tapi atas dasar apa dia melakukan itu?"


Belum sempat Sean mendapat jawaban dari rasa ingin tahunya, getaran ponsel yang teronggok di atas meja menarik perhatiannya. Muka penuh tanya tergambar nyata saat melihat sebuah kiriman pesan berupa foto dirinya sendiri yang tengah berada di posisi yang sama saat ini.


Sepasang lensa matanya diajak mengedar was-was ke setiap sudut dalam hingga luar ruangan, seolah mencari keberadaan seseorang.


Jeffrey yang merasa curiga dengan gelagat aneh Sean langsung mencari tahu dengan melihat isi pesan yang baru saja diterima sahabatnya itu. "Sepertinya ada orang yang sedang mengintaimu Sean," ucap Jeffrey, memindai sekitar untuk mencari tahu yang sekiranya tampak mencurigakan.


"Apa?!" Sammy dan Alvin terkejut bersamaan. Keduanya tampak berebutan untuk melihat isi pesan yang baru saja diterima Sean.


"Iya, sepertinya begitu," jawab Sean.


Ponsel milik Sean kembali bergetar, kali ini berupa panggilan video dari Allesya. Tak ingin lama-lama membiarkan Allesya menunggu jawaban dari seberang telepon, ibu jari di ajak menggeser layar.


BRAK!


Kursi yang duduki Sean seketika terpental karena Sean tiba-tiba berdiri dengan kasar. Ketiga sahabatnya yang ada di sana sontak terkejut karena gelagat Sean.


Muka Sean seketika berubah pasi saat mata menangkap siluet sosok wanita yang dicintainya dalam keadaan terikat di kursi dengan mulut tersumpal kain dan tak sadarkan diri. Di dalam panggilan video, Lilly juga terlihat dalam posisi yang sama.


"Allesya?! Ada apa denganmu?!" pekik Sean namun tiada respon dari Allesya yang tampak tak berdaya.


Suara seringaian tajam terdengar dari panggilan video, seiring munculnya sesosok pria berjas rapi. "Apa kabarmu Sean?" ucapnya yang sudah jelas ia hanya berbasa basi saja.


"Thomson?! Bajingan Kau! Lepaskan istriku!" hardik Sean geram, mengerat kuat ponsel di tangannya sebagai pelampiasan amarahnya.


Pria itu, Thomson kembali tergelak seolah kemarahan Sean adalah sesuatu yang lucu dan patut ditertawakan. Sedetik kemudian mimik mukanya berubah sinis. "Temui aku sekarang jika ingin istrimu ini selamat," membawa jarinya bermain di atas pipi Allesya.


"Jangan sentuh dia kau bajingan! Di mana kau sekarang?!"


"Naiklah mobil Jeep biru yang berada di luar ruangan, anak buahku akan membawamu untuk bertemu dengan istri kecilmu ini. Dan ingat jangan sekali-kali mencoba memanggil polisi jika tidak ingin melihat wanitamu dan temannya menjadi budak n*fsu para anak buahku. Dan peringatkan para temanmu itu agar tidak ikut campur kalau tidak ingin menerima akibat yang akan membuatmu menyesal," ancamnya lalu memutus sambungan panggilan video tanpa memberi kesempatan pada Sean untuk bertanya lebih jauh.

__ADS_1


Helaan napas terdengar berat dan bergetar akibat kecemasan yang melampaui ambang batas. "Allesya dan Lilly diculik," terang Sean sebelum meninggalkan ketiga sahabatnya yang juga tampak terkejut luar biasa terutama Sammy.


"Sean! Kau mau kemana?" teriak Jeffrey di sela ayunan kaki mengejar Sean yang sudah masuk ke dalam mobil yang tidak ia ketahui siapa pemilik mobil Jeep tersebut.


"Dia pergi kemana?" tanya Alvin sangat cemas. "Kita harus segera mengejarnya, takut Thomson bertindak nekat," imbuhnya lagi.


"Aku tahu di mana Allesya dan Lilly disekap," ucap Sammy seraya menunjukkan sebuah titik koordinat GPS pada layar ponselnya.


"Bagaimana kau bisa?" Alvin penasaran. Sementara Jeffrey tampak sibuk dengan ponselnya.


"Karena Lilly sering sekali menghilang, maka aku memberinya sebuah kalung berliontin yang terpasang sebuah chip GPS dan ia tidak tahu hal itu," terang Sammy. "Aku ingin mencari adikku sekarang."


"Aku akan menemanimu, Sam," ucap Alvin, tekadnya menyisih ketakutan yang di rasa.


"Hei! Apa kalian gila? Jangan gegabah!" teriak Jeffrey yang mau tidak mau membuntuti kedua sahabatnya yang sudah menghilang dari ambang pintu masuk.


Bergerak tidak tenang, berjalan ke sana ke mari sembari menunggu si Supir datang. Kegelisahan yang melanda menepis kesabaran Sammy. Rasa-rasanya ia sudah tidak tahan menanti terlalu lama. Bahkan taksi yang biasanya bisa ditemui dengan mudah seolah lenyap ditelan bumi.


Hingga perhatian Sammy terpaku pada sebuah kendaraan beroda tiga yang terlihat dari jauh dan hampir melewatinya.


"Sammy apa kau yakin?"tanya Alvin kepada Sammy.


"Yang benar saja." ucap Jeffrey memilih melenggang pergi.





Berdamnung~~

__ADS_1


__ADS_2