
Keheningan di ruangan bernuansa serba putih tengah menyelimuti kedua insan yang masih sibuk dengan pikiran masing-masing. Tutur kata belum jua terdengar setelah 10 menit waktu berjalan.
Posisi tubuh bersandar pada headboard ranjang Rumah Sakit, iris biru Sean tak lepas dari muka cantik Allesya yang masih enggan bersitatap dengan pemilik muka tampan besembur rona pucat itu. Ingin rasanya ia raih tubuh kecil wanita bermutiara hazel itu dan menenggelamkan ke dalam dekapannya. Namun kali ini dia tidak ingin lagi terbuai akan hasrat yang tentu akan berujung kekecewaan pada diri si Wanita.
Hingga tiba saatnya bibir tak lagi mampu membisu untuk lebih lama, Sean membuka mulutnya untuk bersuara. "Allesya..," namun dengan cepat Allesya menyela.
"Terima kasih karena telah melindungiku dari para preman itu," ucapnya tertuju kepada Sean namun pandangan mengedar ke arah lain.
"Itu memang sudah jadi tanggung jawabku dan juga sebagai wujud janjiku kepadamu 13 tahun yang lalu di Kota Liverpool. Tepatnya di bawah pohon oak, Esya," ucapan Sean yang sengaja mengulas kembali kenangan indah di masa kecil di antara mereka sukses memancing manik hazel Allesya untuk saling bertemu dengan manik biru Sean, meski hanya sekilas karena Allesya gegas memutus tautan netranya.
"Untuk luka di bibirmu, aku tidak akan meminta maaf untuk itu," Allesya mencoba mengalihkan topik. Baginya, sudah tidak ada gunanya mengungkit kenangan indah di masa lalu jika akhirnya hati tetap tersakiti.
"Maaf karena telah lancang menciummu," balasnya. Menyadari kesalahannya atas ketikmampuannya menahan hasrat. "Dan juga maaf untuk kesalahanku di waktu itu."
"Aku sudah memaafkanmu," tukas Allesya cepat.
"Terima kasih," balas Sean diiringi mimik muka senang bercampur lega. Akan tetapi perasaan itu hanya berlangsung beberapa detik karena ucapan Allesya.
"Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, bahwa rasa kecewa dan benci itu nyatanya masih ada."
Sean tertunduk lesu, menyembunyikan muka suramnya. "Aku mengerti," lalu ia kembali menegakkan kepala, memandang nanar mata yang masih berusaha menghindari tatapannya. "Apa yang harus aku lakukan agar rasa itu pergi?"
Terdiam sejenak. Memberi ruang pada hati dan pikiran untuk merangkai urutan kata yang akan dia lontarkan hingga sebuah helaan napas beratpun terdengar. "Jalani hidupmu seperti biasanya. Tanpa adanya kehadiranku di hidupmu. Anggap tidak pernah ada pertemuan di antara kita selama ini. Pergilah dan jangan datang kembali. Lupakan semuanya dan akupun akan berlaku sama," jawaban tegas meluncur dari bibir ranum Allesya. Terlihat jelas tidak ada secuilpun keraguan di mukanya saat lidah berucap.
Bagi Sean, rasa sakit luka di punggungnya saat ini tidaklah sesakit hati yang tertusuk oleh ucapan Allesya yang bagaikan belati tak kasat mata. "Hidup seperti biasanya yang bagaimana maksudmu Allesya? Hidup di bawah kungkungan penyesalan yang terus menyiksa? Hidup di bawah naungan kerinduan yang terus menjerat hingga membuatku sesak?" Sean mend*sah frustrasi. "Allesya, lebih baik bunuh saja aku daripada harus kembali menjalani hari-hari tanpa adanya kamu dihidupku."
Muka yang semula mengedar ke sembarang tempat kembali menoleh ke arah muka kusut Sean. Melempar tatapan nanar namun terus berusaha untuk tetap keukuh pada pendiriannya.
"Apa kau tahu, kehadiranmu di hidupku mengorek kembali luka yang telah lama aku pendam. Jadi aku mohon, pikirkan perasaanku," tandasnya.
"Aku tidak akan bisa."
"Kau terlalu egois Sean."
"Iya, aku memang egois jadi berhentilah menyuruhku untuk menjauh."
CEKLEK!
Suara handle pintu yang terbuka memutus perdebatan di antara kedua anak manusia tersebut. Mengundang perhatian mereka untuk mencari tahu siapa sosok yang akan menyembul dari balik pintu.
"Erlan..?" Lirih Allesya seraya mengulas senyuman manisnya.
"Hei Seani, maaf jika aku buatmu menunggu lama," sapanya kepada Allesya terlebih dahulu
__ADS_1
"Bukan masalah Erlan," balasnya.
Kembali melempar senyuman hangat kepada Allesya sebelum mengalihkan perhatiannya ke arah Sean yang tampak terperangah. "Akhirnya kita bertemu lagi Sean. Bukankah ini tidak hanya sebuah kebetulan?" ucapnya yang tentu mengundang pertanyaan di hati Allesya. Ingin sekali ia mencari jawaban langsung, namun sebuah belaian lembut tangan Erlan yang melingkari pundaknya seolah mengisyaratkan bahwa dia akan mengobati rasa penasarannya nanti.
Sementara itu, seutas senyuman getir mengulas samar di muka Sean. Melihat sikap lembut Erlan kepada Allesya, ditambah lagi perubahan mimik muka masam Allesya yang seketika berubah berseri yang disuguhkan khusus kepada Erlan cukup membuatnya menerka-nerka hubungan seperti apa yang sedang keduanya jalin saat ini.
"Jadi inilah tujuanmu menanyakan perihal foto wanita yang berada di dompetku waktu itu? Kau ternyata sudah mengenalinya," ucapnya meminta kejelasan dari Erlan.
"Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu Sean. Tapi bukankah wajar jika aku menanyakan kenapa foto kekasihku ada di bersamamu?"
DEG!
Jantung Sean berdenyut dalam hingga menyingsing rasa perih ketika mendengar perkataan Erlan yang seolah mendeklarasikan tanda kepemilikan akan Allesya. Mengundang kebisuan karena lidah yang terasa kelu hanya untuk berucap kata. Menolak keras kenyataan bahwa Allesya sudah menjadi milik orang lain.
"Seani, apakah urusanmu sudah selesai? Sebaiknya aku antar kau pulang sekarang karena malam semakin larut," tutur Erlan kepada Allesya. Membiarkan Sean yang masih termangu.
"Baiklah," sahut Allesya. Menyempatkan muka menoleh ke arah Sean. "Aku hanya bisa mendoakanmu agar cepat sembuh," ucapnya lalu membawa tubuhnya beranjak dari kursi dan melangkah pergi menuju pintu keluar.
"Maafkan aku Sean," ungkapan tidak enak hati Erlan kembali terlontar sebelum menyusul Allesya yang sudah keluar terlebih dahulu.
"Dia terus saja berkata maaf padahal aku tahu dia tidak salah. Ck! Tindakannya justru membuat aku terlihat menyedihkan seperti pecundang," gerutunya yang tak habis pikir dengan sikap Erlan yang terkesan tidak menyukai keributan seperti halnya dua pria yang bersaing memperebutkan seorang wanita.
Bertepatan dengan itu, pintu ruangan kembali terbuka disusul David yang muncul dari sana yang ternyata datang bersama Vera.
"Hai mantan," sapa frontal Vera kepada Sean. Sementara David mencoba memberi ruang kepada kedua manusia itu untuk saling menyapa meski di London mereka masih beberapa kali bertemu.
"Kenapa? Apa ada yang salah?" mimik penuh tanya terlukis jelas di muka cantik yang hampir mirip dengan Allesya tersebut.
"Kita sering bertemu dan aku baru tahu kalau ternyata Allesya adalah adikmu. Kenapa kau sengaja merahasiakannya dariku? Bukankah kau sangat tahu bahwa selama ini aku kelimpungan mencari Allesya seperti induk ayam kehilangan telurnya?" Sean meluapkan isi hatinya dengan sedikit rasa kesal kepada Vera.
Dengan pembawaan santai, ia mendaratkan pantat di atas kursi sebelah ranjang tempat Sean duduk bersandar. "Itu karena aku ingin menghukummu agar kau tersiksa," jawabnya.
"Apa kau sakit hati karena pada akhirnya aku tetap tidak bisa membalas cintamu dan itu sebabnya kau menghukumku?"
Vera tersenyum simpul bersamaan gelengan kepala sebagai jawabannya.
"Lalu karena apa?"
"Itu karena kau telah menyakiti adikku Allesya."
Tercengang akan jawaban Vera. Sean tidak menyangka itulah alasan Vera bertindak seperti itu. Bukan karena demi kepuasan perasaannya sendiri melainkan demi perasaan Allesya yang sudah menjadi korban kemarahan dan kebencian Sean yang salah alamat. "Ternyata wanita sepertimu masih memiliki sisi kemanusiaan."
"Kau berpikir seperti itu karena kau selalu memandangku sebagai wanita jal*ng. Padahal aku baru sekali bertelanjang badan di depan pria, yaitu kau. Dan itupun kau menolakku mentah-mentah. Jadi aku tidak sepenuhnya jal*ng," Vera melontar kalimat pembelaan.
David yang masih berdiri menjadi pendengar setia seketika tercengang diikuti semburat merah di mukanya karena ucapan frontal mantan kekasih majikannya. Bagaimanapun juga, David adalah pria yang masih suci alias perjaka. Belum punya pengalaman di atas ranjang bersama seorang wanita. Lucu bukan? Di negara penganut sistem liberal seperti inggris yang di mana warganya yang sudah berusia 16 tahun dilegal negara untuk bercinta namun David masih bersegel di usianya yang sudah menginjak angka 28 tahun.
__ADS_1
"Vera, kau juga tidak harus berkata terlalu jujur," Sean gedek karena ucapan lawan bicaranya yang tanpa disaring terlebih dahulu. Sekilas, sifat Vera yang selalu apa adanya itu juga mengingatkannya akan Allesya. "Allesya..." lirihnya di dalam hati.
"Aku datang menemuimu kali ini untuk memberi peringatan keras bahwa Allesya sekarang memiliki seorang kakak yang akan selalu maju terlebih dahulu jika kau kembali menyakitinya," Vera menekankan.
"Itu tidak akan terulang kembali," Sean meyakinkan. Bahkan mimik mukanya tak kalah serius.
"Aku pegang ucapanmu. Oke, kalau begitu sampai bertemu lagi di rapat umum pemegang saham minggu depan. Seperti biasanya, aku yang akan datang mewakili Daddyku," terangnya sebelum akhirnya melangkah keluar ruangan.
"Ternyata selama ini aku salah menilainya," gumamnya setelah kepergian Vera.
"Tuan, bagaimana kondisi anda sekarang?" David akhirnya berbicara setelah beberapa saat hanya menjadi patung yang berdiri di pojok ruangan.
Menggiring muka ke arah sang Asisten. "Apa aku terlihat baik-baik saja?" lagi-lagi ia malah balik bertanya. "Kapan aku bisa keluar dari sini?"
"Besok anda sudah bisa keluar Tuan. Tetapi untuk sementara anda disarankan untuk banyak beristirahat karena anda mengalami dislokasi sendi bahu akibat hantaman keras benda tumpul yang memberi efek sakit nyeri luar biasa," terangnya lagi.
"Kau tidak perlu mengulangi apa yang sudah diterangkan Dokter kepadaku David. Kau cukup memberi tahuku kapan aku bisa keluar dari sini," sahut Sean yang kembali merasakan sakit pada tubuhnya ketika dibawa bergerak.
Sementara David tampak terus mengamati si Majikan dengan tatapan seolah ada sesuatu yang mengganjal hatinya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" David tercekat samar karena si Majikan seolah mengerti dengan apa yang dipikirkannya.
David memantapkan keberaniannya untuk bertanya. "Tuan, apa tadi kau benar-benar pingsan?"
"Kenapa kau masih bertanya jika kau sudah tahu jawabannya?"
"Jadi benar dengan yang aku pikirkan?"
"Kenapa kau sekarang lebih cerewet seperti nenek-nenek?"
"Sungguh memalukan," cibir David di dalam hati.
"Apa kau sedang meledekku?! Aku melakukan hal itu agar dia mau menerimaku kembali," sentak Sean seolah dapat mendengar kata hati David.
"Ah. Maaf Tuan, saya tidak bermaksud," ucapnya gelagapan.
"Aku menyesal telah menerima saran memalukan yang diberikan si Sammy sialan itu," geritunya seraya berpindah ke posisi berbaring.
❣
❣
❣
Bersambung~~
__ADS_1
Terima kasih ya masih setia nyimak kisah Sean dan Allesya.. Maaf jika Nofi balas komennya sering lama, tapi percayalah kalau Nofi membaca komenan kalian dengan perasaan senang🥰🥰