
Di sebuah pulau pribadi yang terletak di barat negara Inggris.
Nada simfoni alam terlantun syahdu. Terpaan angin mengantar gulungan ombak untuk bermuara di bibir pantai, menyisakan buih putih. Sang Surya yang masih memamerkan sebagian dari ke-agungannya di balik laut, seolah menjadi saksi dari pancaran binar kebahagiaan para insan yang melenakan diri dalam sajian keindahan di depan mata.
Jaeden tampak fokus membangun istana impian. Bagaikan seorang arsitek pforesional, bangunan dari pasir itu dibuat sedemikian rupa, sangat mendetail, dan mengesankan.
Bocah yang masih menginjak usia lima tahun itu memang sudah memperlihatkan kecenderungannya dalam bidang seni menggambar dan kreativitas yang tinggi. Cara berpikirnya juga lebih kritis jika di bandingkan dengan adik kembarnya, Jesslyn.
Tidak jauh dari bangunan istana pasir, Jesslyn memilih berburu berbagai bentuk cangkang kerang dan disimpan ke dalam keranjang plastik sambil mengalunkan suara emasnya. Sesekali ia akan membawa tubuh kecilnya menari dengan luwes. Berbeda dengan Jaeden, Jesslyn memang lebih menunjukkan bakatnya dibidang tarik suara dan menari.
Selain Jaeden dan Jesslyn, di sana juga terlihat keberadaan beberapa anak-anak kecil lainnya yang tengah tenggelam dalam kesenangannya bermain di bibir pantai. Ada Jeaven, putra dari sepasang suami istri, Jeffrey dan Jenny yang selalu dipanggil dengan sebutan si Bocah kutub karena kepribadian super dingin dan cuek begitu melekat pada dirinya.
Selain itu ada Shelly dan Amira, kedua putri dari Alvin yang selalu kompak dan saling menyayangi meski mereka saudara beda ayah. Serta tidak ketinggalan Monica, putri dari Sammy yang mempunyai cita-cita menjadi seorang stand up comedy terkenal.
Sementara putra dan putri dari Arthur dan Vera memilih ikut bersama kedua orangtuanya mengambil liburan musim panas ke Alaska hanya untuk memenuhi ngidam kehamilan ke dua sang Mommy yang ingin melihat Aurora Borealis.
Sedangkan Lilly, setelah selama tiga tahun ia menggila karena pesona si Pria kaku yang tak lain dan tak bukan adalah David, akhirnya berakhir di atas altar pernikahan. Dan sekarang mereka sedang pergi berbulan madu ke hawai.
Di sudut pantai lainnya, keempat pria tampan duduk berjajar rapi di atas pasir, tenggelam dalam percakapan ringan dan menjadikan para putra dan putri mereka sebagai objek pemandangan utama.
"Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Aku merasa baru kemarin kita masih mengenakan seragam sekolah." Alvin menengadah muka ke langit yang biru, mencoba mengenang masa lalu.
"Dan sekarang kita semua sudah menjadi ayah," tambah Jeffrey sembari melayang pandang ke arah si Putra tampannya, Jeaven, yang terlihat dari jauh tengah memasang muka masam karena risih dengan sikap Jesslyn.
"Menjadi seorang ayah sungguh sangat menyenangkan," sela Sean. Sama halnya dengan Jeffrey, perhatiannya juga tak lepas dari senyumam si Kembar Jae dan Jess. Ada perasaan bangga tersendiri ketika melihat kedua buah hatinya tumbuh dengan sehat dan cerdas.
"Jeff, apa kau yakin putramu baik-baik saja? Ia terlihat kesal karena tingkah Jesslyn," imbuh Sean, mendengus geli melihat tingkah sang Putri yang terlampau lincah dan tak pernah gentar untuk terus mendekati Jeaven si Bocah kutub.
"Biarkan saja, aku ingin melihat seberapa tangguhnya putrimu meruntuhkan gunung es," seloroh Jeffrey. Sean pun tergelak lirih diikuti Sammy dan Alvin.
Helaan panjang tiba-tiba terdengar dari mulut Sammy. "Haaah! Sepertinya aku harus melakukan tanam benang untuk menghilangkan kerutan di mukaku. Mungkin setelah pulang aku juga akan mandi susu agar tetap terlihat muda. Kalian pasti juga merasa kalau semakin tua bukan?" keluh Sammy, sukses mengundang mimik muka ilfeel dari ketiga sahabatnya.
"Kau menualah sendiri, lagian umurku masih 34 tahun, aku masih sangat perkasa," celetuk Sean menolak tua. Memang dia belum tua lebih tepatnya lebih matang.
"Aku sependapat dengan Sean," sela Jeffrey dengan muka cueknya.
"Aku berada di tim Sean dan Jeffrey," tambah Alvin seraya mengangkat sebelah tangan hingga telinga.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak ingin menua sendirian, kita harus menua bersama. Kalau perlu, kelak ke panti jompo pun bersama." Sammy merengek.
"NGGAK!" sentak Sean, Jeffrey, dan Alvin serentak.
"Pergilah ke panti jompo sendiri, jangan mengajakku!" cerocos Alvin seraya menyilangkan tangan di depan dada.
"Aku akan menua bersama istriku," sahut Sean.
"Bagitu juga aku." Jeffrey tak mau kalah.
"Tega sekali ...! Bukankah kalian menyayangiku?"
"TIDAK!" lagi, ketiga pria itu kembali berucap serentak. Kompak sekali mereka setiap mem-bully Sammy.
"Sebenarnya apa yang kalian ributkan?" Jenny datang dengan menenteng keranjang minuman dingin. Lalu membagikannya satu-satu kepada para Daddy tampan.
Istri Jeffrey itu tidak datang sendirian, ada Ella istrinya Alvin dan Daisy istrinya Sammy. Kedua wanita itu langsung berhamburan mendekati suaminya masing-masing. Menggelayut manja pada lengan kekar yang selalu melindungi mereka.
"Allesya di mana?" tanya Sean kepada Jenny yang menyadari sosok kesayangannya tidak terlihat.
"Dia masih membersihkan bajunya yang kotor karena ketumpahan minuman soda tadi," terang Jenny.
Allesya berdiri di depan cermin meja rias, mematutkan diri dengan maxi dress pantai yang dikenakannya. Namun, tiba-tiba terkesiap saat kecupan hangat menyapu pundak polosnya diikutin lilitan tangan kekar di perutnya. "Kak Sean, kau mengagetkanku!" setengah mendelik, ia menatap muka tampan Sean yang terbias di cermin.
"Ahh..! Kak geli ... hmm." sebuah gigitan lembut pada daun telinga memaksa Allesya untuk mendesis.
Sean menghentikan aksi nakalnya. Memandang bias cantik muka Istrinya melalui cermin.
"Kenapa kau tidak menutup pintunya dengan benar, saat kau mengganti pakaian, Allesya. Bagaimana kalau ada orang lain yang melihatnya?" ia melayangkan protes lalu melanjutkan kegiatan nakalnya yang sempat terjeda, membuat gigitan kecil pada ceruk leher, pundak, dan punggung mulus. Bahkan kedua tangan sudah bergerilya pada kedua gundukan kembar seolah sebagai bentuk hukuman kepada istrinya.
"Sstt ... ahh ...! Aku tadi tidak sadar kalau pintunya masih terbuka," jelas Allesya. "Kak jangan lakukan itu sekarang, aku ingin menemani anak-anak bermain di pantai," pintanya.
"Aakh! Kak Sean!" pekik Allesya ketika Sean mendudukkan tubuhnya di atas meja rias hanya dengan sekali angkat. Sehingga kini mereka saling berhadapan dengan posisi kedua tangan Sean mengunci tubuhnya dari sisi kanan dan kiri.
Sean menatap penuh tuntutan ke Allesya. "Jangan lakukan itu lagi, karena tidak ada yang boleh melihat tubuhmu selain aku," tandasnya.
"Iya, maaf," cicit Allesya dengan bibir sedikit mengerucut.
"Dan lagi, tolong ganti pakaianmu, Allesya. Ini terlalu terbuka," bibirnya mengkritik tapi mata dan tangan dibawanya kelayapan kemana-mana, menyusuri tubuh mungil yang selalu sukses memancing gairahnya.
__ADS_1
"Hish! Iya iya," cebik Allesya dan berniat turun dari meja rias untuk mengganti pakaian, tapi Sean justru semakin menguncinya. "Kak... jauhkan tanganmu dulu."
"Kau harus ku hukum dulu," lisan penuh makna terucap dari bibir Sean dan Allesya tahu maksudnya.
"Jangan sekarang, Kak Sean selalu lama. Nanti anak-anak pasti mencari kita."
"Tidak akan lama." Sean mengecup sekilas bibir mungil itu. "Ya?" meminta persetujuan.
"Lima menit saja."
"Dua puluh menit."
"Terlalu lama Kak, sepuluh menit."
"Kurang Allesya, ya sudah lima belas menit."
Allesya menipiskan bibirnya seraya menggeleng. "Tidak, sepuluh menit. Iya atau tidak sama sekali."
Sean mend*sah pasrah dari pada tidak sama sekali pikirnya. "Baiklah."
Mengambil inisiatif terlebih dahulu, Allesya mengajak tangan melingkari leher kekar suaminya, melayang seringai nakal yang menggoda. "Come on Baby," bisiknya disusul gigitan lembut di telinga, membuat tubuh gagah di depannya meremang seketika.
"Nakal sekali, beraninya kau mengodaku, Allesya," ucap Sean sangat gemas. Langsung melahap rakus bibir ranum kesukaannya.
"Kak, tunggu sebentar," sergah Allesya. Melihat ke arah luar jendela yang kebetulan berada tidak jauh dari posisinya. Membidik satu titik, dijadikan pusat perhatiannya.
"Ada apa, Allesya?" geram Sean yang mau tak mau harus menghentikan lum*tan bibirnya, menahan hasrat untuk mencumbu.
"Lihatlah di sana, sepertinya putri kita menangis."
Sean sontak menuruti kemana arah tujuan pandangan Allesya. Dan benar, tidak jauh dari Vila, ia melihat Jesslyn tengah menangis.
Dengan perasaan cemas, Mommy muda itu turun dari meja rias, mengayun tungkainya keluar ruangan untuk mencari tahu, begitu juga dengan si Daddy.
❣
❣
❣
__ADS_1
Bersambung~~