Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 48


__ADS_3


Waktu terus merangkak maju. Malam berganti pagi, hari berganti minggu hingga satu persatu kebenaran mulai terkuak. Sebuah kebahagiaan baru tengah dirasakan Allesya serta anggota keluarga Damirich lainnya, Vera, Raffaela, dan Raffaresh. Hasil sample tes DNA menyatakan bahwa Allesya adalah anak kandung mereka yang telah lama hilang.


Sungguh perasaan mengharu biru tengah menyelimuti suasana di antara mereka. Tidak pernah disangka, begitu banyak belokan tajam yang Tuhan berikan meski akhirnya kaki mereka bisa berdiri di satu titik yang sama, saling bertatap muka, saling bersambut tawa, dan saling melepas rindu.


"Kau memang putriku sayang, dari pertama kali kita bertemu, hati kecilku ini sudah mengatakan kalau kau memang putri kandungku," dipeluk penuh sayang tubuh Allesya. Bertubi-tubi dikecupnya dahi dan pipi Allesya. Suara bergetar Raffaela mewakili perasaan bahagia di dalam sanubari.


"Akhirnya aku sudah mendapat jawaban dari getaran hatiku ketika pertama kali melihatmu di kediaman Willson. Aku baru sadar bahwa ikatan batin sedarah itu memang ada," sela Vera, meski tidak ada deraian air mata sebagai pendukung suasana hati agar lebih mendramatisir keadaan tapi percayalah, perasaan bahagia Vera tak kalah besar dengan Raffaela.


Sementara Rafaresh, juga membiarkan hatinya ikut larut dalam kebahagiaan meski harus menahan keinginannya untuk memeluk sang Putri yang telah lama menghilang. Karena Raffaela masih terus memeluk posesif Allesya seolah tak ingin berbagi putri dengan sang Suami.


Bertepatan dengan itu, hakim juga telah mengetuk palu meja hijau, menetapkan pasal pidana hukuman untuk Reymundo dan Inggrid. Di mana mereka didakwa empat kasus pasal berlapis terkait kasus pembunuhan berencana anggota keluarga Damirich dan Fanne Migrey, penculikan bayi, penganiayaan anak, serta penyabotasean mobil keluarga Willson. Masing-masing harus menjalani hukuman 30 tahun penjara terlepas dari amnesti yang akan diterima.


Di sebuah ruang besuk rutan Wakefield. Tiga pasang mata tengah saling bertatapan. Mereka adalah Allesya, Arthur, dan Reymundo.


"Setelah sekian lama, akhirnya kita bisa saling bertatap muka putraku, tapi sayang pertemuan kita ini sama sekali tidak membuatku bahagia," ditatapnya muka Arthur penuh kecewa.


"Apa kau menyesal memiliki putra sepertiku?" sela Arthur, sebisa mungkin menahan kepedihan di hati.


"Iya, aku menyesal. Karena kau hanyalah anak durhaka yang tega menjebloskan orangtuanya ke dalam penjara. Sepertinya kau ingin melihatku mati membusuk di balik deruji besi laknat itu!" berangnya kepada Arthur dengan suara sedikit tertahan.


Sakit. Lontaran kalimat dari mulut Reymundo begitu tajam. Begitu mudah menyayat onggokan daging yang bersarang di rongga dada.


"Tapi aku tidak pernah menyesal menjadi putramu. Percayalah, semua yang aku lakukan demi Ayah. Jalani hukumanmu dengan ihklas, sesali perbuatanmu dan jadilah manusia yang lebih baik," tuturnya.


Entah apanya yang lucu, Reymundo tiba-tiba tergelak tajam. "Kau lucu sekali Arthur. Kau bilang demi kebaikanku? Omong kosong," Reymundo beranjak dari duduknya, menumpu kedua telapak tangan di atas meja dan mencondongkan tubuhnya ke arah Arthur. "Asal kau tahu, aku tidak akan menyesali perbuatanku. Kalaupun waktu bisa diputar kembali, akau akan tetap melakukan hal yang sama," ucapnya penuh penekanan tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.


Lalu digiring mukanya ke arah Allesya yang sedari tadi masih membisu. "Dan kau gadis pembawa sial! Seharusnya waktu itu aku membunuh wanita tua itu dengan cara yang lebih sadis. Aku memang masih terlalu baik hati karena hanya menggunakan palu untuk mencabut nyawanya," sebuah seringaian tercetak jelas dimuka Reymundo.


GREP!


Sepasang tangan yang sedari tadi bersembunyi di bawah meja mengepal kuat. Menampakkan buku-buku jari yang memutih. Sudah cukup bagi Allesya menahan diri untuk tidak meluapkan segala rasa yang sudah bergemuruh sedari tadi.


Sungguh, mendengar suara Reymundo saja sudah sangat membuatnya jijik, ditambah lagi melihat seringaian licik itu, membuat ia ingin muntahkan isi perutnya ke muka pria yang sudah merenggut nyawa sang Nenek.


Ditatapnya muka Reymundo dengan sorot mata tajam bak mata pedang yang siap menghunus objek pandangannya saat ini.


"Minta maaflah," suara yang terdengar sedang menahan amarah itu terlontar penuh tuntutan.


Lagi-lagi Reymundo tergelak mencemooh. Menarik mundur tubuhnya, lalu memutar tumit 180 derajad, berniat kembali ke sangkar jeruji besinya. Mengabaikan permintaan Allesya.


BRAK!


"Berhenti!" suara gebrakan meja bersatu dengan teriakan Allesya yang sedikit meninggi.


Masih dalam mode tergelak, Reymundo kembali memutar tubuhnya ke arah Allesya yang ternyata sudah berjalan mendekatinya.


"Mau apa lagi kau gadis si*lan? Kau ingin memaksaku untuk meminta maaf?" gelakkan tawanya bertukar seringaian sinis.

__ADS_1


"Apa kau percaya bahwa tangan kecil ini bisa mematahkan tulang pria dewasa?" Allesya mengangkat sebelah tangan sejajar dengan muka Reymundo.


"Ck! Kau hanyalah gadis lemah. Berhentilah membual."


"Akan aku buktikan bahwa perkatakaanku bukan hanya sekedar isapan jempol," gertaknya diikuti kaki memasang posisi kuda-kuda.


GREP!


Tangan kanan dibuat mencengkeram kuat kerah baju Reymundo dan tangan kiri dibuat mencengkeram lengan besarnya.


SREK!


Dibuka lebar kaki kanan diikuti tubuh yang memutar membelakangi lawan.


KEDEBUG!


Diangkat tubuh besar itu lalu membantingnya melewati bagian bahu kecilnya dengan sangat mudah. Seolah tubuh Reymundo tak lebih berat dari bulu domba yang habis dicukur.


"Arrrgghh! Pinggangku!" erang Reymundo. Pergerakan Allesya begitu cepat, sehingga dia tidak sempat mengelaknya.


KRETEK!


Diputarnya persendian tangan hingga terdengar suara renyah menyerupai tulang yang patah.


"Aaarrggggg!! Tanganku..!"


"Tenang saja, tulangmu tidak patah karena aku masih berbelas kasih kepadamu jadi aku hanya membuatnya lumpuh untuk beberapa bulan," ucap Allesya lalu memutar kakinya, melangkah menuju pintu keluar diikuti Arthur yang sempat memandang iba Reymundo. "Maafkan aku ayah," lirihnya.


Bertepatan dengan itu, seorang sipir masuk ke ruangan dengan mimik muka terheran-heran melihat Reymundo yang tengah meraung sembari meringkuk di lantai.


°°°


Dadanya masih terlihat naik turun karena amarah jiwa yang masih meletup-letup hebat. Rasa-rasanya ia belum puas menghukum Reymundo dengan hanya memberi satu bantingan saja. Mengingat cara pria itu menganiaya Fanne hingga meregangnya nyawa, kesakitan Reymundo tadi tidak sebanding dengan kesakitan yang dirasakan Fanne.


"Allesya, apa kau juga ingin membesuk ibuku?" tanya Arthur sedikit ragu dengan tangan masih fokus pada setir mobil.


"Sepertinya tidak perlu Kak," dilirik pergelangan tangannya. "Mereka pasti sudah menungguku di bandara London Heathrow.


"Baiklah aku langsung antar kau ke sana."


Tidak butuh waktu lama, Allesya dan Arthur sudah sampai di bandara London Heathrow. Dari jauh ternyata Vera, Raffaela, dan Raffaresh sudah berada di lobi.


"Allesya sayang, Kakak pinta jaga dirimu baik-baik ya di sana," tutur Arthur. Dipeluknya tubuh Allesya seolah berat melepas kepergian Allesya.


Muka semakin dibawa tenggelam ke dalam dada bidang Arthur, menyembunyikan matanya yang sudah basah karena tak kuasa menahan tangis. "Kak, kau juga jaga diri baik-baik ya. Aku pasti akan sangat merindukanmu," ucapnya sesenggukan.


"Iya sayang. Kau tenang saja, aku akan menyempatkan diri untuk mengunjungimu," dibelainya surai panjang Allesya disusul sebuah kecupan sayang di pucuk kepalanya.


Arthur melerai pelukannya. Menatap lekat kedua manik hazel Allesya. "Ingat apa yang selalu dipinta Nenek semasa hidup bahwa kau harus hidup bahagia Allesya," tuturnya.

__ADS_1


Diukirnya senyuman di sela isak tangisnya yang belum mereda." Baik Kak. Aku akan mencari kebahagiaanku."


Arthur tersenyum hangat dengan tangan mengacak gemas rambut Allesya. "Gadis pintar. Tenanglah, Kakak akan menyempatkan diri untuk mengunjungimu."


"Benarkah? Berjanjilah."


"Iya, aku berjanji."


"Seani sayang, sebaiknya kita masuk ke dalam sekarang. Sebentar lagi pesawatnya akan take off," ucap Raffaela lalu beralih ke putri sulungnya. "Vera sayang, kau jaga diri di sini. Berhentilah bermain-bermain di klub malam atau Mommy mengirim alat berat untuk merubuhkan bangunan galeri butikmu, " tuturnya seraya melempar mimik muka mengancam.


"Iya iya Mom," sahutnya mengiyakan di mulut namun menidakkan di hati. Dasar Vera.


"Vera, ingat jangan bandel," tambah Raffaresh. Jujur dia sebenarnya tidak tega membiarkan sang Putri Sulung tinggal sendirian di London. Namun karena sifat keras kepala Vera, dia mau tidak mau menuruti kemauannya.


"Ya Tuhan.. Vera sudah dewasa Dad tapi kenapa kalian masih saja menganggapku seperti anak kecil?" gerutunya.


"Adikku kalau kau merasa bosan mendengar omelan maut si Mommy, katakan kepadaku ya. Aku akan membantumu bebas dari omelannya," Allesya terkikik mendengar kelakar Vera.


"Oke," ucapnya seraya mengangkat ibu jari kanannya.


Raffaresh dan Raffaela tampak menggelengkan kepala. Mencoba memaklumi sikap Vera yang memang sedikit susah diatur. "Ya sudah kami masuk sekarang."


Mereka bertiga melambaikan tangannya ke arah Arthur dan Vera sebelum akhirnya tubuh mereka menghilang di balik gate bandara.


"Kau pasti sangat mencintainya," ucap Vera ditujukan ke Arthur.


"Iya, tapi aku harus membuang perasaan ini jauh-jauh karena aku ingin menjaga perasaan Allesya."


"Mengagumkan. Kau rela untuk tidak memiliki demi menjaga perasaanya."


"Kau sendiri kenapa putus dengan kekasihmu? Padahal kau begitu ingin memilikinya."


"Karena aku juga ingin menjaga perasaan adikku."


"Kau juga mengagumkan."


"Hemm. Sepertinya nasib kita sama. Apa sebaiknya kita berpacaran saja?"


Arthur tergelak. "Aku jadi tahu dari mana sifat bar-bar Allesya diturun."


°°°


Di dalam pesawat. Sepasang mutiara hazel tak lepas dari pemandangan luar kaca jendela. Pikirannya menerawang jauh, mengingat kembali berbagai peristiwa pahit yang sudah ia alami. Menelusur satu persatu kisah kenangan yang mewarnai perjalanan hidupnya.


"Selamat tinggal kenangan. Mulai detik ini aku akan membuka lembaran baru. Melupakan segala kepahitan dan menyesap kembali manisnya hidup. Nenek.. Allesya berjanji untuk selalu menjalani hidupku dengan bahagia. Dan selamat tinggal pria yang pernah bertahta di hatiku. Aku berharap tidak akan akan ada lagi pertemuan di anatar kita karena aku... sangat membencimu."



__ADS_1



Bersambung~~


__ADS_2