Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 62


__ADS_3


Erlan mempercepat ayunan kakinya, menyusul langkah Allesya yang sudah melewati sudut taman Rumah Sakit. Diraihnya tangan kurus itu sehingga gerak kaki Allesya terhenti seketika. Memutar tubuh yang masih memunggungi agar berhadapan dengannya. Sehingga sepasang iris dark greynya menangkap raut muka yang tersirat akan luka kesedihan.


"Seanie apa kau baik-baik saja?" tanyanya namun tiada sahutan. Tangan dibawa mendarat pada kedua pundak Allesya dan sedikit membungkukkan tubuh tingginya hingga posisi muka bersejajar dengan muka Allesya yang masih tertunduk. "Seanie.. Apa kau baik-baik saja?" mulut diajaknya mengulang pertanyaan yang sama demi mendapat jawaban dari bibir wanitanya.


Allesya mengangkat kepala dan berusaha menampilkan mimik muka sebiasa mungkin dengan menyematkan senyuman manisnya. "Aku baik-baik saja Erlan. Lihatlah, tubuhku bahkan tidak tergores sedikitpun," kilahnya namun nyatanya Erlan bukanlah anak ingusan kemarin sore yang begitu mudah dibohongi.


"Aku merasa lega kalau kau baik-baik saja Seanie. Tapi aku tidak yakin apakah yang di dalam sana juga baik-baik saja," mengarahkan jari telunjuknya kepada dada Allesya yang tengah menahan gejolak rasa yang menyakitkan. "Aku sudah mengetahuinya Seanie. Dialah pria yang pernah singgah di hatimu."


Wanita bersurai coklat itu membuang napas di udara. Berkali-kali menahan butiran bening untuk tidak merosot dari pelupuk mata begitu cepat. Rasanya memang sia-sia kalau dia terus berkilah di depan Erlan yang selalu paham dengan apa yang dirasakan. Hal itulah yang membuat dia tahu akan arti kenyamanan bersandar di pundak kokoh seorang pria. "Erlan.., di dalam sini sangat sakit," meremas kain di dadanya.


Sudah tak kuasa menahan perih di hati, akhirnya jatuh juga butiran kristal dari telaga bening seiring bibir yang berucap. "Aku sudah berusaha memaafkannya Erlan, tapi rasa kecewaku tidak hilang, hiks! hiks!"


Direngkuhnya tubuh sang Kekasih yang terasa bergetar karena menangis, memberikan tempat ternyaman serta usapan penenang di kepalanya.


"Aku mengerti Seanie. Tatalah hatimu dengan perlahan. Biarkan waktu yang menentukan kapan kau bisa berdamai dengan masa lalumu," tuturnya.


Allesya menenggelamkan muka ke dalam dada lebar Erlan. Menumpahkan segala rasa sesak yang membelenggu. Jiwanya terbawa bersama rasa hangat akan perlakuan Erlan. "Aku..., mencintaimu Erlan," lirihnya.


Erlan melerai pelukannya dan menatap lekat netra hazel yang masih basah. "Aku juga mencintaimu Seanie," balasnya seiring perasaan hangat yang menjalar ke hati. Perlahan Erlan memangkas ruang jarak mukanya dengan Allesya.


CUP!


Hingga kecupan lembut mendarat sempurna di bibir ranum Allesya. Kali ini tiada lagi penolakan seperti biasanya. Ciuman itu justru bersambut manis. Membuat hati Erlan terbang melayang bersama bunga-bunga yang tertiup angin asmara. Mungkin jika Tuhan mengambil nyawanya saat ini juga, dia tidak akan menyesal dan bisa mati dengan tenang.


"Erlan, aku merasa suhu tubuhmu meninggi. Wajahmu juga keluar keringat dingin. Apa kau lupa lagi untuk meminum obatmu?" telisik Allesya setelah Erlan menyudahi ciumannya. Mengamati muka tampan yang memang terlihat lebih pias malam ini.


"Aku hanya kelelahan Seani, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Kau jangan membuatku cemas Erlan."


"Aku usahakan itu tidak aka terjadi," ia mencoba menangkis kecemasan Allesya. "Sebaiknya aku antar kau pulang sekarang," ucapnya kembali.


"Baiklah."


Sementara itu, di sebelah sudut taman lainnya, sepasang mata menatap nanar pemandangan yang tersaji di depannya. Tanpa terasa, buliran bening terjatuh begitu saja. Diiringi sayatan perih yang merobek hati. "Sesakit inikah yang dirasakan Allesya dulu ketika melihatku bermesraan dengan wanita lain?" kedua tangannya mengepal erat, mencoba meredam denyutan di dada yang menyesakkan. "Apakah ini karma yang kudapat karena telah menyia-nyiakan perasaan cintanya yang begitu besar untukku dulu?"

__ADS_1


Namun gegas ia usap bingkai netra tajamnya dengan kasar. Menguatkan dan memantapkan hati bahwa ini adalah ujian cintanya yang memang harus ditempuh. "Aku yakin kau masih mencintaiku Allesya. Aku bahkan bisa mendengar detak jantungmu waktu bersamaku."


°°°


Malam gelap merangkak pergi berganti pagi nan syahdu. Di mana perputaran waktu kembali dimulai. Menyambut kisah baru di pembukaan hari, meninggalkan kenangan di penghujung malam.


Jeritan dering smartphone menguar nyaring memekakkan telinga. Menarik paksa jiwa yang masih menjelajah Negeri kapuk untuk kembali merasuki raga. Sepasang netra mengerjap-ngerjap membiasakan bias lampu yang menembus lensa hazelnya.


Tangan terulur malas dari balik selimut tebal yang membungkus tubuh. Meraih benda pipih yang terus bernyanyi. "Siapa yang menelepon pagi-pagi begini?" gerutunya dengan suara serak khas bangun tidur. Menelisik nomor telepon tanpa nama yang tertera terang pada layar ponselnya.


"Halo?" sapanya setelah menggeser tombol terima.


Hening tiada jawaban. Mengundang hati untuk bertanya-tanya akan siapa gerangan orang yang masih membisu di seberang panggilan. "Halo, ini siapa?" ulangnya lagi hingga terdengar sebuah sahutan yang sukses membuat mata yang semula masih terasa berat seketika terbuka lebar, menghempas rasa kantuk yang sempat melanda. Ia sangat mengenal suara itu. Suara yang dulu selalu ia damba. Suara yang selalu sukses menggetarkan hatinya.


"Allesya ini aku," sapa lembut seseorang dari balik telepon.


"Iya, ada perlu apa kau menelponku?"


"Aku ingin bertemu untuk melihatmu."


Panggilan diputus secara sepihak oleh Allesya. Tidak berniat memberi Sean kesempatan lagi untuk berbicara. Sungguh dia tak ingin mengawali paginya dengan suasana hati yang tak bersahabat karena Sean.


°°°


"All, kalau begi," kalimatnya tersendat ketika sambungan panggilan telepon tiba-tiba terputus sebelum ia selesai bicara.


Sean menatap muram layar ponsel ditemani helaan napas berat. "Padahal aku sudah sangat merindukannya," gumamnya yang terdengar tak jelas.


"David!" panggilnya sedikit lantang. Membuat si asisten seketika terperanjat dari lelapnya. Lanjut beranjak dari sofa tempat ia tidur dan memasang tubuh tegap di depan sang Tuan.


"Iya Tuan."


"Cari tahu tempat Allesya kuliah sekalian nama fakultas, jadwal jam mata pelajaran, dan letak gedung kelasnya," titahnya. Tak menghiraukan muka bantal David yang belum terkondisikan.


"Sekarang Tuan?"


"Besok."

__ADS_1


"Baik Tuan."


"Sedang apa kau?" terheran karena David malah kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Saya ingin melanjutkan tidur Tuan karena sekarang masih sangat pagi," jawabnya memasang muka polos seperti bayi yang baru lahir.


"Apa kau ingin ku memotong gajimu?!" ancamnya dan sontak membuat si Asisten mengurungkan niat untuk kembali tidur.


"Baik Tuan! Laksanakan," langsung ngacir keluar ruangan.


°°°


Di Universitas Paris 1 Pantheon-Sorbonne. Kaki ramping itu membawa Allesya memasuki salah satu gedung fakultas tempat ia menuntut ilmu. Langkahnya membelah koridor yang melewati beberapa ruang kelas dengan menimang beberapa buku tebal di tangannya.


BRAK!


Tubuhnya tiba-tiba tersentak mundur bersamaan dengan semua buku bawaannya terjatuh berserakan di atas ubin kampus di kala seorang mahasiswi menabrak kasar dengan sengaja.


"Ups! Maaf ya, aku tidak sengaja," ucap mahasiswi bernama Becca. Memasang mimik muka palsu sok merasa bersalah.


"Aku tahu kau sengaja melakukannya Becca," tuduh Allesya seraya melempar muka kesal.


Becca menyeringai sinis. "Apakah kau sedang marah sekarang?"


"Becca, apa kau tidak jijik? Kau baru saja bersentuhan dengan wanita pembawa aib di kampus kita ini?" sela teman Becca bernama Olivia seraya melempar mimik muka jijik.


"Ahh! Kenapa kau baru mengingatkanku sekarang Oliv. Tiba-tiba aku ingin muntah. Ayo kita pergi sekarang. Lama-lama aku bisa ketularan kotor jika terus berdekatannya dengannya," cemooh Becca sebelum melangkah pergi dan juga diekori Oliv.


Allesya menatap tajam punggung Becca dan Olivia yang kian mengecil dari pandangannya. Ia sangat marah dan ingin sekali melawan kedua kecoa kampus itu. Akan tetapi bayangan kedua orangtuanya merotasi ke dalam pikirannya. Membuat ia lebih memilih menahan diri untuk tidak termakan emosi akibat segala hinaan kasar yang selalu meluncur dari bibir Becca dan Olivia. Sungguh dia tidak ingin membuat kedua orangtuanya terliput rasa malu seperti beberapa bulan silam.





Bersambung~~

__ADS_1


__ADS_2