Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 86


__ADS_3


Sebuah sedan mewah menjejak rodanya di sepanjang pekatnya jalanan kota Paris. Keheningan tampak menyelimuti langit-langit mobil. Melalui ujung mata, Sean beberapa kali melirik ke arah Allesya yang masih setia dengan kebisuannya. Hingga usikan pikiran yang sudah dipenuhi tanda tanya besar menyokong niat untuk membanting setir mobil ke ruas tepi jalan.


Tubuh yang sudah terbebas dari lilitan seatbelt dibawa memutar ke arah Allesya. Mengamati muka cantik yang sempat membalas tatap hingga akhirnya kembali berpaling. "Ada apa Allesya? Apa aku melakukan kesalahan lagi kepadamu?" tanya Sean yang nyatanya sebuah gelengan lemah yang didapat dari Allesya.


"Lalu kenapa?"


Setelah mengetahui segala tindakan heroik Sean akan kesembuhan Erlan, rasanya sesuatu yang hangat menjalar begitu saja, menyelimuti dinginnya hati yang terbelunggu lekecewaan. Hati jua enggan menampik sebuah pengakuan akan jiwa besar Sean yang pantas mendapatkan penghargaan.


Namun sayangnya, saat ini dia tampak kesulitan untuk menentukan bagaimana caranya bersikap kali ini. Sejak pertama kali bertemu dengan Sean setelah perpisahan itu, muka masam dan sifat ketus selalu ia sematkan pada dirinya jika berhadapan dengan Sean, bukankah akan sangat aneh sekali jika ia tiba-tiba menjelma menjadi wanita hangat dan penuh cinta?


Kenyataannya gengsinitas masih menyelip di antara rasa kagumnya kepada pria tampan yang dulu selalu didambanya itu.


"Allesya...," Sean kembali menegur halus.


Hembusan napas dari hidung terdengar samar, namun cukup dimengerti Sean bahwa Allesya tengah berusaha menata perasaannya sebelum membuka mulut.


"Aku hanya bingung?" akunya.


"Apa yang membuatmu bingung?"


"Bagaimana caraku membalas kebaikanmu karena telah menolong Erlan."


Sean menghela napas lega. Sempat terlintas kecemasan bahwa keterdiaman Allesya disebabkan dari kesalahan yang mungkin tanpa sengaja dia perbuat. Dan beruntung, itu hanya sebuah praduga yang tak terbukti.


Sean mengulur kedua tangan, menuntun tubuh mungil wanitanya agar menghadap ke arahnya. Memudahkan mata menyapu muka di depannya dengan tersenyum hangat. Hati tak menyangkal, bahwa kekaguman selalu ada di kala mata memandang setiap lekuk garis cantik muka Allesya.


"Dan ternyata manusia berhati malaikat itu adalah si Pria tampan ini. Apa selanjutnya yang akan kau berikan kepadanya sebagai hadiah?" Sean seolah mengingatkan kembali akan potongan percakapannya dengan Allesya beberapa hari yang lalu, di balkon hotel.


Mimik muka memberengut seketika. "Ternyata kau menolong dengan pamrih," cebiknya.


"Tentu saja, aku tidak pernah menolong secara cuma-cuma, harus ada imbal balik. Asal kau tahu, segala tindakan yang ku lakukan memiliki tujuan."


"Lalu aku harus bagaimana? Bukankah tanpa sengaja aku sudah menepati janjiku untuk menikahi pria tampan itu sebagai imbalan? Terus apa lagi?" celutuknya.


Mengingat ucapannya waktu itu, meski kalimat yang mencelos dari bibirnya tak lebih dari sebuah asal-asalan dalam berkata, tidak ada kesungguhan niat, namun nyatanya itu sudah terjadi sebelum topik tak berfaedah itu menjadi bahan obrolan.


Entah mengapa, kali ini Allesya mendadak jadi orang paling bodoh sepanjang masa. Mungkin sedikit benturan di kepala cukup membuat otaknya kembali encer.

__ADS_1


"Kau sudah menikahi orang itu. Jadi sekarang kau tinggal mencintainya saja."


"Apakah itu cukup?"


Satu tangan yang semula masih berada di pundak, dibawa berpindah menuju ke muka Allesya. Menangkup pipi putih merona alami itu, diikuti pegerakan ibu jari memberi usapan lembut pada bibir ranumnya.


Tidak seperti biasanya, kali ini tidak ada penolakan dari Allesya atas sentuhan Sean. Seolah perlahan hati kecilnya mulai menerima perlakuan Sean.


Mengulas senyuman penuh akan makna yang nyatanya sulit terbaca oleh Allesya. "Sebenarnya itu belum cukup."


"Lalu?"


"Bersikap manjalah kepadaku, jadikan pundakku sebagai tempat bersandarmu, bergantunglah kepadaku, berhamburlah ke dalam dadaku dan ...," menjeda kalimatnya sejenak. Melayang pandang yang kian dalam, mengamati mimik muka penasaran Allesya. "Melakukan sesuatu selayaknya sepasang suami istri di atas ranj," ucapannya seketika terputus ketika tangan kecil Alleya mendarat di bibirnya.


"Cukup jangan diteruskan lagi. Untuk yang satu itu beri aku waktu terlebih dahulu karena aku belum siap," pungkasnya, mengikis cepat rasa penasaran. Muka memerah sebagai tanda, pembahasan Sean mulai menuju ke ranah sensitif baginya.


Tangan yang semula bermain-main di bibir ranum kini kembali bepindah ke arah jemari lentik Allesya yang tengah membungkam bibirnya. Hingga jari-jari saling terpaut.


Allesya meremang di kala kecupan manis menyapu telapak tangannya. Sesuatu yang tak biasa kembali merangkak ke dalam tubuhnya, menelusup ke sela bilik jantung yang kian bergetar. Bibir itu terus memberi kecupan, menjalar sampai di ujung pegelangan tangan.


Memberi gigitan disertai hisapan lembut di sana untuk beberapa detik, mencetak sebuah tanda kupu-kupu merah yang terlihat basah.


Senyuman nakal pada muka tampan Sean seolah sebagai bentuk kepuasan darinya. "Aku akan menunggu sampai kau benar-benar siap Allesya."


Menarik tangan dari tautan jari-jari besar Sean. Kepala tertunduk malu, tatapan mata sejurus dengan tanda kissmark di tangan yang berpangku di atas paha. "Bisakah kita tak membahas hal itu terlebih dahulu?" pintanya.


Sungguh demi apapun, tidak ada niat untuk bersikap sok jual mahal kali ini, melainkan ingatan akan rasa sakit di malam panas itu memang masih terkenang di hati, meninggalkan gangguan trauma yang sangat membekas dan tak mungkin akan hilang dengan hitungan jari.


"Baiklah," ucapnya mencoba memahami perasaan wanitanya.


"Ada apa?" sambung Sean kembali karena menyadari mimik muka cemberut Allesya.


"Iish.. Kau meninggalkan bekas merah di tanganku, Sean," sungutnya.


Sean mendengus geli, mendengar protesan Allesya yang disertai pipi mengembungnya. 'Menggemaskan' satu kata itulah yang sekilas terlintas di pikirannya.


"Itu sebagai tanda kepemilikanku atas dirimu," goda Sean.


"Kurang kerjaan."

__ADS_1


"Allesya..."


"Apa Sean?"


"Aku ingin yang manis."


DEG! DEG! DEG!


Detak jantung yang tiba-tiba bergemuruh cepat menambah laju arus desiran darah di dalam tubuhnya. Tentu saja dia sudah sangat tahu akan kalimat kode yang terlisan dari bibir Sean. Spontan ingatan akan kenangan manis di tempo dulu kembali berputar, bagiakan kupu-kupu yang berterbangan di atas kepalanya.


"Aiihh..! Lama-lama aku bisa mati kaku karena gugup," hatinya menggerutu tak tenang.


"Hmm.. y-yang manis ya..? Y-yang seperti apa?" tanyanya. Saat ini berpura-pura bodoh adalah keputusan paling cerdas baginya.


Tubuh gagah berbalut outfit serba putih itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Allesya. "Yang manis dan yang basah seperti.."


Tidak ingin dibuat semakin salah tingkah, Allesya gegas menukas kalimat Sean yang sudah jelas arah tujuan pembicaraanya. "Aha! coba kau lihat di sana Sean," menunjuk ke arah luar jendela mobil. Tepatnya ke arah penjual cotton candy yang standby dekat jembatan. "Bukankah kau ingin yang manis? Aku akan membelikannya untukmu," bergerak lincah untuk kabur, tidak lebih dari lima detik Allesya sudah menghampiri si Penjual.


Sean mendengus geli melihat gelagat lucu Allesya yang terlihat jelas tengah mencoba lari dari permintaannya. "Allesya... Allesya...," desisnya disusul dengan gelengan kepala. "Setidaknya aku harus mendapatkan satu kecupan," tekadnya.


Membawa kaki menuruni mobil lanjut mengayun kaki jenjangnya, menghampiri Allesya yang terlihat antri, berbaur ke dalam kerumunan anak-anak kecil yang juga sebagai pembeli.


🐣


🐣


🐣


Bersambung~~


Yuhuuu.. jangan lupa tinggalkan like dan komen ya..biar ramai kayak pasar malem😄 hukumnya wajib loh. Nofi maksa pakek banget🤣


Berbelas kasihlah kepada author jelata ini.. 🥺 dengan memberikan vote dan gift🥰 kalau yang ini Nofi gk mau maksa kok🤭 tapi kalau bisa sih wajib.


jyaaahh..! Ujung-ujungnya maksa juga kau Sum..!😤


Ahay..! gpp keles.🤭


Terima kasih ya.. masih setia nyimak hingga di bab ini. Terima kasih juga akan segala dukungan kalian.

__ADS_1


Cintaku ke kalian bagaikan rumput gajah dan kuku yang dipotong terus-terusan, ga akan mati, akan selalu tumbuh….. lop yu pull😘


__ADS_2