
Pandangan nanar enggan berkedip meski hanya sedetik. Hati berdenyut nyeri di kala mata melihat Sean datang bersama seorang wanita cantik berbalut gaun mini bodycon bewarna dark maroon. Si Wanita terlihat menggamit manja lengan kekar berbalut jas kerja tersebut.
Allesya gegas menguasai kembali perasaan dan situasi ketika kedua manusia yang terlihat seperti sepasang kekasih itu berjalan melewati tubuhnya tanpa ada lontaran sapaan meski hanya sekedar basa-basi seolah keberadaannya dianggap tidak ada.
Sulit untuknya mengingkari, nyatanya perasaan cemburu dan terluka selalu ada ketika sang Pujaan hati menggamit wanita lain meski ia terlihat tegar. Dari dulu hingga sekarang, menelan utuh pahitnya empedu masih saja menjadi sesuatu hal yang tak biasa namun harus dijadikan biasa bagi Allesya. Sebegitu sayangnyakah Tuhan kepadanya?
"Apakah wanita itu bernama Vera?" lirihnya menduga-duga lalu mengekori.
"Ma.., Kek..," sapa Sean ketika mata telah menangkap sosok Sarah dan Henry tengan duduk di sofa ruang keluarga.
"Aku kira kau tidak akan menepati janjimu untuk segera pulang ke rumah setelah beberapa hari kau tak pernah pulang," ujar Henry sedangkan Sarah hanya mengulas senyuman hangat meski samar.
Henry sedikit mengernyit di kala netra melihat sosok wanita cantik yang tengah berdiri di belakang sang Cucu. Sedetik kemudian pandangannya beralih ke arah Allesya yang baru saja menyusul masuk ke ruang keluarga.
"Dasar cucu berandalan, apa dia tidak sadar jika sikapnya ini bisa sangat menyakiti Allesya?" begitu batinnya. Ingin sekali ia melayangkan tongkat kesayangan ke kepala Sean agar dia sadar akan perbuatannya.
"Sepertinya kau harus mengenalkan seseorang terlebih dahulu," sambung Henry tak meninggalkan kewibawaannya sebagai B**apak dari Willson Corp yang kini sudah berpindah tangan ke sang Cucu semaya wayang, Sean.
Suara Sean kembali tenggelam ketika si Wanita mengusap lembut lengannya. Ia berinisiatif ingin memperkenalkan dirinya sendiri. "Perkenalkan, nama saya Vera Livy Damirich, kekasih baru Sean," ucapnya lugas namun tak menanggalkan etika kesopanan.
DEG!
Nyeri rasanya ketika mendengar Vera mengaku sebagai kekasih barunya Sean. "Ya Tuhan.., rasanya sakit sekali," batin Allesya menjerit.
Sekilas melirik ke arah Allesya. Henry mampu membaca isi hati Allesya hanya dengan melihat raut wajahnya. Tampak sekali gadis itu sedang mati-matian menahan sesuatu yang tengah menghimpit dada.
Suasana sempat hening sejenak, entah karena keberadaan Vera yang tak begitu di harapkan atau karena sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga suasana kembali pecah oleh suara lembut Allesya.
"Ehem! Kak Sean.., sebenarnya Tante Sarah telah menyiapkan sebuah kejutan untukmu," masih mengulas senyuman termanisnya meski Sean terkesan enggan melihat mukanya meski barang sedetik.
"Oya, kita hampir saja lupa akan hal itu," sela Henry.
Allesya tersenyum lalu menuntun tubuh Sean untuk duduk di atas sofa. Sekilas pria berlensa biru itu melirik ke arah tangan Allesya yang menyentuh lengannya. "Kak Sean duduk saja dulu di sini bersama Kakek dan.. tentunya bersama Kak Vera juga. Aku dan Tante Sarah akan ke belakang sebentar," pintanya yang sempat kelu di kala lidah menyebut nama Vera.
__ADS_1
"Tante cantik mari, jangan biarkan Kak Sean menunggu lama," mengulur tangan yang langsung bersambut perlahan.
Seperti biasanya, Allesya menuntun Sarah dengan penuh perhatian. Tidak membutuhkan waktu lama, Sean yang semula tengah berbincang ringan bersama Henry dan Vera seketika terkesima luar biasa ketika melihat Allesya membawa Sarah kembali ke ruangan dengan sebuah Dark Choco Strawberry Cake di tangannya. Cake yang tidak begitu manis kesukaan Sean di waktu kecil.
"Selamat ulang tahun putraku," ucapnya meski sedikit kesulitan mengespresikan perasaan melalui mimik muka.
"Ma..," lirihnya tak percaya.
Beranjak dari sofa, ia ambil alih kue dari tangan Sarah dan diletakkannya di atas meja. Ia peluk erat tubuh kurus wanita yang melahirkannya dengan penuh sayang dan keharuan. "Ma, kau masih mengingatnya? Hari di mana kau melahirkanku di dunia dan cake kesukaanku," masih mendekap tubuh sang Mama, Sean mencurahkan semua kebahagiaannya hari ini.
Baginya, melihat Sarah yang seperti sekarang adalah kado terindah di hari ulang tahunnya yang bahkan dia tidak ingat sebelumnya.
"Kakek tidak bisa memberi kado yang besar, tapi terimalah ini," sela Henry memutuskan suasana haru yang menyelimuti ruang keluarga disusul sebuah kunci yang diletakkan di atas meja.
Sean mengurai pelukannya dan melihat kado dari Henry. "Kunci rumah?"
"Iya, itu kunci sebuah bangunan vila kesayangan almarhum nenekmu," jawab Henry.
Seutas senyuman mengulas di muka Sean. "Terima kasih."
"Terima kasih," ucap Sean.
Sedangkan Allesya, dia sedikit mengulur waktu untuk memberikan kado sederhana yang telah disiapkan. Tepatnya menunggu waktu di mana ia juga bisa berbicara empat mata dengan Sean.
Acara peringatan ulang tahun yang tergolong sangat sederhana berjalan menyenangkan bagi semuanya, terkecuali Allesya. Sepanjang obrolan mereka, Sean seolah menganggap gadis itu sebagai makhluk tak kasat mata.
Henry yang menyadari muka kusut Allesya, sesekali melempar gurauan kepadanya agar suasana hati sedikitnya menghangat.
Sedangkan Sarah, seiring berkembangnya tingkat kesembuhan mental, perlahan dia sedikit mulai beradaptasi dalam obrolan ringan yang diwarnai canda dan tawa
Sedangkan Vera, beberapa kali mencuri pandang ke arah Allesya yang lebih hemat berbicara kali ini. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Entah mengapa, sebuah denyutan di dadanya seolah mengantarkan sebuah rasa yang berbeda.
°°°
"Aku harap kau tidak keberatan jika diantar supirku," ucap Sean kepada Vera.
__ADS_1
"Itu bukan masalah besar," jawab Vera.
CUP!
Vera mencium bibir Sean sebelum masuk ke dalam mobil yang akan membawanya pergi.
GREP!
Sebuah kotak kado tak berdosa harus merasakan sebuah remasan kuat karena Allesya tanpa sengaja melihat langsung kemesraan Sean dan Vera. Kuatkan aku Tuhan, seperti itulah hatinya berdoa saat ini.
Sebuah helaan panjang sebagai upaya diri untuk mentral perasaannya. Ia ayun kakinya beberapa langkah, mendekati tubuh gagah yang masih membelakanginya.
"Kak Sean..," sapa Allesya setelah mobil yang di tumpangi Vera pergi.
Sedikit menggiring muka ke arah sumber suara sebagai bentuk respon dingin Sean kepada Allesya. Tubuh berdiri tegap membelakangi Allesya seolah enggan bertatap muka.
"Kak Sean bisakah kita bicara sebentar?" berharap tidak ada penolakan yang menyakitkan.
"Kebetulan sekali, aku juga ingin berbicara kepadamu," balasnya tanpa membalas tatapan Allesya.
Sebuah tempat dipenuhi berbagai jenis tumbuhan mawar dengan pencahayaan temaram lampu taman berjajar rapi di sepanjang jalan setapak yang membelah taman.
"Kak, sebenarnya ada apa? Kau terkesan menjauhiku. Apa aku berbuat salah?" tak kuasa menyimpan setumpuk pertanyaan yang mengusik di otaknya, Allesya bertanya terlebih dahulu.
Sean yang semula masih melempar pandangan ke sembarang arah kini teralih ke muka Allesya yang kian terlihat cantik karena bias cahaya malam. "Sebenarnya apa tujuanmu masuk ke dalam keluargaku?"
❣
❣
❣
Bersambung~~
...Terima kasih masih setia menyimak karya recehku hingga episode ini. Mohon tinggalkan jejak kalian berupa like dan komen agar Nofi tahu kehadiran kalian😘😘 Karena kalian Nofi senang. Love you❤❤❤❤...
__ADS_1