
Di sebuah apartemen, Emily masih menyibukkan dirinya untuk memeriksa kondisi Erlan yang baru saja pulang dari Rumah Sakit.
"Emily kau pulang dan beristirahatlah. Aku tahu kau sudah sangat lelah setelah bekerja di shift malam," tutur Erlan yang sudah mengambil posisi duduk bersandar headboard ranjang.
"Aku akan pergi setelah Seanie datang," tolak Emily, memasukkan termometer ke dalam lubang telinga Erlan. "Tiga puluh enam derajat, suhu tubuhmu sudah normal," ia lanjut memasang alat sphygmomanometer di lengan Erlan guna mengukur tekanan darah. "Tekanan darahmu juga sudah kembali normal," ucapnya setelah layar mesin menunjukkan nomimal angka lalu memasukkan kembali alat-alat kesehatan ke dalam tas kerjanya.
Erlan terus mengamati muka Emily yang sudah penuh akan gurat-gurat keletihan. Rasa tak enak hati pun kembali menghinggapinya. Selain Allesya, Emily adalah orang berikutnya yang selalu memberi perhatian lebih kepadanya.
Bahkan sebelum ada sosok Allesya di kehidupan Erlan, Emily lah orang pertama yang selalu ada untuknya. Tak kurang-kurang wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter muda itu memantau dan memastikan kondisi Erlan setiap saat.
"Emily, kau terlihat sangat kelelahan. Mukamu bahkan terlihat pucat. Apa kau baik-baik saja?" tanya Erlan sebagai bentuk perhatiannya kepada sahabat.
"Itu bukan masalah Erlan. Apa kau merasakan ada yang kurang nyaman di tubuhmu?" Emily seolah mengabaikan kepalanya yang sudah terbebani oleh rasa sakit yang terus berdenyut. Ia lebih memilih memberi perhatian penuh kepada Erlan.
Bibir tipis Erlan membentuk seutas senyuman. "Aku sudah sangat baik Emily, berkat tangan ajaibmu," puji Erlan.
Emily membalas senyuman Erlan. "Syukurlah," sahut Emily lalu membawa tubuhnya duduk di bibir ranjang empuk milik Erlan. Mengistirahatkan sejenak tubuhnya yang sudah sangat terasa penat.
Sepintar apapun Emily menyembunyikan rasa tidak nyaman yang tengah menyerang tubuh, nyatanya Erlan masih mampu menangkap gelagat aneh wanita di hadapannya itu.
Wanita itu terkesiap saat merasakan sentuhan hangat tangan besar milik Erlan yang mendarat tepat di atas keningnya, memastikan suhu badan melalui sentuhan kulit. "Emily, suhu badanmu tinggi. Kenapa kau diam saja kalau sedang sakit?" sebuah kalimat protes melayang dari bibir Erlan.
"Aku hanya perlu mengambil sedikit istirahat saja Erlan. Kau jangan berlebihan," sanggahnya.
Emily berniat berpindah tempat untuk sedikit menjauh agar Erlan berhenti mencercanya. Kaki diajaknya berdiri, namun sensasi denyutan di kepala justru semakin menjadi hingga tubuhnya mulai limbung dan hampir saja terjatuh ke lantai kalau saja Erlan tak bergerak cepat untuk menangkapnya.
"Emily sebaiknya kau beristirahatlah terlebih dahulu di atas ranjangku," saran Erlan yang masih melingkari tangannya di perut Emily.
DEG!
Dada Emily berdesir saat napas hangat Erlan menyapu daun telinganya. Pipinya kian memerah ketika ujung hidung tinggi pria di dekatnya tanpa sengaja menyentuh pelipisnya mesti hanya sekilas.
"Sudah aku nggak apa-apa Erlan, tolong lepaskan tanganmu," pintanya. Jujur wanita itu tengah gugup setengah mati.
"Kau jangan keras kepala Emily," tak mengindahkan permintaan Emily, Erlan malah menarik paksa tubuh yang masih berada di dalam rengkuhannya menuju ke atas ranjang.
"Ahhk!" suara pekikan tertahan keluar dari bibir berpoles lipstick bewarna peach tersebut karena tindakan tiba-tiba Erlan.
Mendadak Emily lupa untuk bernapas untuk ke sekian detik ketika dada bidang Erlan tidak sengaja menekan tubuhnya bersamaan kedua ujung hidung yang bersentuhan. Sesaat mata mereka saling beradu pandang hingga akhirnya Erlan buru-buru mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Emily. Menghindar dari suasana canggung yang tiba-tiba menyelimuti.
"Maaf," ucap Erlan sedikit kikuk. Di dalam hati ia merutuki perbuatannya.
Emily tak merespon. Dia lebih memilih menguasahi detak jantungnya yang kian bertalu.
__ADS_1
"Kau selalu mencerewetiku agar menjaga kesehatan tapi kau sendiri malah abai akan kesehatanmu sendiri. Sekarang beristirahatlah terlebih dahulu di sini, aku akan pindah di luar sembari menunggu Seanie datang," tutur Erlan.
"Tidak Erlan, aku akan beristirahat di rumah saja," tolaknya cepat, diikuti gerak kaki menuruni ranjang. Tidak ingin Erlan menyadari kegugupanya, takut suara detak jantungnya yang bertabuh keras terdengar, malu jika pipinya yang sudah memerah terlihat. Kabur, itulah keinginnya saat ini.
"Emily kau sedang sakit, apa tidak apa-apa pulang sendirian?" Erlan cepat-cepat memastikan ketika Emily sudah hampir melewati ambang pintu yang seolah tak berniat menjawab pertanyaannya.
Bertepatan dengan itu, Allesya datang dan berpapasan dengan Emily yang terlihat bergerak dengan langkahnya yang tergesa-gesa, meninggalkan apartemen. Sapaan ramah yang biasa terucap kali inipun juga tak terdengar.
"Dokter Emily kenapa?" tanya Allesya kepada Erlan. Mimik muka bertanya-tanya terlihat jelas.
"Aku hanya memintanya beristirahat sebentar di sini karena dia sepertinya sedang sakit, tapi dia menolaknya," jawab Erlan.
"Apa dia tidak apa-apa pulang sendiri di saat sedang sakit?"
"Itu juga sempat aku tanyakan, tapi dia pergi begitu saja tanpa menjawabnya terlebih dahulu."
Allesya ber-o ria sambil memanggut-manggut.
"Erlan maaf ya, tadi aku tidak bisa menjemputmu pulang dari Rumah Sakit," Allesya tampak tak enak hati. Pasalnya di waktu pagi dia sudah berjanji akan menjemputnya. Nyatanya dia datang di siang hari.
Gejolak perasaan yang tiba-tiba muncul setelah Sean berpamitan untuk kembali ke London beberapa jam yang lalu membuatnya enggan langsung bertemu dengan Erlan. Akhirnya ia memilih menepikan kendaraannya di pinggir jalan untuk kembali menata hati yang sempat goyah sebelum kembali melanjutkan niatnya untuk menemui Erlan.
"Itu bukan masalah Seanie, lagian tadi ada Emily yang mengantarku pulang dan sekalian ia juga ingin memantau kesehatanku seperti biasanya," jawab Erlan. "Kemarilah," pintanya seraya menepuk sebelah ranjang yang didudukinya sebagai isyarat agar Allesya mendekat.
"Ada apa? Apakah tubuhmu merasakan sesuatu yang kurang nyaman?" tanya Allesya dengan raut muka penuh perhatian setelah menempatkan bokongnya di tepi ranjang, bersebelahan dengan Erlan.
ยฐยฐยฐ
Di kediaman keluarga Willson.
Seorang bertubuh gagah tengah duduk terpaku karena tiga pasang mata menyerangnya dengan tatapan menghakimi yang sedikitpun tak berpaling darinya barang sedetikpun.
"Bisa kau jelaskan kenapa kau melakukan hal tak bermoral itu cucuku?" tanya Henry. Nadanya terdengar tenang namun rona kekecewaan tergambar jelas di mukanya.
Sean membisu, tak berani membalas tatapan Henry, Sarah, dan juga Erick. Bukan karena takut, melainkan karena terlampau malu akan kesalahan yang diperbuat telah terbeber di depan keluarganya.
"Kakek sungguh tak menyangka kau bisa bertindak seperti binatang," ungkapan kekecewaan kembali terlontar.
"Maaf Kek, semua itu karena aku yang terlalu menaruh kebencian kepada Inggrid. Apalagi setelah tahu wanita itu menyakiti Mama, membuatku gelap mata, hingga aku melampiaskan amarahku kepada Allesya yang aku kira putri dari Inggrid. Akan tetapi, ternyata aku salah Kek. Aku sangat menyesalinya," aku Sean, memaksa lidah yang terasa kelu untuk tetap berbicara.
"Ya Tuhan..., Allesya adalah gadis polos dan baik hati, tak seharusnya kau bersikap buruk kepadanya. Apa kau tidak ingat, kalau bukan karena gadis itu Sarah tidak akan sembuh seperti sekarang?!" suara Henry tercekat, menahan emosi yang hampir meluap. Berusaha kembali mengatur deru napas yang mulai menggebu.
Perhatian Sean seketika teralih sepenuhnya kepada Sarah yang sedari tadi sudah berurai air mata di dalam kebisuannya. Kakinya tergerak alami mendekati sang Mama dan bersimpuh di depannya. Tangan diajak mengusap cairan bening yang tumpah. Sungguh ia tak akan tahan melihat wanita yang telah melahirkannya itu menangis.
"Maafkan Sean Ma..," ucapnya penuh sesal. "Pukul saja putramu ini hingga puas."
__ADS_1
"Mama tidak akan mampu memukulmu sayang. Hanya saja Mama sangat sedih dan kecewa. Sean yang Mama kenal, tidak akan pernah berlaku kasar kepada wanita. Apa kau masih putraku yang dulu?" akhirnya sarah keluar dari kebisuannya.
"Dan sekalinya kau berlaku kasar kepada wanita, Allesya yang kau jadikan sasaran. Kau bahkan tidak pernah bermain kasar kepada para wanita yang kau kencani. Apakah itu adil?" sela Henry.
"Sudah Pa, jangan menghakimi Sean terus. Dia juga sudah mengakui kesalahannya," Erick mencoba menengahi. "Seharusnya akulah yang kalian salahkan. Kalau bukan karena aku yang membawa Inggrid ke dalam kehidupan rumah tanggaku, semua ini tidak akan terjadi," sama halnya dengan Sean, kali ini Erick pun kembali menyesali akan kesalahannya di masa lalu.
"Erick, tolong jangan membahas masa lalu lagi. Aku tidak ingin mendengarnya," pinta Sarah di sela kesedihannya.
"Maaf sayang, baiklah aku tidak akan membahasnya lagi."
"Erick, aku ingin kembali ke kamar. Kepalaku tiba-tiba pusing," keluh Sarah.
"Biar aku antar."
Sean yang semula masih bersimpuh gegas beranjak ketika Sarah hendak berdiri dari duduknya. Ia menatap sendu punggung kedua orangtuanya yang kian menjauh. Kini tinggal Sean dan Henry yang masih menetap di ruang keluarga.
"Kau masih beruntung cucuku karena tongkatku ini tidak sampai melayang di mukamu," menunjuk-nunjuk ujung tongkatnya tepat di depan muka Sean. "Kalau saja Allesya memintaku untuk menghajarmu, sudah pasti aku akan mengahajarmu hingga rupamu menjadi jelek saat ini juga."
"Permisi Tuan Besar, tamu anda telah tiba," lapor seorang asisten rumah tangga yang datang bersama seorang wanita tua namun terlihat sangat modis dan fashionable. Penampilannya bahkan jauh dari kata tempo dulu.
Muka masam Henry berubah berseri seketika. Senyumannya merekah sempurna. Mimik muka penuh damba terlihat terang. "Monalisa kau sudah datang?" merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan si Wanita langsung berhamburan ke dalam pelukannya.
"Maaf ya, aku datang sedikit terlambat, jangan marah ya," ucapnya dengan nada teramat manja layaknya seorang gadis belia yang tengah merayu. Henry tampak terkekeh geli karena gemas.
Sean sontak merasa geli bercampur jijik melihat adegan sepasang kekasih berusia senja tersebut. Perutnya mendadak mual dan ingin muntah. Bulu kuduknya berdiri tegak seolah tengah melihat sepasang makhluk halus yang tengah berpacaran. Mengerikan.
"Cucuku, kami pergi dulu ya?" pamit Henry.
"Kalian mau kemana? Jangan aneh-aneh," Sean mengingatkan.
"Kami akan pergi berkencan."
Sean tercengang luar biasa. Melongo seperti orang bodoh. Bisa-bisanya si Kakek memamerkan kemesraan di depan cucunya yang tengah dilanda kegalauan karena habis patah hati. Rasanya ingin sekali ia menangis di pojokan, meratapi nasib percintaanya yang menyedihkan dan berakhir menggila.
๐น
๐น
๐น
Bersambung~~
Udah jam 1 pagi nih. Udah dulunya..
makasih masih setia menyimak..๐๐๐
__ADS_1
Wo ai nimen๐