
Segenap doa akan keajaiban mengiringi gerak langkah kaki Jeffrey dan Alvin menuju bibir atap gedung yang tak berpagar. Rongga dada yang bergetar dahsyat seolah sempat meragu hanya sekedar memeriksa keadaan Sean dan Allesya yang baru saja terjun ke bawah. Takut bahwa kenyataan tak sesuai harapan.
Kepanikan seketika melayang ke udara, ketegangan yang mencekat tergantikan oleh kelegaan. Ternyata di bawah gedung sudah ada David beserta tim kebakaran dan tim medis yang bersiaga. Sean dan Allesya mendarat tepat di atas bantal udara raksasa, begitu juga dengan Thomson, meski harus terpelanting ke tanah.
Namun, kedua pria itu tak semerta-merta terus bisa bertenang diri, mengingat kondisi Sean yang terluka karena terkena tembakan, menggegaskan niat untuk segera turun, memastikan keadaan sahabatnya itu.
Seruan sirine gawat darurat membelah padatnya jalan raya Ibu Kota. Melaju cepat, mengejar waktu yang kian terpangkas. Nyawa seseorang sedang berada di ambang garis hidup dan mati saat ini.
Deraian air mata terus menganak sungai membelah pipi Allesya. Kecemasan terus mencekam perasaanya. Melihat kondisi sang Raja hati yang tak sadarkan diri mengundang ketakutan akan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. "Kak Sean aku mohon bertahanlah!" di dalam mobil ambulance, wanita itu terus tergugu bercampur panik.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil putih yang membawa Sean berhenti di depan lobi rumah sakit. Tidak ingin membuang banyak waktu yang teramat berharga bagi nyawa pasien, dua orang perawat segera mendorong brankar menuju IGD untuk mendapatkan penanganan intensif lebih lanjut dari paramedis.
"Nona, silahkan anda tunggu di luar dulu," ucap seorang perawat ketika Allesya berniat ikut masuk ke dalam ruang di mana Sean akan ditangani.
Waktu terus berlalu. Dari detik merangkak ke menit, dari menit merangkak ke jam. Di temani Jeffrey, Sammy, Lilly, dan David, wanita bersurai coklat gelap itu terus mondar mandir di depan ruang IGD dengan perasaan gundah teramat besar. Rasanya ingin sekali ia menemani suaminya yang tengah berjuang antara hidup dan mati.
Untaian demi untaian kalimat doa untuk keselamatan sang Suami terus mengalir dari ujung lidah. Pelupuk mata sembab berkali-kali melirik ke arah pintu di depannya, mengharapkan sebuah kabar baik dari balik sana.
Lemas di tubuh ditampik keras, pusing yang mengikat kepala tak dirasa, bahkan gejolak mual di dalam perut ditahannya mati-matian. Enggan beranjak dari lantai tempat ia berpijak, ingin menjadi orang pertama yang mendengar tentang kabar keadaan si Pujaan hati.
Semua orang yang berada di sana hanya bisa menatap sendu Allesya yang sedari tadi tampak gelisah. Berbagai kalimat penenang dari mereka nyatanya tak mampu meluruhkan kerisauan wanita itu. Akhirnya memilih untuk duduk tenang, terus berdoa di dalam penantian.
Allesya terperanjat ringan dan langsung mendekati seseorang yang diyakini pembawa kabar tampak keluar dari ruang IGD. Yang lainnya juga reflek berdiri dari duduknya, menanti keterangan lanjut dari dokter.
"Dok, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Allesya.
Samar-samar helaan napas berat terdengar dari mulut sang Dokter seiring dengan perasaan terbebani untuk memberi kabar yang tentunya bukan kabar yang diinginkan oleh keluarga pasien.
"Maaf, kami paramedis sudah berusaha semampunya, namun sepertinya Tuhan berkata lain. Nyawa pasien tidak bisa diselamatkan karena mengalami pendarahan hebat," terang sang Dokter dengan berat hati.
Bagaikan kejatuhan ribuan batu meteor dari langit, tubuh Allesya seolah tak mampu bertopang kuat, jantungnya menderu dahsyat. Dunianya seakan berhenti berputar, tersesat dalam ruang waktu tak bertepi. Kabar yang didengar meremukkan segala asa yang sedari tadi disematkan ke dalam setiap untaian doa.
Bagaikan dejavu, ia mengalami perasaan yang sama dengan peristiwa dua tahun yang lalu, yaitu di saat sang Nenek pergi jauh untuk selamanya. Haruskah ia kembali kehilangan orang yang sangat ia sayangi untuk kedua kalinya, menyudahi merajut kebahagiaan bersama, menyisakan banyak kenangan?
Jangan. Itu sangat berat. Mungkin saja kali ini dia tidak akan sanggup menapaki perjalanan hidup kedepannya. Sosok Sean sudah menyatu bersama jiwa Allesya. Segala bentuk cinta dan perhatian Sean bagaikan oksigen untuknya bernapas. Jika bagian dari dirinya menghilang apa yang akan terjadi dengannya? Mungkin dunia akan hancur.
Namun sedetik kemudian, digibasnya jauh-jauh kenyataan yang ia yakini hanyalah sebuah mimpi buruk. Jika ia membuka mata maka semua akan kembali baik seperti semula.
Mengusap kasar muka bermandi air matanya. Memaksa hati untuk berpegang pada kepercayaan akan keajaiban Tuhan.
"Tidak mungkin, Dok. Dia pasti hanya tertidur. Aku akan membangunkannya," racau Allesya sebelum berhamburan ke dalam ruang UGD di mana sang Suami menghembuskan napas terakhir.
Sudah cukup berita kepergian Sean, meruntuhkan perasaan Jeffrey, Sammy, dan Alvin, dan masih ditambah lagi reaksi Allesya yang seolah menolak jalan takdir yang sudah tertulis. Kian menambah suasana duka berselimut kabut hitam.
Langkah berat terbebani oleh sesak di dada. Terlihat semua alat penunjang kehidupan seperti endotracheal tube, ventilator, dan cardiac monitor tak lagi berperan. Tubuh gagah yang beberapa waktu lalu menjadi perisai pelindungnya kini tampak terbujur kaku, tertutup kain hingga ujung kepala.
Ketegaran terus diraupnya meski kepiluan tak henti menghujam jiwanya yang kini merapuh. Tangan bergetar menyingkap kain putih hingga sampai ke batas dada, menampakkan muka tampan sang Suami yang dianggap sedang terlelap.
"Kak Sean bangunlah! Aku mohon!" pekik histeris Allesya dan terus mengguncang-guncangkan jasad sang Suami. Menumpahkan cairan tangis dari telaga beningnya.
"Ayo cepat bangun, Kak Sean tidak seharusnya berada di sini. Ayo kita pulang!"
Allesya menangkup kedua pipi Sean yang tak lagi bersemu merah. Menatap nanar setiap lekuk bagian muka tampan itu. Mutiara biru yang selalu menyiratkan ketulusan cinta kini terpejam. Bahkan bibir yang selalu tersenyum hangat dan berkata lembut telah memucat.
__ADS_1
Sementara Ketiga sahabat Sean yaitu Jeffrey, Sammy, dan Alvin beserta Lilly hanya mampu terpaku, menyaksikan pemandangan di hadapan mereka dengan perasaan tak kalah berdukanya. Ditambah lagi Isak tangis Allesya yang terdengar memilukan membuat semua orang disana juga merasakan sayatan di hati.
"Kau telah berjanji untuk terus merenda kebahagiaan bersamaku hingga di usia senja," suara tercekat di tenggorokan, karena sesak yang bergumul di dada. "Aku tagih janjimu itu. Jadi bangunlah! Jangan buat aku marah!" Allesya kian tergugu.
Membenamkan mukanya di dada Sean. "Ya Tuhan, aku mohon kembalikan detak jantungnya. Jangan ambil dia secepat ini. Kau tahu aku sangat mencintainya," bibir yang bergetar itu bahkan melangitkan permohonan kepada Sang Pemberi Kehidupan.
"Kak Sean, kau juga bilang kalau jantungmu akan berdetak cepat jika bersamaku. Tapi kenapa sekarang aku tidak mendengarnya?!" wanita berlensa hazel itu mengerat pelukannya pada tubuh dingin Sean. "Cepat bangun Kak! Kalau tidak aku akan bunuh diri agar bisa menyusulmu!"
DEG! DEG! DEG!
Mulut yang sedari tadi meracau seketika terbungkam saat indera pendengaran menangkap suara detakkan lemah di dada Sean. Cepat ia rendam paksa isak tangisnya dan lebih memperdalam pendengarannya.
DEG! DEG! DEG!
Raut muka suram perlahan menampakkan secercah binar cahaya karena mendapati kembali tanda-tanda kehidupan di tubuh sang Suami. "Dia masih hidup. Cepat panggilkan dokter!" seru Allesya kepada semua orang yang ada.
°°°
Di hari berikutnya.
Setelah melewati masa kritisnya, Sean langsung dipindahkan ke ruang inap perawatan. Ia baru sadar beberapa saat yang lalu. Allesya yang setia menemani Sean tampak beberapa kali mengecup buku-buku tangan suaminya sebagai tanda syukur dan bahagia karena bisa kembali melihat senyuman hangat yang selalu dirindukan.
"Jangan lakukan itu lagi, kau menakutiku," ucap Allesya, membiarkan titik-titik embun kembali membasahi bingkai matanya.
"Aku hanya ingin melindungimu," ucap Sean terdengar lemah.
"Tapi tidak dengan membiarkan tubuhmu terluka. Sungguh jika kau terluka, di sini sangat sakit," Allesya menunjuk bagian dadanya.
"Aku malah lebih sakit jika kau yang terluka Allesya," sahut Sean.
Jari-jari besar itu menyapu lembut cairan yang masih membasahi bingkai netra cantik istrinya. Melabuh tatapan meneduhkan lanjut menyematkan kecupan sayang di keningnya. Membuat si Wanita kian tenggelam dengan perasaan cintanya. "Maaf telah membuatmu cemas," ucap Sean penuh sesal. "Aku mohon jangan menangis lagi, aku tidak rela," imbuhnya.
Membawa tubuh kecilnya tenggelam ke dalam dada bidang terbalut perban. Meletakkan telinganya di sana dan mendengarkan detak irama yang menenangkan di sana. "Aku sangat bersyukur karena masih bisa mendengar detak jantung Kak Sean," menengadahkan kepalanya ke arah Sean. Meleluasakan mata untuk memandang muka tampan yang tersaji. "Terima kasih karena kau tidak meninggalkanku," sambungnya kembali.
Baru satu hari waktu berlalu, namun Sean merasa sudah berabad-abad tidak mensesap bibir ranum Allesya yang terlampau menyandukan baginya. Terdorong oleh hasrat, pangkasan jarak pun tercipta. Hingga kedua pasang bibir saling bertemu. Sean mel*mat lembut benda kenyal itu, mengajak lidah menjajah rongga mulut Allesya yang terasa manis.
"Kak jangan sekarang," Allesya menghentikan tangan Sean yang sudah menyelinap dan bermain pada biji buah peach sintalnya.
"Aku ingin," suara Sean sudah terdengar parau. Rupa-rupanya ia sudah terangs*ng. "Di bawah sana sudah bangun," imbuhnya memelas. Berharap Allesya mau menuruti keinginannya.
"Tidak Kak, kita berada di rumah sakit sekarang."
"Tidak akan ada yang melihatnya."
"Jangan bercanda. Bagaimana kalau ada yang masuk?"
"Kunci saja pintunya."
"Lagian kau sedang terluka, tidak boleh banyak bergerak."
"Kalau begitu kau saja yang bergerak di atas. Aku juga menyukai caramu memuaskanku."
"Kak Sean...," Allesya mendadak tersipu malu.
"Cepat kunci pintunya. Aku sudah sangat menginginkanmu," bisik Sean.
__ADS_1
Allesya meremang seketika. Tak mau berkilah, bahwa tubuhnya juga sudah bereaksi saat ini.
Menuruti permintaan sang Suami, Allesya menuruni ranjang untuk mengunci pintu lalu kembali ke ranjang tempat Sean terbaring.
"Lakukanlah," pinta Sean.
Hati-hati, Allesya menurunkan celana pasien yang dikenakan Sean dan mulai bermain dengan roket nuklir Rusia yang siap meluncur. Hingga terjadilah pergulatan panas di atas ranjang rumah sakit dengan Allesya sebagai pemegang permainan.
Satu jam kemudian, Allesya menghempas tubuhnya ke samping Sean, merehatkan badan yang terasa penat. Terus bergoyang di atas tubuh suami sungguh melelahkan, banyak tenaga yang juga terkuras.
"Terima kasih, Sayang," ucap Sean lalu melabuhkan ciuman di kening istrinya.
"Aku sangat lelah," balas Allesya yang masih terengah-engah.
"Maaf."
"Kau terus saja meminta maaf. Apa tidak bosan?"
"Sama sekali tidak."
"Dasar."
Sean menyingkirkan anak-anak rambut yang menutupi muka Allesya. Menatap damba kecantikan alami di depannya. "Apa kau tahu, waktu aku tak sadarkan diri, aku bermimpi," ucapan Sean sukses menarik minat Allesya untuk mendengar lebih lanjut.
"Mimpi apa?"
"Di dalam mimpi aku tersesat tidak tahu arah. Aku terus berjalan menyusuri ruang gelap yang membuatku kebingungan. Namun tiba-tiba aku bertemu dengan dua anak kecil, lelaki dan perempuan. Mereka menarikku hingga sampai ke suatu tempat yang sangat indah. Dari kejauhan aku juga melihatmu melambaikan tangan seraya tersenyum kepadaku. Dan anehnya kedua anak kecil yang menuntunku tadi memanggiku dengan sebutan 'Daddy'," beber Sean.
"Benarkah?"
Sedetik setelah Allesya berkata, isi perutnya tiba-tiba bergejolak. Memaksanya bangkit dari ranjang.
"Kau kenapa, Allesya?" Sean tampak cemas akan gelagat aneh istrinya.
"Aku tidak tahu, tiba-tiba aku merasa mual. Hmp..! Hmp..!"
Merasa ada yang mendorong paksa dari dalam perut, cepat-cepat Allesya turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi.
Hueekk..! Hueekk..!
❣
❣
❣
Bersambung~~
Ayolah... Setelah baca minimal biasakan meninggalkan jejak like ya. Ini loh.. setelah mendekati tamat, sehari dapat like 100 aja susahnya pakek banget😩😩
Jelek banget ya tulisanku hingga tak pantas mendapat apresiasi??😫😫
Terima kasih ya atas segala dukungan kalian🥰🥰
Lop you..😘😘
__ADS_1