
"Kau yakin tidak ingin diantar pulang kakak tampanmu ini?" tanya ulang Sean yang masih berdiri tegap di depan Allesya dengan posisi kedua tangan tersimpan di masing-masing saku celananya.
Allesya mengangguk namun terlihat jelas ia sedang menahan kecewa dari sorot matanya. Mengingat lemparan kalimat Sean beberapa saat yang lalu di ruang baca 'Kita berciuman bukan berarti kita akan menjadi sepasang kekasih. Anggap saja ciuman tadi sebagai tanda awal bahwa aku akan lebih bersikap baik kepadamu. Bukan sebagai wanita tapi sebagai kelinci kecilku', membuat kegigihannya dalam memperjuangkan cintanya selama ini sedikit goyah.
"Aku bisa pulang sendiri Kak," Allesya menolak halus tawaran Sean yang sejatinya tidak sepenuh hati ia ingin menolak.
Sean memangguk seraya tersenyum simpul kemudian ia memutar lehernya ke arah Henry yang memang berpijak tidak jauh darinya.
"Kek, kau dengar sendiri bukan? Aku sudah berusaha menuruti permintaanmu tapi Allesya memang tidak ingin aku antar. Setelah ini jangan berpikiran kalau aku tidak bisa menyenangkanmu. Aku akan kembali ke kamarku sekarang," terang Sean, lalu melenggang pergi menuju undakan tangga yang mengantarnya ke kamar pribadi.
"Kenapa aku bisa sangat menggilai pria menyebalkan itu sih? Aku masih kesal dengannya. Aahh.., tapi ia sangat tampan.. Bagaimana mungkin aku bisa marah kepadanya?" gerutu Allesya di dalam hati, meski ujung-ujungnya meleleh juga jika mengingat ketampanan Sean yang paripurna.
Henry mendesah pasrah melihat sikap cuek cucunya kemudian kembali memusatkan perhatiannya kepada Allesya. "Allesya sayang, aku akan menyuruh supirku untuk mengantarmu ya, di luar sedang turun salju," Allesya langsung menolak tawaran Henry dengan gelengan kepala disertai sapuan tangan ke kanan dan ke kiri.
"Tidak Kakek, terima kasih.., Allesya bisa pulang sendiri. Kakek tenang saja aku bisa memakai mantel," ucap Allesya.
"Tapi sayang..,"
"Kek, hujan saljunya juga tidak lebat, aku yakin sebentar lagi juga reda," tukas Allesya. "Ya sudah, aku pulang dulu ya Kek, nenekku pasti sudah menungguku di rumah. Sampai bertemu besok kakek tampan," Allesya buru-buru berpamitan sebelum Henry semakin memaksanya untuk pulang bersama supirnya.
°°°
"Nenek...! Allesya pulang...," teriak Allesya seraya melepas sepatu dan mantel dinginnya.
"Sayang, apa kau tidak bisa untuk tidak berteriak saat pulang?" tutur Fanne yang heran dengan kebiasaan cucunya tersebut.
"Hehehe, biar nenek tahu kalau cucumu ini sudah pulang," sahut Allesya sambil mengibas-kibas mantel dinginnya yang terlihat kotor karena butiran salju.
"Cepatlah kemari sayang, kau kedatangan seorang tamu," pinta Fanne yang tengah duduk di depan perapian rumah bersama seorang wanita dan seorang bayi berusia 6 bulan.
"Kak Jenny? Kau sudah lama datang?" senyuman Allesya mengembang sempurna ketika tamu yang dimaksud sang Nenek adalah seseorang yang sudah dia anggap sebagai kakak wanitanya sendiri.
"Aku baru datang 10 menit yang lalu," jawab Jenny dengan senyuman ramahnya.
"Halo.., Jeaven sayang. Kenapa kau sangat menggemaskan?" Allesya mendekati bayi Jeaven yang sedang berada di pangkuan Jenny. Si bayi tampan yang selalu memasang muka masam namun justru terlihat sangat menggemaskan.
Allesya semakin dibuat gemas ketika tangan kecil Jeaven menggenggam jari telunjuk miliknya.
"Ya ampun.. rasanya aku ingin sekali menggigitmu," kelakarnya diiringi gerakan mulut seolah ingin menggigit tangan mungil Jeaven.
Jenny dan Fanne ikut tertawa gemas melihat cara Allesya beristeraksi dengan makhluk kecil menyerupai boneka tersebut.
"Hei, bayi tampan, kenapa kau selalu memasang muka masam seperti itu? tersenyumlah untukku," protes Allesya diikuti mimik muka sok sedihnya, namun usahanya tetap tidak memberikan perubahan pada mimik muka Jeaven. Bayi bertubuh tembam tersebut masih keukuh dengan raut muka yang sudah menjadi ciri khas keimutannya.
"Apa kau lupa, muka masamnya diturunkan dari siapa?" tanya Jenny kepada Allesya.
__ADS_1
"Tentu saja dari Kak Jeffrey," jawab Allesya cepat diikuti tawa terkikiknya. Pasalnya dia sudah sangat kenal dengan sosok salah satu sahabat dari pria dewasa yang digilainya, Jeffrey.
Gelak tawa ringan ketiga wanita yang sedang berkumpul itu kembali terdengar karena jawaban Allesya.
Ceklek!
Empat anak manusia berbeda generasi, Fanne, Allesya, Jenny, serta si Bayi Tampan Jeaven, menoleh secara serempak ke arah sesosok manusia berbadan gagah dan bermuka masam tapi nan rupawan yang baru saja keluar dari kamar mandi yang terletak tidak jauh dari ruang tamu.
"Kak Jeffrey kau juga ada di sini?" tanya Allesya antusias.
"Kenapa kau masih bertanya?" jawab Jeffrey yang selalu mengikut sertakan gaya bicara dan muka juteknya.
"Ck! Aku semakin yakin, kalau Jeaven memang benar-benar darah dagingmu," cebik Allesya setelah menerima sikap dingin Jeffrey.
Jenny kembali terkikik sedangkan Jeffrey hanya menampilkan senyuman tipis yang hampir tak terlihat. Mungkin mesin pendeteksi ekspresi muka juga akan langsung mengibarkan bendera putih sebagai lambang menyerah.
"Aku akan pergi membawa Jeav, kalian nikmati saja acara ngobrolnya," ucap Jeffrey.
Jeaven langsung kegirangan ketika sang Daddy hendak menggendongnya. Sepasang tangan kecilnya terulur ke depan diikuti gerakan antusias pada jari-jari mungilnya, seolah mengisyaratkan bahwa dia sudah tidak sabar untuk berhambur ke dalam pelukan sang Daddy.
"Jeaven mau kau bawa kemana, sayang?" tanya Jenny kepada sang Suami dengan tatapan menyelidik.
"Aku hanya ingin mengajaknya bermain saja, sayang," jawab Jeffrey.
"Jangan aneh-aneh, dia masih kecil," tutur Jenny mewanti-wanti.
"Beruang kutub, dia masih kecil..!" teriak Jenny namun omelannya tak diindahkan oleh suami tampannya tersebut.
"Jangan terlalu cemas Kak Jenn, aku yakin Kak Jeff adalah tipe seorang Daddy berjiwa pelindung. Dia tidak akan membiarkan putranya terluka. Kau bisa lihat sendiri bukan? si Jeaven bahkan selalu terlihat senang dan girang jika bersama Daddynya," tutur Allesya mencoba menenangkan Jenny.
"Iya kau benar Al," balas Jenny membenarkan ucapan Allesya.
"Allesya, Jenny, nenek sebaiknya masuk ka dalam. Kalian lanjutkan mengobrolnya ya. Jangan lupa minum tehnya selagi masih hangat," tutur Fanne sebelum meninggalkan Allesya dan Jenny berdua di ruang tamu.
"Iya Nek," jawab kedua wanita cantik itu secara serentak.
"Oya Al, sebenarnya aku datang kemarin juga karena ingin mengembalikan ini kepadamu," ucap Jenny seraya menyerahkan sebuah kalung yang baru saja dia ambil dari dalam tasnya.
Allesya terkejut ketika Jenny memperlihatkan sebuah benda kesayangannya yang memang sudah 1 bulan lebih dia anggap hilang.
"Ya Tuhan.., akhirnya aku menemukannya kembali. Terima kasih Kak Jen," Allesya terlihat sangat senang dan terharu.
Di lihat dari respon yang diberikan Allesya sudah diyakini bahwa keberadaan kalung tersebut begitu sangat berarti baginya.
"Kemarin aku tanpa sengaja menemukannya di belakang bufet ruang tamuku. Sepertinya kalung itu terjatuh ketika kau sedang asyik bermain dengan Jeaven," terang Jenny.
Sepasang alis Allesya terpaut ketika ia mencoba memutar kembali memori otaknya. Mengulang ingatan kapan terkahir kali dia membawa kalung berbahan emas putih tersebut. "Iya Kak, aku baru ingat waktu itu si Baby Jeaven tampak tertarik dengan kalungku jadi aku meminjamkannya sebentar. Mungkin di saat itu aku terlupa," beber Allesya.
__ADS_1
"Kau sangat ceroboh Allesya, lain kali lebih berhati-hatilah ketika membawa barang beharga," tutur Jenny.
Allesya mengulas senyum. "Iya Kak, lain kali aku akan lebih berhati-hati," jawab Allesya.
"Gadis pintar," puji Jenny, lalu mencubit kuping cangkir dan menyeruput cairan bewarna coklat ke emasannya di dalamnya.
"Kalung ini.. Adalah kenang-kenangan dari teman masa kecilku sebelum ia kembali ke kotanya 12 tahun yang lalu," terang Allesya dengan pandangan menerawang.
"Apa kau sudah bertemu dengan temanmu itu?" tanya Jenny yang ternyata mulai tertarik tentang cerita teman masa kecil Allesya.
"Aku sudah bertemu dengannya, tapi sayangnya dia tidak mengenaliku," gurat-gurat pada muka cantik Allesya menggambarkan bahwa ia sedang kecewa dan sedih.
"Sangat disayangkan.Tapi bukankah dengan cara memperlihatkan kalung pemberiannya itu bisa membantunya untuk mengingatmu kembali?"
Allesya menggeleng pelan. "Tidak Kak Jen, aku ingin dia mengingatnya sendiri. Apa kau ingin tahu siapa teman masa kecilku itu?"
Jenny meletakkan kembali cangkir teh di atas meja lalu kembali memutar lehernya ke arah Allesya.
"Tentu saja, siapa dia? Apa aku juga mengenalnya?"
Allesya kembali mengangguk pelan sebagai jawaban bahwa Jenny memang sudah mengenalinya. "Teman masa kecilku itu adalah Kak Sean," beber Allesya.
"Ya Tuhan.., jadi sebenarnya kalian sudah saling kenal jauh sebelum aku mengenal Sean?" Jenny tampak tidak percaya.
"Aku akan bercerita tentang awal mula kami bisa bertemu jika Kak Jenny mau mendengarnya," ucap Allesya.
Jenny langsung mengambil posisi duduk ternyamannya seraya memeluk bantal sofa sebagai isyarat bahwa ia sudah sangat tertarik untuk mendengar cerita Allesya.
❣
❣
❣
Bersambung~~
Yang ingin tahu kisah cinta Jeffrey dan Jenny bisa mampi di karya ke-dua ya.. Dijamin baper.. kisah mereka manis banget kayak akoh🤣🤣 peace✌
...Ayo biasakan tinggalkan jejak like dan comment pada setiap bab setelah membacanya ya para readers. Biar ini cerita nggak sepi kayak kuburan🤣 Sumbangkan vote dan gift juga kalau berkenan🤭...
...Intinya, dukungan para Readers adalah penyemangat berharga bagiku untuk terus menulis🥰...
...Terima kasih.. Lop Lop you superrr...
...💜💙💚💛🧡❤...
__ADS_1